
Sore yang hangat, ketika semburat warna jingga menyapa cakrawala. Menghadirkan senja yang cantik di pelupuk mata. Tak terasa, tiga hari sudah Tari dan Rama berikut Risma pergi berlibur. Kini saatnya mereka kembali ke rumah untuk melakukan aktivitas seperti biasa. Mereka kembali dari berlibur dengan penuh suka cita.
Risma slalu menjadi penengah di antara kedua orang tuanya.
Bu Rahma dan Pak Alan, bersiap untuk menjemput kedatangan mereka di bandara sore
itu. Sementara Bu Marni mempersiapkan jamuan untuk makan malam nantinya demi menyambut kehadiran anak dan cucunya yang beru datang.
Satu jam menempuh perjalanan, sampailah Rama beserta rombongan di bandara. Risma dengan segera melambaikan tangannya ketika melihat kehadiran Bu Rahma dan Pak Alan.
“Nenek, aku di sini” ia berlari dengan cepat menuju nenek dan kakeknya dengan senyum
yang terlihat manis di wajahnya.
“Princes, nenek kangen sekali sama kamu nak” Bu Rahma memeluk cucunya dengan sayang. Ia lekas menghujani pipi Risma dengan banyak kecupan manis. Sementara Rama dan Tari,
keduanya saling bergandengan tangan dan menyusul sang putri yang sudah lebih dulu bertemu neneknya.
“Kita langsung pulang saja ya, Bu Marni sudah menunggu kalian di rumah” ucap Bu Rahma seraya memeluk singkat menantu barunya. Tak lupa Tari, meraih tangan mertuanya dan mencium dengan takzim.
“Iya, kita langsung pulang saja bagaimana Mas?” tanya Tari, dengan sekilas melirik ke arah Rama, yang saat itu sedang sibuk dengan koper bawaan mereka.
“Boleh juga. Aku juga sudah lelah”
Seluruh keluarga lekas menuju mobil untuk bersiap pulang. Perlahan roda mobil mulai
berputar saling bergesekan dengan hitamnya jalanan. Mata Tari, mengedar menatap ke arah luar jendela melihat cantiknya senja yang seakan tersenyum padanya.
Risma duduk di kemudian belakang beserta kakek dan neneknya. Sementara Rama, pria itu
mengambil alih kemudi mobil yang di tumpanginya.
“Bagaiman liburannya nak?” tanya Bu Rahma dengan mengelus lembut rambut cucunya. Tiga
hari tak berjumpa dengan Risma, membuat wanita paruh baya itu merasa kesepian yang tiada terkira.
__ADS_1
“Seru nek, tapi sayang cuma sebentar. Kapan-kapan kita liburan lagi ya. Ajak semuanya.
Kita ajak nenek Marni juga. Boleh kan Yah?”
Risma menarik-narik kaos yang di kenakan Ayahnya. Ia tak sabar menunggu jawaban Rama
yang tampak sedang konsentrasi dengan kemudinya.
“Tentu saja boleh princes. Kapan-kapan kita liburan dengan semua keluarga”
Sepanjang perjalanan Risma tak berhenti berbicara. Entah ada saja hal yang di ceritakan
pada nenek dan kakeknya. Ia juga bertanya banyak hal. Tentang apa saja yang di lihat dan terkesan asing di matanya. Dengan segera ia akan menuntut penjelasan sampai rasa penasarannya terjawab semuanya.
Tak terasa satu jam berlalu. Kini mobil mereka sudah sampai di halaman rumah bu
Marni. Rama lekas memarkirkan mobil d halaman depan. Ia beserta keluarga yang lain lekas turun dan masuk bersama. Kehadiran Risma seketika menghidupkan suasana rumah Bu Marni, yang beberapa hari ini terasa sunyi tanpa celotehan
cucunya.
“Senang sekali dong nek. Aku bisa melihat pantai yang luas. Hamparan pasir putih yang indah dan bersih. Di sana banyak sekali makanan dan jajan nek. Ayah dan Bunda membelikan ku banyak sekali kue-kue”
“Oh ya aku punya oleh-oleh untuk kakek dan nenek” matanya menatap ke arah Bu Rahma,
Bu Marni dan Pak Alan. Sejurus kemudian ia lekas berlari mencari koper yang berisi oleh-oleh untuk keluarganya. Ia membongkar paksa koper tersebut dan mengeluarkan isinya dengan asal, demi untuk megambil oleh-oleh yang telah di belinya di Bali beberapa waktu yang lalu.
“Ini untuk nenek Rahma dan nenek Marni, yang ini untuk kakek Alan” Risma menyerahkan beberapa baju dan tas pada mereka. Oleh-oleh yang di pilih sendiri ketika berbelanja di sana.
“Wah ini bagus sekali nak”
“Iya dong kan aku yang pilih Nek” jawabnya dengan begitu bangga.
“Kamu sendiri yang pilih? kamu belanja di pasar sendiri begitu nak?”
“Ya tidak dong nek, di temani Ayah dan Bunda”
__ADS_1
“Hati-hati ya nak kalau sedang berlibur, jangan main sendiri. Takutnya hilang nanti. Pegangan
terus sama Ayah dan Bunda” desis Bu Marni memberikan peringatan. Ia paham betul jika Risma tipe anak yang tidak bisa diam.
“Tenang saja nek, aku tidak akan hilang. Justru Ayah dan Bunda yang sering hilang kalau malam”
“Hah! Hilang bagaimana?” kini Bu Rahma menatap mata sang cucu menunggu sebuah
penjelasan. Sementara Rama dan Tari saling berpandangan dalam diam. Tak bisa di pungkiri suhu tubuh mereka sudah panas dingin mendengar celotehan Risma.
“Iya nek, Ayah dan Bunda kalau malam suka menghilang dari ranjang. Awalnya kan kita
tidur bertiga, aku di tengah-tengah. Tapi saat aku terbangun aku slalu tidak menemukan kehadiran mereka di sana” jawabnya Risma dengan begitu santai.
Rama dan Tari hanya bisa celingukan dan menggaruk kepalanya yang tak gatal. Sementara
Bu Rahma lekas memandang anak dan menantunya secara bergantian. Rama dan Tari,
memang sengaja memesan kamar hotel dengan tipe connecting room demi untuk tercapainya tujuan mereka tanpa gangguan dari siapapun termasuk dari anaknya. Sungguh saat itu Tari, ingin menenggelamkan saja wajahnya.
“Ya sudah kita makan dulu, pasti kalian sudah lapar” bu Marni sebagai tuan rumah lekas mempersilahkan seluruh orang yang ada di sana untuk makan bersama malam itu.
Makan malam sederhana penuh cinta untuk dua keluarga lengkap. Ada anak, menantu, cucu berikut besan yang turut memeriahkan suasana. Sepanjang makan malam Risma masih asyik bercerita tentang segala yang ia lalui di sana. Termasuk bagaimana cara Rama dan Tari memperlakukannya ketika di pantai.
Bu Marni dan Bu Rahma hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya saja. Dalam hati mereka berbicara “harusnya kamu tidak usah ikut nak. Kasian juga orang tuamu yang sedang ingin merajut tali kasih”
Waktu menunjukan pukul sembilan malam. Risma terlihat beberapa kali menguap, sepertinya ia sangat kelelahan setelah berlibur. Bahkan beberapa kali matanya terlihat menutup seakan sedang menahan kantuk. Bu Rahma dan Pak Alan yang menyadari hal itu lekas berpamitan untuk pulang.
Sebelum berpamitan untuk pulang. Bu Rahma, mengambil sesuatu di dalam tasnya. Ia menyelipkan benda itu ketika Tari sedang bersalaman mencium tangannya.
“Coba saja di cek dulu nak. Siapa tahu sudah jadi yang di dalam sana” Bu Rahma tertawa geli dan lekas menuju ke dalam mobilnya.
Sementara Tari, dengan perasaan yang gugup dan awas ia mulai melihat benda kecil yang di
selipkan dalam tangannya.
__ADS_1
Deg...