
Ibu lekas menghampiri Bude dan membantunya untuk berdiri.
“Mar, panggilkan dokter Mar cepetan”. Ucapnya dengan memelas suatu moment langka karena biasanya Bude kalau berbicara dengan nada yang tinggi dan berapi-api.
Sementara Pakde Dar dan Mas Udin berada di dalam kamar masing-masing dengan tertidur meringkuk memegangi perut mereka.
“Ya Allah mbak, kok bisa sih sakit perut berjamaah sepeti ini?”. Ibu memasang wajah keheranan di depan Bude, hanya ingin menunggu pengakuan dari mereka tentang semua makanan yang mereka bawa kemarin.
“Gimana gak sakit perut, hampir semua jajan di habiskan semuanya seperti ini”. Ucap Ibu dalam hati dengan menahan diri untuk tidak marah, karena kondisi mereka saat ini tidak layak untuk di marahi.
“Cepatlah Mar, panggil mantri saja jangan dokter nanti mahal”. Bude melambaikan tangannya menyuruh ibu untuk lekas pergi.
Sesuai dengan perintah Bude, Ibu lekas memanggil mantri yang ada di desa mereka dan membawanya ke rumah Bude untuk memeriksa keadaan keluarga tesebut.
Hasil diagnosa mantri tersebut menunjukan bahwa Bude beserta keluarga terlalu banyak makan, melebihi kapasitas perutnya hingga membuat perut tersebut tak dapat menampung dan mengolah semua makanan yang ada.
Mantri tersebut memberikan sejumlah obat untuk mereka bertiga dan berpesan jika sampai besok pagi tidak bisa berhenti sakit perutnya, maka harus di rawat inap di rumah sakit agar tidak sampai kekurangan cairan.
Setelah Mantri memeriksa dan memberikan obat, Mantri tersebut berpamitan pada bude beserta keluarga yang lain.
“Bu, Pak, Mas saya pamit dulu”. Ucapnya beberapa kali memberi kode untuk lekas membayar.
“Iya pak, silahkan”.
Entah apa yang ada di pikiran Bude hingga tak mengerti maksud dari Mantri tersebut.
“Saya pamit ya Bu!”. dengan meraih tas yang di bawanya, tapi enggan untuk melangkahkan kakinya, karena haknya belum di terima.
“Jadi berapa Pak semuanya?”. Tanya Ibu yang tahan melihat pemandangan di depannya.
“Tiga ratus ribu bu’. jawab mantri tersebut dengan tersenyum.
“Mbak tiga ratus ribu”, ulang Ibu memperjelas nominal yang dikatakan mantri tersebut dengan nada lebih tinggi dan intonasi sang kuat agar terdengar dengan jelas di telinga Bude.
“Pake uang kamu saja dulu kenapa Mar, aku gak bisa bangun buat ambil uang”. Jawab Bude dengan memasang wajah yang memelas.
“Walah maaf mbak, aku gak bawa uang tadi. Dimana uangnya biar Marni ambilkan”. Tawar ibu pada Bude.
Ya Ibu, sudah enggan untuk di manfaatkan keluarga penjajah tersebut terlalu dalam, mengingat apa yang sudah mereka lakukan beberapa waktu yang lalu. Ibu tetap baik pada mereka hanya saja dalam batasan-batasan tertentu, meski rasa kasih dan sayang antar saudara sangat erat tapi juga harus mampu membedakan mana yang baik dan buruk.
Benar saja sejak kejadian perebutan rumah dan penjualan rumah tersebut, sedikit banyak mengubah pola pikir ibu untuk dapat berfikir lebih waras dalam menghadapi saudara-saudaranya yang ajaib ini.
__ADS_1
“Di kamar di atas meja’. Jawab Bude dengan kesal, karena mau tak mau harus membayar uang periksa dan obat tersebut.
Dengan langkah yang sangat ringan, Ibu menuju kamar Bude dan mengambil beberapa lembar uang warna merah tersebut.
“Hem, enak saja pakai uangku dulu, nih uangnya juga banyak yang ada nanti gak di ganti lagi”. Ucap Ibu dengan menutup kembali dompet tersebut.
Ibu lekas memberikan pada sang Mantri dan mengantarkan hingga teras depan.
“Mbak aku pulang dulu ya, jangan lupa di minum obatnya, nanti biar Ipul kirim makanan ke sini”. Pamit Ibu dan turut serta meninggalkan rumah tersebut.
Ya meskipun bersikap lebih tegas pada keluarga Bude, tapi tetap saja ibu tidak tega melihat saudaranya yang sedang dalam kondisi sakit seperti ini tidak makan, jadi Ibu tetap mengirimkan makanan untuk keluarga Pakde Dar dan anak-anaknya.
***
Surabaya.
Sementara itu di Surabaya Tari dan Randi saling menatap dari kejauhan tak kala mengadakan meeting bersama dalam satu ruangan tersebut. Beberapa kali mata mereka saling menatap tak sengaja, dan sesekali saling melempar senyum termanis mereka.
Perjaka dan perawan yang tak lagi muda ketika sedang jatuh cinta, sama-sama malu hingga halal menyentuhnya yang tinggal menghitung minggu saja.
Keduanya benar-benar menjaga jarak baik di kantor maupun di luar kantor, bukan tanpa alasan mereka hanya ingin menikmati indahnya pacaran setelah halal kelak.
Bahkan sampai saat ini, semua teman-teman Tari maupun Randi yang ada di kantor belum mengetahui jika dua insan ini sedang dalam perjalanan menuju halal. Karena kepandaian dari kedua orang tersebut menyembunyikan hati dan sikapnya.
Setelah melihat calon istrinya keluar dengan mengendarai motornya, kini Randi turut serta mengikutinya dari belakang menggunakan mobil tentu saja dengan jarak aman tanpa Tari curiga sama sekali. Begitulah yang di lakukan Randi beberapa bulan ini memastikan Taril selamat sampai rumah kosnya tanpa harus mengantar secara langsung. Randi benar-benar menjaga hingga halal untuknya.
Tak lupa Randi juga mengirimkan makan malam untuk Tari sebelum meninggalkan kosannya, tentu saja dengan bantuan kurir untuk mengantarnya.
Seperti malam ini Randi membelikan Tari, seporsi ayam panggang lengkap dengan lalapan dan urap-urapnya untuk Tari.
“Permisi, dengan mbak Tari Ambarwati?”. Tanya kurir yang mengantarkan makanan tersebut.
“Iya, saya sendiri”.
“Silahkan mbak kiriman makanannya”. Kurir tersebut menyerahkan sekotak nasi dan sebotol minuman.
“Tapi saya tidak pesan mbak”. Jawab Tari karena merasa tidak memesan makanan.
“Ini sudah di bayar, saya permisi dulu trimakasih”. Pamit Kurir tersebut.
Sementara Tari masih di depan pintu kamarnya dengan membuka menutup isi kotak makanan tersebut.
__ADS_1
Randi sedang berdiri di atas balkon rumahnya menikmati semilir angin malam itu, hembusan angin malam membuatnya teringat akan Tari dan ingin mengetahui kabarnya, meskipun tadi juga sudah berjumpa di kantor. Tangannya meraih ponsel yang ada di sebelahnya.
Berdering.
Pak Randi.
Berdering.
Tari mencoba mengangkat panggilan tersebut.
📞Assalamualaikum pak
📞Waalaikumsalam, hay sudah terima makanannya?
📞Oh rupanya dari bapak, trimakasih banyak.
📞Jangan panggil pak dong saaa....
Randi menejda ucapannya.
Jika takdirnya sudah sampai akan aku ganti menjadi “mas”, ucap Tari dengan lirih.
Sedang di sebrang sana Randi tersenyum simpul membayangkan wajah Tari yang sedang malu-malu.
Makanlah, untuk sementara waktu ini kita makan di waktu yang sama hanya saja dalam ruang yang berbeda.
Tari tersenyum mendengar itu.
Pak Randi sedang apa?’ Tari mencoba memberanikan diri untuk bertanya.
Aku sedang menikmati dinginnya malam tanpa kehangatan.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Maaf ya teman-teman kemarin tidak up ada saudara yang datang.Jangan lupa like dan ikuti terus ya ceritanya 😀