
Rumah Randi
Randi sangat frustasi, saat Tari tak lagi menjawab pesannya, tak mengangkat telfonnya. Bahkan ia sama sekali tak membuka pesan yang sudah di kirim Randi sejak semalam. Padahal ponsel istrinya masih aktif.
Bahkan, semalam suntuk Randi tak dapat memejamkan mata walau hanya sebentar, ia terus memikirkan Tari . Sekelebat bayang-bayang kebersamaannya dengan sang istri begitu berseliweran tanpa permisi di atas kepalanya.
Pagi itu, hari masih pagi. Matahari baru menampakan diri sejengkal dari permukaan. Randi melirik jam dinding di kamarnya. Waktu menunjukan jam tujuh pagi. Randi ingin menemui Tari kembali, ia akan membujuk istrinya untuk memaafkan dan kembali padanya.
Iya menyambar kunci mobil yang ada di laci meja rias, kemudian berlari kecil menuruni anak tangga hendak keluar dari rumah yang sudah seperti neraka baginya. Langkahnya terhenti sejenak kala melewati ruang makan, Mawar ada di sana tepat di bawah tangga, menghadang jalannya, Mawar tersenyum manis penuh arti padanya.
“Mas, mau ke mana?”, ia memberanikan diri untuk mendekat pada suaminya, mengelus lembut lengan Randi.
“Mau menjemput Tari”, jawab Randi dengan memberikan senyum manis pada istri keduanya tersebut. Yang justru membuat senyum Mawar menjadi redup seketika.
“Bukankah kata Mama, Mas Randi dan Tari akan bercerai”. Desis Mawar tepat di hadapan Randi, yang membuatnya ia murka kembali.
“Dengar baik-baik, aku tidak akan pernah menceraikan Tari, aku sangat mencintainya, jangan berharap kamu bisa mengantikan posisinya di hatiku”. Tukas Randi dengan melangkahkan kakinya keluar dari rumah, ia enggan menyapa Mamanya, ia juga meninggalkan rutinitas sarapan bersamanya.
Bu Srining, menghampiri menantunya, guratan wajah sedih terpancar sempurna di wajah Mawar. Ia meremas tangannya dan memanyunkan wajahnya.
“Sudah-sudah jangan sedih, biarkan saja Randi seperti itu dulu, dia sedang memperbaiki hatinya. Sebaiknya kamu istirahat dulu" ucap Bu Srining dengan pelan.
Mawar mengikuti setiap perintah mertuanya, kini mereka berdua sedang sarapan. Pak Nario juga tidak terlihat dalam meja makan. Sejak kepergian Tari, dari rumah mereka ia lebih benyak sendiri. Seperti Randi, pak Nario begitu merasa kehilangan, ia sudah menganggap Tari layaknya anak sendiri.
__ADS_1
***
Hari itu masih sangat petang, bahkan matahari masih belum menunjukan sinarnya, suara malam masih terasa tapi hari sudah berganti. Bu Marni melirik jam yang ada di ruang produksi toko roti, ia melihat dua koper besar yang sudah siap sejak semalam.
“Apa kamu sudah yakin nak dengan keputusan ini?”, ia melirik putrinya yang sedang duduk, membereskan beberapa potong baju.
“Keputusanku sudah final Bu, aku akan berpisah. Tolong maafkan aku kerana tidak dapat menjadi anak yang baik. Aku tidak dapat mempertahankan rumah tanggaku dengan Mas Randi”. Matanya kembali berkaca-kaca meski sudah mencoba untuk tegar.
Bu Srining mendekat, mencoba memberikan kekuatan pada anaknya dengan kembali memeluk putrinya yang tak lagi kecil.
“Lantas kamu akan kemana nak?”.
“Aku akan pergi untuk sementara waktu, aku akan pergi ke tempat asing yang tak ada mengenaliku. Aku ingin sementara menjalani hidup yang tenang”.
“Apa Ibu boleh ikut denganmu nak?”.
“Tar, rumah yang ada di desa itu rumah Randi, rumah kita yang sudah di beli Randi saat pakdemu menjual rumah itu lagi”. Tari kembali terdiam, ia mencoba berfikir.
“Baiklah Bu, mari kita pergi bersama. Kita kembalikan semua harta yang bukan hak kita pada yang punya”.
Ibu tersenyum, ia ingin tetap bersama anaknya, di sampingnya apapun yang sedang di hadapi. Termasuk kembali berjuang dari awal tidak memiliki apapun.
“Untuk sementara waktu, biar Ipul yang mengelola toko ini, saat ini hanya toko ini salah satu sumber penghasilan kita”. Tari menatap Ibunya dalam, seolah sebagai isyarat permintaan maaf karena telah kembali membawa Ibunya dalam lingkar kesusahan.
__ADS_1
“Tidak nak, jangan seperti itu. Ini sudah lebih dari cukup. Mari kita membuka lembaran baru dalam kehidupan ini”.
Kini dua wanita beda generasi sudah bersiap dengan segala perlengkapan yang ada. Risma masih enggan untuk membuka mataya, Ipul menggendongnya menuju mobil yang sudah di pesannya khusus untuk mengantar mbak Tari pergi.
Roda mobil sudah mulai berputar, saling bergesekan dengan jalanan membelah sunyinya jalanan yang petang. Tari benar-benar pergi meninggalkan hiruk pikuk Surabaya, ia menepi menyembuhkan segala rasa luka dan kece yang mendera.
***
Desa Suka Maju
Tari.
Aku meras aura kenyamanan kala pertama kali menginjakan kaki di sini. Sepertinya aku akan betah untuk tinggal di sini. Entahlah aku tak tau, mungkin karena suasananya yang damai, jauh dari hingar bingar kehidupan kota. Para tetangga juga sangat ramah. Mereka tak ada yang mengusik kehidupan pribadiku, ataupun bertanya mengapa aku jauh pindah ke sini.
Aku memilih untuk menyewa salah satu rumah warga yang sudah lama tak terpakai, rumah tua khas desa dengan halaman yang luas dan benyak tanaman di sisi kanan dan kirinya. Di bagian belakang pekarangan rumah juga masih tersisa tanah yang luas, ada banyak pohon pisang tumbuh di sana. Meskipun jauh dari kata mewah, namun rumah ini cukup membuatku merasakan hidup kembali setelah drama yang panjang dalam kehidupanku.
Mungkin kedepannya nanti aku akan membuat kue-kue dan berjualan di sini, untuk menambah pemasukan demi memenuhi kebutuhan keluarga. Aku bisa memanfaatkan pisang-pisang itu untuk keripik ataupun aneka kue.
Tak terasa seminggu sudah kami menginjakan kaki di sini. Tak ada yang perlu di khawatirkan, sepertinya Risma dan Ibu juga betah untuk tinggal di sini. Alhamdulilah, Risma akhirnya juga punya banyak teman di sini, aku mulai kembali mendaftarkan sekolah untuknya. Apapun yang terjadi Risma berhak untuk mendapat pendidikan yang terbaik.
Segala macam tentang aku dan Mas Randi sudah ku lepas, ku kembalikan semua yang bukan menjadi hakku, aku anya menyisakan toko roti yang sedang di kelola Ipul, sebagai sumber utama pendapatan. Toko itu milikku pribadi hasil kerja kerasku dulu saat masih bekerja.
Aku juga menyerahkan segala urusan perpisahanku pada Ipul dan pengacara yang ada. Aku sudah enggan untuk kembali menginjakan kaki di Surabaya. Aku akan memulai hidupku yang baru di sini bersama dengan orang-orang yang tulus mencintaiku tanpa adanya kebohongan yang di tutupi.
__ADS_1
Aku berharap Allah akan memberikan kisah yang lebih indah setela ini, karena aku percaya fa inna ma’al-’usri yusro bawa janji Allah itu pasti “Karena sesudah kesulitan pasti akan ada kemudahan.
Tari tersenyum, ia menatap hamparan sawah hijau yang ada di depan rumahnya, sejenak ia memejamkan mata. Mencoba menghirup udara sebanyak yang ia mampu. Tangannya terlentang menikmati hawa dingin yang melintasi tubuhnya.