
Hay kak mampir yuk ke karya baruku Jingga.
đź’•
đź’•
đź’•
Aku tidak mau tahu, kalian harus tanggung jawab dengan kejadian ini! Aku tak mau malu dengan undangan yang sudah datang”, suara Pak Angga, semakin dingin kala mendapat laporan jika Dahlia telah melarikan diri di hari pernikahannya.
Diam.
Tak ada yang bergeming, suasana benar-benar sunyi. Hingga helaan nafas masing-masing dapat saling terdengar.
Semuanya tak ada yang bisa memberikan jawaban atas hilangnya Dahlia.
__ADS_1
Sementara Fajar, tersenyum penuh kemenangan, akhirnya ia bisa terbebas dari permintaan konyol sang Papa, yang ingin menikahkannya dengan anak sahabatnya.
Masih dalam ruangan yang sama, tiba-tiba Jingga, datang membawakan satu baki yang berisi melati segar dan beberapa bunga lainnya, melintas menuju kamar Dahlia. Jingga benar-benar tidak mengerti dengan apa yang sedang terjadi saat ini. Ia dengan begitu tenang melangkah menuju kamar majikannya. Karena yang ia tahu semalam di tugaskan untuk merangkai melati dan meletakkan di kamar Dahlia.
“Tunggu!”. Seru Pak Angga, yang menghentikan langkah Jingga, menuju kamar Dahlia.
“Saya, Tuan”, jawabnya dengan sopan menundukkan kepalanya.
“Siapa kamu?”.
“Dia asisten rumah tangga di sini ini”. kini pak Hermawan, mulai memberanikan diri membuka suaranya.
“Baiklah karena majikan kamu telah kabur di hari pernikahannya, maka mau tidak mau kamu harus menggantikannya untuk menikah dengan anak saya sekarang juga”. Titah pak Angga yang begitu saja keluar dari mulutnya dan membuat semua orang yang ada di ruangan tersebut menganga, membulatkan mata secara sempurna.
“Saya tidak menerima penolakan apapun!”. Tukasnya kembali dengan tegas dan penuh penekanan.
Sementara Jingga, masih diam mematung, mencoba mencerna setiap kata yang di ucapkan oleh pak Angga, sahabat majikannya.
__ADS_1
Semua begitu tiba-tiba, hingga tangannya terasa kebas tak berasa, membuat melati putih dalam genggamannya luruh seketika, bersentuhan dengan dinginnya lantai.
Dunianya sekaan berhenti berputar, masa depannya di renggut paksa, untuk menyelamatkan sebuah kehormatan keluarga.
Jingga, masih di tempat yang sama, lidahnya terasa kelu, suaranya tersendat dalam kerongkongan, seperti sedang kehilangan sebuah kata-kata. Jiwanya menjerit ingin menolak.
***
Dua jam kemudian.
“Saya terima nikah dan kawinnya Jingga Sekar Ayu Kemuning binti Bramantyo, dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan emas seratus gram di bayar tunai”. Dengan satu tarikan nafas Fajar Dirgantara, sudah sah menjadikan Jingga wanita yang sama sekali tidak ia kenal menjadi istrinya. Begitu pula sebaliknya Jingga, gadis cantik itu juga sama sekali tidak mengenal Fajar yang kini menjadi suaminya.
Ini adalah pertemuan pertama mereka berdua. Pertemuan pertama yang sekaligus merubah status mereka menjadi sepasang suami istri.
Bagaimana para saksi? Tanya pak Hermawan yang saat itu menjadi wali nikah Jingga, karena Jingga anak yatim piatu dan tak memiliki sanak saudara.
“SAH”.
__ADS_1