
Sorot matanya menatap tajam pada seorang wanita yang berada dalam kamar. Benar saja pagi itu Tari melihat suaminya sedang duduk disebelah ranjang pasien yang terkapar tak berdaya. Tangan mereka saling berpegangan dengan lembut.
Wanita muda dengan balutan daster khas pasien rumah sakit, rambut yang tergerai panjang dan wajah yang pucat pasi.
Mawar Mawangi, karyawan laundry di tempat Mama Randi.
Apa hubungan di antara mereka berdua?.
Kristal bening yang tak di undang, meluncur begitu saja dari manik cantiknya, menuntut sebuah penjelasan dengan apa yang di lihat.
“Mas Randi...”. Suara seorang wanita yang tak asing membuyarkan lamunannya. Rasanya jantung Randi ingin keluar saat itu juga dari tempatnya, saat ia mendengar suara istri tercinta. Randi mendongak memastikan kebenaran yang ada, dengan melihat siapa yang datang.
“Sayang”. Suatu kalimat lirih yang ia ucapkan. Jantungnya benar-benar terasa berhenti saat itu juga, kala melihat kehadiran Tari di ambang pintu kamar.
Wajah yang sedih dengan netra berkaca-kaca terpancar sempurna.
Randi lekas menarik tangannya dari genggaman Mawar, melepas dengan paksa yang membuat hati Mawar kembali berdenyut nyeri.
“Sayang aku bisa jelaskan, sebuah kata yang kembali terlontar dengan suara serak, seolah sedang menahan tangis.
Bagaimana bisa? Ada apa sebenarnya di antara mereka berdua? Rentetan pertanyaan begitu panjang mengudara di atas kepalanya.
Randi bangkit dari tempatnya duduk, menghampiri istrinya dengan dada yang berdetak sangat cepat. Randi yang sejak tadi pagi ingin mengungkap sebuah fakta, mengakui kesalahan yang ia lakukan, tiba-tiba menjadi bungkam tak dapat berucap satu katapun. Ia seolah kehilangan kata-kata.
Hancur.
Semua begitu hancur, dengan keadaan yang ada.
“Mas ada apa ini?”, suara Tari bergetar menahan tangis. Pikirannya mencoba untuk tetap berprasangka baik, namun hatinya menolak.
Diam, Randi masih terdiam menatap istrinya. Ia benar-benar tak sanggup untuk mengungkap apa yang ada di depan mata.
Sementara Tari lekas mengatasi kondisi kamar, matanya tertuju pada Bu Srining yang sedang duduk di sofa sebelah Mawar. Wajahnya tertunduk dalam diam, mulutnya pun membisu tak dapat berucap, walau hanya sekedar menyapa.
Kini pandangan Tari tertuju pada Mawar, wanita lemah yang sedang berbaring di atas kasurnya. Mawar pun membisu tak dapat mengucap sebuah kata, hanya sorot matanya yang berlinang, seolah sedang mencoba menjelaskan keadaan.
__ADS_1
Sejurus kemudian Tari memandang lekat wajah suaminya, sosok yang begitu ia percayai dan ia cintai selama ini.
“Aku sedang menunggu penjelasanmu Mas!”. Air mata luruh seketika sekalipun sudah berusaha ia bendung sejak tadi.
“Lihat aku sekarang! Dan jawab pertanyaanku! Apa hubungan kalian berdua?”. suara lirih namun penuh dengan penekanan di hiasi sebuah tangisan.
Randi masih terdiam mematung, ia begitu syok dengan keadaan yang ada. Bingung mau menjelaskan dari mana semua ini. Lidahnya terasa kelu pikirannya mendadak linglung.
“Jawab aku mas!”. Untuk pertama kalinya Tari berbicara dengan nada yang cukup keras selama mereka saling mengenal dan menjalani pernikahan.
“Sayang aku akan menjelaskan semuanya”, Tangan Randi terulur untuk menyentuh tangannya, sayangnya ia menapik dengan begitu kasar uluran tangan itu.
“Permisi, Pak Randi ini hasil pemerikasaan kandungan istri anda”. ucap Dokter wanita muda, yang tiba-tiba masuk dalam kamar memberikan serangkaian hasil tes pemeriksaan Mawar pada Randi.
Pagi itu, dunia Tari telah runtuh, permatanya yang bersinar tak lagi menyilaukan. Pesonanya hilang terkalahkan oleh kelambunya sang awan.
Aku kecewa.
“Sayang aku akan jelaskan semuanya”, suara lirih itu kembali mengusik telinganya.
Tari tak bergeming, cukup air mata yang berbicara sebagai isyarat isi hatinya yang benar-benar remuk redam.
“Tega kamu Mas”. Sebuah kalimat lirih yang mampu ia ucapkan.
Lari.
Tari memilih lari, meninggalkan kamar bersaman dengan jiwanya yang terguncang. Ia menangis meratapi keadaan. Jilbab panjang yang menjuntai seakan sebagai saksi sakitnya sebuah penghianatan, kala jilbab itu basah dengan genangan air mata.
Dokter hanya mematung, menatap semua orang yang ada, seakan turut meminta penjelasan dengan keadaan yang ada. Tak ada yang bergeming, semua seolah mendadak menjadi bisu.
Randi berlari mengejar istrinya, dua insan yang sedang merasakan sakit hati saling mengejar sepanjang koridor Rumah Sakit.
Tari kembali menuju ruang rawat Arsa, ia ingin mengambil Risma dan lekas membawanya pergi dari sini, menjauh dari Randi dan keluarganya.
“Ye Bunda sudah datang”, sambut senang dua gadis kecil yang sedang kelaparan dari tadi menunggu kehadirannya.
__ADS_1
“Risma, ayo kita pulang nak”. wajah Tari yang sembab dengan air mataya yang menetes di pipinya, membuat Fitri bingung dengan keadaan yang ada.
“Tar, ada apa?, apa semua baik-baik saja?”, ucapnya dengan hati-hati kala melihat sahabatnya yang sedang tidak baik-baik saja.
Ceklek.
Sejurus kemudian Randi memasuki ruangan kamar inap Arsya. Fitri yang melihat kehadiran Randi dengan tiba-tiba, sudah dapat memprediksi jika Tari sudah tahu semuanya. Ia bungkam tak berucap satu katapun dan lebih memilih untuk meraih anaknya membawa dalam dekapannya, agar tak terusik dengan keadaan yang ada.
“Sayang aku akan jelaskan”. Randi kembali berucap.
“Maafkan kami Fit, menggangu ketenangan Arsya. Aku dan Risma pergi dulu”. Pamitnya dengan menarik tangan Risma membawanya lari keluar dari kamar yang disusul dengan suara tangisan Risma dan Arsy, dua bocah kecil itu tampak ketakutan dengan keadaan tegang yang ada.
Randi kembali mengejar Tari.
“Sayang tunggu, aku akan menjelaskan semuanya”.
“Menejelaskan? Dari tadi penjelasan itu yang aku tunggu keluar dari mulutmu, hanya saja kamu diam tak berucap sepatah katapun. Sekarang semua sudah jelas aku sudah tahu semuanya, lantas penjelasan macam apa lagi yang ingin kamu katakan heh!”. Kini Tari meraih tubuh Risma dan menggendongnya lari keluar dari rumah sakit.
Sepanjang perjalanan melewati koridor rumah sakit, semua mata tertuju pada mereka. Seakan sedang menyaksikan sebuah drama keluarga yang tersaji nyata di depan mata.
“Dengarkan aku sayang....”.
“Tolong jangan seperti ini, jangan membenciku. Aku sangat mencintaimu Tar”.
“Sayang aku mohon maafkan aku, kamu boleh membunuhku tapi aku mohon jangan membenciku”.
Tangis Tari kian meluruh kala mendengar setiap kata yang terucap dari mulut Randi bersamaan dengan tangis Risma yang ketakutan dengan keadaan yang ada. Hatinya benar-benar sedang terluka pagi ini.
Sementara di sudut koridor Rumah Sakit, Bu srining menatap pilu anak dan menantunya, keduanya saling menangis. Rasa bersalah hinggap di hatinya. Menyesal pun tak ada gunanya, ketika nasi sudah menjadi sebuah bubur.
.
.
.
__ADS_1
.
Mohond dukungannya like,komen subscribe dan vote 💕