
“Ibu maaf”
“Ibu maaf saya tidak bisa menjaga cucu Ibu dengan baik” Reflek Rama bersujud di bawah kaki Bu Marni. Sungguh ia merasa sangat bersalah dalam kejadian ini. Ia merasa telah lalai dalam menjaga amanah.
“Tidak-tidak ini bukan salahmu nak, ini musibah untuk keluarga kita. Ayo bangun jangan seperti ini”
“Ini salahku Bu, seharusnya aku datang lebih pagi ke acara hari Ayah tadi. Seharusnya aku turut mendampingi Risma seperti teman-teman yang lainnya. Ini semua salahku, seandainya saja aku datang sejak awal. Risma tidak perlu berlari dan menunjukan padaku jika hari ini dia mendapat juara” Tari pun turut menangis di pelukan sang Ibu. Ia bahkan menangis hingga nafasnya tersendat-sendat.
“Sudah-sudah,berhenti menyalahkan diri kalian masing-masing. Semua ini sudah menjadi takdirnya. Sebaiknya kita banyak berdoa untuk keselamatan Risma. Sekarang bagaimana kondisinya?” Ibu menepuk-nepuk pundak Rama dan Tari secara bersamaan, Menenangkan dua orang yang begitu menyayangi Risma.
“Risma kondisinya masih belum stabil Bu. Dia baru saja melakukan transfusi darah”
“Transfusi darah?”
Ceklek pintu terbuka. Dokter dan beberapa perawat keluar bersamaan dari ruang operasi.
“Dokter bagaimana kondisi anak saya?” Tari lekas menuju ke Dokter dan perawat yang menangani anaknya.
“Operasi berjalan dengan lancar Bu. Untuk saat ini putri Ibu belum sadarkan diri, masih dalam pengaruh obat bius. Dia akan lekas di pindahkan di ruang rawat setelah ini. Silahkan Ibu urus semua administrasinya dulu untuk menentukan ruang rawat bagi putri Ibu”
“Lakukan yang terbaik Dok, saya akan mengurus segalanya” sela Rama kemudian.
“Lo Dokter Rama? Kok di sini” tanya Dokter Bowo dengan sedikit kaget dan heran.
“Mereka adalah saudara saya. Adakah yang berbahaya pada Risma?” tanyanya kembali mencoba untuk memastikan.
“Untuk saat ini kondisinya belum stabil. Kami akan terus memantaunya. Mengenai cidera yang ada pada lengan kananya. Saya rasa ia akan mengalami sedikit kesulitan untuk beraktivitas, tapi tenang saja. Usia Risma masih muda tentu Dokter tahu jika itu masih mudah untuk mengobatinya” terang Dokter Bowo.
“Baik adakah yang di tanyakan kembali? Jika tidak saya permisi dulu”
“Untuk saat ini tidak ada Dok. Boleh saya menemui Risma?” tanya Tari kembali.
“Perawat akan lekas memindahkan di ruang rawat. Silahkan tunggu di sana. Baik kalau begitu saya permisi dulu”
Risma telah di pindahkan di ruang rawat. Rama memesan kamar VVIP untuk putri angkatnya. Sebagai ungkapan rasa kasih sayang dan mengobati rasa bersalahnya. Ia ingin memberikan pelayanan ternyaman untuk Risma selama gadis kecil itu sakit.
“Nak, Rama sebaiknya pulang dulu. Ini sudah sore. Silahkan istirahat dulu biar kami yang menjaga Risma” Bu Marni dan Rama sedang duduk di sofa, sementara Tari, ia duduk di sebelah ranjang Risma. Tangannya terulur membelai rambut Risma, membenarkan anak rambut yang mengenai keningnya.
“Tidak Bu, kebetulan saat ini saya sedang ada tugas. Pukul lima nanti akan ada operasi yang harus saya lakukan. Saya akan menunggu di sini saja, sambil menanti Risma sadarkan diri”
“Istirahatlah nak, nanti nak Rama juga harus kembali bekerja. Setelah tugasnya selsai nak Rama bisa kembali lagi ke sini untuk melihat Risma. Maaf bukan maksud ibu untuk mengusir nak Rama. Hanya saja, nak Rama adalah seorang Dokter. Tangan nak, Rama ibarat perantara dari Tuhan untuk kesembuhan pasien. Banyak harapan dari keluarga pasien pada Dokter” tutur Ibu yang keluar begitu saja dari mulutnya. Ibu gelisah ketika melihat raut wajah Rama terlihat sangat sedih sekali dan juga lelah. Ia dihantui rasa bersalah yang tiada terkira.
“Baiklah Bu, Tari saya permisi dulu ya. Nanti kalau ada apa-apa jangan sukan-sukan untuk menghubungi saya. Kebetulan ruangan saya tidak jauh dari sini. Ada di lantai atas setelah ruang ini. Saya permisi dulu ya” pamit Rama, sebelum pergi ia kembali menatap Risma yang masih terbaring dengan memejamkan mata.
__ADS_1
Ayah pergi dulu ya nak, semoga lekas sembuh. Maafkan Ayah.
Rama berbisik di telinga Risma, ia juga memberikan sedikit kecupan di kening Risma saat itu. Tari dan Bu Marni yang melihat pemandangan itu pun turut terharu.
Ruang Rama.
Rama duduk termenung seorang diri. Matanya menatap ke segala arah tanpa tujuan yang jelas. Hatinya kembali terkoyak, terlebih ketika mendengar penuturan Tari tadi. Sebagian dari jiwanya sedang menduga suatu kemungkinan, namun ia takut untuk memulai. Ia takut jika tak sesuai dengan ekpektasi apakah hatinya masih sanggup untuk menerima. Namun jauh di dalam hati ia ingin sekali membuktikan itu.
Tok..tok..
“Permisi Dokter, ada salah satu pasien dari Surabaya. Beliau mendapat rekomendasi Dokter di sana untuk melanjutkan pengobatan di sini” ucap salah satu perawat, ia masuk membawa rekam medisnya.
Kening Dokter Rama berkerut untuk sementara.
“Bagaimana bisa, bukankah rumah Sakit di Surabaya jauh lebih lengkap baik itu perawatan, alat-alat medis maupun Dokternya?” tanya Rama menatap heran.
“Saya tidak tahu Dok, beliau ke sini atas rekomendasi Dokter Santi” Rama mulai membaca rekam medis tersebut dengan pelan. Ia mencoba mempelajari asus yang ada.
“Oh ya Dokter Santi aku ingat. Dia adalah rekan sejawatku. Saat ini pasien ada di mana?”
“Pasien sedang di rawat inap di ruang Manggis nomor tiga”
“Baik, saya akan mempelajari dulu” perawat pun berlalu meningalkan Rama beserta dokumen-dokumen yang ada di hadapannya.
Masih dalam rumah sakit yang sama. Randi beserta keluarga baru saja menginjakan kakinya di sana. Setelah melakukan diskusi yang panjang. Keluarga Randi memutuskan untuk membawa Bu Srining pindah berobat. Sesuai dengan arahan Dokter yang menangani Bu Srining. Ia mengatakan jika di salah satu rumah sakit, yang berada di kota kecil tersebut ada Dokter mumpuni, yang bisa melakukan terapi untuk kesembuhan Bu Srining.
“Pa, apakah Papa yakin dengan ini semua? Rumah sakit di sini jauh lebih kecil dari pada di Surabaya. Aku rasa peralatan medis di sini juga tidak terlalu lengkap. Tidak selengkap di sana” ucap Randi ketika mereka baru saja sampai di halaman rumah sakit. Mata Randi, mengedar menatap sekitar rumah sakit yang cenderung kecil dan jauh dari kata mewah.
“Namanya juga usaha Ran, siapa tahu jalan kesembuhan Mamamu ada di sini” Pak Nario lekas menuju resepsionis guna untuk mengurus segala keperluan yang di perlukan.
“Tapi Pa?” Sela Randi kembali.
“Kamu tahu tentang jodoh bukan?, terkadang yang cantik dan sempurna memiliki daya pikat yang tinggi, namun setelah di jalani. Ia tak mempunyai kecocokan yang mumpuni. Begitu juga sebaliknya, terkadang rumah sakit yang mewah megah dengan segala fasilitas memadai, terkadang tidak juga dapat menyembuhkan pasien. Kita tidak akan tahu Ran, dari tangan siapa yang membawa kesembuhan untuk Mamamu”
Randi terdiam, ia tak lagi berdebat dengan Papanya. Ia memilih untuk menurut saja segala keputusan yang telah menjadi kesepakatan mereka beberapa hari yang lalu. Toh semuanya sudah di rundingkan dengan cukup matang. Setidaknya ia sudah berusaha semaksimal mungkin untuk kesembuhan Bu Srining. Beberapa waktu yang lalu beliau sempat mengalami drop, namun beberapa hari berikut ini keadaan beliau mulai membaik. Hanya saja fungsi tubuhnya yang belum maksimal. Salah satu Dokter yang menanganinya menyarankan untuk melakukan terapi dengan Dokter Rama.
Konon Dokter Rama terkenal dengan tangan malaikatnya, hampir seluruh pasien yang berada dalam pengawasannya cenderung akan pulih seperti sedia kala, meskipun tidak sesempurna seperti orang sehat pada umumnya. Dulu saat di Surabaya Dokter Rama. Adalah Dokter idola di rumah sakit. Tangan dinginnya bisa menjadi
perantara kesembuhan bagi pasiennya.
Hari kian malam, langit sudah merubah wujudnya. Ia tak laki menyinari dunia. Kini tugasnya telah tergantikan oleh cahaya bulan dan gemerlap bintang. Sudah lebih dari empat jam yang lalu sejak Risma keluar dari ruang operasi, namun kesadarannya tak kunjung untuk kembali. Gadis kecil itu masih enggan untuk membuka matanya walau hanya sesaat. Entah itu hanya pengaruh obat atau memang alam sadarnya yang enggan untuk kembali terbangun.
Tari dan Bu Marni memandang resah wajah Risma yang masih terlihat pucat. Mereka bingung harus berbuat seperti apa. Beberapa jam yang lalu. Perawat sempat datang untuk mengunjunginya.
__ADS_1
“Sus kenapa anak saya tak kunjung membuka mata? Adakah sesuatu yang berbahaya yang menimpanya?” tanya Tari dengan panik.
“Tidak ada Bu. Kondisi Risma jauh lebih stabil jika di bandingkan tadi. Bukankah Dokter sudah mengatakan hal itu”
“Lantas kenapa hingga kini dia tak kunjung membuka matanya sus?”
“Ini masih dalam pengaruh obat Bu. Nanti dia akan kembali sadarkan sendiri. Saya permisi dulu ya Bu. Jika butuh apa-apa silahkan panggil kami”
Tari dan Bu Marni mengangguk secara bersamaan.
“Tar, ini sudah lebih dari jam makan malam. Sebaiknya kamu cari makan dulu. Pasti kamu juga belum makan siang bukan?” perintah Bu Marni pada anaknya.
“Aku tidak lapar Bu. Aku tida bisa tenang jika kondisi Risma masih seperti ini”
“Ibu paham nak, tapi kamu juga harus menjaga kesehatan kamu. Kalau kamu juga sakit, nanti siapa yang akan merawat anakmu. Pergilah cari makan sebentar”
Tok..tok..
Ceklek..
“Permisi, bagaimana kondisi Risma? Oh ya ini saya bawa makanan, silahkan di makan dulu” ucap Rama, ia meletakan bungkusan plastik warna putih di meja dan lekas menuju ranjang Risma untuk memastikan kondisi gadis kecil itu.
“Nak Rama terimakasih ya, maafkan kami kembali merepotkan”
“Tidak bu, saya sama sekali tidak merasa di repot kan. Tar sebaiknya kamu makan dulu”
“Mari kita makan bersama”
Bu Marni mulai membuka bungkusan makan yang ada di dalam plastik putih tersebut. Mereka bertiga makan malam bersama dengan perasaan yang memilukan. Suap demi suap mulai masu ke dalam mulut mereka. Nikmatnya rasa makanan tak dapat di rasa ketika melihat Risma yang ta kunjung membuka mata. Makan seakan hanya menjadi formalitas untuk kelangsungan hidup mereka saat ini.
“Maaf saya lupa membeli air putih”
“Biar saya saja Mas yang beli” jawab Tari dengan segera. Ia lekas bangkit dari tempat duduknya bergegas keluar ruangan, sebelum Rama mengambil alih untuk kesekian kalinya.
Tari berjalan sendiri di tengah sepinya rumah sakit, maklum jam besuk telah berakhir. Ia berjalan mengikuti petunjuk arah menuju ke kantin rumah sakit.
“Tari”
“Tari”
“Tari, benarkah dia Bethari?”
Like, komen dan hadiahnya dong kakak. Biar Author makin semangat untuk menulisnya 😀
__ADS_1