
“Kamu kenapa?”. Wajah Randi, terlihat panik, naluri seorang manusianya keluar. Ia kasihan melihat kondisi Mawar yang terkapar tak berdaya.
“Mas tolong....”. Ucapnya kembali di sisa-sisa tenaganya yang ada.
Randi semakin panik, alih-alih membawa Mawar ke rumah sakit, ia memilih untuk berlari keluar dari kamarnya meninggalkan Mawar dan memanggil Bu Srining.
“Ma tolong....”. Ia menggedor-gedor pintu kamar Mamanya, dengan cukup kuat.
“Ma Mawar Ma...”. Teriaknya kembali, kala panggilannya tak di hiraukan oleh orang tuanya.
“Ma...” . Tak ada jawaban.
Randi berlari dengan cukup kencang, kembali ke kamarnya, raut wajahnya mendadak panik, buliran keringat singgah di dahinya. Jantungnya terpacu cukup kuat.
Mawar melemah, ia tak sadarkan diri. Raut wajahnya benar-benar pusat pasi, sementara darah masih terus menetes di sela-sela kakinya.
Tangan Randi terulur, meraih asal baju yang ada di almari Tari, dan memakaikan pada Mawar. Ia tak mungkin membawa Mawar ke rumah sakit hanya dengan menggunakan lingerie tipis yang hampir terbuka seluruh bagian tubuhnya.
Tanpa pikir panjang tangan Randi, terulur merobek secara kasar lingerie yang di gunakan oleh Mawar, dan mulai memakaikan gamis milik Tari. Kini tangannya terulur meraih tubuh Mawar, yang sudah mulai berisi padat membawanya dengan cukup tergesa-gesa turun ke lantai satu.
Randi masih dengan kepanikannya.
Ia memanggil siapa saja yang ada di rumah itu, berharap ada salah satu penghuni rumah yang keluar dari kamarnya dan membantunya.
“Mama tolong....”.
“Papa tolong....”
Kakinya saling mendahului untuk menuruni tangga, kemeja panjang yang ia gunakan terseingsing sebagian lengannya. Rambutnya mulai berantakan dengan keringat yang bercucuran.
Tak ada respon dari penghuni rumah.
Tanpa pikir panjang Randi, memutuskan untuk membawa Mawar ke rumah sakit. Ia menundukkan Mawar, di kursi penumpang sebelahnya, lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. Sesekali di tengah-tengah padatnya jalanan yang macet, ia melirik sekilas wajah Mawar, yang semakin pusat. Tangan Randi terulur menyentuh tangan Mawar sejenak.
Dingin.
Benar-benar dingin tangan Mawar, serasa tak ada aliran sarah di sana.
TIN...TIN...TIN...
Cukup keras ia membunyikan klakson berkali-kali berharap mobilnya dapat terhindar dari kemacetan yang mendera malam itu.
TIN...TIN...
“Tolong minggir saya membawa wanita yang mau melahirkan”. Teriaknya dengan kepala yang keluar dari jendela. Sementara tangannya masih aktif memegang klakson.
“Permisi saya bawa orang mau melahirkan, tolong pengertiannya”. Ucapnya untuk kesekian kali dengan lantang.
Menyadari teriakan yang di ucapkan Randi, dengan kesadaran diri pengendara lainnya minggir dan memberi jalan mobil Randi. Kini roda dan aspal kembali saling bergesekan dan semakin cepat lajunya.
__ADS_1
***
IGD Rumah Sakit Ibu dan Anak.
Randi kembali berlari di koridor rumah sakit dengan membawa Mawar, yang masih tak kunjung sadarkan diri. Ia berteriak pada siapa saja orang yanga ada di sekitarnya, berharap dapat memberikan bantuan untuknya.
“Tolong suster”.
“Tolong”. Dalam situasi yang panik dan mendesak pun Randi, masih tersadar enggan untuk memanggil Mawar istriku.
“Ini kenapa pak?’. Beberapa petugas kesehatan yang berada di depan pintu IGD lekas bersiap menyambut Randi, dengan mendorong satu ranjang kosong.
“Pingsan sus, saya tidak tahu kenapa? Tolong lekas di tangani, dia sedang mengandung”. Tuturnya menjelaskan keadaan Mawar yang ada.
Suasana begitu heboh, kebetulan di saat yang bersamaan, IGD rumah sakit sedang penuh dengan pasien yang keracunan masal, di salah satu pabrik di area Surabaya.
“Pak silahkan urus administrasinya, biar pasien kami tangani terlebih dahulu”. Ucap salah satu perawat di sana.
Randi kembali berlari menuju sisi koridor disebelahnya. Kakinya melesat melangkah dengan cukup cepat. Yang ada dalam hati dan pikirannya saat ini adalah keselamatan Mawar dan anaknya. Terlepas dengan semua yang telah terjadi di antara mereka.
Cukup lama Randi, mengantri untuk pendaftaran pasien namun tak kunjung pula mendapat giliran. Pasien PT Nusantara semakin malam semain banyak yang berdatangan. Mereka mengeluhkan pusing, muntah yang tiada habisnya.
Randi terabaikan untuk sesaat. Pihak rumah sakit lebih fokus menangani pasien yang berasal dari PT Nusantara.
“Pak tolong, saya di dahulukan. Mawar sudah pingsan sejak tadi, bahkan darahnya tak kunjung berhenti. Saya takut terjadi sesuatu pada anak saya”. Randi mulai merintih, bagaimana pun juga naluri seorang bapaknya keluar untuk melindungi anaknya.
Randi bingung, harus berbuat apa. Sementara Mawar ia masih berbaring di salah satu ranjang IGD, namun tak kunjung mendapat penanganan. Dokter dan suster masih heboh menangani kasus keracunan.
Randi mondar-mandir di depan ruang administrasi menuggu giliran, ia gelisah dan panik. Berkali-kali tangannya mengusap layar ponsel, mencoba untuk menghubungi Bu srining dan Pak Nario orang tuanya.
.
.
.
Satu jam kemudian, tibalah giliran Randi, ia lekas mengurus semua berkas administrasi Mawar, berharap kebaikan akan menyertai kehidupan Mawar dan anaknya.
Randi lekas melesat menuju IGD untuk menemui dokter di sana. Ia kembali berlari dengan nafas yang memburu dan keringat bercucuran malam itu.
Mawar mulai sadarkan diri, ia kini berbaring di atas ranjang pasien. Mawar tersadar sebelum mendapat pertolongan dari dokter maupun perawat. Melihat kondisi Mawar yang sudah sadarkan diri, perawat lekas menghampirinya.
“Ibu apa yang sedang di rasakan?”.
“Perut saya sakit, sakit sekali”.
“Apakah Ibu punya mag, terakhir makan jam berapa?”.
Mawar menggelengkan kepalanya, “Jam dua sus”. Lemah, suaranya sangat lemah bahkan nyaris tak terdengar.
__ADS_1
“Baik, sebentar ya Bu kita tunggu dokter Spognya dulu”. Ucap perawat dengan berlalu meninggalkan Mawar.
Kenapa perutku sakit sekali, sungguh ini sangat sakit, badanku kenapa juga semakin lemas? Nafasku kenapa terasa semakin berat?.
Tangannya melambai-lambai, berharap seseorang akan menemuinya.
Beberapa saat kemudian, salah satu perawatan datang kembali menghampiri Mawar, dan mengecek kembali keadaannya.
“Nafasnya melemah, cepat panggil dokter”. ucapnya pada rekan sejawatnya.
Tak butuh waktu yang lama dokter jaga, datang dan memeriksa keadaan Mawar. “Pasang slang oksigen”. Perintahnya pada dua perawat yang ada di sebelah Mawar.
“Pasang kabel ekg”. Perawat dengan sigap memasangkan beberapa kabel ekg dan di tempel di bagian dada Mawar.
“Dokter spognya kapan datang?”, suaranya lirih bertanya.
“Tunggu ya Bu, dokter spognya masih di jalan menuju rumah sakit”.
Dokter jaga kembali meriksa keadaan Mawar saat itu.
“Cek gula dara, pasien sangat lemah”. Perintahnya kembali.
“460 dok”. Jawab perawat beberapa saat kemudian.
“Tinggi sekali”. dengan cukup cekatan dokter lekas meresepkan insulin untuk Mawar.
Tiga pulu menit kemudian.
.
.
.
Suster dan dokter jaga IGD kembali melihat kondisi Mawar, kini kondisinya semain memburuk, badanya semakin pucat dan lemas, bahkan untuk bergerak ke kanan dan ke kiri saja ia tak mampu. Mawar hanya bisa menekuk kakinya itu pun tak berselang lama kakinya jatuh karena saking lemas tubuhnya.
“Suster bagaimana keadaan Ibu dan Bayinya?”, Tanya Randi, dengan panik kala dokter keluar dari IGD.
.
.
.
.
.
Jangan lupa like, komen,subscribe.vote dan kasih hadiah teman-teman 😊
__ADS_1