Duri Dalam Keluarga

Duri Dalam Keluarga
Pingsan


__ADS_3

“Bagaimana hasilnya?”


Deg...


Tari menggigit bibir bawahnya, sementara tangannya meremas ujung daster yang di


gunakan. Ia sedang sibuk untuk merangkai kata, demi memberikan jawabannya pada mertuanya.


“Maaf Bu, Tari lupa hari ini tidak sempat untuk mengecek. Sejak tadi pagi sibuk sekali. Risma sudah mulai masuk sekolah dan Mas Rama sudah kembali beraktivitas di rumah sakit” jawabnya dengan gugup takut membuat mertuanya kecewa.


Huft...


Terdengar helaan nafas yang berat dari sana.


“Ibu, maafkan Tari ya Bu”


“Oh tidak nak. Harusnya Ibu yang meminta maaf terlalu memaksamu untuk melakukan tes kehamilan di usia pernikahanmu yang belum genap satu bulan. Ibu hanya terlalu bersemangat untuk menimang cucu kembali. Sampai Ibu, melupakan jika saat ini sudah memiliki Risma”


“Sudahlah jangan terlalu khawatir, lakukan saja saat kamu sudah siap nantinya. Jangan di jadikan beban permintaan Ibu ini”


Bu Rahma, berbicara dengan cukup pelan dan tenang. Tak ada rasa untuk menuntut pada menantunya tersebut.


“Terima kasih Bu, atas pengertiannya”


*****


Dua minggu kemudian.


Pagi ini bertepatan dengan acara pengambilan rapot di sekolah Risma. Tari sudah bersiap sejak tadi pagi untuk mengambil rapot anaknya. Seperti biasah Risma, lebih dulu berangkat bersama Ayahnya. Sementara Tari akan ke toko terlebih dahulu untuk mengecek beberapa pesanan dan langsung ke sekolah anaknya.

__ADS_1


“Bu Tari, apakah baik-baik saja?” tanya Sinta, salah satu pekerja yang ada di tokonya. Saat itu Tari sedang sibuk merekap pesanan kue yang di terimanya.


“Aku tidak papa Sin” jawab Tari dengan lesu.


“Tapi wajah Bu Tari, terlihat sedang tidak baik-baik saja. Bu Tari juga terlihat lebih pucat dari biasanya”


“Ah masa, aku rasa itu hanya bagian dari perasaanmu saja. Mungkin karena aku tidak


memakai lipstik jadi terlihat pucat”


“Oh iya saya baru sadar. Tapi kenapa Bu Tari beberapa waktu ini jadi sering tidak memakai lipstik? Kan jadi terlihat lebih pucat dari biasanya”


“Entahlah Sin, akhir-akhir ini aku merasa sangat malas untuk berhias. Aku juga lebih sering mengantuk. Mungkin aku terlalu lelah beberapa akhir-akhir ini. Oh ya aku harus segera ke sekolah Risma. Bisakah aku minta tolong untuk urus semua ini, aku takut terlambat untuk mengambil rapot anakku”


“Siap Bu, akan saya kerjakan. Jika Bu Tari, sedang tidak enak badan sebaiknya istirahat dulu setelah ini”


tidak kepanasan dan kehujanan saat di jalan.


Dengan perasaan resah Tari, mulai menjalankan mobilnya. Membelah jalanan yang tak terlalu padat pagi itu. Namun ia merasa tubuhnya sedang tidak baik-baik saja. Ada perasaan yang tak dapat di jelaskan. Seperti gelisah dan cemas. Juga semacam rasa lemas yang mendadak melanda tubuhnya. Rasanya untuk mengendarai mobil menuju sekolah Risma saja ia tak sanggup. Namun ia tak bisa untuk kembali pulang. Khawatir anaknya kecewa nantinya.


Beberapa kali Tari, meraih tisu dalam tasnya lantas menyeka buliran keringat yang hadir


membasahi keningnya.


“Ya Allah ada apa denganku? Kenapa rasanya tubuhku tidak enak sekali” desisnya dalam


hati dengan menepis segala rasa yang ada dan mengalihkan pada bacaan sholawat.


Dua puluh menit kemudian sampailah Tari, di sekolah Risma. Saat itu halaman sekolah

__ADS_1


sudah ramai sekali oleh wali murid yang hadir untuk mengambil rapot anak-anaknya. Terlihat wajah mereka begitu ramah saling menjabat tangan dan berkenalan antar wali murid. Tari menghela nafas yang panjang berusaha untuk


menyeimbangkan kondisi tubuhnya yang terasa berbeda.


Perlahan kakinya mulai menapaki kelas anaknya. Kehadiran Tari, lekas di sambut hangat oleh Risma. Gadis kecil itu menarik-narik baju Bundanya dan mencarikan tempat duduk


ternyaman. Wajah Tari, semakin pucat ketika melihat kerumunan orang yang berisik dan saling berdesakan untuk mencari tempat duduk pagi itu.


Ia hanya diam saja, bahkan tak mempedulikan Risma yang tengah sibuk mengajaknya berbicara. Kakinya mencoba untuk bertahan agar tetap bisa berdiri sebelum mendapat tempat duduk yang kosong. Namun keringat dingin sudah membanjiri tubuhnya. Kepalanya terasa berat sekali. Seketika ruangan yang riuh tampak.semakin bising seakan berputar-putar tiada habisnya.


Tari mulai memegang kepalanya, keseimbangan tubuhnya mulai goyah ketika sudah berada


di tengah-tengah ruang kelas. Ia masih dalam posisi yang sama berdiri dengan satu tangan berpegangan pada anaknya, sementara satu tangan lagi memegang kepala yang terasa sangat pusing tiada terkira. Ia juga berkali-kali terlihat memejamkan matanya.


“Bunda, Bunda kenapa?” tanya Risma, ketika melihat wajah Bundanya pucat dengan kening


yang di penuhi keringat.


Diam.


Tari tak lagi mampu untuk menjawab. Ia mulai melepaskan genggaman tangan Risma dan


mencari sandaran untuk tubuhnya. Sejurus kemudian suasana yang riuh di dalam kelas tampak senyap dan pandangannya mendadak mulai memudar. Tari kembali menerjap-nerjapkan matanya berusaha untuk tetap bertahan.


Bug...


“Bunda!” teriak Risma dengan sangat keras di tengah riuhnya suasana pengambilan rapot


yang belum di mulai.

__ADS_1


__ADS_2