
Setelah menempuh perjalanan yang lumayan jauh, dua jam kemudian rombongan peserta honeymoon tersebut telah memasuki kawasan trawas Mojokerto. Sepanjang perjalanan mereka di suguhkan dengan indahnya pemandangan hijau yang ada di depan mata,menghiasi setiap sisi jalanan menuju vila serta hawa dingin yang begitu menyejukkan.
Beberapa kali Tari membuka dan menutup aplikasi penyewaan vila untuk melihat review dari beberapa customer yang pernah menikmati.
“Mas”. panggilnya dengan alunan nada yang menenangkan.
“Dalem”.
“Kita jadi pilih vila yang mana?”.
“Yang mana saja kiranya nyaman untuk kita semuanya”.
“Mas”. Panggilnya lagi dengan mode yang sama.
“Dalem sayang, ada apa”. Kali ini Randi mendekatkan wajahnya pada Tari.
Sementara di jok bagian belakang Ibu dan Ipul tampak saling tersenyum melihat adegan di depannya, mereka berdua sengaja diam saja tak berani membuka suara bahkan menggoda sengaja memberikan ruang untuk Tari dan Randi agar semakin dekat.
Diam.
Tari tak kunjung memberikan jawabannya.
Sedang Randi sudah di buat penasaran tiada terkira apa yang akan di sampaikan oleh istrinya, begitu juga Ibu dan Ipul turut serta tegang menunggu lanjutan kalimat yang keluar dari mulut Tari.
“Mas”. Panggilnya kembali ingin memastikan.
“Iya istriku, bicaralah ada apa?”.
Tari tersenyum dan menjeda kalimatnya, sepertinya mas Randi sudah siap dengan apa yang akan di katakan Tari.
“Harga sewa villanya mahal”.
“Terus?”.
“Ya udah gitu saja”. jawabnya dengan *******-***** jari-jemarinya cemas.
Hahahaha.
Randi hanya tertawa melihat perilaku Tari.
“Sayang, aku tak semiskin yang kamu bayangkan, jadi tenang saja aku lebih dari sanggup untuk menyewa villanya bahkan membeli saja aku sanggup jika memang kamu minta”.
Tari tersenyum sudut bibirnya kembali tertarik ke atas membentuk suatu lengkung.
“Sudah pilih saja yang mana kamu suka”.
__ADS_1
Randi mulai mengurangi kecepatan mobilnya, sambil mencari-cari kiranya mana penginapan yang cocok untu tempat mereka bermalam nanti.
“Kalau Ibu mau yang mana?”. Randi mencoba menawarkan pada sang mertua, jika saja Ibu memiliki keinginan khusus.
“Terserah nak Randi, ibu ikut saja. Ibu mana mengerti beginian ini juga pertama kalinya”.
Mendengar jawaban Ibu, kini Randi mulai berfikir, apa salahnya menyenangkan hati keluarga besar terlebih dahulu toh mereka semua sekarang juga sudah menjadi bagian dari hidupnya.
“Sayang sudah dapat tempatnya?”.
“Kalau misal yang ini bagaimana mas?, menutut review pengunjung-pengunjung sebelumnya vila ini bagus harganya juga relatif tidak terlalu mahal”.
Tari menyodorkan ponselnya, menggeser beberapa gambar yang tampak di layar dan sesekali membacakan review penilaiannya.
“Oke boleh juga, ya sudah kita pilih saja yang itu, tolong konfirmasi pemesanannya sayang”.
Dengan sigap Tari lekas memesan vila tersebut.
TIN...TIN...TIN...
Suara klakson Udin dari belakang nampaknya sebagai tanda jika kita harus berhenti sejenak, mungkin ada yang ingin mereka sampaikan. Tangan Udin melambai-lambaikan lewat jendela untuk berhenti sejenak di minimarket terdekat.
Beberapa saat kemudian mereka berhenti di salah satu minimarket sejuta umat Indomarit, semua orang yang ada dalam mobil keluar termasuk keluarga Bude Murni dan Pakde Dar.
“Tar, gimana sudah dapat villanya?”,
“Bagus gak? Yang bagus lo jauh-jauh ke sini kalau tidak bagus kan rugi”. bude memgibas-ibaskan rambutnya yang panjang.
“Bagus bude insyaallah”.
“Eh kita mampir beli jajan dulu ya, nanti kalau sudah di sana kan malas untuk keluar rumah”.
Semua keluarga bude lekas masuk menuju toko tersebut, mengambil keranjang dan memasukan dengan asal semua jajan yang terlihat menggoda bagi mereka, sedangkan keluarga Tari masih di luar enggan untuk masuk.
“Mas, panggil Randi dan yang lainnya, ini nanti siapa yang bayar kalau Randi dan Tari tidak ikut masuk ke dalam”. Bisik bude pada pakde.
“Oh iya, ibu betul juga”.
Pakde dengan langkahnya yang mencoba untuk cepat lekas menuju ke Tri beserta yang lainnya.
“Ayo masuk pilih jajan dulu”.
“Tidak usah mas, kita di sini saja, lagian aku tadi bawa banyak jajan dari rumah sisa hajatan kemarin kan sayang kalau di buang mubazir”. Jawab Ibu dengan membuka tas memperlihatkan pada Pakde beberapa isis tasnya.
“Ya beli lagi saja Mar, dikit buat jaga-jaga dari pada nanti kelaparan”.
__ADS_1
“Ayo!”. perintah pakde yang begitu memaksa.
Sebenarnya Ibu dan Tari sudah tau akan di bawa alur ceritanya kalau Pakde sudah menjemput. Bukan mereka yang dermawan untuk membelikan kami jajan tapi karena kamilah nanti yang akan membayar jajan-jajan itu semua nanti.
Kalian tidak percaya?.
Tunggu saja, dalam hitungan.
Satu
Dua
Tiga
Tuh kan apa aku bilang.
“Nak Randi sini dong”. Panggil bude dengan melambai-lambaikan tangannya pada kami yang berada di luar toko.
Randi yang tak tahu tentang kebiasaan ajaib saudaranya tersebut lekas berlari menuju bude barunya.
“Ada apa bude?”.
“Tolong di bayar dulu Ran belanjaan Bude, kebetulan uang Bude tertinggal di mobil.
Randi lekas meraih dompet di saku celananya, kali ini mengeluarkan sebuah kartu untuk membayar belanjaan bude tersebut.
Sedang Tari dan Ibu yang berada di luar toko tersebut secara bersamaan mengelus dada dan membuah nafas kasar.
“Astagfirullah”, tak lupa lantunan istighfar berkali-kali mereka lantunkan.
Semua keluarga kembali memasuki mobil masing-masing, bude menyerahkan dua botol air mineral pada Ipul dan Ibu sedang semua jajanan yang mereka beli tadi di bawa masuk ke dalam mobilnya.
Lima belas menit kemudian, mobil sudah memasuki area vila yang di sewa. Tari memilih vila Melati untu tempat mereka bermalam. Vila ini cukup luas namun tak begitu yang teramat sangat luas kiranya masih muat kalau hanya untuk orang yang tak sampai sepuluh orang.
Vila ini juga di lengkapi dengan kolam renang, dan terdiri dari tiga kamar tidur. Satu kamar untuk Tari dan Randi, satu kamar untuk bude dan pakde dan satu kamar lagi untuk Ibu dan anak bude yang cewek. Sedang Ipul dan Udin akan tidur di ruang tengah depan tv.
Seperti biasa ketika memasuki area vila tersebut Bude lekas live report tentang kondisi penginapan tersebut.
“Hay bestie kita sedang liburan nih, kali ini di vila Melati Trawas lihatlah, vila ini ada tiga kamar dengan ukuran yang tak terlalu luas tapi cukuplah ya, ada kolam renang yang airnya cukup untuk mandi bebek saja”.
Tangannya melambai-lambai menunjukan seisi area vila tersebut, nampaknya bude Murni kura puas dengan apa yang menjadi pilihan Tari kali ini.
“Biarlah, bodo amat orang gak ikut bayar juga”. ucap Ipul yang berada di sebelah Tari.
Tari hanya menggeleng-gelengkan kepala dan lekas menyeret tasnya untuk membawa ke kamar.
__ADS_1
Tari memilih kamar yang paling depan, dengan view pegunungan yang indah.
“Eh Tar, kamar yang itu buat bude saja, kamu kamar yang nomor dua nih”.