Duri Dalam Keluarga

Duri Dalam Keluarga
Melamar


__ADS_3

“Saya mau pergi pak, rumah ini sudah terjual”.


“Pul cepat kemasi baju-bajumu nak, ayo kita pergi”. Teriaknya pada sang anak, yang sejak tadi meraung dalam kamar kecilnya, menikmati segala rasa sesak di dada yang ada, akibat ulah saudaranya.


“Kita mau kemana bu?, aku tak siap jika harus menjadi gembel di jalanan, teriaknya dengan begitu keras, yang diiringi isakan tangis suara anak SMP.


Sang ibu tak mampu memberikan jawaban, terduduk diam di atas ranjang yang tak lagi empuk.


Randi memberanikan diri untuk semakin mendekat, mendekat pada wanita paruh baya tersebut yang kebetulan ibu dari Tari, wanita yang beberapa lama ini sdah mampu menggetarkan jiwanya kembali.


Perlahan Randi semakin mendekat, dan berjongkok di depan bu Marni tak lupa dengan menggenggam kedua tangan beliau. Matanya menatap wajah wanita paruh baya tersebut dengan begitu memohon, sedang bu Marni tampak kebingungan dengan adegan ini, perlahan mulai sedikit mengangkat wajahnya menatap pria muda di depannya.


“Bu, tetaplah untuk tinggal di sini, di rumah kalian, rumah yang memberikan kehidupan untuk kalian selama ini”.


“Bu saya Randy Yulidar, sudah lama saya tertarik pada putri ibu Bethari, bu bolehkah saya memilikinya?, menjadikan dia istri saya dan ibu untuk anak-anak saya?”.


Bu Marni masih diam tak memberikan jawaban, begitu syok mendengar perkataan Randi tersebut.


“Bu, saya serius dengan ucapan saya, saya sudah lama menaruh hati sejak Tari mulai bekerja di Surabaya”. Randi kembali menggenggam tangan bu Marni, seakan memohon agar sang ibu menyerahkan anaknya.


Diam, tak ada suara apapun dalam kamar tersebut, bu Marni mencoba mencerna setiap bait kata yang di ucapkan oleh Randi.


Beberapa menit kemudian.


“Apakah kalian saling mengenal?”, perlahan ibu mulai membuka suaranya.


“Iya bu, kami saling mengenal”.


Ibu tersenyum mendengar jawaban dari Randi.


“Duduklah di atas sini nak, ibu menerima niat baikmu nak, tapi ibu tidak dapat memberikan jawaban yang lebih, biarlah Bethari yang memberikan jawaban dan menentukan semuanya sendiri”. Ibu menepuk-nepuk pundak Randi.


Randi mengangguk-anggukan kepalanya mengerti dengan apa yang dimaksud sang calon mertuanya, siapa yang tak kaget jika begitu tiba-tiba seperti ini.


“Bu tetaplah untuk tinggal dan menempati rumah ini, terlepas apapun jawaban Bethari nanti padaku”. Randi memberikan senyum termanis yang dia punya.

__ADS_1


POV Randi


Namaku Randi Yulidar Pradana, aku bekerja sebagai eksekutif muda di salah satu perusahaan ice cream di Rungkut Surabaya. Aku adalah anak tunggal dari pasangan bu Srining dan pak Sunaryo. Kebetulan ibu dan bapakku adalah pengusaha laundry kecil-kecilan, namun sdah memiliki banyak cabang di Surabaya. Saat ini usiaku menginjak 33 tahun, usia yang bisa dikatakan lebih dari cukup untuk membina rumah tangga. Tapi sayangnya hingga saat ini aku masih melajang.


Kegagalan membina kasih yang terjadi padaku lima tahun yang lalu membuatku trauma mencintai dan enggan untuk melangkah ke depan. Ya lima tahun yang lalu saat hari pernikahan, calon pengantin wanitaku kabur dengan sahabat terbaik, kenyataan yang begitu memilukan ku rasa. Sejak saat itu aku menjadi pria yang dingin dan pendiam.


Tahun berganti tahun, tak ada satu wanita pun yang mampu menggetarkan hatiku. Berbagai macam cara di lakukan orang tua dan beberapa sahabat serta saudaraku yang lain untuk menjatuhkan dengan wanita pilihan mereka, sayangnya semuanya nihil, hatiku tak terketuk sedikitpun untuk kembali merajut kasih.


Hingga beberapa bulan yang lalu, ketika salah satu sepupuku Fitri merekomendasikan temannya untuk menjadi sekretarisku, timbullah perasaan yang entahlah aku juga tak mengerti. Hanya saja aku tertarik dengannya, aku ingin mengenalnya lebih dekat. Tapi sayangnya bayang-bayang kegagalan masa lalu membuatku kembali mengurungkan niat untuk mendekatinya. Aku hanya mampu menatap dari kejauhan, mengagumi keberadaannya dan sesekali mencuri pandangannya.


Bagiku dia menarik, gadis yang pandai, wajahnya cantik dengan kulit yang putih, tidak terlalu tinggi tubuhnya tapi cukup proporsional untuk ukuran seorang wanita. Satu yang membuatku begitu tertarik padanya, kegigihan dalam menjalani hidup, beban yang di hadapi dan rasa bakti pada orang tuanya.


Dalam kejauhan aku mengamatinya, dalam kejauhan aku memandang wajahnya. Hingga ku dapati beberapa minggu yang lalu wajah yang kusut dan tak berkonsentrasi dalam bekerja. Inginku bertanya secara langsung padanya tapi aku urungkan. Aku lebih memilih mencari tahu lewat jalan Fitri sahabatnya yang kebetulan sepupuku.


Ternyata begitu berat beban yang dipikulnya, beban yang di sembunyikan di belakang senyum kecilnya di setiap berjumpa dengan orang. Entah keberanian dari mana yang aku dapat, aku memohon restu pada kedua orang tuaku untuk menikah dengannya dengan begitu tiba-tiba.


Untungnya keinginanku di sambut bahagia oleh orang tuaku, ku sampaikan pula pada orang tuaku tentang apa yang terjadi padanya, tentang rumah yang sedang di tempatinya, ayahku menyarankan untuk membeli saja rumah tersebut.


Tanpa berfikir panjang aku lekas melakukan itu, aku datang ke rumahnya tepat saat proses jual beli rumah tersebut. Andai saja aku terlambat dalam hitungan menit pasti rumah itu sdah menjadi milik orang lain. Keberanian yang luar biasa padaku hari ini adalah aku berani melamar wanita untuk kedua kalinya. Entah kekuatan dari mana yang mendorongku dengan lugas menyampaikan maksudku pada ibu Tari.


***


Rumah Ibu.


“Nak sebaiknya kita hubungi Tari ya”.


Randi mengambil ponselnya lala menekan tombol vidio call.


Tidak butuh waktu yang lama, Tari yang berada di Surabaya lekas menjawab panggilan itu.


“Assalamualaikum, ada pak kok tumben vidio call?”. di sebrang sana Tari sungguh sedang gugup tiada tara, dia takut apakah sudah melakukan suatu kesalahan hingga sang atasan menghubunginya secara langsung.


“Waalaikumsalam, coba tebak aku sedang di mana?”.


Tari semakin bingung dengan sikap Randi, tak biasanya dia berbicara dengan ramah. Randi yang Tari kenal adalah seorang pemimpin yang tegas dan dingin.

__ADS_1


Bethari melihat sekeliling ruangan rumah tersebut dalam layar ponselnya.


“Loh pak, itukan rumah saya, bapak ngapain di sana?”. Matanya menatap tak percaya seorang Randi ada di sana, tapi kenyataan yang ada memang Randi sedang di rumahnya.


“Ibu mau berbicara denganmu nak”. terdengar suara ibu memberi jawaban.


Randi lekas memberikan ponselnya pada ibu Tari.


Wajah ibu langsung terpampang dengan jelas di layar ponsel tersebut.


“Tari kamu sehat nak?”, tanya ibu.


“Sehat bu, ibu sehat juga kan?”. Wajah Tari di sebarang sana masih dengan berjuta pertanyaan.


“Sehat juga nak alhamdulilah, Tar ini nak Randi datang ke sini melamarmu, tapi ibu tidak bisa memberikan jawaban padanya, ibu pasrahkan saja semanya padamu, bagaimana jawabanmu nak?”.


Tari hanya melongo mendengar ucapan sang ibu.


Beberapa detik kemudian.


.


.


.


.


.


.


Mohon dukungannya ya teman-teman, jangan lupa like, komen dan jadikan favorit 😊


“Hah, pak Randi melamar ku?”

__ADS_1


__ADS_2