
Delapan bulan kemudian.
Rama membukakan pintu mobil untuk Tari, ketika mereka sudah sampai di pekarangan rumah Ibu Marni. Tari turun dengan sangat hati-hati. Ia melangkah dengan membawa bayi dalam dekapannya. Rama dengan sigap membantu istrinya untuk berjalan memasuki rumah mertuanya. Untuk beberapa waktu, Ibu meminta Tari dan keluarga tinggal di sana dulu selama proses pemulihan pasca melahirkan.
Rama dan Tari tampak bingung ketika mendapati rumah Ibu, dalam kondisi sepi seperti tak berpenghuni saat itu. Sedang sejak tadi pagi Ibu, menyuruh mereka untuk lekas pulang karena tak sabar ingin melihat bayi mereka. Keduanya saling
bergandengan untuk masuk ke dalam rumah. Rama tak henti-hentinya memandang istri dan anaknya yang sedang berjalan di sampingnya saat itu.
Sepi.
Begitulah keadaan rumah Ibu, bahkan ada beberapa daun yang berjatuhan di teras rumahnya.
“Mas kok sepi ya? Kemana mereka semua?” tanya Tari ketika sudah berada di ambang pintu rumah.
“Mungkin.di dalam sayang. Kita coba masuk dulu ya”
Rama lekas mengucapkan salam berkali-kali dan mengetuk pintu rumah, namun sayang tidak ada jawaban dari dalam sana. Hanya saja suara berisik terdengar hingga halaman depan.
“Assalamu'alaikum,.Ibu aku pulang” kini Tari yang mencoba untuk mengucapkan salam.
“Surprise”.teriak riuh seluruh keluarga yang ada di dalam sana. Sejurus kemudian mereka kompak membalas salam Tari “waalaikumsalam Bunda”
Tari.tersenyum ketika melihat seluruh keluarga yang tengah hadir di sana. Ada Ibu,.ayah mertuanya, Ipul, Bude Murni, Pakde Dar, Udin, Fitri berikut seluruh.anak-anaknya mereka sedang berkumpul bersama untuk menyambut kedatangan Tari dan bayinya.
“Bunda”.Risma berlari menuju Bundanya dan lekas mencium bayi kecil yang berada di dalam
dekapan Tari.
“Selamat.datang baby Al” kompak seluruh keluarga saling berkerumun mendekat pada Tari
dan bayinya.
“Masyaallah terimakasih semuanya” ucap Tari, dengan mata yang berkaca-kaca ketika melihat
ruang tamu rumah Ibu, yang sudah di sulap dengan sedemikian rupa. Terdapat balon-balon
warna biru sebagai penghias, terdapat banyak makanan dari makanan berat. Kue-kue hingga cemilan ringan. Aneka minuman juga terhidang di atas meja dengan berbagai macam rasa.
__ADS_1
“Sini biar Ibu, yang menggendong” Bu Marni meraih cucunya yang terlihat sedang.terlelap dalam bedongan warna putih. Sesekali bayi itu menggeliat dan menguap ketika berpindah tangan dalam gendongan.
“Aduh-aduh lucu sekali. Ganteng ya baby Al” ucap Fitri di tengah-tengah euforia kegembiraan keluarga.
“Tentu saja ganteng dong, kan adikku. Aku sekarang sama kayak Arsy punya adek cowok”
dengan bangganya Risma bercerita pada semua yang hadir di sana.
“Nama.adikku Makhyan Jibril Al-Farabi, kalian semua panggil saja dia Al atau bisa juga panggil ganteng, karena dia memang ganteng” celoteh Risma memperkenalkan adiknya pada semua.
“Kamu suka sayang punya adik?” tanya Rama memotong pembicaraan Risma saat itu.
“Tentu.saja aku suka Ayah. Aku tidak lagi sendirian ketika bermain. Aku jadi memiliki
saudara dan teman yang mengemaskan”
“Kamu suka nak punya banyak saudara?” Rama kembali bertanya dengan sangat antusias.
“Tentu saja, aku suka sekali punya banyak saudara pasti di rumah tidak akan pernah
sepi”
“Masih.basah” kompak seluruh keluarga berteriak. Tari tak kuasa menahan malu dengan
tingkah suaminya. Wajahnya sudah merah padam, rasanya ingin tenggelam saja dari
sana. Tari memukul-mukul lengan Rama dengan cinta semakin menambah riuh suasana.
“Jangan lupa KB Tar, dua bulan saja sudah jadi. Hati-hati tuh bibitnya unggul. Bisa-bisa.baby Al tiga bulan kamu dah hamil lagi” celetuk Fitri menggoda sahabatnya.
“Gak papa, aku siap untuk tangung jawab. Banyak anak, banyak rezeki. Iya kan sayang?”
Rama menaik turunkan alisnya menggoda sang istri.
“Mas...” rengek Tari dengan sangat manjanya.
“Ngomong-ngomong wajah Al mirip siapa ini?” tanya Pak Alan yang menatap lekat wajah cucunya.
__ADS_1
“Sepertinya.mirip Bapaknya. Hampir sembilan puluh persen wajah Rama ada di sana” jawab Bu
Rahma meneliti wajah cucunya.
“Aku.ingat betul, dulu Rama waktu masih bayi bentuknya seperti ini” kini Bu Rahma ganti meraih tubuh Al dan menggendongnya.
“Iya saya rasa ini mirip Ayahnya. Tari waktu bayi tidak seperti ini wajahnya” desis Bu Marni memastikan.
“Mana ada. Adik Al mirip aku. Lihat saja hidung dan pipinya sama kayak aku. Pokoknya harus
sama kayak aku” teriak Risma tak terima. Ia begitu posesif pada adiknya. Risma tidak mengizinkan semua rang untuk memegang adiknya. Terlebih Bude Murni dan Pakde Dar. Ia akan lekas berteriak ketika mereka mendekat pada adiknya, walau hanya sekedar untuk melihat wajahnya.
“Ayo-ayo mari kita makan-makan dulu. Ibu sudah masak banyak sekali hari ini”
Bu Marni mempersilahkan seluruh tamunya untuk makan terlebih dahulu. Beliau mulai
menata seluruh makanan dan mengeluarkan semuanya. Ipul dan Fitri lekas membantu untuk menyajikan makanan yang masih tertinggal di dapur. Bude Murni dan Pakde Dar, seakan mendapat angin segar ketika mendengar kata-kata makan. Dengan sangat sigap mereka lekas meraih piring dan makan seluruh hidangan yang ada.
Tari berdiri dan menatap satu persatu seluruh keluarga yang ada dalam ruang tamu. Ia tersenyum sambil memegang dadanya yang terasa sangat damai. Coba katakan adakah
suasana yang senikmat pagi ini. Di luar sana matahari memang sedang tampak malu-malu untuk menunjukan sinarnya. Namun kehangatan dapat sangat kurasakan ketika melihat senyum mereka yang saling merekah.
Aku bahagia. Benar-benar sangat bahagia dengan kehidupanku saat ini. Coba katakan
apa yang lebih bahagia selain bersanding dengan dengan orang yang kita sayangi, ekonomi kecukupan dan telah lahir tanda
cinta di antara kami yang begitu ku rindukan kehadirannya.
Dengan ataupun tanpa seorang anak, wanita tetaplah sempurna. Ia pantas untuk di cintai
dengan sepenuh hati, terlebih dengan apa yang sudah ia korbankan dalam hidupnya selama ini. Anak adalah bonus, ketika aku sudah tak lagi berharap untuk mendapatkannya, Allah dengan segera membalas kontan apa yang ku harapkan.
Masa laluku memang berliku-liku, bahkan aku tak menyangka bisa melewati semua ini dan berakhir indah. Dari serangkaian apa yang terjadi padaku dulu cukuplah ambil hikmahnya, mari kita buang perihnya dan kita simpan pembelajaran yang ada di dalam sana. Namun tidak perlu untuk di ulangi lagi.
Kini aku mengerti mengapa Ibuku memberiku nama Btari, sebab akulah seorang bidadari di tangan seorang laki-laki yang tepat. Lelaki yang mencintaiku tanpa syarat. Aku sangat bahagia Mas Rama di pelukanku, Risma dan Al di kedua
tanganku. Ibu dan seluruh keluarga di hatiku.
__ADS_1
Teman-teman Trimakasih ya sudah mengikuti kisah Betahri dan Rama. Trimakasih untuk semua dukungan kalian semua, sehat-sehat ya semuanya. Sampai jumpa di judul-judul baruku yang lainnya 😊