
“Bu, apa? Katakanlah”
“Ram, sebentar lagi kamu akan menikah lagi. Sebaiknya bawalah Tari dan Risma ke makam
Senja. Bagaimana pun juga setelah ini kalian akan menjadi sebuah keluarga”
Rama terdiam untuk sesaat. Tak dapat di pungkiri hadirnya Tari dan Risma beberapa waktu ini dalam hidupnya sedikit banyak dapat mengalihkan pemikirannya tentang mendiang istrinya. Ia tak lagi termenung menunggu akan kematian datang. Justru pria itu memiliki semangat untuk hidup berlipat-lipat ganda. Setelah menemukan sosok yang mampu membuatnya merasa di butuhkan untuk tetap berjuang.
“Baik Bu, akan aku bicarakan nanti denan Tari”
Sambungan telfon terputus. Baik Bu Rama maupun Rama kembali melanjutkan aktivitas
masing-masing.
****
Siang ini Rama meminta izin pada Tari untuk menjemput sekolah anaknya. Meskipun sudah
menjadi kesepakatan bersama jika Rama bertugas untuk mengantar dan Tari bertugas untuk menjemput. Namun siang ini Rama, ingin mengajak dua wanita yang di cintainya untuk mengenal sosok Senja, seperti yang di perintahkan Bu Rahma tadi pagi. Tari tidak keberatan untuk hal itu.
Mobil Rama lekas melesat membelah jalanan menuju sekolah Risma dan menjemput Tari di
tokonya. Tak ada masalah yang berarti hingga dalam waktu beberapa menit saja ia sudah sampai di toko roti Tari.
“Loh Risma mana mas?”
“Ada di dalam tidur, sepertinya dia kecapean”
“Ah anak ini slalu saja begini kalau pulang sekolah di jemput pakai mobil. Coba kalau
aku yang jemput pasti masih melek matanya karena harus naik motor” jawab Tari dengan memberikan guling di beberapa sisi anaknya agar tidak jatuh.
“Nanti aku usahakan cari sopir biar dia ada yang antar jemput gak kepanasan”
“Gak usah mas pake motor saja”
“Gak papa kasihan nanti kalau dia harus kepanasan dan kehujanan”
Tari terdiam untuk sesaat, ia bahkan terkadang lupa jika Rama adalah ayah kandung Risma. Tentu saja pria itu menginginkan yang terbaik untuk anaknya.
“Ah iya mas maaf, aku bahkan lupa jika dia adalah anakmu”
“Anakmu juga. Dia anak kita”
Rama membukakan pintu untuk Tari yang di sambut dengan senyuman di wajah teduh Tari.
“Mas, nanti kita beli bunga dulu di jalan ya. Biasanya di sekitar pasar senin itu ada
yang jual bunga”
“Baik”
__ADS_1
Mobil kembali berjalan dengan pelan membelah panasnya terik jalanan. Rama dengan sengaja
mengendarai mobil dalam laju yang rendah. Agar anaknya tak terjatuh jika mobil mengenai guncangan. Ia juga ingin berlama-lama dengan Tari tanpa gangguan dari beraneka ragam pertanyaan anaknya.
“Mas itu ada yang jual bunga. Aku turun dulu ya”
Tak ada jawaban yang berarti yang di berikan Rama. Ia hanya menganggukkan kepala tersenyum dan lekas menepikan mobilnya. Sementara Tari, wanita itu dengan segera turun dan membeli beraneka macam bunga untuk sekaran. Ia juga membeli bunga sedap malam dan menaruhnya di sebuah vas bunga,
Mereka kembali melanjutkan perjalanan. Rupanya makam Senja terletak sedikit jauh dari
tempat tinggal Bu Rahma. Senja di makamkan di pemakaman umum dekat tempat tinggal orang tuanya. Empat puluh menit berlalu, perlahan mobil mulai memasuki area parkiran makam. Rama dengan sigap mencari area parkir yang di rasa aman dan tidak terik.
“Ayo”
Tari masih duduk terdiam dengan membawa bunga dalam pangkuannya.
“Kenapa?”
“Mas maaf aku ingin bertanya”
“Iya” Rama mengurungkan niatnya untuk turun ia menatap lekat wajah Tari yang sedang berada di sebelahnya.
“Apa mas Rama masing sangat mencintai mbak Senja?” tanya Tari dengan ragu, ia bahkan tak berani menatap wajah Rama.
Rama memejamkan mata sejenak. Lantas kembali menatap Tari dengan lekat. Ia menganggukkan kepala dengan pelan sebagai isyarat akan jawaban yang di berikan Tari.
“Tar, kamu dan Senja itu berbeda. Kalian sama-sama istimewa di hatiku. Senja akan
bisa bersemi. Sementara cinta untuk kamu jauh lebih indah dan akan slalu bersemi di hatiku”
Rama tersenyum menatap Tari. Ia berharap wanitanya ini mengerti akan posisi mereka.
“Maaf ya mas, sudah membuat mu harus menjawab pertanyaan semacam ini. Tidak seharusnya aku bertanya demikian”
“Tidak masalah”
“Risma ayo nak bangun dulu kita sudah sampai”
Risma
mengucek-ucek matanya ketika mendapati bahunya di goyang-goyangkan dengan pelan.
“Kenapa kita ke sini? Aku pikir Ayah dan bunda akan mengajakku jalan-jalan?”
Mata Risma memindai sekitar area yang tampak sepi dan hanya ada gundukan tanah bersama dengan nisannya.
“Ayah ingin mengenalkan mu dengan seseorang”
“Siapa?”
“Sudahlah, nanti Ayah akan cerita. Sekarang kita turun dulu”
__ADS_1
Ketiganya mulai berjalan memasuki area makam dengan posisi Risma di tengah-tengah mereka.
Assalaamu-‘alaikum yaa ahlil qubuuri, yaghfirullohu lanaa, a lakum antum salafu-na, wa nahnu bil atsari.
Risma belum bisa membaca salah itu. Ia memilih untuk menggerak-gerakkan bibirnya saja selayaknya Ayah dan Bundanya.
Tak butuh waktu yang lama Rama dapat dengan mudah menemukan makan Senja, mengingat
hampir setiap dua minggu sekali ia datang ke sana. Jika biasanya ia datang serang diri. Namun tidak dengan sekarang ia membawa serta anak mereka dan calon istrinya.
“Senja? Siapa Senja itu Ayah?” Tanya Risma ketika melihat sebuah nisan dengan sebuah
nama terukur di atasnya.
“Dia ibumu. Dia ibu yang telah melahirkan mu. Beliau meninggal ketika kamu baru saja
lahir. Coba lihat tanggal yang tertulis di nisan itu, hanya selang sehari dengan ulang tahunmu bukan?”
Randi menunjukan tulisan yang ada di nisa Senja.
“Jadi Ibuku sudah meningal, aku sudah tidak punya Ibu?” Seketika itu juga Risma lekas
Menitikkan air mata. Selama ini ia sering berangan-angan untuk berjumpa dengan
Ibu kandungnya.
“Ibu yang melahirkan mu memang sudah meninggal sayang. Tapi Bunda yang merawat mu
masih ada di sini. Kamu tidak sendiri. Bukankah aku adalah Ibumu juga?” ucap Tari dengan menyeka buliran air mata anaknya.
“Iya aku punya Bunda aku anaknya Bunda”
“Ibu lihat aku datang untuk menjenguk mu. Ibu kenalkan ini adalah Bundaku. Namanya Bunda
Tari. Bunda orangnya baik sekali sama aku. Bunda sayang sekali sama Risma. Ibu, ibu jangan sedih ya. Aku baik-baik saja di sini sama Ayah dan Bunda. Ibu istirahat yang tenang ya. Nanti kalau malam Risma usahakan kirimkan doa untuk Ibu”
Celoteh Risma dengan memegang nisan Ibunya, ia kemudian mencium nisan tersebut berkali-kali.
Rama yang melihat pemandangan itu tak kuasa untuk tak menangis. Ia tidak perlu bercerita lagi tentang Tari pada Senja. Risma sudah mengenalkannya dengan sangat rinci.
“Sekarang kita doa’akan Ibu dulu ya”
Rama mulai memimpin doa untuk mendiang istrinya. Mereka dengan khusuk berdoa bersama
serta memohon restu prihal pernikahan yang akan mereka gelar setelah ini. Setelah berdoa, Tari lekas menaburkan bunga di atas makam Senja. Ia juga menyiram’i makam tersebut dengan air.
“Kami pamit ya, semoga kamu tenang di sana”
Ketiganya berbalik arah dan mulai berjalan meninggalkan makam Senja.
“Apa ada yang ingin kamu sampaikan Tar?”
__ADS_1