
Entah mengapa sejak semalam perasaan Bu Marni sangat tidak tenang, ia begitu gelisah memikirkan keadaan anak perempuan satu-satunya. Bu Marni mencoba untuk tidur dengan memiringkan tubuh ke kanan dan kiri, mencoba mencari posisi ternyaman, namun sayangnya ia tidak bisa menemukan kantuk dan ketenangan pada hatinya.
Pagi-pagi sekali, kala matahari masih enggan untuk menunjukan sinarnya, Bu Marni bertekad ingin datang ke Surabaya, berkunjung ke rumah Tari. Bu Marni memohon-mohon pada Ipul untuk mengantarkannya ke sana.
“Pul, Ibu ini kangen sekali sama mbakmu dan Risma, tolong antarkan Ibu ke sana ya”. Ibu meminta pada Ipul untuk mengantar ke sana, dalam kondisi ia sudah menata baju-baju dalam tas.
“Tapi Bu, bukankah mbak Tari minggu lalu sudah pulang”, seru Ipul mencoba untuk melarang sang Ibu, agar tidak datang menemui Tari.
“Ibu kangen nak, apa salah jika seorang Ibu sedang merindukan anaknya. Kalau kamu tidak mau mengantar, biar Ibu pergi sendiri saja, ancamnya dengan meraih tas yang sudah berisi baju dan beberapa oleh-oleh khas desa untuk Tari dan keluarga.
Tak mungkin tega membiarkan Ibunya berangkat sendiri, Ipul mengantarkan sang Ibu dengan hati yang berat. Bukan tak mau mengantar, hanya saja ia sudah berjanji pada Tari, jika akan merahasiakan sementara kondisinya pada Ibu tercinta.
Ibu dan Ipul berangkat dengan perasaan was-was. Segala kemungkinan dan cara mengatasi sudah Ipul persiapkan, jika nanti Ibu harus tahu tentang semua yang sedang terjadi pada rumah tangga mbaknya.
.
.
.
.
.
Toko Roti Tari.
Sesampainya di Toko Roti Tari , Ibu Marni tampak mengernyit kerena ia bingung, kenapa Ipul membawanya ke sini?, bukan ke rumah Randi. Hatinya mulai berdebar was-was dan tidak tenang. Ia melangkahkan kakinya ke dalam Toko tanpa bertanya. Ia semakin mempercepat langkahnya untuk masuk ke Toko, dan betapa terkejutnya Bu Marni, saat mendengar apa yang di katakan besannya pada Tari.
“Tinggalkan Randi Tar. Ia pantas bahagia dengan Mawar dan juga anaknya”.
Bu Marni menghentikan langkahnya sejenak, ia begitu terkejut dengan keadaan yang ada. Satu tangannya memegang dada dengan mulut yang menganga.
__ADS_1
Sementara Tari, ia seperti di sambar petir saat pagi, ketika mendengar sebuah permintaan dari Mama mertuanya. Kedua bola matanya terbuka lebar dengan mulut yang menganga, ia seakan kehabisan oksigen untuk bernafas saat itu juga. Tangannya gemetaran.
“Itukah yang Mama harapkan dari hubunganku dengan Mas Randi?"
“Besan...!”. Seru Bu Marni, yang tiba-tiba muncul dari belakang, dengan tatapan penuh tanda tanya.
“Besan tadi bilang apa?’. Bu Marni semakin mendekatkan diri menuju Bu Srining. Ia menatap tajam pada besan yang selama ini begitu ia hormati.
Sementara Tari, ia masih tampak shock dengan ucapan Mama mertuanya dan kehadiran Ibunya yang begitu tiba-tiba, rasanya ia ingin menghilang saat itu juga.
“Maksudku...”.
“Tante sadar tidak dengan apa yang sudah Tante katakan pada mbak Tari, bukankah dulu Tante sendiri yang meminta mbak Tari pada Ibu untuk menjadi istri anak Tante?”, Seru Ipul dengan emosi yang sudah hampir meledak.
“Ada apa ini Tar, Pul?”. Ibu masih dengan kebingungan yang ada, ia menatap satu persatu wajah-wajah yang ada di sana, memohon sebuah penjelasan dengan ucapan yang baru saja ia dengar.
Ipul begitu geram, ia melayangkan tangannya ke arah Bu Srining, yang lekas di tangkis oleh Tari.
“Tidak....tidak seperti itu Pul, Mama bisa menjelaskan padamu”.
“Aku rasa tidak perlu. Semuanya sudah sangat jelas!"
Tidak dapat di pungkiri hati Tari, begitu sakit kala mendengar permintaan mertuanya yang sudah di luar batas. Sementara Ipul, ia sudah tidak peduli lagi dengan status dan kondisi Bu Srining. Ia begitu kecewa dengan sikap mertua kakaknya.
“Bukan seperti itu nak maksud Mama, Mama meminta mbakmu untuk melepaskan Randi dengan baik-baik demi anaknya. Apa salah bayi itu nanti ketika harus lahir tanpa hadirnya seorang ayah di sisinya"
Bu Marni, masih melongo mendengar setiap kata yang di ucapkan besannya, ia mencoba mencerna satu persatu kalimat yang keluar dari mulut Bu Srining.
“Mbak Tari, dengan senang hati akan meninggalkan Mas Randi" Tukas Ipul dengan emosi yang sudah memuncak.
Sementara Tari hanya bisa menangis melihat keadaan yang ada. Sungguh ini semua di luar kehendaknya, apalagi harus menyaksikan Ibunya yang turut menangisi kisahnya, membuat hatinya semakin tercabik-cabik sepuluh kali lipat lebih sakit.
__ADS_1
“Sekarang panggil anakmu ke sini!, kita selesaikan masalah ini sekarang juga!”. Entah mengapa sosok Ipul bisa berubah menjadi pria yang tegas, padahal usianya masih sangat muda.
“Tapi Pul...”...
“Baik, biar aku saja yang memanggilnya kesini!”. Desis Ipul, tanpa mengulur waktu Ipul, lekas meraih ponsel dalam saku celananya. Dengan cepat ia menghubungi Randi, untuk lekas datang ke Toko Roti.
Sedang Bu Srining, tampak semakin cemas dengan keadaan yang ada. Tak bisa di pungkiri ia begitu takut dengan kemarahan Randi, padanya nanti.
“Pul, Mama mohon, biar nanti Mama yang berbicara sendiri dengan kakak iparmu itu”, rintih Bu Srining, memelas mohon pada Ipul untuk tidak menghadirkan anaknya saat itu juga.
Ipul tak bergeming, ia benar-benar tak menghiraukan setiap kata yang di ucapkan Bu Srining, sekalipun ia sudah meminta dan memohon-mohon padanya.
“Aku tidak mau tau, Mas Randi harus datang ke toko mbak Tari sekarang juga!”.
Sosok Ipul kecil yang penurut telah berubah menjadi lelaki dewasa. Dia tidak terima jika sang kakak yang begitu di sayangi di perlakukan demikian. Ia akan mengambil sikap tegas untuk itu.
Sementara Bu Marni, ia memegang lembut tangan sang anak. Bu Marni tidak berucap satu katapun, namun sorot matanya berkaca-kaca seolah sedang merasakan rasa sakit yang anaknya rasakan.
“Tolong jangan salah paham dulu.Ibu mana yang mau anaknya menderita. Aku hanya menginginkan keutuhan dan kesempurnaan pada kehidupan anakku. Apa salahnya jika aku menginginkan Randi bahagia dengan keluarga barunya. Mawar sedang hamil, wanita itu butuh kasih sayang dan cinta dari suaminya. Sementara Tadi, ia masih bisa mendapat kasih sayang dari yang lainnya. Ia masih memiliki keluarga yang utuh sedangkan Mawar. Ia hidup sebatang kara"
Bu Marni semakin terperangah mendengar penjelasan besannya, ia sungguh tak percaya dengan apa yang terjadi pada putrinya.
Kini ia memeluk Tari, dengan kuat tanpa bertanya apapun, ia mencoba menjadi tumpuan kaki anaknya yang sedang kehilangan tempat untuk berpijak.
"Sabar ya nak" rintihnya dengan pelan sambil menepuk-nepuk pundak Tari.
.
.
.
__ADS_1
Hiks sedih.