Duri Dalam Keluarga

Duri Dalam Keluarga
Pernikahan Rama dan Tari


__ADS_3

“Aku harap dia tidak mengnggu waktu kita malam nanti” bisik Rama di telinga Tari.


Deg...


Hati Tari berdesir mendengar candaan suaminya. Ia menuduk dan tersenyum gugup. Sungguh


wajahnya sudah memerah saat itu juga.


Acara di lanjutkan dengan prosesi temu manten. Dalam acara ini Tari dan Rama mengusung konsep Jawa. Dimana keduanya berasal dari daerah yang sama. Mereka berganti pakaian menggunakan kebaya bludru hitam dengan taburan sulaman benang emas di beberapa bagian sisi kebaya. Dimana dengan menggunakan kain bludru diharapkan kedua pasangan pengantin mempunyai kepribadian yang halus seperti kain bludru, warna hitam menggambar kebijaksanaan sementara warna emas menunjukan keanggunan dan keagungan.


Hijab khas jawa lengkap dengan melati yang menjuntai panjang di bagian sisinya serta beberapa bunga cunduk mentul yang berdiri tegak di atas kepala Tari membuat penampilannya terlihat sangat cantik dan mempesona pagi itu. Siapa saja yang melihatnya pasti tak akan menyangka jika pengantin wanita dalam pernikahan ini adalah seorang janda yang terhormat.


Seperti pada acara-acara sebelumnya, Risma turut terlibat dalam setiap rangkaian acara.


Gadis kecil itu akan berdiri dengan penuh percaya dirinya di hadapan Ayah dan Bundanya. Ia membawa rangkain buket bunga yang cantik. Tak ada gambaran rasa keberatan yang tersirat dalam wajah Rama maupun Tari. Keduanya menyayangi


Risma tanpa syarat dan tanpa alasan.


Acara di lanjutkan dengan prosesi sungkeman yang di lakukan pada kedua orang tua pengantin. Ibu Murni selaku orang tua Tari di dampingi Pakde Dar mengingat Tari adalah anak yatim sejak kecil.


Rama dan Tari bersimpuh di bawah kaki Bu Marni mereka memohon restu dan meminta maaf.


“Ibu, maafkan atas segala kesalahan yang telah saya perbuat. Ibu mohon doa dan restunya untuk kebahagian kami berdua beserta keluarga kecil kami nantinya”


Rama Mencium tangan Bu Mari dengan penuh takzim. Ia meminta doa dengan sepenuh hatinya


untuk kebahagian keluarga baru yang akan ia bina bersama Tari setelah ini.


“Nak Rama, ibu titipkan putri Ibu padamu. Jagalah dia dengan sebaik-baiknya. Berjanjilah pada Ibu kamu tidak akan menyakiti hatinya, walau seujung kuku. Ibu tidak akan rela untuk hal itu. Jadilah kalian pasangan suami istri yang slalu


di limpahkan kasih dan sayang dalam setiap perjalanan pernikahan kalian berdua”


“Ibu maafkan aku, atas segala dosa yang telah aku lakukan padamu selama ini. Bu hari ini aku kembali menikah, aku kembali menjadi seorang istri. Bu aku harap ridho dan do’amu untuk menyertai setiap langkahku” Tari tak kuasa untuk tak menahan tangisnya. Lelehan bening menguar begitu saja melewati pelupuk matanya.


Hal yang sama juga di lakukan Ibu. Ia sudah mencoba untuk sekuat tenaga menahan tangisnya, namun air mata itu meluruh begitu saja. Terlebih ketika teringat segala yang telah terjadi pada putrinya. Ia mendongak ke atas menatap langit-langit tenda pelaminan yang di hiasi dengan aneka bunga dan lampu kristal.


“Do’a Ibu akan slalu menyertaimu nak, jadilah istri yang sholeha. Ibu yang baik untuk anak-anakmu. Ibu ridho dengan sepenuh hati akan pilihanmu ini nak. Jadilah keluarga yang sakinah, mawadah dan warohmah. Semoga kebahagian slalu menyertai kehidupan kalian berdua. Aamiin”


Bu Marni menepuk-nepuk dengan pelan pundak anaknya seraya merangkul dalam waktu yang sangat lama. Bahkan getaran dari bahu mereka dapat terlihat jelas di mata undangan yang datang. Rama membimbing Tari untuk pindah menuju orang tuanya. Hal yang sama juga mereka lakukan. Bersimpuh dan memohon restu pada orang tua Rama. Haru membiru, begitulah suasana yang terjadi kala itu. Tak jarang dari

__ADS_1


beberapa tamu undangan turut menitikkan iar mata haru mereka.


Acara di lanjutkan dengan sesi foto bersama keluarga yang turut dalam rombongan pengantin Ini. Keluarga Bude Murni dan Pakde Dar, menjadi orang pertama yang naik menuju pelaminan. Mereka dengan segenap gayanya mulai beraksi di atas pelaminan. Bersua foto dengan segala gaya yang ada.


“Tar, bude mau bikin story Wa dulu. Biar orang-orang di rumah tahu kamu sudah tak


janda lagi” ucapnya dengan mengarahkan kemera ponselnya ke arah wajah mereka.


Cis..


Cis..


Cis..


“Bentar Tar, vidio dulu biar keren”


Tari mengangguk patuh atas permintaan Budenya. Bukankah ini adalah moment bahagia.


Jadi pantas jika di abadikan dan di bagikan pada yang lainnya. Tangan Bude mulai terangkat melambai-lambai dan mengarahkan kamera ponselnya pada segala arah.


“Hay gaes, coba tebak aku lagi di mana? Hayo...”


“Gaes Marni lagi mantu. Lihat nih acaranya megah sekali, makanannya banyak. Dekorasinya


cantik sekali, mewah kayak nikahannya artis-artis” Bude mengarahkan kameranya


memperlihatkan segala pernak-pernik dekorasi pernikahan. Ia juga memperlihatkan aneka menu makanan yang terhidang dalam acara pagi itu.


Ipul berdiri di ruang tamu. Ia bersendekap menatap bahagia pada Mbaknya. Wanita hebat


yang telah melalui banyak hal dalam hidupnya. Segala doa-doa baik ia lantunkan untuk kebahagian saudara satu-satunya yang ia miliki saat ini. Ia juga terlihat beberapa kali menyeka sudut matanya yang berair. Dalam hati berharap ini akan menjadi pernikahan yang membawa kebahagian untuk keluarga mbaknya.


“Ya Allah bastie selamat ya. Aku masih belum menyangka akan hal ini ketika menerima


selembar undangan darimu”


Fitri datang membawa serta anak-anak dan suaminya. Ia begitu heboh bahkan sejak baru


saja kakinya menginjakan pelantaran rumah Tari. Keduanya saling berpelukan cukup lama melepas segala kerinduan yang ada.

__ADS_1


“Trimakasih ya Fit, sudah datang dalam acara pernikahanku ini”


“Aku pasti akan datang, aku tidak akan meninggalkan moment bersejarah ini”


“Oh ya ngomong-ngomong siapa pria beruntung yang dapat meluluhkan hatimu yang mengeras bagaikan sebongkah batu besar di tepi lautan” Fitri melepas pelukannya pada Tari, ia lekas menatap sekilas pada lelaki yang bersanding di sebelah sahabatnya.


“Dia Ayah Risma” terang Tari dengan raut wajah yang berseri bahagia.


“Hah, Maksudnya?” Fitri mengkerutkkan keningnya dan menatap Rama dengan penuh tanda tanya.


“Allah berbaik hati padaku Fit, dia mengirimkan Ayah Risma sebagai penyempurna separuh


agamaku. Benar, ini adalah Mas Rama ayah kandung Risma anakku” terang Tari dengan


mata yang berkaca-kaca bahagia.


“MasyaAllah” Fitri tak bisa berkata apa-apa, ia hanya mampu menatap Rama dan Tari dengan


menganga.


“Ini adalah wujud kesabaran yang telah kau lalui Tar” keduanya kembali berpelukan di atas pelaminan.


“Mau sampai kapan pelukan dan nangis-nangis seperti ini Fit? Lihat bulu mataku bahkan


sudah hampir luntur terlalu banyak menangis hari ini. Makanlah kamu pasti sudah lapar sekali”


Risma begitu bahagia bertemu dengan Arsy. Ia lari menuju sahabatnya yang sudah beberapa tahun ini tidak bertemu. Mereka saling bergandengan tangan seperti orang tuanya, sekaan sedang bercerita banyak hal pada sahabatnya.


Kini Rama dan Tari masih duduk di pelaminan. Melanjutkan beberapa rangkaian cara yang telah di susun panitia. Sepanjang acara wajah mereka begitu bahagia. Rama yang tak dapat berpaling sedikitpun dari wajah cantik Tari. Tak terhitung


berapa kali ia melirik wanita yang bergelar istrinya saat ini.


Jemari mereka saling bersentuhan untuk yang pertama kali, menggenggam dengan penuh


cinta.


Kalian tanya rasanya bagaimana?berada dalam satu panggung yang sama dengan orang


terkasih dalam sebuah ikatan sakral pernikahan yang halal.

__ADS_1


__ADS_2