
Sore itu langit memancarkan cahaya kemerah-merahan nan indah, membentang luas di atas cakrawala. Tari masih memijak bumi yang sama dengan yang lain, namun kakinya terasa kehilangan tumpuan, ia melangkah dengan terseok setelah kehilangan tempat untuk berpijak.
Ia memilih untuk ke Toko roti miliknya, satu-satunya harta yang ia punya setelah berhenti bekerja. Tari memutuskan untuk sementara akan tinggal di sana dulu dan akan menjemput Risma di rumah Ibu hari ini juga.
Para penjaga toko menatap Tari dengan sejuta tanya, kala melihat pemilik tempat mereka bekerja datang dengan pakaian yang lusuh, tanpa sebuah senyuman yang terukir di wajahnya, juga dengan membawa dua koper besar warna biru. Mereka saling memandang satu sama lain, tapi tidak berani bertanya pada sang majikan.
“Assalamualaikum”, sapa hangat Tari ketika baru saja memasuki toko kue miliknya.
“Wassalamualaikum Bu”, jawab kompak karyawan Toko roti miliknya dengan canggung.
“Mbak Sari, tolong siapkan kamarku di sini, untuk beberapa hari ke depan aku akan tingga di sini. Dan satu lagi katakan pada semua karyawan di toko roti ini, jika mas Randi datang mencari ku bilang jika aku tidak di sini”, Sari lekas menganggukkan kepalanya, menuruti setiap perintah yang di berikan oleh Tari. Tanpa bertanya ia tahu jika Tari dan Randi sedang tidak baik-baik saja, hanya saja mereka semua tidak tahu sumber permasalahannya.
Tari duduk sejenak menyeruput segelas coklat panas yang di hidangkan oleh karyawannya, sembari menunggu kamarnya di siapkan. Ia berharap dengan meminum coklat hangat dapat menetralkan kembali kepingan hati yang remuk.
Setengah jam kemudian, karyawan toko mengatakan jika kamar yang Tari minta sudah siap, ia kemudian menyuruh Sari untuk membelikan ponsel untuknya.
Kini kakinya melangkah menuju kamar sederhana dengan satu ranjang kecil berukuran sedang, dan sprei warna biru muda berhias lukisan bunga. Tak banyak furnitur di dalam sana, hanya ada satu set meja dan kursi serta satu almari pakaian yang kecil.
“Aku akan kembali dalam hidupku dulu, sederhana tanpa kemewahan. Bismillah mohon kuatkan ya Rab”. Matanya terpejam kala duduk di tepi ranjang, ia kembali menghirup nafas panjang, memegang dadanya yang masih bergemuruh.
“Aku harus bangkit, aku harus menjemput Risma saat ini juga, sebelum Ibu kepikiran yang tidak-tidak”. ini Tari bersiap untuk kembali ke rumah Ibunya, ia bermaksud membawa Risma untuk tinggal sementara di sini.
***
Dua jam perjalan, dengan hati yang masih porak poranda, Tari kembali melangkah mencoba untuk melanjutkan hidup meski tanpa seorang suami yang ia cintai disinya. Ia pulang menggunakan taxi on line karena mobilnya sudah ia kembalikan ke Randi.
Sesampainya di rumah, ia di sambut angat oleh Bu Marni, beliau masih enggan untuk bertanya pada Tari apa yang terjadi sesungguhnya, mengingat kata Risma jika Tari dan Randi sama-sama menangis. Tari juga pulang sendirian ke sini tanpa membawa mobil, segala pertanyaan sedang berkeliaran di kepala Bu Srining.
“Tari, ini sudah malam sebaiknya kamu menginap saja dulu di sini. Kasihan Risma kalau malam-malam di jalan”.
__ADS_1
Tari masih terdiam, ia mencoba menimbang-nimbang ucapan Ibunya yang memang benar adanya, ia tidak boleh egois, ada Risma yang harus di pikirkan juga.
“Baiklah Bu kalau begitu”.
“Makanlah dulu, setelah itu istirahatlah”. Ibu Tersenyum dan memeluk Tari, ia tak kan bertanya sebelum Tari sendiri yang bercerita. Pelukan Ibu seakan menambah kekutan pada tubuh Tari.
Malam pun tiba, kini Risma sudah tertidur di kamar Bu Marni, sementara Tari masih diam di ruang tengah, menyalakan tv, tatapan matanya kosong, hatinya benar-benar hampa dan merana.
Kini Bu Marni memberanikan diri untuk duduk di sampingnya, meraih benda pipih warna hitam tersebut dan menekan salah satu nomor di sana untuk mengganti channel.
“Ibu”. Suara Tari terdengar begitu parau dan langsung memeluk ibunya.
“Katakanlah”, ucap Bu Marni dengan tenang dan membelai lembut rambut anaknya yang sudah dewasa.
“Aku tidak papa”, kini Tari mulai melerai pelukannya dengan Bu Marni, ia mencoba biasa-biasa saja, namun sayangnya tidak dengan matanya. Air matanya kembali tumpah begitu saja.
“Cerita, ada bahu Ibu untuk mu bersandar saat ini nak”. Tukasnya kembali dengan lembut.
***
Pagi datang, suara lembut kicauan burung sili berganti mampu memeberikan ketenagan tersendiri bagi siapa saja yang menikamtinya. Kini Tari sudah berisap pagi-pagi sekali untuk kembali ke Surabaya, ia akan membawa Risma ke sana.
“Mbak biar Ipul anatar ya?”, Ipul sekalian ada keperluan di Surabaya.
Ipul satu-satunya saudara Tari, yang kini sudah mulai beranjak dewasa. Ipul tumbuh menjadi laki-laki yang memiliki paras menenangkan, pembawaannya sederhana namun berwibawa. Tubuhnya semakin bersisi layaknya laki-laki dewasa pada umumnya.
“Tidak usah dek, mbak bisa sendiri”.
“Tapi aku ada perlu mbak di Surabaya”, jawabnya masih mengeyel ingin menemani Tari.
__ADS_1
“Baiklah kalau begitu”. Tak punya pilihan lain, akhirnya Tari menuruti permintaan Ipul.
Kini ketiganya berangkat secara bersama menuju Surabaya, tak banyak obrolan yang terjadi sepanjang perjalanan, Ipul yang sibuk memangku Risma dan Tari yang sibuk menata kepingan hatinya yang telah remuk.
***
Surabaya.
Dua jam berlalu tibalah mereka berdua di Surabaya, Tari tak punya pilihan lain selain membawa Risma dan Ipul untuk ke Toko Roti miliknya.
“Bunda kenapa kita pulang ke sini?’, satu pertanyaan yang sudah Tari persiapkan jawabannya.
“Untuk sementara waktu kita tinggal di sini ya sanya, rumah kita sedang di renovasi’, jawab Tari pada anaknya mencoba memberikan pengertian,
“Risma makan dulu ya sama mbak Sari di sana”, Tari menunjuk ke arah Sari, yang sudah bersiap dengan membawa satu piring nasi lengkap dengan ikan dan sayurnya.
Sementara itu Ipul masih duduk di sofa tempat pembeli biasanya memakan kue yang berada di paling sudut sisi ruangan.
“Mbak ada yang mau Ipul tanyakan?, aku harap mbak Tari jujur semuanya pada Ipul. Aku berjanji tidak akan mengatakan pada Ibu jika memang itu yang terbaik saat ini”. Kalimat Ipul lekas memporak-porandakan pertahanan yang sudah lama Tari jaga. Air matanya luruh seketika saat mendengar ucapan sang adik.
“Bicaralah mbak”. Tangan Ipul terulur memegang lembut tangan sang kakak.
.
.
.
.
__ADS_1
.
“Kurang ajar! Bagaimana bisa Mas Randi melakukan ini pada mbak Tari!, seru Ipul dengan emosi yang menggebu-gebu, ia sangat marah dan kecewa.