
Satu minggu kemudian, Tari dan Randi kembali ke Surabaya, Tari memutuskan untuk turut serta mendampingi suaminya di Surabaya sedang Ibu dan Ipul akan tetap tinggal di rumah lama mereka.
Randi dan Tari sudah tiba di kediaman rumah Bu Sringing, rumah tersebut tidak terlalu mewah seperti rumah-rumah pemilik pabrik. Rumah berpagar putih dan memiliki halaman yang cukup luas untuk ukuran wilayah Surabaya. Rumah tersebut juga di lengkapi dengan taman mungil yang menambah kesan asri penghuninya.
“Bagus nyaman sekali mas rumahnya”. Ucap Tari dengan memandang sekeliling area rumah tersebut. Tari begitu takjub dengan gaya penataan taman rumah, meskipun kecil namun jika di lihat akan dapat memanjakan penglihatan.
“Kamu menyukainya sayang?”, Tanya Randi pada istrinya.
“Iya aku suka”, Tari masih berjalan-jalan kecil berkeliling taman dan kebun rumah tersebut.
“Semoga kamu betah ya tingga bersamaku di sini”. Bisik Randi dengan memeluk istrinya yang masih melihat-lihat sekeliling kebun tersebut.
Hem...hem....
“Jadi mau diluar saja tidak masuk?”, suara deheman dan sapaan mama membuyarkan kemesraan mereka berdua.
“Oh mama maaf ma”.
Tari lekas mendekat pada mama mertuanya, dan mencium punggung tangan wanita paruh baya tersebut, sedang sang mama mengelus lembut kepala menantunya .
“Mari masuk nduk, mama sudah menyiapkan banyak sekali makanan untuk menyambut kalian berdua”.
Tari dan bu Srining berjalan bersamaan ke dalam rumah, dengan bu Srining yang menggandeng tangan Tari. Randi begitu terharu melihat pemandangan tersebut, karena sepanjang cerita yang Randi dengar selama ini menantu akan sulit akur dengan mertua.
Tapi hal semacam ini tak berlaku untuk Tari, Tari begitu menghormati dan menghargai sang mama, Tari juga pandai dalam membawa dan memposisikan dirinya. Sedangkan sang mama memperlakukan Tari tidak seperti anak mantu, mama begitu menyayangi Tari selayaknya anak kandung sendiri, karena dari dulu mama mertuanya memang sangat menginginkan seorang anak.
***
__ADS_1
Kehidupan pernikahan yang Tari jalani begitu sangat indah dan membahagiakan, memiliki mama dan papa mertua yang begitu menyayanginya layaknya seperti anak sendiri, membuat Tari merasa begitu di istimewakan, suami yang begitu perhatian dan mencintai dengan sepenuh hati.
Di balik dari kesempurnaan kehidupan Tari yang ada di Surabaya berbanding terbalik dengan kehidupannya di Jombang, keluarga yang layaknya penjajah, menggerogoti dari berbagai sisi untuk merongrong kehidupan Tari.
Tari tetap memberikan uang bulanan untuk hidup Ibu dan Ipul dengan jumlah yang sama seperti ketika dia masih bekerja dulu, tentu saja semua ini atas permintaan Randi. Randi yang mengcover segala kebutuhan keluarga di Jombang
Terkadang Tari juga merasa tidak enak pada Randi karena terlalu sering merepotkan dan meminta banyak hal, meskipun ini bukan permintaan Tari melainkan perintah bude dan pakdenya yang di atas namakan perintah Ibu, mana mungkin Randi berani menolak dan mengecewakan.
Terlalu sering permintaan dari keluarga Tari, membuatnya berinisiatif untuk membuka usaha sendiri tentu saja atas ijin dan modal dari sang suami.
Tari memutuskan untuk membuat toko kue, selain untuk mengisi kekosongan dalam aktivitasnya, juga tentu untuk menutup kebutuhan keluarganya. Randi memang memiliki kebebasan finansial yang mapan, hanya saja Tari tak ingin sepenuhnya bergantung pada sang suami.
Alhamdulilah dengan membuka toko kue ini sedikit banyak dapat membantu Tari untuk memenuhi segala kebutuhan Ibu dan Ipul di rumah, Tari juga dapat menabung sedikit demi sedikit laba yang dia peroleh dari toko rotinya untuk persiapan biaya pendidikan Ipul kelak.
Selain masalah keluarga yang di Jombang, ada beban tersendiri yang sering mengganggu pikiran Tari, yakni kehadiran seorang buah hati yang tak kunjung di titipkan oleh sang khalik padanya.
Enam bulan sudah, Tari dan Randi merajut indahnya menjalani kehidupan pernikahan hanya saja hingga kini belum juga mendapatkan keturunan. Tari sering merasa kesepian, merasa belum menjadi wanita yang sempurna hingga saat ini.
Tiada malam yang Tari dan Randi lewati tanpa berdoa memohon untuk kehadiran anak di tengah-tengah keluarga kecil mereka, sebagi penyempurna sebuah ikatan pernikahan. Maklum Randi dan Tari merupakan anak tunggal jadi kehadiran momongan begitu mereka inginkan.
***
Pagi itu seperti biasa, Tari di sibukkan dengan segala aktivitas membantu mama mertuanya di dapur untuk membuat sarapan. Meskipun ada yang membantu mereka untuk memasak tapi Tari dan maaf tak mau kalah untuk terjun ke dapur membantu mempersiapkan makanan.
Setelah semua makanan tersaji dengan rapi di atas meja, tibalah saat sarapan tiba semua anggota keluarga telah duduk sesuai dengan kursi masing-masing dengan Tari bersebelahan dengan Randi.
Tak ada drama rebutan makanan sepanjang Tari tinggal di sana, keluarga Randi benar-benar keluarga ideal pada umumnya.
__ADS_1
Di sela-sela sarapan pagi tersebut sang mama, membuka percakapan di tengah dentingan suara sendok dan piring yang sedang beradu.
“Nduk”. panggilnya lembut pada Tari.
“Apakah sudah ada tanda-tanda isi”. tanyanya dengan menejda kunyahan yang ada di mulutnya, sekilas mama tampak memandang Tari dan Randi secara bergantian.
“Belum ma”. Jawab Tari dengan pelan.
Sedang Randi lekas memegang tangan Tari di atas meja seolah ingin menguatkan istrinya.
“Ya sudah gak papa, yang penting kalian berdua sudah usaha”, sela yang papa di tengah-tengah obrolan tersebut.
Mama kembali memandang Tari yang tertunduk di meja makan.
“Sabar nduk, mungkin belum waktunya, nanti mama coba bikinkan ramuan-ramuan khusus untuk meningkatkan kesuburan wanita”.
Selama enam bulan menjalani pernikahan ini keluarga Randi, tidak begitu mempermasalahkan jika memang Tari tak kunjung hamil, meskipun tidak di pungkiri kehadiran cucu di tengah mereka begitu di damba-dambakan keluarga.
Setelah aktivitas sarapan selesai, semua kembali menjalankan aktivitas masing-masing. Randi yang bersiap untuk ke kantor. Papa dan Mama yang bersiap untuk ke laundry dan Tari yang akan bersiap menuju toko rotinya.
Seperti biasah Tari akan berangkat bersama sang suami karena memang letak toko roti dan perusahaan Randi bekerja jalannya searah. Tak ada obrolan yang berati sepanjang perjalanan kerja.
Hanya saja Randi berkali-kali menguatkan Tari untuk tidak terlalu mengkhawatirkan masalah ini dengan atau tanpa anak Randi akan tetap sayang dengan istrinya.
“Tenanglah sayang, anggap saja Allah sedang menyuruh kita untuk bersabar, untuk saling mengenal lebih dekat lagi dan tentunya untuk menikmati masa-masa pacaran halal kita”. Ucap Randi dengan menggenggam erat tangan sang istri sepanjang mengemudikan mobilnya.
Tari hanya tersenyum mendengar ucapan sang suami.
__ADS_1
“Trimakasih mas sudah mengerti kondisi yang ada”.
"Mas Minggu depan tanggal merah, apa aku boleh menjenguk ibu?".