
Seperti biasah pagi-pagi sekali Mawar, akan terbangun dan menyiapkan makanan untuk suaminya. Meskipun semua masakan yang di masak oleh Mawar, tak ada satupun yang di sentuh oleh Randi, sepanjang mereka menjalani rumah tangga.
Semenjak kepergian Tari dalam istananya, Randi lebih memilih untuk makan di luar sendiri. Ia sebisa mungkin menghindari interaksi dengan orang-orang yang ada di rumahnya. Ia akan berangkat pagi-pagi sekali dan pulang menjelang waktu tidur. Randi tidak pergi untuk bekerja.
Kemana Randi, menghabiskan hari-harinya?.
.
.
.
Randi berkelana menyusuri jalan-jalan Surabaya dan sekitarnya, masih berusaha dan berharap untuk bisa bertemu dengan pujaan hatinya.
Di Dapur.
Mawar sedang masak pepes ikan patin, entah mengapa hari ini ia begitu menginginkan makan ikan patin dengan lumuran bumbu kuning yang di balut dalam daun pisang. Bu Srining sebagai mertua yang sigap tentu saja ada di sebelah menantunya untuk membantu memasak.
“Mama, apakah Mama tahu kalau Mas Randi merokok?’. Tanya Mawar dengan memotong ikan patin menjadi beberapa bagian, sedang Bu Srining mengupas bumbu-bumbunya.
“Apa merokok? Apa Randi merokok lagi?”. Pekik Bu Srining kaget, hingga mengulang pertanyaan.
“Semalam saat pulang, aku mencium bau rokok yang begitu menyengat saat dia datang Ma. Apa Mas Randi sebelumnya pernah merokok Ma? Merokok itu tidak baik lo Ma, untuk kesehatan apalagi aku sedang mengandung anaknya, asapnya benar-benar bahaya bagi yang ada di sekitarnya. Kita bisa menjadi perokok pasih”. Terangnya mengeluh pada Mama mertuanya.
“Dulu sebelum bertemu dengan Tari, Randi adalah perokok aktif, ia bisa menghabiskan hampir dua bungkus rokok setiap harinya. Namun kehadiran Tari, bisa merubah kehidupannya lebih baik. Randi jadi lebih peka terhadap kesehatan, ia juga dapat sepenuhnya lepas dari rokok”. Tutur Bu Srining, ia menghentikan sejenak aktivitasnya mengupas bumbu-bumbu. Helaan nafas berat dan panjang terdengar jelas dari tubuhnya. Tangannya terulur memijat pelipisnya.
“Aku jadi khawatir dengan keadaan Randi, akhir-akhir ini, dia banyak berubah. Randi juga tidak pernah lagi berkumpul dengan keluarga, ia slalu meninggalkan acara makan bersama. Randi juga jarang keluar kamar. Bahkan aku sudah lupa kapan terakhir ngobrol bersamanya”. Bu Srining menyandarkan tubuhnya di kursi, matanya memandang dengan tatapan kosong.
Kini Mawar datang memegang lembut tangan mertuanya berusaha untuk menenangkan, bahwa semua akan baik-baik saja tanpa kehadiran Tari dalam kehidupan Randi.
Bu Srining mencoba untuk tersenyum meski sejujurnya dalam hati yang terdalam ia juga tak yakin jika Randi bisa menerima kehadiran Mawar.
*****
__ADS_1
Desa Suka Maju
Tari pulang dengan wajah yang berbeda dari sebelumnya, ia terlihat sangat ceria, senyumnya melebar sempurna menghiasi wajah cantiknya. Satu tangannya menggandeng Risma dan satu lagi menenteng kresek merah belanjaan berisi bahan-bahan untuk membuat kue.
“Bu.....”. Teriaknya ketika memasuki halaman pekarangan rumah kontrakannya.
“Iya nak”, Bu Marni, yang saat itu sedang menata makan malam, terlonjak kaget mendengar teriakan anaknya. Dari nada bicaranya sepertinya sedang bahagia. Hanya mendengar suara anaknya yang tertawa saja suda cukup membuatnya lega.
“Bu aku bawa kabar baik Bu”. Kini ia meletakkan kresek merah itu di atas meja, dan melepaskan gandengan tangannya dengan Risma. Tangan Tari menyentuh tangan Ibunya dengan lembut. Ia menatap dengan raut wajah yang berbinar.
“Bu aku dapat pesanan donat 100 pcs untuk hari minggu besok”. Tari menggerak-gerakan tangannya, membuat suatu gerakan tarian kecil yang kemudian di ikuti oleh Risma.
“Alhamdulilah”. Jawab Bu Marni dengan memegang dadanya. Bukan soal pesanan kuenya, tapi soal kebahagiannya anaknya. Ya benar saja Bu Marni, harus membuat anaknya tampak sibuk agar segala pikirannya dapat teralihkan dengan baik.
“Lihat Bu, aku sudah membeli semua bahan-bahannya, nanti Ibu dan Risma bantu ya untuk bikinnya”.
“Siap Bu bos”. Jawab kompak semuanya.
*****
Semenjak tinggal di rumah Randi, Mawar tak memiliki kegiatan yang berarti, ia lebih banyak mengabiskan waktunya untuk menonton serial drama korea dan juga makan. Ia aktif menonton drama korea dengan harapan kelak anaknya akan memiliki paras yang cantik atau ganteng seperti bintang-bintang korea.
Siang itu ia duduk di rung tv dengan, satu tangannya memegang kripik tempe dan satu tangannya lagi memegang jus jambu. Sesekali ia mengelus lembut perutnya yang sudah menginjak lima bulan.
Tangannya terulur meraih remote yang ada di meja depannya, ia mulai bosan kala serial drama korea kesukaannya telah usai. Tangan tersebut mengganti-ganti Chanel Tv yang ada berharap menemukan acara yang ia suka.
“Kamu lihat apa sih Mawar dari tadi di aduk-aduk kayak bikin bubur”, celoteh Bu Srining, kala memperhatikan Mawar berkali-kali mengganti channel TV.
“Cari acara yang bagus Ma, semuanya membosankan”. Jawabnya singkat, dengan tangan yang masih aktif untuk menganti-ganti chanel TV.
“Ma, siang-siang gini aku kok jadi pengen makan rujak mangga ya, sepertinya akan enak segar dan ada masam-masamnya”.
“Baiklah mari kita bikin untuk cucu Mama”.
__ADS_1
Mawar menundukkan kepalanya sejenak, seolah ia sedang mengheningkan cipta untuk sementara.
“Kenapa? Kok sedih begitu?”.
“Aku pengen rujak mangga yang masam, tapi harus Mas Randi yang bikin. Aku juga ingin makan bersamanya. Anak ini rindu Papanya Ma”. Wajah Mawar memelas, mengelus lembut perutnya.
“Ma, tolong bujuk Mas Randi untuk bikin rujak mangga”, ia merengek seperti anak kecil yang sedang meminta untuk di belikan susu.
“Ma, ayolah Ma”.
Bu Srining, masih diam saja berfikir apa yang harus ia lakukan?. Ia terdiam sejenak tak memberikan jawaban apapun, namun beberapa saat kemudian kakinya melangkah menuju lantai dua. Dalam hati berharap jika Randi sedang di rumah. Ia mengetuk lembut pintu kamar anaknya.
“Ran, apa kamu ada di dalam?”.
“Rami...”.
“Ran, Mama tahu kamu masih di rumah, keluar nak sebentar saja”. pekiknya kembali dengan nada yang mengiba.
Ceklek pintu terbuka
“Ada apa Ma?”,
“Ran, istrimu Mawar dan anak yang ada dalam kandungannya ingin makan rujak mangga yang masam dan segar”.
“Ya sudah tinggal beli saja Ma, gitu saja kok repot”. Jawab Randi dengan datar.
“Tapi ia mau kamu yang membuatnya”. ucap Bu Srining lirih, ia tahu 90% anaknya akan menolak hal ini.
“Aku tidak bisa Ma, tunggu saja biar aku pesankan untuk dia rujak mangganya,”.
“Tapi Ran, ini anakmu yang mau!”.
“Aku belum yakin sepenuhnya jika itu memang anakku!”. Randi kembali menutup pintu kamarnya, ia lekas meraih ponsel dalam sakunya untuk memesankan rujak mangga.
__ADS_1
Kasihan juga Mawar, semenjak kehamilannya dari awal hingga saat ini, ia sama sekali tak pernah di temani oleh Randi. Bahkan Randi tak pernah bertanya sekalipun keinginan Mawar apa. Mawar seperti sedang hamil sendiri.