Duri Dalam Keluarga

Duri Dalam Keluarga
Hilang arah tanpanya 2


__ADS_3

“Fit, tunggu!!! Aku belum selesai bicara”. Teriaknya dengan frustasi.


“Bodo amat...”. Seru Fitri, enggan untuk melihat ke belakang.


Terkadang ia merasa kasihan pada Randi dan Tari, akan jalur cerita kisah cinta mereka yang berakhir di tangan orang tua, tapi mendengar ucapan Randi, yang baru saja di ucapkan sangat menyakitkan hati. Mendengar saja sudah sesakit ini, apa lagi Tari yang membayangkan suaminya sedang menjamah tubuh wanita lain.


Fitri turut merasakan frustasi. Ia menghembuskan nafas dengan kasar dan pergi menyusul Andra dan anaknya.


.


.


.


.


Sepeninggalan Fitri yang pergi begitu saja, sebelum ia sempat bercerita lebih banyak lagi membuat Randi semakin galau dan merana. Ia memutuskan untuk pergi pantai Kenjeran yang lokasinya tak jauh dari tempat ia berada saat ini.


Kini Randi mulai melangkah menyusuri pasir putih, satu tangannya memegang sebuah kayu kecil sebagai pegangan. Ia hanya berjalan dan terus berjalan tanpa memiliki tujuan yang pasti akan kemana.


Malam kian larut, namun yang bermalam dalam pikirannya kian riuh. Ia masih enggan untuk meninggalkan pantai itu. Randi seorang diri. Ia masih tetap berjalan dengan segenap angan-angannya.


Hampir satu jam lebih kaki itu melangkah, ia mulai merasa lelah dan duduk di antara pasir-pasir. Satu tangannya menulis sebuah nama di atas hamparan pasir putih.


Berthari Ambarwati


Tak lupa ia membungkus nama itu dalam bingkai lambang love yang cukup besar, air matanya sudah kering taK bisa menangis lagi, namun perasaannya masih sama hancur lebur tak bersisa.


*****


Desa Suka Maju


Hari ini sangat luar biasah. Senyum Tari mengembang sempurna kala ia bisa menghasilkan produk dengan rasa yang sama namun komposisi yang berbeda. Benar saja donat yang di hasilkan Tari, rasanya hampir sama dengan yang ada di toko namun dengan resep yang lebih ekonomis.


Risma pun demikian, ia begitu semangat mengoleskan beberapa toping di sana. Sementara Ibu, masih terus menggoreng semua adonan hingga habis.


“Bunda, aku mau kasih toping yang coklat”. Satu tangannya meraih mesis yang ada di atas piring.


Tangan mungil itu mulai bergerak menaburkan meses di atas donat hingga merata.

__ADS_1


“Bunda, aku juga mau bikin toping yang rasa keju, seperti donat kesukaan ayah. Nanti kalau Ayah datang aku mau kasih untuknya”. Risma tersenyum dan membawa satu donat di tangannya.


Tari tersenyum kecut mendengar ucapan sang anak, “Maafkan Bunda nak, untuk permintaanmu itu, Bunda tak sanggup”. Rintihnya dalam hati menahan gejolak yang kembali menerpa.


“Nek tolong dong, buatkan satu donat yang besar, nanti aku mu kasih ke Ayah”. Ia berlari ke Bu Marni yangs edang menggoreng donat.


“Risma sayang, Ayah sedang sibuk bekerja, jadi tidak bisa pulang. Kita bikin donat yang cantik-cantik ya, nanti Risma bagi ke teman-teman di sini sekalian kenalan sama mereka”. Ibu mengelus lembut rambut Risma, sedang Tari menatap nanar interaksi itu. Ada rasa bersalah menghinggapi hatinya, kala sudah membawa Risma dalam kehidupannya namun tak dapat memberikan keluarga yang lengkap untuknya.


“Anak kecil gak usah di pikirkan”. Ibu datang mengelus lembut pundak anaknya.


.


.


.


Menjelang Magrib, semua kue donat sudah selesai di buat. Tari mengemasnya menjadi beberapa kotak. Dalam satu kotak ia isi sebanyak lima buah donat dengan varian toping yang berbeda-beda. Tari ingin membagi donat-donat tersebut pada tetangga sekitar rumahnya.


Rumah pertama yang ia kunjungi adalah ruma yang bersebelahan dengan tempat tinggalnya saat ini, samping kanan dan kiri, kemudian tetangga di depan rumahnya. Ada sekitar enam rumah yang ia kunjungi untuk membagi donat. Rumah terakhir yang ia kunjungi adalah rumah Bu RT tempat ia tinggal.


Rumah tersebut letaknya tak jauh dari tempat tinggalnya sekitar berjarak tujuh rumah. Ia mulai memberanikan diri untuk mengetuk pintu rumah itu. Rumah berpagar warna putih dengan pekarangan yang luas, dalam sisi kanan, kiri dan depan pekarangan rumah ada pohon rambutan dan kelengkeng.


“Permisi Bu, Asalamualaikum”. Ucap Risma dan Tari secara bersamaan.


“Mari silahkan masuk”, suara ramah itu menggiringnya mempersilahkan untuk masuk.


“Terimakasih Bu, saya mau mengantar ini, kebetulan tadi sedang mencoba-coba resep baru”. Tangan Tari terulur memberikan sekotak donat dan meletakkan di atas meja.


“Apa ini?”. Bu RT membuka bungkusan itu.


“Wah donat ya, ini beneran bikin sendiri apa bagaimana?”.


“Iya Bunda dan Nenek yang bikin. Aku juga ikut bantu bikinnya”. Jawab Risma, menyela obrolan orang dewasa, sontak membuat Tari dan Bu RT tertawa ringan bersamaan.


“Wah hebat sekali kalau begitu, boleh saya coba sekarang?”.


Risma menganggukkan kepalanya. Tangan Bu RT terulur mengambil satu buah donat variasi rasa clat kacang dan memasukan ke dalam mulutnya. Ia mengunyah secara perlahan menikmati rasa yang di timbulkan dari adonan tersebut.


“Wah ini beneran bikin sendiri? Ini enak sekali. Baru kali ini aku makan donat bikinan sendiri selembut ini didalamnya, rasanya empuk dan kentangnya berasa”. Puji Bu RT dengan terus memasukan donat yang ada di tangannya ke dalam mulut.

__ADS_1


“Mbak Tari, kira-kira kalau saya pesan bagaimana? Ini sungguh enak sekali, kebetulan minggu depan di rumah saya ada acara pengajian rutin. Kiranya kalau Mbak Tari berkenan saya mau pesan utuk bingkisan”. Tawarnya dengan kembali mengambil donat variasi rasa keju.


“Benarkah Bu? Saya mau”.


“Iya saya pesan 100 kotak ya, yang seperti ini. Satu kotaknya di isi lima juga seperti ini. Pokoknya saya mau yang sama persis sama ini”. Jelasnya pada Tari.


“Alhamdulilah’. Tangan Tari menangkup wajahnya sebagai ucapan rasa sukur atas berkah yang di berikan Allah padanya.


Aku harus kembali bangkit dan hidup, aku harus kembali menyibukkan diri. Dengan sibuk aku akan membunuh kenangan yang ada, aku akan lelah dan aku akan tidur dengan tenang saat lelah mendera.


.


.


.


.


Kembali Ke Surabaya.


Mawar bangkit dari tidurnya, kala mendengar deru mesin mobil memasuki pekarangan rumah. Ia segera berlari sambil tersenyum manis berusaha untuk menyambut kedatangan suaminya. Namun Randi masih tetap sama, ia bersikap acuh pada istri keduanya.


Randi berjalan begitu saja melewati Mawar yang telah bersiap untuk menyalaminya. Mawar mengerutkan dahinya sejenak lalu mengibas-ngibaskan tangannya di depan hidungnya saat mencium aroma rokok.


“Kamu merokok Mas?”. Tanya Mawar, dengan turut serta naik ke lantai dua mengikut setiap langkah Randi.


“Mas kamu tahu tidak, merokok itu tidak baik untuk kesehatan, apalagi saat berada dalam ruang yang sama dengan Ibu hamil, itu sangat tidak baik untuk kesehatan janin kita”, celotehnya dengan kaki yang masih mengikuti setiap langkah Randi.


“Bangus dong, dengan begitu kamu bisa menjauh dariku”, Jawab Randi dengan dingin.


Duar....


Ia lekas menutup pintu kamarnya dengan keras, lagi-lagi membuat Mawar terlonjak kaget.


.


.


.

__ADS_1


.


Mohon dukungannya teman-teman, jangan lupa like, komen dan subscribe 😊


__ADS_2