
“Papa pikir setelah apa yang terjadi pada keluarga kita, Tari masih mau kembali dan tinggal bersamaku?”
Hem.
Mata Randi memejam untuk sesaat, tangannya berpegangan pada seprei yang membungkus kasur Mamanya. Ia seakan sedang mencari sumber kekuatan di sana. Sementara Pak Nario, menatap iba pada anak dan istrinya. Ia bingung harus dengan cara apa untuk kesembuhan Bu Srining.
Terkadang dalam pikiran terbesit untuk mengikhlaskan saja kepergiannya. Namun lagi-lagi, ia teringat akan perbuatan yang pernah Bu Srining lakukan pada menantunya dulu. Rasanya Tuhan, sedang menguji istrinya. Ia tidak akan memanggil Bu Srining sebelum meminta maaf pada Tari.
“Ran” lagi-lagi Pak Nario memanggilnya, dengan wajah yang mengiba dan suara sangat lembut.
“Aku sedang berfikir Pa. Aku tidak tahu apakah aku sanggup untuk bertemu dengan Tari kembali. Aku takut Pa, aku benar-benar takut jika pertemuanku dengan Tari akan membuatnya ia kembali terluka, atau bahkan sebaliknya. Aku yang akan terluka melihatnya telah bersama orang lain”
“Lantas bagaimana dengan Mamamu?”
“Hanya kamu anak kami satu-satunya Ran, hanya kamu yang bisa kami andalkan dalam segala hal. Jika bukan padamu, lantas pada siapa Papa akan bergantung untuk mencari Tari?”
Hening.
Suasana kamar Bu srining kembali hening malam itu.
“Ta....ri....Tari....Tari....ma...ma...maaf” Bu Srining membuka matanya. Ia masih dalam posisi terlentang, namun matanya terbuka. Sepertinya ia mendengar semua yang dikatakan anak dan istrinya malam itu. Dengan mulut yang sedikit miring ke kanan, dan keterbatasannya untuk mengolah kata, ia berusaha untuk berucap.
“Mama mau apa? Minum? Randi ambilkan ya” Randi bergegas menuju nakas yang ada di sebelah kiri ranjang. Ia harus memutar arah untuk mengambil air putih. Sementara Pak Nario, beliau dengan sigap membantu istrinya untuk duduk.
“Mama, makan dulu ya” ucap Randi, ia setengah berlari membawa semangkuk bubur dan segelas air putih. Sudah sejak tadi pagi Bu Srining tidak membuka matanya. Ini adalah kesempatannya untuk bisa menyuapi sang Mama dan meminumkan obat untuknya.
.
.
.
“Bunda, ayo! Kanapa lama sekali siap-siapnya? Nanti aku keburu telat?” Teriak Risma yang sedang memakai kaos kaki di bantu Bu Marni, ia sudah menunggu Tari sejak sepuluh menit yang lalu di teras rumah mereka.
“Sebentar sayang. Bunda masih siapkan bekal untukmu” Teriak Tari yang berada di dalam rumah. Ia sedang menata beberapa makanan untuk bekal makan siang Risma. Hari ini di sekolah Risma sedang ada tambahan bimbingan belajar. Bimbingan belajar rutin di lakukan seminggu dua kali. Setiap siswa yang mengikuti bimbingan di wajibkan untuk membawa bekal makanan dari rumah. Untuk menghindari kelaparan dan jajan sembarang tempat.
Pagi itu, Risma meminta untuk membawa roti burger dengan kentang goreng. Ia enggan untuk membawa nasi karena akan kesulitan ketika makannya. Maklum Bu Marni terbiasa untuk menyuapinya ketika makan. Jadi ia tak terbiasa untuk makan sendiri. Terlebih jika makanan itu dengan lauk yang banyak tulangnya. Risma akan kesulitan untuk makannya.
“Tara sudah siap” Tari keluar dengan membawa dua bekal sesuai dengan permintaan sang putri. Konan akan di bagi dengan temannya yang tak membawa bekal nantinya.
“Empat potong roti burger dengan kentang goreng, lengkap dengan sausnya” Semua makanan di masukan dalam dua wadah yang terpisah.
“Trimakasih Bunda” wajah sumringah lekas terpancar sempurna dalam raut wajah Risma, bibirnya membentuk lengkung ke atas. Dengan cukup antusias ia mulai memasukan bekal tersebut ke dalam tasnya.
“Lest go Bunda kita berangkat” Bu Marni, mulai memasangkan helm di kepala Risma, sebagai pelindung ketika dalam perjalanan. Begitu juga dengan Tari yang sudah bersiap dengan baju sekaligus helm di kepalanya. Seperti biasah ia akan langsung menuju toko selepas mengantar Risma ke sekolah.
Keduanya mulai berjalan menuju garasi yang ada di sisi kanan rumah mereka. Tari yang membawa kunci motor berjalan lebih dulu di depan anaknya.
__ADS_1
“Astaga!”
“Astaga!”
“Bagaimana ini?” Tari melirik pergelangan tangan, melihat jam yang melingkar di tangannya.
“Hah, mana kurang lima belas menit lagi” wajahnya mendadak panik, maklum di tempat tinggal Tari, tidak ada angkutan yang lewat sana. Untuk menuju ke pangkalan ojek juga jauh sekali jalan kakinya.
“Kenapa Bunda?” Risma mendongak menatap sang Bunda, yang mendadak heboh pagi itu.
“Bunda lupa, motor Bunda kan semalam mogok sayang. Sekarang motornya masih di toko”Ucap Tari, dengan senyum nyengir pada anaknya.
Risma terdiam, ia menundukan wajahnya ke bawah. Jemarinya saling meremas. Sejurus kemudian air matanya menetes begitu saja di pelupuk matanya. Sementara Tari, ia masih bingung harus berbuat apa. Berkali-kali membuka tas meraih ponsel dan mencoba untuk menghubungi seseorang.
“Loh, kenapa sayang?” tanya Tari, ia berjongkok meraih wajah sang anak. Mengangkat dagunya ke atas.
“Kok nangis?”
Risma lekas mengusap air matanya dengan segera untuk menyembunyikan tangisnya. Ia tidak ingin membuat Bundanya bersedih dengan sikapnya. Sejujurnya Risma, teringat akan sang Ayah. Dulu waktu masih di Surabaya ia akan berangkat sekolah bersama Randi dan Tari. Ketiganya berangkat bersama menggunakan mobil. Randi akan mengantarkan Risa terlebih dahulu ke sekolah, lantas mengantarkan Tari ke tokonya. Barulah pria itu akan berangkat bekerja. Gadis kecil itu merindukan moment kebersamaan yang hanya ia nikmati beberapa waktu saja saat itu.
Risma memilih untuk menggelengkan kepalanya.
“Kenapa nak?” Tanya Bu Marni, kepalanya mendongak mengarah pada sisi kanan rumah tempat garasi. Lantas ia berjalan pelan menuju ke sana.
“Aku lupa kalau motornya mogok dan masih di toko”
“Nenek, apa Risma bolos saja hari ini?” Keduanya duduk di salah satu kursi di depan pintu gerbang masuk. Kaki Risma bergelantungan dan menunggu resah Bundanya.
“Jangan nak, sayang kalau bolos. Bentar ya nak” Mata Bu Marni, mengedar menatap ke ujung kanan dan kiri, masih berharap ada manusia yang lewat untuk di minta tolong.
“Mas....mas...” teriak Bu Marni pada pengendara yang melintas di depannya.
Wus....
Sepeda motor itu melaju dengan begitu kencangnya tanpa mempedulikan panggilan Bu Marni. Maklum hari itu masih pagi, semua akan sibuk dengan kegiatan masing-masing.
“Mbak Lela...” Tangan Bu Marni kembali melambai-lambai memanggil Mbak Lela, tetangga beda gang dari rumahnya. Mereka adalah kawan ketika di majelis taklim.
“Ada apa Bu Marni” jawab Mbak Lela, ia mulai mengurangi laju sepedanya tanpa berhenti.
“Mbak mau kemana? Aku mau minta tolong”
“Halah Mbak maaf, lain kali aja ya minta tolongnya, saya lagi buru mau ke pasar. Di rumah ada acara, anakmu menerima lamaran” jawabnya kemudian tanpa memberhentikan sepedanya.
“Besok saja ya Mba, minta tolongnya”
“Haduh, orang perlunya sekarang” Bu Marni menggelengkan kepala dengan resah. “mana sudah siang pulang”
__ADS_1
“Nenek” wajah cemberut cenderung menahan tangis mulai tergambar di wajah Risma.
“Tar, bagaimana?”
“Benatar Bu. Belum di balas. Bentar lagi ya nak. Bunda masih berusaha” teriaknya yang masih berdiri di depan pintu masuk rumahnya.
Tin...tin...tin....
Suara klakson berbunyi, seorang laki-laki muda membuka kaca mobilnya. Ia mengendarai dengan pelan dan menyapa wanita paruh baya yang ada di samping jalan.
“Permisi Bu” ia tersenyum, senyum yang sangat teduh dan menenangkan. Kepalanya sedikit mengangguk pelan sebagai wujud rasa hormat.
“Nak... tunggu nak...” teriak Bu Marni memanggil. Ia berjalan menghampiri mobil yang di kendarai pria itu.
“Iya Bu?” menyadari Bu Marni yang melangkah mendekat, ia memilih untuk menghentikan mobilnya menepikan di pinggir jalan.
“Nak Rama mau kemana?”
“Saya mau ke rumah sakit Bu”
“Rumah sakit Pelita Bangsa?”
Ia mengangguk dan tersenyum “benar Bu”
“Nah kebetulan sekali kalau begitu. Nak Rama ibu mau minta tolong. Ibu nebeng buat Risma dan Bundanya. Motor Tari semalam mogok. Kasian ini sudah siang. Ibu khawatir kalau Risma akan telat nantinya”
“Baik Bu silahkan. Risma ayo sayang” dengan senang hati Dokter Rama menerima tumpangan itu.
“Ayo sayang naik” Rama turun dari mobilnya ia lekas berjalan untuk membuka mobilnya.
“Risma di belakang saja nak” ucap Bu Marni ketika mengetahui Rama membukakan pintu depan untuk cucunya.
“Yeye asyik naik mobil” celoteh gadis kecil itu dengan riang.
“Tar, ayo cepat sini. Buruan berangkat nanti terlambat”
Tari setengah berlari menuju halaman depan. Dalam benaknya sang ibu sudah menemukan tukang ojek.
“Buruan naik” ucap Bu Marni dengan mendorong tubuh Tari masuk ke dalam mobil Rama.
“Tapi Bu” Tari gelagapan dengan sikap Ibunya.
“Sudah jangan banyak tapi, buruan masuk nanti anakmu terlambat” Bu Marni menutup paksa pintu mobil, ia lekas melambai-lambaikan tangannya pada sang ana dan cucu yang berada di dalam mobil.
Tin....
Rama tersenyum dan berpamitan.
__ADS_1
“Sempurna” ucap Bu Marni dengan puas, ia tersenyum tak beranjak dari tempatnya sebelum mobil itu hilang tertelan waktu dan jalan.