
Bude meraih cucunya dari dekapan tetangga, ia tak rela cucu sultannya terkontaminasi dengan tetangga miskinnya. “Maaf ya bu, Rafatar tidak biasa di gendong tangan-tangan kasar seperti ini, aku takut nanti kulitnya jadi iritasi kena goresan tangan kalian”. Bude tersenyum miring, sementara para tetangga yang lain menatap dengan perasaan jengah. Mereka menyesal tela berkunjung ke sana.
“Bu Murni, ngomong-ngomong saya kok sudah lama tidak melihat Bu Marni dan Ipul ya, rumah mereka seperti kosong tak berpenghuni? Lampu-lampu juga mati semua, anya ada satu lampu teras saja yang menyala sepanjang hari”. Tanya salah satu tetangga yang datang menjenguk Rafatar.
“Halah Bu biasah minggat”. jawabnya dengan enteng, dengan tangan yang membelai lembut pipi gembul cucunya.
“Minggat? Maksudnya?”.
“Ya minggat, kabur dari rumah Bu, masak gitu aja gak paham hedeh”.
“Tapi kenapa Bu, setau saya Bu Marni, orang yang baik, beliau tidak pernah ada masalah dengan orang lain. Bu Marni juga tidak ada sahutan hutang dengan orang, setahu saya sih begitu”, sela salah satu tetangga yang kebetulan dekat dengan Ibu Tari.
“Halah biasah Bu, menantunya selingkuh. Kawin lagi”. Tukasnya dengan bibir yang berlekuk-lekuk mengerucut.
“Hah kawin lagi? Randi menantu yang ganteng dan baik itu kawin lagi? Gak mungkin ah Bu jangan sebar gosip, apalagi sama ponakan sendiri”.
“Tari itu wanita sholeha, cantik juga berpendidikan. Mana mungkin suaminya kepincut dengan wanita lain. Setahu saya Randi juga sayang sekali sama istrinya”.
“Yah gimana ya Bu, kalian semua sih yang tanyak. Gimana gak kawin lagi orang bininya mandul gak bisa punya anak, sedang Randi anak tunggal yang berasal dari keluarga berada. Mana mau mertuanya pelihara menantu yang mandul seperti Tari!!!”. Terangnya dengan panjang lebar.
“Haduh Bu ucapannya tolong di jaga, itu yang di omongan keponakan sendiri lo”.
“Ups, gimana dong kalian yang maksa tanyak sih. Aku kan cuma jawab, lagian aku juga bicara apa adanya kok”. Bude merubah wajahnya dengan raut wajah sendu, tapi tak dapat di pungkiri hatinya senang dengan keadaan yang ada. Entah mengapa ia merasa bahagia saja ketika hidup saudaranya susah.
“Astaga kasian sekali ya nasib Bethari, sejak kecil hidupnya slalu susah, sampai dewasa pun harus menanggung sakit hati seperti ini”. Sala satu tetangga yang kebetulan mengenal dekat dengan Tari, meneteskan air matanya.
“Halah Bu biasa, namnya juga hidup. Kalau tidak mau ada cobaan ya sudah mati saja”. Jawab Bude dengan ringan yang di selingi dengan suara tawa kerasnya.
Tetangga yang ada hanya bisa geleng-geleng kepala. Tak habis pikir dengan kelakuan Bude Murni.
****
__ADS_1
Rumah Randi.
Selepas kepulangan dari rumah sakit untuk periksa kemarin Mawar, terlihat lebih baik dalam segala hal, jika biasanya ia akan bad mood ketika pagi hari, namun tidak sekarang. Apalagi melihat dua kantung plastik merah yang ada di kamarnya.
“Lihat nak sebenarnya, Papamu itu orang yang baik, kita saja di belikan makanan yang banyak seperti ini”. ucapnya dengan menyapa sang anak yang masih berada dalam perut.
“Lihat saja sebentar lagi kamu akan mendapat kasih sayangnya secara penuh, jangan khawatir, Mama pastikan itu”. Kakinya melenggang keluar kamar, turut bergabung di meja makan untuk sarapan bersama dengan anggota keluarga yang lain.
Sementara Randi, seperti biasa ia hanya akan melewati meja makan itu tanpa ingin singgah, meski tak dapat di pungkiri perutnya sedang menahan rasa lapar yang tiada terkira.
“Ran, sarapan dulu. Mama suda masak makanan kesukaan kamu hari ini, lihat”. Bu srining menunjuk semangkuk besar nasi goreng putih yang terhidang di atas meja makan.
Mawar pun demikian ia cukup antusias menjemput suaminya, hendak membawanya duduk di meja makan.
Randi, melirik sekilas dari kejauhan hidangan di atas meja makan tersebut.
Nasi goreng putih.
Tangan Mawar, terulur meraih piring dan mengambil nasi untuk suaminya, tak lupa ia tersenyum hangat. Randi menerima sepiring nasi goreng tersebut, ia menikmati setiap suapan yang masuk kedalam mulutnya dengan tersenyum.
Hatu Bu Srining dan Mawar, menghangat ketika melihat selera makan Randi kembali seperti sedia kala. Mata mereka saling berpandangan untuk beberapa saat. Seakan saling mengerti perasaan yang sedang di rasa.
“Bagaimana Ran, apa kamu suka?”. Tanya Bu Srining, ketika mendapati Randi yang telah menghabiskan satu piring nasi goreng tersebut.
“Tentu saja aku suka, apa Mama lupa ini adalah sarapan kesukaan Tari, bagaimana aku bisa menolak apa yang menjadi kesukaan istriku”. Tukasnya dengan meletakkan sendok di sebelah piring kosongnya.
Senyum Mawar berubah kecut seketika, kala mengetahui alasan kenapa suaminya mau makan bersama pagi itu.
“Stop Ran, Tari hanya menjadi masa lalu mu, lupakan saja dia. Lihat Mawar dia wanita yang terbaik untukmu!”. Seru Bu Srining merasa kesal, baru saja ia bahagia melihat anaknya mau makan.
Randi memandang wajah Mamanya dengan memelas “Tari memang masa laluku tapi ia begitu melekat dalam hatiku Ma, di sama sekali tak dapat tergantikan”.
__ADS_1
“Randi kamu jangan seperti ini terus, lihat masa depan lihat istri dan anakmu saat ini, mungkin saat ini kamu mengatakan Tari tak dapat tergantikan tapi Mama berdoa dan berharap semoga hati kamu terbuka untuk Mawar suatu saat nanti”.
“Ma, aku tidak pernah memaksa Tari untuk tingal di hatiku, tpi ku juga tidak tahu mengapa susah sekali membuatnya pergi dari sana. Aku juga tidak pernah menutup hatiku untuk Mawar tapi hatiku memang sudah tertutup tiada celah untuknya di sana”. tukas Randi, dengan mengakhiri sesi sarapannya, ia kembali melangkah pergi meninggalkan rumah tanpa kata.
Pak Nario menatap nanar punggung sang anak, sedih sekali rasanya ketika melihat anak dan istrinya setiap hari harus beradu argumen demi kebahagian hati masing-masing.
Mawar?
Lagi-lagi Mawar mencoba untuk tegar, ia menyakinkan semua orang jika hatinya baik-baik saja. Dan Randi pasti akan berubah seiring berjalannya waktu.
*****
Desa Suka Maju.
Keesokan harinya Tari kembali ke sungai, berniat untuk mencari ikan laga yang diminta Risma. Semalaman gadis kecil itu tidak bisa tidur dengan tenang, ia merintih berkali-kali meminta ikan ******. Sebenarnya sejak kemarin Tari sudah menyusuri sungai untuk mencari ikan itu, hanya saja sampai menjelang petang ia belum juga mendapatkannya.
Kaki putih yang di balut gamis sederhana itu mulai kembali memasuki air sungai, matanya memindai satu persatu penghuni yang ada di sungai tersebut. Antara takut dan juga senang melihat berbagai macam binatang ada di sana.
Kini tubuhnya Tari berada di dalam genangan yang di himpit dua batu besar. Setengah tubuhnya sudah basah terendam air. Matanya kembali fokus menatap beberapa ikan kecil yang berenang santai di sana.
“Mbak ngapain di situ?”.
.
.
.
.
Jangan lupa like, komen dan subscribe teman-teman 😊
__ADS_1