Duri Dalam Keluarga

Duri Dalam Keluarga
Akankah?


__ADS_3

“Risma mau gak jalan-jalan? Tawar Rama kemudian, setelah menimbang-nimbang apa rencana yang akan di lakukan.


“Jalan-jalan Om? Kemana?” tak bisa di bohongi, wajah polos Risma begitu bahagia. Gadis kecil itu lekas mendongak, menatap Rama dengan penuh harap.


“Hem, jalan-jalan kemana saja yang Risma mau. Kita bisa jalan-jalan lihat lampu-lampu kalau malam tau makan-makan”


“Boleh-boleh Om, aku mau. Sudah lama sekali Risma tidak jalan-jalan”


“Nanti Risma ajak BundA boleh Om?”


“Tentu saja boleh” Rama tersenyum, justru itulah yang di harapkan. Ia ingin mengenal Tari lebih dekat. Tiga tahun mengenal Tari, namun hanya sebatas antar tetangga saja. Tidak ada kemajuan yang berarti walau Rama kerap kali membantunya dalam segala hal.


Apakah Rama tidak ikhlas membantu keluarga Tari?


Tentu saja tidak, ia begitu senang bisa membantu sesama. Tak hanya dengan keluarga Tari, pada siapa saja yang datang meminta bantuan. Rama pasti akan mengusahakan selama itu masih dalam kapasitas dan kemampuannya.


Terlebih untuk Risma. Sejak awal melihat gadis kecil itu, Rama tertegun. Ia merasa sangat dekat sekali. Bahkan merasa telah mengenal Risma dalam waktu yang lama. Hatinya begitu menghangat kala melihat gadis kecil itu.


Entahlah Rama juga belum mengerti sebabnya. Mungin ia sedang merindukan seseorang.


“Yah, kok sudah sampai sih Om?” Mendadak wajah Risma murung ketika mobil Rama mulai berada di depan pintu gerbang sekolah.


“Lho kenapa sayang? Kan tadi mau buru-buru berangkat ke sekolah”


“Aku masih ingin naik mobil, aku masih mau bercerita banyak hal dengan Om Rama” rintihnya degan sedih.


Risma begitu merindukan kehadiran sosok ayah atau figur lelaki dalam hidupnya. Selama tiga tahun Tari berpisah dengan Randi, hanya dalam hitungan jari Ipul datang untuk menjenguk mereka. Maklum ia begitu sibuk, selain mengurus toko roti Tari, ia juga bekerja di salah satu perusahan besar di Surabaya. Sosok figur seorang Ayah begitu di rindukan Risma.


“Kalau begitu nanti pulang sekolah biar Om yang jemput ya”


“Sungguh Om?”


Rama menganggukkan kepalanya.


“Tapi bagaimana Om? Aku belum minta izin sama Bunda”


“Nanti biar Om yang bilang sama Bunda. Tapi Om tidak punya nomor ponsel Bunda sayang” Rama mulai resah, bagaimana ia akan memberi tahu Tari.


“Tanang Om. Ini adalah nomor Bunda” Risma menyerahkan satu kertas kecil yang berbentuk id card. Di sana terdapat foto Risma, dan tertera nomor ponsel serta alamat wali atau Ibunya. Tari, dengan sengaja menyimpannya di tas Risma. Sebagai antisipasi jika ada sesuatu hal yang tida di inginkan, atau Risma hilang, maka rang yang menemukannya dapat lekas memberi kabar padanya.


“Oh anak pinter. Sini biar Om catat dulu ya”

__ADS_1


Lagi-lagi Rama tersenyum. Ia dapat dengan mudah untuk mendapatkan satu informasi tentang Tari dari anaknya.


“Om sudah sarapan?” Tanya Risma, sebelum keluar dari mobil.


“Belum sayang. Tadi Om buru-buru”


“Ambilah Om, ini burger buatan Bunda. Rasanya enak sekali. Bunda itu jago masak. Kapan-kapan Om Rama makan ya di rumahku” Risma menyerahkan satu kotak bekalnya pada Rama.


“Jangan sayang, ini kan punya Risma. Buat kamu saja ya nak”


“Tidak buat Om saja, aku bawa dua, nih Om lihat kalau tidak percaya”


“Kenapa bawa dua nak?”


“Biar di bagi sama teman-teman di sekolah. Tapi karena Om Rama belum sarapan, jadi aku bagi untuk Om saja” Risma tersenyum dan menyerahkan bekal tersebut pada Rama, sejurus kemudian ia tersenyum dan mencium tangan Rama dengan takzim.


Lagi-lagi Rama harus tertegun, ada perasaan yang tidak bisa di jelaskan. Ia hanya bisa menatap Risma dengan senyum ketika melihat gadis kecil itu turun dari mobil. Terlebih saat Risma, mencium tangannya, ada getaran tersendiri di jantungnya. Rama yang seorang Dokter sendiri tak mampu untuk mendefinisikan gejala apa yang terjadi padanya.


.


.


.


“Pagi juga” jawab Tari dengan kalem.


“Sepertinya ada yang lagi bahagia nih. Salah satu karyawannya menyenggol lengan Tari dengan sengaja. Seluruh pekerja di toko roti milik Tari memeng sudah seperti keluarga sendiri tak jarang di antara mereka saling menggoda satu sama lain, bahkan terkadang hubungan antara atasan dan bawahan nyaris tak ada sekat yang berarti.


“Bahagia dong, kan dapat orderan banyak” Jawab Tari begitu saja, memang pada kenyataanya akhir-akhir ini orderan di toko roti miliknya berlipat-lipat dari bulan-bulan sebelumnya.


“Bukan itu, tapi...” ia menjeda ucapannya, kemudian berlari untuk mengambil tepung. Ia tertawa geli melihat ekpresi wajah Tari yang tampak kebingungan.


“Ada apa?” tanya Tari dengan heran.


“Saya rasa, Risma akan segera punya Ayah kembali” bisiknya kemudian saat melintasi Tari yang sedang berdiri mengecek beberapa kebutuhan bahan kue yang telah habis.


Mata Tari membulat, ia tak menyangka denan apa yang di katakan karyawannya.


“Tak apa Bu, beliau orang baik, saya kerap kali mengantar Bapa berobat ke sana. Terkadang nih Bu, kita gak boleh bayar gratis begitu” ucapnya kemudian.


“Astaga, jangan membuat gosip yang tidak-tidak. Nanti kalau kedengaran orang bahaya. Tadi saya cuma nebeng, motor saya mogok”

__ADS_1


“Tak apa lah Bu, berawal dari nebeng berakhir dengan uhuk....”


“Heh!” Tari mengejar karyawannya yang lari begitu saja. Sontak pemandangan yang ada menyita perhatian aryawan yang lainnya. Mereka menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan majikannya.


.


.


.


Rumah sakit


Rama sedang duduk di ruangannya. Ia sedang menanti jam praktek di mulai. Pikirannya tertuju pada Risma, gadis kecil yang mengusik hatinya. Ia mulai membuka kotak makan yang Risma berian tadi. Dua potong burger degan saus, beserta kentang goreng tersaji di sana.


Senyum.


Rama tersenyum ketika melihat tutup kotak bekal yang bergambar barbie.


“Benarkah ini enak?”ucapnya bermonolog dengan dirinya sendiri.


“Tapi sayang kalau di makan, nanti habis. Tapi kalau tida di makan juga sayang” desisnya kembali dengan ragu.


“Biarlah ku coba”.


“Ternyata memang seenak ini”. Ia memandang lekat pada satu buah burger yang ada di tangannya. Tanpa pikir panjang, ia lekas menghabiskan seluruh burger tersebut tanpa sisa.


Risma....


Risma...


Risma....


Ada apa denganmu nak? Kenapa bayang-banyang wajahmu tidak bisa menghilang dari pikiranku. Semua tentangmu begitu menarik. Ah satu lagi ku begitu beruntung memiliki Ibu yang slalu mengajarkan kebaikan pada sesama, berbagi dan berprasangka baik.


Sebaiknya aku lekas hubungi Tari, biar dia nanti tidak keburu jemput Risma. Kebetulan nanti siang aku sedang tidak ada jadwal,


Akankah Rama tertarik untuk dengan Tari?


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2