Duri Dalam Keluarga

Duri Dalam Keluarga
Mengadpsi?


__ADS_3

Tari...


Randi...


“Apa kita jadi ke toko nak?”, suara Ibu dari balik pintu kamar mereka membuyarkan kemesraan di antara keduanya.


“Iya Bu, sebentar lagi, Tari siap-siap dulu”.


Kini keduanya mulai bersiap untuk ke Toko roti milik Tari, tak lupa Tari membawa serta baju Randi yang akan di pakai pakde untuk ganti.


Tiga puluh menit perjalanan menuju toko roti, benar saja meskipun cuaca cukup terik siang itu tapi karena ini hari minggu maka jalanan cukup macet. Jarak antara rumah ke toko yang biasanya dapat di tempuh sepuluh menitan kini molor hingga tiga puluh menit.


Sepanjang perjalanan menuju toko terlihat Bude Murni yang tak henti-hentinya menggerutu kesal karena tak kunjung sampai, Bude mengeluh jika perutnya sudah cukup lapar tak sabar ingin menikmati kue yang ada di toko Tari.


Sebenarnya toko Tari libur jika hari minggu, atau terkadang buka setengah hari tergantung dari banyaknya permintaan customer, tapi biasanya toko lebih sering liburnya ketika hari minggu. Sengaja untuk mengistirahatkan diri dan juga hari minggu merupakan hari khusus untuk keluarga bagi Tari dan Andika.


Sesampainya di toko Tari lekas membuka pintu masuk toko tersebut. Bude begitu tercengang kala melihat usaha keponakannya yang cukup besar dan sepertinya ramai kalau tidak sedang tutup. Toko Tari memang lumayan besar, Tari di bantu lima pekerja setiap harinya.


Siang itu di rak penyimpanan cukup banyak kue yang memang di sediakan khusus oleh Tari untuk keluarganya, semalam sebelum toko tutup, Tari memberikan perintah pada anak buahnya untuk menyiapkan beberapa variansi kue kesukaan ibunya dulu.


Tanpa aba-aba dan perintah Bude dan pakde lekas mengambil kue yang menurut mereka enak, Tari hanya tertawa geli melihat tingkah mereka berdua yang sedang dengan rakusnya menikmati kue itu.


Sementara Ibu dan Randi sedang berjalan-jalan keliling toko, ibu ingin melihat semua sudut yang ada dalam toko tersebut, mulai dari ruang produksi, ruang penyimpanan bahan hingga toilet dan tempat display kue tak luput dari jangkauan Ibu. Ibu begitu tertegun kagum dengan pencapaian anaknya.


Tak henti-hentinya rasa sukur Ibu ucapkan pada sang maha pencipta atas rezeki yang Allah titipkan pada Tari.


Ibu juga menyempatkan diri untuk melihat halam toko yang cukup luas untuk parkir beberapa mobil dan motor pengunjung, parkiran di model dengan sedikit sentuhan tanaman agar lebih terlihat damai dan tak gersang. Ada juga beberapa kursi panjang dengan meja didepannya untuk customer yang ingin makan roti dengan pemandangan jalan.


Hiks...hiks...hiks....

__ADS_1


Suara tangisan anak kecil yang duduk di kursi tersebut mengusik ketenangan Tari dan mencoba untuk mendekat pada sumber suara.


“Kamu kenapa menangis?’, tanya Tari dengan menepuk-nepuk punggung anak perempuan yang kira-kira berusia lima tahunan.


“Aku lapar, bisakah tante membagi sedikit makanan saja”. jawabnya dengan mata yang penuh pengharapan.


Tari begitu ngilu mendengar ucapan anak tersebut.


“Namamu siapa nak?”. Tanyanya dengan lembut dan penuh kasih sayang.


“Aku Kharisma, biasa di panggil Risma”. Jawanya dengan plos dan suara yang begitu lirih.


“Apa kamu lapar sekali nak?”.


Tak ada jawaban Risma hanya menganggukkan kepalanya saja.


“Mari ikut ayo kita makan”, Tari menggandeng dan membawanya masuk ke dalam toko tersebut. Ibu dan Randi yang melihatnya tampak saling berpandangan dengan banyak pertanyaan.


“Kenapa sayang kok nangis? Apa makanannya tidak enak?”,.


“Tidak bukan seperti itu tante, tapi aku begitu terharu ini pertama kalinya aku makan dengan banyak pilihan menu, setiap harinya aku slalu lewat depan toko kue tante, aku hanya bisa menikmati baunya saja yang begitu enak tapi sekarang aku bisa menikmati kue ini”, jawabnya dengan apa adanya.


Tak terasa air mata Tari turut serta jatuh kala mendengar penuturan anak itu.


“Ibu kamu di mana? Kamu tinggal sama siapa?”. Tanya Randi yang turut bergabung dalam meja tersebut.


“Aku tidak punya Ibu, aku juga tidak punya ayah. Kata orang-orang ayah dan ibuku meninggal saat kecelakaan. Aku tinggal sendiri”, ucapnya dengan sendu anak lima tahun yang cukup pintar di usianya yang masih kecil harus bertarung dengan kerasnya kehidupan untuk menyambung hidup.


Tari memanggil Randi sejenak untuk mengikutinya, sengaja memberikan ruang bagi Risma untuk menikmati makanannya. Ada hal juga yang ingin di sampaikan Tari pada Randi kala itu.

__ADS_1


“Mas...mas...mas...”. Tari menjeda ucapannya.


“Katakanlah sayang”.


“Mas bagaimana kalau kita mengadopsi Risma saja menjadi anak kita”. Tanya Tari yang membuat Randi terkejut ia menatap Tari lebih dekat lagi kemudian menatap Risma yang sedang makan dengan lahapnya. Hati Randi bergetar kala menatap mata dan melihat Risma yang sedang makan tersebut. Tatapan serta tingkah mereka begitu memelas dan memohon.


“Baiklah sayang, mari kita tanyakan pada Risma apakah dia mau ikut serta dengan kita”.


Keduanya melangkah menghampiri Risma, tanpa mereka sadari ibu turut mendengar apa yang menjadi rencana anak dan menantunya. Sejujurnya Ibu turut bahagia jika Tari mengadopsi anak anggap saja sebagai pancingan, tapi di sisi lain ibu juga takut akan asal-usul anak tersebut.


“Risma, apakah kamu mau nak tinggal dengan kita? Agar kamu tidak tinggal di jalanan seperti ini. Kamu bisa panggil Tante Bunda dan panggil Om ini Ayah”. Tanya Tari dengan berjongkok di hadapan Risma.


Mata Risma berkaca-kaca karena sudah cukup lama Risma tidak mendapat kasih sayang seorang ayah dan ibu sejak kedua orang tuanya meninggal. Risma lebih banyak menghabiskan waktu di jalanan, tak ada sanak dan saudara yang peduli dengan keberadaan Risma.


Risma menganggukkan kepalanya dan langsung memeluk tubuh Tari.


Tari mematung, naluri keibuannya keluar begitu saja dengan membalas pelukan dari sang anak.


“Siapa nama lengkap kamu nak?”, Tanya Randi yang turut menitikkan air mata kala melihat istrinya berpelukan dengan anak kecil.


“Aku tidak tahu, yang aku tahu orang-orang memanggilku dengan Risma”. Jawabnya dengan begitu plos dan menggeleng-gelengkan kepala.


“Baiklah kalau begitu ayah akan kasih nama kamu Kharisma Nur Laila yang artinya cahaya dalam kegelapan. Bunda dan ayah harap kamu akan menjadi pelita dalam kegelapan yang menerangi kehidupan keluarga kami”. Ucap Randi yang mengelus rambut Risma.


Risma tampak bersorak senang sesekali ia juga berjoget-joget, akhirnya harapannya untuk memiliki seorang keluarga ayah dan bunda terjawab sudah.


***


“Apa? Kalian ingin mengadopsi anak?’, tanya Mama Randi dan ia terlihat sangat terkejut setelah Randi mengutarakan keinginannya untuk merawat Risma menjadi anaknya.

__ADS_1


“Iya Ma, setidaknya kehadiran Risma bisa membuat Tari terhibur sambil menunggu kehamilan Tari”.


__ADS_2