
“Bu Murni, sedang liburan ke luar kota Mas Randi. Beliau berangkat sejak dua hari yang lalu. Semua anggota keluarga turut sera termasuk menantu dan cucu kecilnya”. Tutur Bu Minah selaku tetangga Tari dan Bude Murni.
“Kira-kira Ibu tahu ke mana mereka pergi?”,
“Wah maaf Mas Randi, sayangnya saya tidak tahu. Beliau tidak bilang mau pergi kemana, hanya saja saya melihat mereka membawa barang cukup banyak.
Randi kemudian menghela nafas panjang. Rasanya sia-sia jauh-jauh ke sini tak dapat informasi sedikitpun tentang mantan istrinya.
“Saya permisi Mas Randi”. Pamitnya dengan meninggalkan Randi, yang menjambak-jambak rambutnya frustasi.
Surabaya.
Randi kembali ke Surabaya dengan wajah yang teramat sangat dongkol. Harapannya untuk berjumpa dengan pujaan hatinya sirna. Bude satu-satunya rang yang ia harapkan bisa membantu juga menghilang entah kemana, bahkan ponselnya juga tidak aktif sejak beberapa hari yang lalu setelah ia mengirimkan sejumlah uang.
Randi merasa di tipu. Ia memukul-mukul setir kemudinya dengan kening. Menjalankan laju mobilnya membelah jalanan dengan asal, sesuka hatinya sendiri.
Sementara itu, suasana hati berbanding terbalik dengan Mawar. Kehadiran Randi dalam acara tujuh bulanan, serta keturut keterlibatannya Randi dalam acara tersebut membuatnya berfikir jika Randi, sudah berubah dan menerima kehadirannya. Harapan itu kian nyata kala mengetahui jika sidang putusan perceraian suami dan madunya sudah keluar.
Benar saja, Mawar adalah orang yang paling bahagia dalam kisah ini, ketika mendapati Randi dan Tari resmi berpisah. Harapannya menjadi satu-satunya ratu dalam istana terwujud.
Ia melangkah dengan senyum yang mengembang sempurna. Perutnya yang membesar dalam balutan daster modern warna pink, mulai menapaki anak tangga pelan, namun pasti menuju lantai dua.
Ia mencoba membuka pintu kamar Randi, kamar yang slalu tertutup dan terkunci dengan rapat. Berkali-kali ia mengetuk pintu, namun tak ada jawaban yang di terimanya. Ia memberanikan diri untuk mendorong pintu itu berharap bisa masuk dalam kamar.
Ceklek.
Asanya terkabul. Pintu kamar terbuka, sebuah rezeki dari yang maha kuasa untuknya. Ini kali kedua Mawar memasuki kamar Randi. Ia melirik sekilas ke dalam kamar tersebut.
Sepi.
Sunyi tak berpenghuni. Bahkan lampu penerang dalam ruangan masi mati, jendela besar di bagan sisi kanan ranjang masih tertutup rapat.
Ia melangkahkan kakinya untuk semakin masuk dalam kamar. Jiwa penasarannya semakin meronta-ronta, kala tak mendapati Randi dalam ruangan itu.
__ADS_1
Kini tangannya terulur menyentuh ranjang yang berada di tengah-tengah ruang kamar. Ia tersenyum tipis, sejenak ia meletakkan tubuhnya di atas ranjang. Matanya terpejam membayangkan aroma tubuh Randi yang mendekapnya di atas tempat tidur itu.
Mawar tersenyum dan membelai lembut perutnya.
Beberapa saat kemudian ia melangkah menuju deretan almari pakaian yang saling berjajar di bagian sudut kiri kamar. Perlahan ia membuka almari tersebut. Deretan gamis beraneka warna tersusun rapi di sana. Mulai dari yang sederhana hingga mewah.
Ia tersenyum kecut melihat itu semua.
Kini pandangannya beralih melihat bagian rak atas almari. Terdapat deretan tas yang saling berjajar tersusun rapi di sana. Mulai dari tas berukuran kecil, sedang hingga besar. Tangannya terulur meraih salah satu tas tersebut dan mencoba utuk memakainya.
Ia tersenyum “Ah ini manis sekali, aku mau yang ini’. Desisnya dalam hati dan mengambil salah satu tas tersebut, meletakan di samping ranjang.
Tangannya masih enggan untuk diam. Ketidak hadiran Randi dalam kamar tersebut membuatnya lebih leluasa untuk mengetahui isinya. Kini ia membuka laci kecil yang ada dalam almari. Matanya terbelalak sempurna.
Kala mendapati beberapa perhiasan yang tersusun rapi dalam kotak besar berwarna merah. Mulai dari gelang, kalung, cincin bahkan anting juga ada. “Sekarang aku istrimu satu-satunya, aku lebih berhak atas semua ini”. Ucapnya kembali dengan mencoba beberapa gelang dan cincin dalam kotak tersebut.
Tak puas dengan apa yang ada, ia membuka satu lemari lagi yang letaknya berdampingan. Terdapat baju-baju santai rumahan di sana. Rupanya Tari membedakan antara almari untuk barang-barang berharga dengan barang yang biasa ia gunakan sehari-hari.
Matanya sedikit mengkerut kala mendapati satu ruang dalam almari tersebut yaang berisi kain-kain tipis layaknya sebuah jilbab. Ia semakin penasaran, ketika melihat kain-kain itu dalam jumlah yang cukup banyak sekali.
Terdapat satu kotak yang masih terbungkus rapi. Ia memberanikan diri untuk membuka dan mencobanya. Satu set lingerie warna merah marun, dengan hampir seluruh bagiannya terbuka tanpa celah.
Ia mencoba kain tipis tersebut. Perutnya yang membesar semakin menambah kesan seksi. Ia tertawa menatap cermin melihat penampilannya.
“Mas....”. Ucapnya di sela-sela tawa kala melihat Randi, masuk dalam kamar tersebut.
“Kau!’. Tunjuk Randi dengan satu tangannya. Matanya memerah.
Mawar tak gentar, ia semakin tersenyum dan melangkahkan kakinya mendekat ke arah Randi.
Randi diam, ia mencoba menahan amarah yang ada.
Entah keberanian dari mana yang Mawar temukan saat itu. Ia semakin maju ke arah Randi, dan mendekatkan tubuhnya di sana. Jemarinya terulur membuka satu kancing kemeja Randi.
__ADS_1
Tangan Randi mengepal sempurna di kedua sisinya.
“Mas kenapa kita tidak mencoba melakukannya kembali?’. Bisiknya di telinga Randi, dengan pelan dan sengaja menghembuskan nafas di sana.
Randi yang perasannya sedang tidak baik-baik saja sejak dalam perjalan pulang, semakin murka melihat tingkah istri barunya.
Brak
Randi mendorong Mawar, dan menutup pintu kamarnya dengan keras.
“Sialan sialan sialan”. Maki Mawar kecewa.
.
.
.
Desa Suka Maju.
Tari membulatkan adonan terakhir malam itu, lalu menutupnya dengan kain bersih, menunggunya untuk mengembang satu jam kemudian. Karena bosan menunggu dan tak ada kegiatan lain yang dapat ia lakukan, Tari membuka pintu belakang dapurnya. Pintu yang menghubungkan dapur dengan hamparan kebun yang luas.
Tari melangkahkan kakinya keluar dari dapur menuju kebun. Ia ingin mendapat ketenangan dalam gelapnya malam dan rintihan binatang yang saling saling bersautan.
Ia berjalan maju dan semakin maju. ALih-alih mendapat ketenangan ia malah mendapati dirinya tersesat. Kepalanya menengok ke kanan dan ke kiri . Tak ada siapapun di sana. “Astaga apa yang aku lakukan? Sudah tahu ini area baru yang belum aku kenal betul seluk beluknya”. Rintihnya dalam hati.
Tari mencoba untuk melangkah mencari jalan kembali. Namun karena gelap ia tak tahu harus melangkah ke kanan atau ke kiri, maju ataupun mundur.
Setelah berdiskusi dengan dirinya sendiri, ia memilih untuk mengikuti kata hati dengan berbalik arah. Namun, Tari lupa bahwa musibah bisa datang kapan saja. Entah bagaimana ceritanya kakinya terjebak dalam lubang besar, yang sialnya lubang tersebut semakin menenggelamkan tubuhnya.
Blug....
Tari terjatuh dalam lubang besar tersebut, ia tenggelam dalam baluran lumpur. Entah itu luka tau kehidupan, semuanya seakan saling beradu menelannya dalam kegelapan.
__ADS_1
Tari menatap kosong cahaya rembulan yang ada di langit. Cahaya itu semakin lama semakin menjauh . Berbanding lurus dengan kesadarannya yang kian menipis seiring tenaganya yang terkuras habis.
Tari merasa tubuhnya melemah, dan jika bisa memilih ia ingin tidur selamanya.