Duri Dalam Keluarga

Duri Dalam Keluarga
Taspack Dari Ibu Mertua


__ADS_3

Selepas kepulangan mertuanya. Tari lekas kembali masuk ke dalam kamar. Ia duduk termenung di depan meja rias yang ada di kamarnya. Jemarinya sibuk meremas benda pipih pemberian mertuanya. Matanya mulai menatap nanar pada benda kecil tersebut.


Ceklek...


Pintu terbuka. Rama menyusul istrinya ke dalam kamar. Ia merasa ada sesuatu yang berbeda pada Tari, selepas kepulangan orang tuanya tadi. Tidak biasanya Tari, akan meningalkan Ibu Marni untuk beres-beres sendiri di dapur. Terlebih ketika mereka baru saja makan bersama, dimana banyak sekali meningalkan piring kotor.


Tari sedikit mendongak menatap pantulan wajahnya yang ada di depan cermin. Rasa takut


kembali memenuhi relung hatinya. Trauma di masa lalu mulai kembali menyeruak malam itu. Baru juga menikah tiga minggu yang lalu sudah harus mendapat testpack dari mertuanya. Sementara di pernikahannya yang dulu, hampir enam tahun lebih ia pun tak kunjung mendapat momongan. Apa lagi jika teringat akan diagnosa beberapa Dokter yang di terimanya.


“Ada apa?” tanya Rama, ia memegang bahu istrinya ketika melihat tatapan Tari terlihat kosong dan sedih.


Diam.


Tari tak menjawab, ia memilih untuk diam dan sedikit menggeleng-gelengkan kepalanya saja.


“Jangan bohong. Aku tahu kamu sedang sedih. Apa itu?” Rama meraih benda kecil yang ada


di tangan Tari.


Huft...


Hembusan nafas Rama terdengar keras dan berat. Seakan ia sudah menemukan jawaban dari


kegelisahan yang di rasa istrinya.


“Dari Ibu?”


Tari kembali menganggukkan kepala tanpa berani menatap suaminya.


“Kenapa.sedih?” Rama meraih dagu Tari, membawa wajah istrinya agar saling berpandangan lurus.


“Aku takut? Di coba saja dulu”


“Mas kan sudah tahu bagaimana kondisiku” Tari semakin menunduk dan meremas jemarinya

__ADS_1


dengan resah.


“Kenapa harus takut. Jika belum, kita bisa mencoba lagi dan lagi. Bahkan jika kamu mau


kita bisa coba sekarang, mumpung Risma sudah tertidur” Rama tersenyum dan menggoda istrinya.


“Mas, aku sedang tidak bercanda. Aku sedang takut”


“Aku tahu sayang. Tidak ada yang perlu di takutkan dan di kawatirkan. Bukankah sudah


ku katakan sejak awal jika, aku tidak akan mempermasalahkan masalah ini. Kita sudah


punya Risma di anatara kita berdua. Tapi apa salahnya jika kamu juga mencoba alat itu. Bukankah kekuasan Allah tak terbatas oleh apapun sayang” Rama berbisik dan melingkarkan tangannya pada perut istrinya. Ia memeluk dengan lembut.


“Tapi bagaimana dengan Ibu Mas?”


“Ibu, tidak berhak menuntut sesuatu yang di luar kapasitas kita sayang. Tugas Ibu dalam masalah ini hanya berdoa dan memberikan dukungan pada kita. Tanpa boleh menuntut apapun. Ia tidak berhak terlalu dalam mencampuri urusan Gusti Allah”


“Jangan bersedih. Apapun yang terjadi aku akan slalu ada untukmu. Jangan pernah samakan


Rama,.memilih untuk membalikan tubuh istrinya. Kini keduanya saling berhadapan dalam jarak yang terdekat.


“Jika.kamu tidak nyaman dengan benda ini. Kamu bisa membuangnya. Aku tidak ingin


membuatmu bersedih”


“Tapi Mas?”


“Kebahagian kita yang harus ciptakan sendiri sayang. Aku memang seorang anak tapi bukan


berarti semua perintah dari orang tuaku harus di turuti dengan segera. Kita memang di anjurkan untuk menurut, patuh dan berbakti pada mereka, tapi kita juga.berhak untuk memilih dan memutuskan tentang hidup ini. Selagi tidak


bertentangan dengan  kaidah-kaidah agama.


Aku rasa tidak masalah jika kita tidak menurut’i keinginannya”

__ADS_1


“Jadi.aku mohon jangan bersedih. Jadikan saja alat ini bagian dari do’a dari Ibu. Siapa tahu alat ini membawa pertanda bagus dalam kehidupan pernikahan kita sayang”


Tari.diam tak memberikan jawabannya.


“Sebaiknya.kita istirahat dulu. Kamu pasti lelah sekali bukan?”


Tak banyak bicara lagi. Rama memilih untuk menggandeng istrinya. Membimbing menuju


ke ranjang. Ia lekas menutup tubuh Tari dengan selimut dan memberikan sekilas kecupan sayang di keningnya.


“Hari.ini libur dulu ya mas” ucap Tari, ketika sang suami mulai mematikan lampu kamar.dan mengganti dengan lampu tidur. Sejak menikah Tari, tak lagi memiliki jam.tidur yang teratur. Ia harus siap sedia kapanpun suaminya meminta untuk.beribadah. Bahkan beberapa minggu ini, ia hanya memiliki waktu tiga jam untuk beristirahat


dengan tenang.


.


.


.


Pagi-pagi.Tari, yang sedang sibuk untuk memasak dan meyiapkan bekal untuk anak dan


suaminya, harus berlari ke ruang tengah. Ia berlari dengan cukup cepat ketika mendapati suara ponselnya tak berhenti untuk berbunyi.


Dugaan.Tari, meleset. Ia berfikir jika yang menghubungi saat itu adalah keryawannya di


toko. Seperti biasanya saat pagi-pagi mereka akan sibuk untuk bertanya pada Tari, prihal tugas tambahan barang kali ada perubahan jenis pesanan.


Dengan tangan yang bergetar hebat, ia meraih benda pipih tersebut. Menggeser lambang


hijau dan mulai merapatkan di telinganya.


“Bagaimana hasilnya?”


Deg...

__ADS_1


__ADS_2