Duri Dalam Keluarga

Duri Dalam Keluarga
Sebuah Luka


__ADS_3

“Ma, mohon maaf sebelumnya. Apakah Mama pernah mengatakan pada Ibunya mbak Nadia, jika aku tidak bisa memiliki anak?”.


Mata Tari menatap lekat wajah Mama mertuanya, ia menanyakan pada inti permasalahan yang membuatnya tidak bisa tidur dengan tenang semalaman.


“Maafkan Mama Tari, Mama tidak bermaksud seperti itu”. Jawabnya dengan lirih dan meletakkan gunting dalam genggamannya di atas meja.


Kini langkah kaki Mama berjalan menuju salah satu kursi kecil yang ada di taman, Tari kembali mengekor menuntut penjelasan.


“Tapi mengapa Mama membicarakan kekuranganku pada orang lain, aku malu Ma”. Matanya sudah berkaca-kaca dengan suara yang bergetar.


“Mama, tidak sedang membicarakan kekuranganmu pada orang lain Tar, hanya saja Mama sedang berkeluh kesah pada Ibunya Nadia. Kala itu Mama melihatnya sedang menggendong cucu yang baru lahir. Mama juga menginginkan hal yang sama seperti Ibu Nadia menimang cucu”.


Pyar....


Untuk pertama kalinya Tari, mendengar sendiri dari mulut Mama mertuanya tentang keinginannya ingin memiliki seorang cucu. Selama ini, sama sekali tidak ada yang protes dengan keadaan Tari, yang tak kunjung mendapat momongan. Hatinya seperti mendapat hantaman batu besar yang di lemparkan secara kasar, lalu tepat mengenai dadanya.


Sesak.


“Ma, maafkan aku yang belum bisa memberikan Mama cucu. Aku sudah berusaha untuk itu, hanya saja hingga kini Allah belum menitipkannya padaku seorang anak"


"Aku akan berusaha untuk itu Ma, tolong doakan kami, tapi jangan umbar ketidak sempurna aku sebagai menantu"


“Ya karena itu, karena aku tahu kalian sudah berusaha namun tak kunjung ada jawaban, Mama jadi mengeluh”. Jawabnya dengan sedikit sewot.


Diam.


Tari tak sanggup untuk berkata apa-apa, ia hanya bisa diam menatap ibu mertuanya


“Ma, aku mohon jangan seperti ini. Jika ada sesuatu tentangku, Mama. Bisa bicara langsung pada Ibuk"


“Sekalipun aku berbicara permasalahan tentang anak, apakah Ibumu bisa membantu? Sedang dokter saja sudah mengatakan jika kamu....”. Bu Srining membekap mulutnya tak kuasa untuk melanjutkan kalimatnya.


Pagi itu Tari, benar-benar kecewa dengan sikap mertuanya.


“Ma, Ibuku itu sama seperti Mama, di mana do’a dari Ibuku yang begitu tulus pantang untuk di tolak sama Allah"


"Sudahlah Tar hari masih terlalu pagi, jangan memberikan ceramah pada Mama"


“Tidak ada yang tidak mungkin Ma, jika Allah sudah berkehendak, maafkan aku jika aku sudah lancang dan menyinggung perasaan Mama”.

__ADS_1


Tari berlalu meninggalkan taman tersebut, kakinya bergetar, rasanya begitu berat untuk melangkah.


***


Rumah Tari.


Seperti hari-hari biasanya, saat pagi datang keluarga Pakde Dar dan juga Bude Murni akan berkumpul di rumah Tari untuk sarapan bersama. Setelah menikah Tari, tetap menjalankan kewajibannya sebagai anak seperti biasah. Ia sama sekali tak mengurangi jatah bulanan untuk keluarganya.


Tentu saja itu semua atas permintaan Randi. Randi sudah berjanji sejak awal pernikahan mereka jika ia tidak akan melarang Tari untuk berbakti pada orang tuanya. Apa lagi sejak Tari membuka toko kue, ia menambah lebih banyak lagi jatah untuk Ibu dan Ipul.


Hanya saja yang berbeda saat ini adalah Ibu, ia lebih bijak dalam mengelola keuangan. Tak jarang Ibu menyimpannya sebagai tabungan, jika sewaktu-waktu membutuhkan tambahan uang, tidak lekas meminta pada Tari.


Pagi ini Ibu memasak sambal pecel, tak ada daging maupun ikan yang tersaji di sana. Deretan sayuran segar yang di petik di kebun belakan rumah turut meramaikan meja makan. Hanya ada beberapa potong tahu dan tempe serta rempeyek yang terhidang di atas meja. Tak ada pula minuman hangat beraneka macam rasa seperti dulu. Ibu hanya menyediakan air putih hangat saja.


Ibu tak ngin merepotkan Tari.


Pakde Dar dan Bude Murni, lambat laun mulai terbiasa dengan keadaan yang ada, meskipun jika Tari sedang berkunjung ke sana, tak segan-segan ia akan meminta untuk memasak atau membeli makanan yang banyak.


“Mar, piye kabar Tari?”. Tanya Pakde Dar di sela-sela sarpan paginya.


“Baik Mas”.


“Risma Mbak”.


“Iya, jadi dia merawat Risma jadi anaknya?”.


“Jadi Mbak, sudah hampir tiga bulan Risma tinggal bersama Tari dan Randi di sana”.


“Hati-hati lo Mar Tari itu sudah lebih dari enam tahun belum hamil juga. Udin yang baru nikah beberapa bulan yang lalu, sekarang istrinya sudah hamil”. Seperti biasa Bude mengatakan segala isi hatinya tanpa memikirkan perasaan lawan bicaranya.


“Aku khawatir saja keluarga Randi, tidak terima mengingat Randi, itu anak tunggal lo”.


“Kalau Randi selingkuh gimana?”.


Deg...


Ibu meletakan piring dalam genggamannya begitu saja, ia mengurungkan tangan yang hendak menyentuh mulut untuk memasukan sesendok nasi.


“Tidaklah Mbak Randi, bukan laki-laki semacam itu”.

__ADS_1


“Lah masih mending itu, nanti kalau kayak si Nurul itu bagaimana? Ia tak kunjung hamil-hamil juga sudah bertahun-tahun menikah. Kehidupannya adem ayem, suaminya tak pernah menuntut Nurul untuk memiliki anak. Eh nyatanya baru seminggu yang lalu kebongkar kebusukannya. Ia punya istri lain sudah punya anak pula dari istri keduanya”. Bude kembali mengunyah makanan yang ada di mulutnya.


Ibu menelan ludah dengan kasar, tiba-tiba ia jadi kepikiran dengan keadaan Tari, mengingat beberapa hari berturut-turut ia bermimpi tentang keburukan sedang menimpa sang anak.


“Kita doakan yang baik-baik saja ya mbak buat Tari, kasian dia dari kecil sudah hidup sengsara”.


“Lek doa baik ya pasti to Mar buat keponakan sendiri”. Bude turut mendoakan kebaikan pada Tari, mengingat selama ini Randi begitu baik pada keluarganya. Tak jarang tanpa sepengetahuan Tari dan juga Ibunya diam-diam bude minta bantuan pada Randi atas nama Bu Marni, ibu Tari. Tentu saja ia tak mau kehilangan aset berharga dalam hidupnya kalau misalkan keburukan terjadi pada keluarga Tari.


***


Rumah Randi.


Randi yang baru saja keluar dari kamar mandi, menyadari jika Tari sedang tidak ada di kamarnya. Itu berarti Tari sedang meluruskan yang kemarin dengan Mamanya.


Ia berdiri di atas balkon kamarnya, menghirup udara pagi yang begitu segar nan asri, mengumpulkan segala keberanian untuk berkata jujur pada istrinya.


“Ya aku harus lekas mengatakannya, sebelum masalah akan semakin rumit”.


Randi menarik nafas dalam-dalam, tangannya saling meremas, mencoba mengatur ritme jantungnya. Bersiap untuk memberitahu semuanya pada Tari, mengungkap sebuah kebenaran yang tertutup.


Randi berpasrah apapun yang terjadi nanti.


Randi menunggu di kamarnya dengan tidak sabar, ia sudah menyiapkan hati dan dirinya untuk menghadapi istrinya.


“Mas kamu tidak berangkat kerja?, tanya Tari yang melihat suaminya masih berdiri di atas balkon kamar mereka.


“Ada yang mau aku bicarakan...”. jawab Randi dengan gugup, ia meraih tangan Tari dan membawanya kembali ke balkon.


“Ada apa Mas? Apa kamu sedang menyembunyikan sesuatu dariku?”.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa like, komen dan subscribe kak 😊


__ADS_2