
Rumah IbU Tari.
Masih dalam dunia yang sama, hanya saja berbeda letak geografisnya. Bude Murni dan Pakde Dar, tampak sedang gelisah, ia bingung tak mendapati adiknya lekas kembali ke rumah. “Bukankah ia pamit hanya sebentar saja untuk menjenguk anaknya? Tapi kenapa sampai saat ini belum juga kembali?”. Bude Murni, membuka percakapan dengan suaminya, selain khawatir dengan keadaan adik iparnya, ia juga resah jika Bu Marni tidak kembali, siapa yang akan memasak dan membuatkan sarapan untuk keluarganya.
“Harusnya dia sudah pulang, ini lebih dari sepekan. Marni juga tidak memberikanku kapar apa-apa". Pakde Dar menggeleng kepalanya.
“Bagaimana kalau kita susul saja ke Surabaya Pak, sekalian kita minta Randi ajak jalan-jalan, kan lumayan tuh nanti dapat makan gratis”. Senyum Bude merekah, membayangkan bisa jalan-jalan ke tempat wisata dengan menikmati banyak makanan, seperti yang biasa Randi lakukan ketika mereka berkunjung ke sana.
“Kita juga sekalian main ke toko roti Tari, nanti bisa minta rotinya yang banyak buat di bawa pulang”. Isi kepala Bude Murni kembali tertuang.
“Nanti bapak juga sekalian minta baju-baju bekas Randi”, kini pakde Dar turut membayangkan, apa saja yang bisa mereka dapat kala berkunjung ke Surabaya.
“Kita harus bisa bawa Marni kembali pulang Pak, kalau Marni tidak pulang kita repot sekali. Ibu harus memasak sarapan setiap harinya, ibu juga harus belanja untuk makan kita". Rengek Bude pada suaminya.
“Benar, Marni harus kembali pulang, enak saja dia di sana bisa enak-enakan, makan enak dan kenyang, sementara kita di sini kelaparan”. Tukas Pakde Dar, membayangkan saat ini adiknya hidup dengan kecukupan.
“Biar bagaimanapun Tari, kan juga keponakan kita Pak, kalau dia dapat makan dengan enak, hidup dengan layak, harusnya kita juga dapat merasakannya. Lha dulu Tari sekolahnya kita juga yang bantu kan?”. Seperti biasah Bude akan menjadi kompor, ia benar-benar tak ingi kehilangan kesempatan untuk memeras lembut keponakannya.
“Ya sudah, sekarang ayo kita siap-siap, nanti bakda asar kita berangkat ke Surabaya”.
***
Surabaya.
Malam itu jalanan cukup lenggang, hampir dua jam perjalanan tibalah rombongan keluarga Bude di rumah Randi. Malam itu hujan sedikit datang rintik-rintik membasahi rerumputan. Suasana sepi terlihat dari halaman rumah randi yang luas. Mobil mereka lekas masuk dan terparkir dengan rapi tepat di halaman samping.
Di saat yang bersamaan, seorang pemuda datang dengan menggunakan sepeda motor vario warna hitam, ia memakai jas hujan dan membawa tas ransel yang cukup besar. Tas tersebut di lapisi dengan plastik agar tak membuat isi d dalamnya basah.
Bude dan pakde menatap pemuda itu yang masing menggunakan mantel lengkap dengan helm di kepalanya. “Duh ngapain bude kesini?”, ucap Ipul dalam hati, kala kehadirannya bersamaan dengan keluarganya.
“Benar-baner suatu kebetulan yang tak indah”. desisnya kembali kala harus turun dari motor dan menemui pemilik rumah.
Sementara itu, Bude, Pakde dan juga Udin masih memandangnya, menunggu pemuda itu membuka helmnya. Perlahan Ipul, mulai membuka helmnya yang menutup kepalanya.
__ADS_1
“Ipul!”, suara Bude tampak heran, kala mendapati keponakannya yang datang.
“Ngeh Bude”, jawabnya dengan sopan dan mencium kedua tangan mereka.
“Bude dan Pakde ngapain ke sini?”,
“Nyari Ibumu, sudah seminggu lebih tidak pulang. Kali aja kekurangan uang buat transpot, makanya Bude susul ke sini”. desisnya dengan sombong seperti biasah.
Diam.
Ipul enggan menjawab, ia memilih untuk membuka jas hujannya dan meletakkan di sisi sepeda motornya.
Kini tangannya terulur untuk mengetuk pintu rumah Randi, wajah Mawar terpampang sempurna kala ia membukakan pintu. Seketika dada Ipul kembali merasakan sesak.
“Siapa?”.
Dalam waktu yang bersamaan Bude, Pakde dan juga Mawar saling bertanya. Sedang Ipul anya diam saja.
“Saya istrinya Mas Randi”. jawabnya dengan percaya diri.
Semua yang ada terkejut, kala saling memperkenalkan diri mereka masing-masing. Apa lagi Bude melihat perut Mawar yang membuncit, deretan pertanyaan langsung hinggap di kepalanya.
“Istri Randi? Apa ini? Ada apa?”, desisnya dalam hati.
“Siapa Mawar?”, Teriak Bu Srining, dari dalam rumahnya.
“Bu Murni dan Pakde Dar”. Jawab bude dengan suaranya yang lantang.
Bu Srining, yang mendengar suara Bude dan Pakde Tari begitu terkejut, ia bergegas keluar rumah dan ia pun tercengang melihat kehadiran keluarga Tari yang begitu sangat tiba-tiba.
“Maaf menganggu, saya ingin bertemu dengan Randi!”, ucap Ipul dengan dingin dan mantap Bu Srining.
“Mari-mari masuk semuanya, di luar hujan, cuaca juga sangat dingin sekali”. Jawan Bu Srining, dengan terbata-bata.
__ADS_1
“Saya anya sebentar saya hanya ingin bertemu dengan anak anda”. tukas Ipul dengan dingin, ia enggan untuk melangkahkan kakinya masuk dalam neraka kakaknya.
Sementara itu Bude dan Pakde saling berpandangan, ia sama sekali tak tahu dengan keadaan yang terjadi pada keponakannya,
“Bude, Pakde, adik Ipul, silahkan masuk dulu, biar saya buatkan minuman”. Tawar Mawar dengan ramah.
“Tidak perlu repot-repot, bisa jadi nanti kamu tambahkan racun dalam minuman kami”. Ucap Ipul dengan tersenyum miring.
“Cepat panggilkan saja suamimu tersayang itu!”, titahnya dengan geram, ia enggan berlama-lama dalam rumah itu.
Sementara Bude dan pakde masih bingung, mereka mencoba menerjemahkan setiap kata yang di ucapkan Ipul dan juga yang lainya. In untuk pertama kalinya mereka terlihat begitu bodoh dan ketinggalan informasi.
“Pul, jelaskan yang terjadi’. ucapnya dengan lantang, ia tidak tahan dengan keingintahuannya.
“Tunggu saja, sebentar lagi Bude dan Pakde juga akan mengetahui semuanya”. ringgis Ipul, dengan tersenyum hambar di depan mereka semua.
Bu Srining, mulai melangkahkan kakinya menuju lantai dua, untuk menjemput Anaknya. Sementara Mawar pergi ke dapur untuk membuatkan minuman tamu mereka.
“Tante minta maaf Pul, atas segal yang telah terjadi di keluarga ini”. kata Bu Srining kemudian, setelah memanggil anaknya.
Randi masih di atas, mengumpulkan nyawanya untuk berjumpa dengan keluarga istrinya. Ia akan berlapang dada menerima setiap hinaan dan cacian yang ada nantinya.
“Oh Tante tidak usah repot-repot minta maaf, tidak ada yang salah dalam hal ini. Semua hanya ingin yang terbaik dan akan melakukan yang terbaik. Untuk diri sendri tentunya!”. Tukas Ipul.
Kini Randi mulai menuruni anak tangga, bersiap bertemu dengan tamunya. Seperti biasa ia akan menyalami dan mencium tangan Pakde dan Bude istrinya.
“Ada yang mau aku sampaikan!”, ucap Ipul, dengan dingin dan menatap Randi tanpa ragu.
“Apa Pul?”, wajah Randi menghangat, ia berharap ada satu kebaikan untuk memperbaiki ruma tangganya.
Tangan Ipul meraih tas yang ada di sampingnya, ia mengambil dua lembar map di sana.
“Ini surat cerai dari Mbak Tari!”.
__ADS_1
“Ini sertifikat rumah Ibu yang ada di desa”.
“APA CERAI!!!”. Ucap Bude dan Pakde kompak.