Duri Dalam Keluarga

Duri Dalam Keluarga
Undangan


__ADS_3

“Lelaki yang mana Ran?” Ujar Bu Srining dengan gelisah. Ia menepuk-nepuk pundak anaknya


sedang menunggu jawaban. Sementara Randi, pria itu hanya diam saja dengan menunjukan wajah yang masam.


“Sudahlah Tar, jangan berandai-andai yang tidak-tidak. Mama tahu kamu masih belum bisa


sepenuhnya untuk memaafkan kami. Tapi tidak seharusnya kamu berbohong seperti ini. Jadi janda itu tidak mudah nak, tidak semua lelaki bisa menerima janda apalagi ada Risma yang kamu asuh. Sebagain laki-laki akan mempertimbangkan untuk meminang mu. Bukankah biaya untuk kehidupan anak juga tidaklah sedikit. Jika kamu kembali dengan Randi, hidupmu akan terjamin kamu tidak perlu capek-cepek mengurus toko”


Bu Srining masih mencoba untuk menyakinkan Tari, kata-katanya memang pelan, namun sungguh itu sangat menusuk hati Tari. Ternyata ia tak banyak berubah. Masih sama memaksakan kehendak yang menjadi hajatnya.


Tari memilih untuk tersenyum dan bersikap tenang.


“Yang Mama katakan memang benar. Tak mudah bagi serang janda untuk mendapat jodoh kembali, terlebih yang menerima dengan ikhlas segala kondisi yang ada. Karena memang


pernikahan tidak hanya tentang dua insan melainkan dua keluarga. Bisa saja laki-laki tersebut mau menerimaku tapi tidak dengan keluarganya”


Bu Srining tersenyum puas ketika mendengar jawaban Tari. Ia berkeyakinan jika Tari akan berubah pikiran, mengingat apa yang baru saja di katakan nya.


“Memang begitu. Menikah itu tidak hanya tentang berdua tapi tentang dua keluarga besar


yang saling melengkapi dan menerima segala kekurangan dan kelebihannya”


Tari kembali menganggukkan kepalanya.


“Untuk itu Ma, saya berdoa semoga Mas Randi mendapat jodoh yang terbaik selain saya. Yang


bisa menerima segala kekurangan dan kelebihan yang ada. Termasuk menerima keadaan keluarga besarnya”


“Maksud kamu apa bicara seperti ini!”


“Tenanglah Ma, jangan bicara dengan nada tinggi. Ingat Mama baru sembuh. Dokter mengatakan jika Mama tidak boleh banyak pikiran dan dalam keadaan tegang” Pak Nario memilih untuk mengelus lembut punggung istrinya dengan pelan.


Tari beranjak dari tempat duduknya. Ia tersenyum sebelum berbalik arah dan menuju ke kamar.


“Mau kemana anak itu? Ada tamu bukannya di temui malah di tinggal pergi” desisnya kembali.


“Sebentar Bu, sepertinya ada yang mau di ambil Tari di kamar. Silahkan di minum lagi tehnya mumpung masih hangat”


Seperti yang di katakan Bu Marni, tak berselang lama Tari kembali bergabung duduk bersama mereka. Ia menyerahkan sebuah kertas akasia berbalut pita rapih yang bertuliskan the wedding Bethari Ambarwati dan dr. Rama Nugroho.


“Jika tidak keberatan, silahkan datang di acara kami nanti, insyaallah akan di selenggarakan bulan depan. Kalian semua adalah orang pertama yang menerima undangan ini. Suatu kehormatan bagi kami jika Mama, Papa dan Mas Randi berkenan untuk hadir nanti”

__ADS_1


Tari tersenyum menatap wajah pias ketiga orang yang ada di depannya.


“Kamu beneran mau nikah Tar?”


Randi tak lagi mampu menahan rasa sakit dan kecewanya. Ia bangkit dari tempat duduk untuk memperjelas keadaan yang ada.


“Benar, seperti yang mas, lihat di undangan itu. Mohon maaf atas segala yang sudah terjadi. Ku harap Mas Randi bisa berlapang dada akan keputusan yang telah saya pilih”


Randi tidak bisa berkata apa-apa. Pria itu tertunduk lemas di sofa ruang tamu. Tatapan


matanya nanar. Melihat mantan istrinya yang akan bersanding dengan pria lain.


Sakit.


Sakit sekali, begitulah rasanya. Bahkan pagi yang begitu cerah tiba-tiba berubah menjadi mendung yang sudah siap untuk menurunkan hujan. Layaknya ia turut merasakan patah hati yang di rasa oleh Randi.


“Sebaiknya kita pulang Ran, sebentar lagi hujan. Kami permisi”


Tak ada acara jabat tangan sebagai simbol berpamitan. Bu Srining lekas menarik tangan anaknya dan membawa keluar dari rumah itu. Hal yang sama juga di lakukan pak Nario. Pria itu memilih untuk mengikuti istrinya dari belakang, tak ingin menambah kekacauan yang terjadi nantinya.


Tari dan Bu Marni, mengantarkan tamunya hingga ke depan pintu rumah sebagai wujud


“Kau sudah mengambil keputusan yang paling tepat nak, tidak ada yang bisa di harapkan dengan kembali pada keluarga seperti itu. Randi memang anak yang baik dan berbakti pada orang tuanya. Hanya saja sepaket orang tuanya yang tidak layak untuk di jadikan sebuah keluarga”


Tari tak memberikan jawaban apapun. Ia hanya tersenyum menatap Ibunya dan membalas


pelukan Bu Marni.


“Aku mau siap-siap ke toko dulu Bu Setelah ini”


**************


Kediaman Ibu Rahma.


Pagi ini Bu Rahma sedang sibuk mempersiapkan segala seserahan yang akan di berikan pada menantunya nanti. Rama adalah anak satu-satunya dalam keluarga itu. Pernikahan


Rama yang terdahulu tidak di rayakan sama sekali. Hanya sebuah syukuran kecil selepas akad nikah. Tak ada pesta dengan segala perintilannya mengingat pernikahan itu tidak mendapat restu dari pihak keluarga mempelai wanita.


Ada rasa bersalah yang di miliki Bu Rahma pada Rama. Untuk itu, ia menebus segala yang belum pernah ia berikan dulunya. Senja memang wanita yang baik. Bu Rahma juga menyayangi dengan sepenuh hati mendiang menantunya dulu. Tapi Senja sudah Berpulang dan tidur dengan tenang. Tidak seharusnya ia terlelap dalam duka,


sementara dunia masih terus berjalan.

__ADS_1


Bu Rahma belajar untuk tidak membedakan antara Tari dan Senja nantinya. Ia menyakini


keduanya memiliki sisi baik dan ciri khas tersendiri. Semenjak bertemu dengan Tari, bu Rahma sama sekali tak pernah membahas menantunya yang dulu. Ia tak ingin membuat Tari berada dalam kondisi yang tak nyaman di tengah-tengah keluarganya.


Beberapa hari yang lalu ia mulai berbelanja sejumlah set perhiasan sebagai kado untuk


calon menantunya. Tak tangung-tanggung ia membelikan berlian dengan desain terbaru. Lebih dari itu ia juga membelikan beberapa tas, sepatu berikut baju-bajunya. Ia sengaja tak mengajak Tari untuk berbelanja. Karena ingin memberikan kejutan untuknya.


Rama pun demikian lelaki itu memasrahkan semuanya pada sang Mama untuk mengurus


segala kebutuhan pernihakan.sebenarnya ia tak ingin mengadakan acara yang besar dan meriah. Ia ingin pernikahan ini di lakukan dengan sederhana namun sakral. Tapi untuk hal ini, Bu Rahma tidak bisa menyetujui. Ia ingin mengadakan pesta yang besar. Sebagai wujud rasa bahagianya dan ingin membagi pada sesama nantinya.


“Ram, untuk baju akad dan resepsi bagaimana?” tanya Bu Rahma melalui sambungan telfon


di tengah-tengah aktivitasnya memilih seragam untuk keluarga di ruang tengah. Hamparan kain saling berserakan di lantai. Ia yang di bantu beberapa ART di sana sedang sibuk menata setiap helaian kain-kain tersebut.


“Kalau untuk itu, aku diskusi dulu sama Tari Ma. Aku rasa dia juga mempunya keinginan yang harus di wujudkan”


“Benar, untuk urusan semacam ini sebaiknya diskusikan dulu dengan calon istrimu. Nanti mama bantu untuk mencarikan tempatnya”


“Baik Ma terimakasih bantuannya”


“Oh tentu saja anakku, satu lagi Ran. Ada yang mau Ibu katakan padamu”


Ia


meragu ingin mengatakan hal itu, tapi rasanya sangat mengganjal jika tidak di


ungkapkan.


“Apa Bu?” jawab Rama dengan resah menunggu jawaban Ibunya.


Hmmm.


Bu Rahama terdiam untuk sesaat, ia memainkan ujung dasternya *******-***** dengan


jemarinya. Tak ada suara yang terucap hanya lengkingan angin yang samar-samar terdengar dari pesawat telepon yang mengudara.


“Bu, apa? Katakanlah”


Halo teman-teman mumpung sekarang hari Senin jangan lupa vote nya ya ☺️

__ADS_1


__ADS_2