Duri Dalam Keluarga

Duri Dalam Keluarga
Lamaran Keluarga Randi


__ADS_3

Dua minggu kemudian. Hubungan Tari dan Rama semakin menunjukan perubahan ke arah


yang lebih baik. Keyakinan Tari pada lelaki itu semakin meningkat. Hampir setiap hari mereka saling berkomunikasi satu sama lain. Tentu saja Risma menjadi media penghubung di antara mereka berdua.


Keduanya saling bergantian untuk mengantar dan menjemput Risma di sekolah. Jika Tari bertugas untuk menjemput anaknya. Maka Rama bertugas untuk mengantarkan sekalian ia berangkat ke rumah sakit. Kebetulan sekolah Risma tempatnya searah dengan tempat ia bekerja.


Seperti pagi itu, Rama datang lebih pagi dari biasanya, hal ini di karenakan Risma ada kegiatan senam pagi di sekolah. Ia dengan cukup cekatan membantu anaknya untuk berhias dan mempersiapkan segalanya. Sedangkan Tari, wanita itu mulai menata bekal sarapan untuk mereka karena tak sempat untuk makan dulu. Tari memasak nasi goreng lengkap dengan telur dan nugetnya. Ia juga memberikan sedikit sentuhan hiasan di dalam kotak bekal itu untuk menambah selera makan.


Lima belas menit kemudian, Rama keluar dengan menggandeng Risma di tangannya. Tak lupa sekotak bekal pada masing tangan mereka telah siap di bawa. Desas-desus hubungan mereka mulai tercium oleh beberapa orang di sekitar rumah mereka. Tak jarang dari mereka yang memberikan dukungan untuk couple gaol ini. Berharap pasangan ini lekas menuju halal.


“Hati-hati ya” tangan Tari melambai-lambai ketika mengantar kepergian mereka.


“Kami berangkat dulu Bunda, Assalamualaikum” teriak Risma dengan memperlihatkan sebagain kepalanya di jendela. Gadis kecil itu tak lagi pernah menanyakan kehadiran Randi, hadirnya Rama, seolah benar-benar mampu membunuh ingatannya pada Randi.


.


.


.


“Assalamu'alaikum” ucap seseorang yang berada di depan pintu rumahnya.


Tari baru saja memasuki rumah. Wanita itu bahkan belum sampai di dapur. Ia masih berada di ruang tengah membenarkan beberapa hiasan bunga plastik yang terlihat bergeser tempatnya. Ia sedikit berlari menuju pintu rumahnya.


“Waalaikumsalam. Kok balik lagi? Ada yang tertinggal kah?” teriak Tari setengah berlari dari ruang tengah.


“Balik lagi?” jawab Tamunya yang sedang berada di ambang pintu.


“Memangnya siapa yang baru datang?” tanyanya dengan tatapan penuh tanya.


“Oh, Mas Randi. Mama dan Papa. Mari silahkan masuk” raut wajah Tari, seketika berubah. Bibir yang tadinya terangkat ke atas kini berubah ke bawah. Ia tersenyum kecut menyambut tamunya pagi itu.


“Trimakasih” ketiganya mulai masuk dan duduk di ruang tamu. Konsisi Bu Srining sudah jauh lebih membaik. Wanita itu sudah mampu untuk berjalan dengan pelan. Cara berbicaranya juga sudah jauh lebih jelas dari sebelumnya.


“Sebentar ya, saya ambilkan minum dulu”


“Tidak usah repot-repot Tar”


“Tidak masalah, hanya segelas air kok”


Tanpa banyak bicara ia lekas menuju ke belakang membuat tiga teh hangat untuk tamunya pagi ini. Ibu pun turut bergabung untuk menemui tamunya.


“Silahkan di minum Bu, Pak, Nak Randi” Bu Marni mempersilahkan tamunya. Ia berusaha untuk


bersikap ramah pada mereka.

__ADS_1


“Sebenarnya ada hal yang ingin kami sampaikan Bu”


“Oh iya Pak. Ada apa?”


Pak Nario dengan ragu mulai membuka obrolan di antara mereka. Ia bahkan *******-***** jemarinya dengan resah. Tari pun turut bergabung untuk duduk di ruang tamu.


“Jadi saya mewakili keluarga besar, ingin meminta maaf atas segala sesuatu yang telah terjadi di masa lalu. Saya selaku orang tua telah salah dalam mengarahkan anak kami. Kesalahan anak kami di masa lampau tidak lain bersumber dari kami sendiri” ucapnya dengan pelan.


“Betul Bu, Tar sungguh tak ada niat dari Randi untuk menyakitimu. Ia berkali-kali menolak permintaanku tapi demi wujud baktinya padaku ia akhirnya mengalah. Dan mau menuruti keinginanku” kini Bu Srining turut membuka suaranya. Ia tak lagi berbicara dengan arogan dan semena-mena seperi dulu.


“Kami sudah memaafkan sejak dulu Bu, Pak, bukankah begitu nak?”


Tari tersenyum dan menganggukkan kepalanya dengan pelan.


“Alhamdulilah, syukurlah kalau begitu. Jika nak Tari sudah memaafkan kami semua. Maka izinkanlah saya menyampaikan hal kedua yang menjadi hajat kami ke sini tadi”


“Iya Pak silahkan”


Lagi-lagi Bu Marni memperlakukan mantan besannya dengan cukup sopan.


“Jadi begini Bu, Nak Tari. Kedatangan kami ke sini ingin kembali melamar nak Tari untuk anak kami Randi. Saya rasa yang sudah terjadi cukup untuk menjadi pembelajaran, ada baiknya sekarang kita kembali menjalani kisah yang baru”


Deg...


“Saya tidak punya hak untuk menjawab dan menentukan itu semuanya Pak. Biarkan Tari sendiri yang menentukan”


“Bagaimana nak Tari, apakah nak Tari bersedia untuk kembali lagi menjadi menantu kami. Menjadi bagian dari keluarga besar kami dan tinggal bersama kali lagi?”


Wajah Bu Srining penuh harap, ia tak berkedip sama sekali menatap mantan menantu yang


dulu pernah di hina habis-habisan dulu.


Tari menghela nafas yang panjang. Matanya terpejam untuk sesaat.


“Tidak perlu di jawab sekarang nak Tari. Kami akan tetap menunggu sampai kamu


benar-benar siap untuk itu”


Pak Nario kembali berucap dengan pelan. Meskipun ia pun meragu akan jawaban yang


akan di lontarkan Tari.


“Saya akan menjawab saat ini juga Pak, Bu Mas Randi”


Ia menatap satu persatu orang yang ada di ruang tamu rumahnya.

__ADS_1


“Kamu yakin nak?”


Tari menganggukkan kepalanya dan menatap Bu Marni dengan yakin.


Suasana pagi itu mendadak menjadi tegang. Keringat dingin keluar dari kening Randi ketika menunggu jawaban dari mantan istrinya. Ia berkali-kali menyeka keningnya dengan tisu.


“Mohon maaf Pak, Bu dan Mas Randi. Saya tidak bisa menerima lamaran ini”


Randi lekas mendongak ketika mendengar jawaban Tari.


“Kenapa Tar?”


“Kita bahkan belum mencobanya lagi? Apa salahnya memberi kesempatan kedua untukku?”


“Maaf mas aku tidak bisa. Aku tidak akan lagi mengulang kesalahan yang sama. Benar kata Papa tadi, jika masa lalu cukup untuk di jadikan pelajaran di masa depan, tapi tidak dengan membuka lembaran baru dengan orang yang lama. Mas Randi pantas bahagia dengan wanita yang lain. Carilah wanita yang sempurna yang bisa memberikanmu keturunan. Jangan seperti aku”


“Tapi aku tidak peduli itu Tar”


Randi masih mengiba dan memohon. Ia pikir dengan membawa orang tuanya dapat membujuk Tari dan menerima kembali dirinya.


“Saya rasa luka nak Tari masih menganga. Sebaiknya istirahat saja dulu. Nanti jika sudah sembuh dan siap untuk berkeluarga kami masih membuka tangan dengan luas” terang Pak Nario.


“Tidak Pa, aku sudah sembuh dari luka itu. Aku bahkan sudah sangat baik. Hanya saja aku memang tak bisa jika harus kembali dengan mas Randi. Aku harap kalian semua mengerti dan menerima keputusanku”


Tari tersenyum pada semua yang ada.


“Silahkan di minum dulu tehnya, jangan tegang” ucap kembali Tari menetralkan segala


kecanggungan yang tercipta dalam ruang tamu tersebut.


“Kenapa kamu melakukan ini semua padaku Tar? Bukankah Risma juga membutuhkan hadirnya


sosok Ayah? Apa kamu tega membiarkan dia hidup dengan kasih sayang yang pincang?”


“Mas tenang saja. Risma memiliki Ayah. Dia bahkan sudah bertemu dengan keluarga


kandungnya. Jadi kamu tak perlu repot-repot untuk memikirkan akan hal itu”


“Apakah semua ini ada hubungannya dengan lelaki itu?”


“Lelaki?”


Ucap Bu Srining dengan kaget, ia tak menyangka jika ada lelaki yang mau mendekati mantan menantunya.


“Lelaki yang mana Ran?”

__ADS_1


__ADS_2