
“Bagaimana kondisi anak saya?” tanya Tari dengan panik, wajahnya pucat, tangannya masih gemetaran menunggu reaksi dari tenaga medis yang ada didepannya.
“Anak Ibu kehilangan banyak darah. Kita harus melakukan transfusi darah saat ini juga, Ia juga mengalami patah tulang di bagian lengan kirinya. Kita harus lekas melakukan prosedur operasi”
Deg...
Tari yang mendengar kondisi Risma saat itu langsung kembali menangis tersedu-sedu. Bagaimana bisa anak sekecil itu harus merasakan sakit hingga sedemikian rupa.
“Darah? Apa golongan darah Risma?”
“Golongan darah putri Ibu B-. Kebetulan untuk darah B- saat ini sedang kosong di rumah sakit. Sementara putri Ibu harus lekas mendapat donor tersebut. Jadi saya minta kesedian keluarga pasien untuk mendonorkan darah mereka” tegas perawat yang baru saja keluar dari ruang Risma.
Deg,
Lagi-lagi Tari, harus di hadapkan dalam situasi yang rumit. Kemana ia harus mencari donor untuk Risma, sementara dalam keluarganya tak ada satupun yang memiliki golongan sama dengan sang anak.
“Ibu, bu tolong segera ikut kami untuk melakukan pemeriksaan” terang perawat kembali, ketika melihat wajah Tari hanya melongo saja.
“Golongan darah saya A sus”
“Kalau suami ibu?”
Tari terdiam untuk beberapa saat. Sementara Rama masih setia berdiri di sampingnya. Ia belum bersuara sama sekali. Seakan masih memberikan kesempatan pada Tari untuk berfikir. Bagaimana pun juga Ayah Risma berhak tahu akan hal ini.
“Kebetulan golongan darah Ayahnya Risma juga A sus”
Mata perawat tersebut lekas membulat saat itu juga, “tapi Bu” ia menjeda ucapannya sejenak, menahan rasa yang ingin di keluarkan saat itu juga, Namun suaranya tercekat di tenggorokan.
“Darah saya B, apa saya boleh mendonorkan darah untuk Risma?” tanya Rama di sela-sela obrolan tersebut. Ia lekas mengambil alih situasi sebelum perawat tersebut melanjutkan perkataan yang sudah dapat ia prediksi kelanjutannya.
Tari bergegas menganggukkan kepalanya.
“Iya Mas boleh. Silahkan, maafkan kami yang slalu merepotkan mu” jawab Tari, ia menganggukkan kepalanya berkali-kali dan tanpa sadar menyentuh tangan Rama saat itu.
Tanpa banyak bicara, Rama lekas mengikuti perawat tersebut ke salah satu ruangan yang telah di siapkan untuk melakukan segala pengecekan darah yang ada. Mereka melakukan transfusi darah dengan segera saat itu juga.
__ADS_1
“Bagaiman apa semuanya cocok? Dan dapat di lakukan?”
“Betul Dok, semuanya cocok dan dapat segera di lakukan. Kondisi Dokter juga sangat baik untuk menjadi pendonor”
“Baik, kalau begitu segera lakukan” Rama lekas berbaring di ranjang yang ada. Ia memejamkan mata untuk sesaat. Menghela nafas yang paling dalam dan menghembuskan dengan rileks.
Bertahanlah Risma, semoga apa yang aku lakukan padamu bisa membantu kesehatanmu. Semoga sebagian yang ada dalam tubuhku untukmu ini bermanfaat, dan menjadikan jalan menuju kesembuhanmu dari sang pencipta, melalui perantara ku.
Rama mulai bersiap.
“Permisi ya Dok” jarum mulai menusuk pembuluh darahnya. Tetesan merah mulai mengalir mengisi kekosongan kantong putih yang ada di sampingnya.
.
.
.
Sepuluh menit berlalu, Rama keluar dari tempat pemeriksaan dan kembali duduk di samping Tari. Ada banyak hal yang ingin di tanyakan, namun ia berusaha untuk diam. Rasanya tidak pantas jika bertanya hal demikian dalam kondisi seperti ini. Seakan mengadili seseorang di tempat. Rama pun berfikir positif, jika tidaklah mungkin seorang Tari berbuat yang tidak semestinya, terlebih mengkhianati suaminya hingga lahirlah Risma. Ia memilih untuk bungkam.
“Bagaiman Mas? Apa semua berjalan dengan lancar?” tanya Tari, membuka percakapan di antara keheningan yang tercipta di antara keduanya.
Diam.
Suasana kembali menjadi diam dan membisu saat ini. Ada rentetan pertanyaan yang hinggap di kepala Rama. Ada berjuta rasa pada Tari yang ingin di jelaskan pada orang sebelahnya.
“Mas Rama pasti bingung bukan kenapa golongan darah Risma, tidak sama denganku dan juga Ayahnya?” lagi-lagi Tari, mencoba untuk memecah keheningan siang itu. Ia memundurkan duduknya untuk bisa bersandar pada kursi yang sedang ia duduki. Matanya menatap ke arah depan tanpa fokus yang jelas.
Rama masih terdiam tak menunjukan reaksi. Ia takut menyinggung lawan berbicaranya. Ia juga tak memberikan senyum sebagai reaksi atas segala macam pertanyaan yang ada di dalam benaknya.
“Risma bukanlah anak kandungku Mas” ucap Tari dengan pelan, sangat pelan bahkan nyaris tak terdengar. Ia berkata dengan nada yang bergetar.
Sontak pernyataan Tari membuat Rama lekas menoleh seketika. Ia menatap wajah Tari yang mulai nanar. Sementara Tari, kini ia merubah pandangannya untuk melihat langit-langit rumah sakit, agar air matanya tak kembali lolos di pelupuk mata.
Ia terdiam kembali, menjeda penjelasannya.
__ADS_1
“Maksud kamu?” tanya Rama kemudian. Kali ini ia tidak dapat menutupi rasa ingin tahunya prihal Risma, Bukan tanpa alasan, karena Rama merasakan ada sesuatu antara dia dan Risma yang tidak bisa di jelaskan dengan nalar.
“Beberapa tahun yang lalu, aku dan mantan suamiku mengadopsi Risma di salah satu panti asuhan. Dokter memvonis salah satu dari kami tidak mungkin mendapat keturunan. Oleh sebab itu kami memutuskan untuk mengadopsi salah satu anak di panti”
Deg.
Jantung Rama terasa berhenti saat itu juga. “Panti?” tanyanya degan sorot mata yang berbeda.
“Iya” jawab Tari dengan singkat.
“Mohon maaf apakah kamu tahu asal usul Risma sebelumnya? Seperti orang tua atau kerabat terdekatnya?” Tanya Rama kembali.
Tari menggelengkan kepalanya saat itu juga.
“Aku menemukan Risma di depan toko, saat itu dia sedang duduk untuk mencari makanan. Dia bukan berasal dari panti yang tersusun sistem kepengurusannya. Ia tinggal di salah satu panti yang kumuh bahkan cenderung seperti penampungan anak. Dia duduk memelas untuk memohon sebuah makanan waktu itu” Tari menceritakan dengan derai air mata yang tak lagi bisa di bendung.
“Iya benar, saat itu dia duduk di salah satu kursi taman yang ada di depan toko kue milikku di Surabaya. Tubuhnya sangat kurus dengan rambut yang berantakan. Ia memakai baju seadanya bahkan di bagian sisi lengannya telah sobek dan tak layak pakai. Lebih dari itu, ia juga tidak memakai alas kaki di tengah panasnya cuaca Surabaya” ungkap Tari, membuka identitas sang anak beberapa tahun yang lalu.
“Namanya Risma, ia juga tidak tahu siapa nama lengkapnya? Untuk itu kami memberi dia nama Kharisma Nur Laila. Bagi kami Risma adalah penerang cahaya di tengah kegelapan yang telah kami rasakan” Tari menangis ketika kembali harus mengingat pertemuan pertamanya dengan Risma yang cukup menyayat hati.
“Aku menyayangi Risma lebih dari apa pun. Aku sudah menganggap Risma selayaknya anakku sendiri. Kehadiran Risma dalam hidupku menjadi tumpuan ketika aku sedang goyah dan menjadi semangat untukku hidup hingga saat ini. Tapi sekarang, semangat hidupku telah berjuang untuk bertahan hidup di dalam sana? Lantas mampukah aku untuk tetap berdiri jika tanpa dia?” Tari kembali menangis sejadi-jadinya saat itu. Ia tersungkur tak dapat menopang berat badannya sendiri. Reflek menyandarkan tubuhnya pada punggung Rama.
Rama terdiam, kali ini ia memilih untuk menjadi pendengar setia. Ia tak tahu harus berbicara apa tentang situasi ini. Satu yang bisa ia lakukan. Berdoa akan kesembuhan anak kecil yang telah berbaring tak berdaya di dalam meja hijau di sana.
.
.
.
Seorang wanita paruh baya sedang berjalan dengan kecepatan tinggi. Dalam beberapa waktu, ia juga berlari di sepanjang koridor rumah sakit. Matanya sudah mengembun ketika mendengar kabar peristiwa na’as yang menimpa cucunya. Sesekali ia menjeda langkah kakinya, ketika merasakan nafasnya sudah tersendat-sendat. Maklum faktor usia membuatnya tidak bisa dengan leluasa bergerak lincah seperti kaum muda pada umumnya.
“Tar, Tari...” Teriaknya di sepanjang koridor rumah sakit, ketika melihat anaknya sedang duduk di depan ruang operasi.
“Ibu, Risma Bu. Risma...” Tari berhamburan, memeluk Ibunya yang baru saja datang. Ia seakan sedang mencari sumber kekutan di sana.
__ADS_1
“Apa yang terjadi? Bagaimana kondisi cucuku?” tanya Bu Marni, ia mengguncang bahu Tari dengan pelan, menunggu sebuah kalimat penjelasan dari sana.
“Ibu maaf”