Duri Dalam Keluarga

Duri Dalam Keluarga
Kedatangan Ibu


__ADS_3

Sesampainya di rumah Randi dan Tari lekas melangkah menuju kamar mereka, sepertinya Mama dan Papanya sudah tertidur terlihat dari keadaan rumah yang sudah gelap dan sepi, pintu ruang tamu juga sudah terkunci.


Keduanya bergegas membersihkan diri masing-masing menganti baju mereka dengan baju tidur yang lebih santai dan longgar agar nyaman ketika tidur.


Randi dan Tari mulai merebahkan tubuhnya di atas kasur yang empuk, kini tubuhnya menghadap pada tubuh sang suami.


“Ada apa sayang?”, tanya Randi ketika melihat wajah istrinya yang tampak kurang bahagia malam itu.


“Mas, maafkan aku ya”, ucapnya lirih dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


“Maaf untuk apa sayang?”.


“Maafkan aku, karena hingga saat ini ita belum juga memiliki keturunan, aku tahu mas Randi, Mama dan Papa begitu juga denganku sangat menginginkan kehadiran anak di tengah-tengah keluarga kita”.


Jika berbicara tentang anak, maka Tari sudah di pastikan akan menahan butiran bening dalam wajahnya agar tidak menetes. Entah mengapa Tari begitu merasa bersalah seakan belum lengkap fitrahnya menjadi seorang istri.


“Sayang aku sangat mencintaimu, sangat mencintaimu, dan sekali lagi ingat aku sangat menyayangimu, ada atau tanpa kehadiran serang anak dalam keluarga kita cinta dan kasih sayangku padamu tak akan pernah luntur sedikitpun”.


“Kamu begitu berarti dalam hidupku, kamu begitu sempurna sayang untuk aku yang seperti ini”. Jawab Randi dengan mengelus lembut rambut Tari.


“Tapi mungkin akan lebih sempurna ketika aku bisa memberikan seorang anak padamu mas”. Ucapnya lirih tanpa berani memandang wajah Randi.


“Dengan atau tanpa anak pernikahan kita sudah sempurna sayang, jangan bersedih lagi, karena ketika kamu bersedih membuat hatiku turut merasakan nyeri teramat sangat”.


Perlakuan Randi yang slalu tidak mempermasalahkan ketika Tari tak kunjung mampu memberikan anak untuknya sering kali membaut dia merasa semakin bersalah pada Randi.


“Urusan anak ini diluar kuasa kita sayang, yang penting kita slalu berusaha untuk itu dan pantang menyerah”.


“Jadi bagaimana kalau sekarang kita mencoba untuk memulai ikhtiar itu”.


Cup


Tari mencium sekilas bibir suaminya dengan malu-malu.


Seakan mendapat lampu hijau dari sang istri, Randi lekas melancarkan aksinya, keduanya sedang mencoba ikhtiar untuk memperoleh keturunan malam itu. Entah berapa kali sudah mereka melakukannya.


***


Pagi harinya seperti biasa Tari akan menyiapkan sarapan untuk keluarganya di bantu mbak yang ada di rumah tersebut, tak jarang mama mertuanya juga turut serta membantu. Sedang Randi masih di kamar bersiap-siap untuk berangkat ke kantor. Tari juga akan berangkat ke toko kuenya bersamaan dengan Randi berangkat kerja.

__ADS_1


Begitu juga dengan Mama dan Papa Randi yang akan berangkat ke tempat laundry untuk mengecek pekerjaan anak buah mereka.


Setelah semua makanan terhidang di atas meja, tari mulai melangkah menuju kamarnya untuk memanggil Randi, mengajaknya sarapan. Baru saja Tari melangkahkan kakinya di anak tangga yang pertama tiba-tiba suara bel rumahnya berbunyi.


Ting Tong.


Ting Tong.


Tari memutar langkahnya menuju pintu ruang tamu untuk melihat siapa yang datang. Sebelum membuka pintunya Tari melihat sekilas siapa yang datang.


Ibu....


Menyadari jia yang datang adalah Ibunya, Tari lekas membukakan pintu dan mempersilahkan untuk masuk.


“Ibu ada kabar?”. Tanyanya dengan meraih tangan sang Ibu.


“Ibu baik nak, kamu bagaimana?”.


“Tari juga baik bu, Ibu ke sini sama siapa? Kok gak bilang-bilang sih kalau mau ke sini?”. Ucap Tari dengan menggandeng tangan Ibunya dan membawa masuk kedalam.


“Hem hem....”, suara deheman membuat Tari menoleh e belakang, saking bahagianya Ibunya datang hingga membuat Tari tak menyadari jika ada Bude Murni yang turut serta di belakang Ibu.


“Sebentar Tari panggilkan mas Randi dulu ya”.


Beberapa saat kemudian Randi dan Tari turun ke bawah menemui Ibu dan Bede juga Pakde.


“Bagaimana kabar Ibu dan semuanya?”, ucap Randi membuka percakapan ketika mereka selesai bersalaman.


“Baik nak Alhamdulilah” ucap mereka serempak.


“Randi panggil Mama Papa dulu ya Bu, biar Tari di sini menemani”, Randi berlalu dan meninggalkan Tari dengan keluarganya di ruang tamu.


“Nduk gimana apakah sudah ada tanda-tanda kamu isi”. Tanya Ibu dengan pelan takut membuat Tari bersedih juga tak ingin mertua Tadi mendengarnya.


Tari hanya menggelengkan kelapanya saja.


“Ibu bawa ini nak buat kamu”


“Apa ini Bu?”.

__ADS_1


Ibu tersenyum lembut dan penuh harap pada Tari.


“Itu minuman kesehatan untuk kesuburan wanita nak, kamu minum ya siapa tahu dengan minum ini Allah permudah ikhtiarmu untuk mendapat momongan”.


Tari hanya menganggukkan kepalnya saja.


“Jadi wanita kalau belum punya anak itu tidak ada harganya Tar di mata lelaki”. potong Bude di sela-sela pembicaraannya Tari dan Ibunya.


“Mbak!”. ucap Ibu dengan sekilas melirik pada Bude Murni.


“Kenapa memang begitu kan keadaannya, jika wanita tak dapat memberikan momongan, itu bukan wanita yang sempurna, lama-lama suami juga akan cari wanita lain, apalagi seperti Randi yang merupakan anak tunggal. Pasti kehadiran cucu begitu mereka harapkan sebagai penerus keluarga ini”. Ucap Bude tanpa filter dan begitu sangat pedas menyayat hati, tapi memang benar begitulah kondisi yang ada.


Tari kembali menganggukkan kepalanya, pagi itu tak ingin menangis di depan Ibunya.


“Sudah nak jangan terlalu di pikirkan, coba saja dulu minum ini yang rutin. Ibu tadi ke sini tujuan utamanya untuk mengantar ini khusus untuk anak Ibu yang baik ini”. Ibu tersenyum dan mengelus pundak anaknya mencoba menguatkan. Ibu tahu jika Tari sedang rapuh dengan ucapan Budenya barusan.


“Yang rutin minumnya, itu obat herbal carinya susah Tar harganya juga lumayan mahal”. cicit Bude kembali berucap.


Beberapa menit kemudian Mama dan Papa Randi datang ke ruang tamu.


“Masyallah ada besan pagi-pagi sekali”, sapanya dengan ramah dan mengulurkan tangannya untuk bersalaman.


“Iya bu, sedang kangen sama anak, sengaja tidak bilang ingin memberikan kejutan sama Tari, kalau kesiangan dikit datang ke sini sudah pasti rumahnya kosong". Tutur Ibu pada Mama mas Randi tak ingin mengatakan niat asli datang ke rumah itu.


“Maafkan anak-anak ya jarang ke sana ya Bu, sepertinya mereka sedang sibuk sekali beberapa hari ini”.


“Ayo mari sarapan bersama kebetulan Tari tadi pagi masak”. Ajak Papa pada semua tamu yang ada.


Mendengar kata tawaran makan membuat Bude lekas berdiri sebelum pemilik rumah memulai.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa like komen ya tekan-teman vote juga.


__ADS_2