
Satu minggu kemudian, seperti apa yang sudah Tari janjikan pada sang adik bahwa dia akan membelikan strudel setelah dari Malang. Senin itu setelah kepulangannya dari Malang, Tari membelikan Strudel untuk sang adik. Tari membeli dengan berbagai macam rasa seperti keju, coklat dan juga apel.
Tari membeli dalam jumlah yang cukup banyak sekali agar dapat dibagikan dengan tetangga sekitar rumahnya. Tari mengirimkan strudel tersebut melalui expedisi, maklum untuk beberapa saat ini Tari sangat sibuk dengan serangkaian pekerjaannya yang tidak ada habisnya. Selain itu Tari juga enggan untuk pulang karena jika pulang akan menambah pembengkakan pengeluaran saja.
Bukan bermaksud tak sayang keluarga terutama Ibu dan Ipul hanya saja ketika Tari pulang maka sema akan datang dan turut serta menggerogoti lebih banyak lagi. Tari sudah lelah dengan hal itu jadi dia lebih memilih untuk jarang pulang saja. Untuk uang bulanan dan uang sekolah sang adik Tari tetap mengirimkan dan tetap berkomunikasi baik dengan sang ibu.
***
Di Rumah Ibu.
Sore itu di rumah ibu ketika semua orang sedang menikmati waktu santainya dengan duduk-duduk di pelantaran rumah masing-masing, tiba-tiba ada seorang kurir yang mengantarkan paket.
“Rumah mbak Tari?”. Tanyanya pada ibu yang kebetulan baru selesai menyiram tanaman di depan rumah.
“Iya mas betul”. Jawab ibu tampak heran ada paket datang.
“Ini bu paketnya dari mbak Tari”. Kurir tersebut menyodorkan satu kardus besar paketnya pada ibu.
“Oh iya mas trimakasih”.
Kurir tersebut berlalu pergi meninggalkan rumah, dan ibu masuk kedalam rumah lekas membuka paket tersebut.
“Strudel”. Ibu membaca bungkusan kue tersebut dengan mengerutkan keningnya.
“Banyak sekali”.
Ibu lekas mengambil telfon dan bertanya pada Tari apakah benar dia yang mengirimkan ke tersebut ke rumahnya.
“Tar apa benar kam kirim strudel ke rumah?”.
“Iya bu, kebetulan Tari kemarin dari Malang dan teman-teman mampir untuk beli, jadi Tari beli jga untuk ibu dan Ipul”.
“Ini banyak sekali nak?”.
“Gak papa bu sekalian sama bagi-bagi ke tetangga sekitar”.
“Baiklah terimakasih nak”.
“Sama-sama bu”.
__ADS_1
Tari kembali melanjutkan pekerjaan, Tari tak mengatakan jika dia mengirim Strudel tersebut karena bude tak membaginya untuk Ipul dan Ibu, Tari lebih memilih alasan yang lain untuk mengirimkan Strudel tersebut tanpa membuat sang ibu marah.
Sementara itu ibu langsung membagi-bagikan Strudel tersebut ke tetangga sekitar, tak lupa ibu juga memberi untuk keluarga bude. Ibu membagi dengan setiap tetangga yang dekat rumah mendapat satu kotak, sedang ibu sendiri menyisakan tiga kotak untuk Ipul.
Dengan semangat ibu lekas melangkah menuju tetangga depan rumah, mbak Asih dan memberikan padanya.
“Apa ini mbak Marni?”,
“Ini strudel mbak, oleh-oleh dari Tari”.
“Trimakasih ya bu, semoga rezekinya Tari semakin berlimpah”.
“Aamiin”.
Begitu juga ibu membagi di tetangga samping rumahnya.
Tak lupa ibu juga mengantarkan kue strudel tersebut untuk sang kakak tersayang.
“Mas ini oleh-oleh dari Tari”. Ibu menyodorkan sekotak strudel pada pakde.
“Oh strudel, jajanan enak dan mahal ini”. tangannya terulur meraih sekotak strudel tersebut.
“Halah, ini strudel yang gak asli ini, lihat saja kotaknya gak ada logonya. Ini mesti yan murah gak kayak yang kita beli kemarin pak”. Bude membuka kotak strudel tersebut dan membolak-balikkan tutupnya tak lupa bude juga mencium aroma kue tersebut.
“Iya pak gak asli ini”. Ucap bude kembali menambahkan.
“Oh emang ada ya mbak yang asli sama gak asli strudel itu?”. Tanya ibu dengan begitu polosnya.
“Ya tentu ada dong, kalau yang asli itu miliknya Tengku Wisnu sama Shiren Sungkar, kalau ini tau milik siapa?”. Ucap bude dengan mengangkat keda tangannya dan dengan mulut yang berlipat.
“Ya sudah mbak aku permisi dulu, mau coba di rumah kiranya enak tidak”. Ibu berlalu dan meninggalkan rumah bude.
Sesampainya di rumah ibu lekas membuka salah satu kotak keu tersebut dan memakannya didepan tv.
“Ini enak kok”.
“Kalau yang gak asli saja enak, bagaimana yang asli”.
“Ah sudah biarlah”. Ibu kembali memangku kue tersebut dan menikmati hingga habis satu kotak.
__ADS_1
***
Surabaya.
Beberapa bulan berlalu, sejak Tari di terima kerja di Surabaya, semua tugas dapat terselesaikan dengan baik sekali. Tari bekerja dengan giat tak ada bolos maupun telat dalam bertugas. Tari juga mampu memberikan berbagai macam solusi-solusi dari beberapa permasalahan yang sedang di hadapi perusahan tersebut.
Kini peluncuran produk baru akan segera di rilis, tentu saja semau ini atas kerja keras semua tim yang ada dalam departemen tersebut, tapi dalam proyek ini Tari memegang peran yang besar atas kelancaran hasilnya.
Sebagai apresiasi dari perusahaan terhadap kinerjanya yang sangat baik, perusahaan akan mempromosikan Tari menjadi salah satu manajer di perusahan tersebut. Tentu saja hal ini membawa angin segar untuk Tari.
Pagi itu Tari berangkat kerja dengan begitu semangatnya melebihi hari-hari biasanya. Tari menggunakan kemeja warna pink dengan balutan rok plisket merah marun dan pasmina senada dengan bajunya. Tak lupa Tari memoles sedikit wajahnya dengan riasan tipis agar terlihat lebih fresh.
Hari ini adalah hari promosi jabatannya menjadi manajer riset di perusahaan ice cream tersebut. Senyum bahagia kembali menghiasi wajahnya tak kala mengetahui jika ada peningkatan salary lebih dari seratus persen dari gaji sebelumnya.
“Alhamdulilah, sebuah kata yang tak henti-hentinya Tari ucapkan pada sang Kuasa atas titipan rizki yang dia terima.
Langkahnya semakin ringan tak kala memasuki satu rungan aula dalam perusahan tersebut, rupanya didalam sudah terdapat beberapa rekan kerja yang lain. Dalam promosi ini tidak hanya Tari saja yang di promosikan ada beberapa teman sejawat lain yang turut mendapat keberkahan ini.
Tentu saja selain kerja keras dan kuasa ilahi, promosi kali ini juga turut serta ada andil dari tangan Randi Yulidar Prada, sosok yang diam-diam mengagumi kepribadian seorang Bethari Ambarwati.
Semua sudah berkumpul di aula tersebut, acara peluncuran produk telah di laksanakan, tak lupa ucapan selamat dari beberapa rekan-rekan kerja yang lain turut menambah rasa bahagia Tari pagi itu.
Namun ada sesuatu yang di tutupi Tari, tentang promosi jabatan ini.
Ya Tari tak mengatakan pada sang ibu jika dia akan naik jabatan. Untuk sementara waktu Tari lebih memilih untuk merahasiakan saja hal ini dari semua keluarganya di rumah. Bukan Tari tak ingin membagi kebahagian ini pada keluarganya, hanya saja untuk saat ini lebih baik diam.
Tari ingin menabung dari hasil kerjanya ini, untuk membeli rumah baru. Rumah untuk Ibu, Ipul dan dirinya nanti akan tinggal. Tari berharap dengan memiliki rumah baru yang jauh dari kediaman pakde dan budenya akan memberikan ketenangan dan kewarasan jiwa raganya.
.
.
.
.
.
Mohon dukungannya ya teman-teman, jangan lupa like komen dan jadikan favorit 💙
__ADS_1