Duri Dalam Keluarga

Duri Dalam Keluarga
Menjenguk Ibu


__ADS_3

Sesuai dengan janjinya, hari minggu tiba bertepatan dengan tanggal merah Tari dan Randi bersiap untuk berkunjung ke rumah ibunya di Jombang. Mereka berencana berangkat pagi-pagi sekali untuk menghindari kemacetan yang ada.


Tak lupa mama mertuanya juga menitipkan beberapa bingkisan khusus oleh-oleh untuk keluarga Tari, perlakukan mama yang begitu baik dan perhatian membuat Tari nyaman dan sudah menganggap seperti ibu sendiri. Tari begitu bersyukur akan kehidupan barunya yang terasa sangat membahagiakan.


Sebelum berangkat tari juga menyempatkan diri untuk ke tok roti miliknya, Tari membawa serta semua roti yang masih tersisa dalam tokonya untuk di bagi-bagikan pada tetangga yang ada. Ini bukan roti yang jelek hanya saja memang Tari tutup lebih awal kemari sehingga masih ada beberapa roti yang tersisa dan masih sangat layak untuk di konsumsi.


Tari membungkus dengan begitu rapi roti-roti tersebut dan membaginya menjadi beberapa kotak yang siap untuk di bagikan. Selain membawa roti dan oleh-oleh titipan dari mama mertuanya, Tari juga mampir untuk membelikan Ipul dan Ibu beberapa buah. Maklum Ibu dan Ipul hanaya makan buah ketika Tari yang berkunjung dan membelikannya.


Sepanjang perjalanan perasaan Tari di diliputi rasa bahagia tak terkira, tak sabar ingin berjumpa dengan ibunya, ingin lekas memeluknya dan bercerita banyak hal tentang keluarga barunya tentang usahanya juga tentang suaminya.


Dua jam perjalanan, tibalah Tari dan Randi di rumah Ibu.


Tin...Tin...Tin....


Suara klakson memasuki area halaman rumah yang cukup luas untuk tempat parkir dua mobil, Ibu sedang menyapu halaman depan yang tampak di tumbuhi semak-semaki kecil, maklum sedang masa penghujan meskipun berkali-kali di cabuti tetap saja rumput-rumput akan dengan mudah tumbuh di sana. Ibu lekas membalikan badannya menatap mobil sang anak yang datang.


Senyumnya mengambang sempurna.


“Alhamdulilah”, ucapnya ketika melihat Tari keluar dari mobil dengan memakai baju yang bagus, wajah yang lebih cantik dan segar serta tubuh yang sedikit berisi dari sebelumnya.


Tari lekas berjalan menghampiri Ibu dengan berlari kecil layaknya anak kecil yang sudah lama tidak bertemu dengan Ibunya, tak lupa dengan merentangkan kedua tangannya menyambut sebuah pelukan dari orang terkasih.


“Ibu.....”.


Ibu yang masih begitu terpana melihat perubahan dari tampilan sang anak masih bengong menatap tak percaya. Matanya berkaca-kaca terharu bahagia melihat kehidupan anaknya yang lebih baik berkali-kali lipat dari sebelumnya.


“Ibu....” panggilnya lagi.


Sedang Ibu masih diam di tempat dan tak menyadari jika sapunya telah lepas dari genggamannya.


Ibu dan anak sedang berpelukan melepas kerinduan mereka, lima bulan sudah Tari tak pulang menjenguk Ibu, karena kesibukan barunya membuka toko kue dan Randi yang tidak pernah mendapat libur beberapa bulan ini karena ada peluncuran produk baru.


“Ibu Tari kangen”, ucapnya di sela-sela pelukan hangat tersebut.


“Ibu juga kangen nak, bagaimana kabarmu nak?”.


“Lihat bu, aku baik, baik sekali malahan”.

__ADS_1


Ibu menggandeng anaknya untuk masuk ke dalam rumahnya, sementara Randi sedang mengeluarkan satu persatu oleh-oleh yang dibawanya dari Surabaya.


“Pul.....”. Teriak Ibu dari luar rumah menuju ke dalam.


“Pul, keluar nak bantu masmu angkat barang-barang”.


Mendengar teriakan Ibu yang memanggil namanya Ipul lekas berlari keluar rumah menghampirinya.


“Mbak Tari”. Ipul turut serta mencium tangan mas dan mbaknya yang baru datang.


Banyak sekali perubahan pada Ibu semenjak rumah ini di jual pakde dulu, kini Ibu sudah tidak pernah lagi meminta uang pada Tari selain jatah bulanan yang di berikannya. Ibu juga tidak pernah lagi menuntut untuk di belikan ini pada Tari, hanya saja yang tidak bisa di lakukan ibu bertindak sedikit tegas pada pakde dan keluarganya.


Terkadang demi untuk menuruti keinginan pakde dan bude ibu, harus rela lebih hemat dari biasanya, mereka tetap makan di rumah ibu meskipun sudah tidak ada Mbah di sana dengan alasan kekeluargaan harus saling berbagi satu sama lainnya, hanya saja ibu tak lagi memberikan yang istimewa untuk mereka.


Ibu akan memasak sama dengan apa yang dimakan hari itu, terkadang untuk memperpanjang umur uang yang Tari kirim ibu memanfaatkan beberapa tanaman yang ada di pekarangan rumah untuk dijadikan olahan makanan. Ibu menyadari jika biaya sekolah Ipul semakin tinggi saat ini jadi tak ingin merepotkan Tari begitu dalam.


Semua barang-barang sudah di bawa masuk semua, di simpan dalam di dapur.


“Bu ini ada titipan dari mama untuk ibu”. Tari menyerahkan bingkisan pada ibunya, yang ternyata ketika di buka adalah gamis cantik warna putih.


“Sampaikan trimakasih ibu pada mama ya nak”.


“Bu, ini ada banyak kue-kue dari toko Tari, ibu bagikan saja pada tetangga sekitar rumah”, Tari membuka beberapa bungkus kue dalam kotak dan memotong-motongnya menjadi beberapa bagian.


***


Rumah bude.


Waktu menunjukan pukul sembilan pagi, sayup-sayup terdengar suara berisik dari luar rumah, bude mulai membuka matanya dan bangkit dari tidurnya.


“Duh berisik sekali masih pagi juga”.


Dengan wajah yang tak beraturan dan memakai baju daster kebesarannya serta rambut yang tak berbentuk, bude mulai membuka jendela rumahnya, matanya menerjab-nerjab kala sinar pagi masuk dalam rumahnya.


“Oh Tari datang, baguslah, Marni nanti pasti masak enak”.


Bude berlalu untuk membersihkan diri hendak menuju rumah Ibu Tari. Tak sampai sepuluh menit bude sudah keluar dengan wajah yang lebih segar.

__ADS_1


“Tar kapan pulang?”,


“Baru saja bude”. Tari meraih tangan budenya untuk bersalaman.


“Kamu bawa banyak sekali oleh-oleh”. Matanya berbinar kala mendapati banyak makanan dan buah yang tertata di meja.


“Iya bude mau Tari bagi-bagikan ke tetangga sekitar”.


Bude mengangguk-anggukan kepalanya seperti mengerti maksud Tari dan sedang merencanakan sesuatu.


“Sini biar bude saja yang bagi-bagikan pada mereka”.


Tak enek untuk menolak bantuan bude, Tari mengiyakan hal itu, seperti rencananya bude tak membagi-bagikan kue tersebut pada tetangga melainkan membawanya pulang semua.


Setelah berlaga membagikan kue bude kembali lagi ke rumah Tari untuk mengambil bagiannya. Bude melirik sekilas paper bag yang berisi gamis dari mama untuk ibu, menyadari hal itu Tari lekas berucap


“Itu untuk Ibu, titipan dari mama”.


Bude merotasi kan matanya jengah.


“Eh Tar, kamu sudah isi belum?”


“Belum bude, doakan saja”.


“Hati-hati mandul loh, masak sudah enam bulan belum isi juga, tuh lihat Shinta tetangga kita sebulan nikah saja sekarang sudah hamil, awas kalau tidak hamil-hamil nanti suamimu cari wanita lain”.


Tes....


.


.


.


.


Ucapan bude cukup menusuk hati pagi itu.

__ADS_1


__ADS_2