Duri Dalam Keluarga

Duri Dalam Keluarga
Dugaan Randi


__ADS_3

“Risma” panggilnya dengan keras ketika gadis kecil itu beranjak meninggalkan kolam


bersama Rama.


“Risma” panggilnya kembali, entah mengapa Randi tiba-tiba tidak bisa bergerak. Ia terlalu berbahagia membuatnya hanya bisa tersenyum dan menatap sang putri dari kejauhan, Matanya masih memandang ke mana perginya sang anak. Ia sama sekali tak berkedip untuk memastikan di mana Risma berada.


Setelah di rasa tahu tempat Risma saat ini, ia memilih untuk beranjak meninggalkan tempat itu. Ia kembali menuju kamar Bu Srining dengan berlari sekuat tenaga. Ia ingin mengatakan pada mereka jika telah melihat Risma berada di sini. Jika Risma ada di sini, kemungkinan besar Tari juga aada di sini. Ia berlari dengan senyum yang merekah di wajahnya.


“Papa, Mama” teriaknya kemabli ketika berada di depan pintu rawat ruang bu Srining, ia lekas berhamburan untuk memeluk mamanya.


Bu Srining hanya bisa melirik ke arah Pak Nario, dan mengelus punggung anaknya. Beliau tidak bisa bertanya apa-apa pada sang anak.


“Ada apa Ran?” Pak Nario mulai membuka percakapan ketika melihat sang anak terlihat


sangat bahagia pagi itu, ini adalah moment langka mengingat sudah lebih dari tiga tahun. Randi kehilangan nafsu untuk tersenyum nya.


“Ran ada apa?” lagi –lagi Pak Nario tak sabar menunggu jawaban anaknya.


“Pa, aku melihat Risma. Aku melihat Risma ada di rumah sakit ini. Sepertinya dia juga di rawat di rumah sakit ini”


“Sudahlah Ran, hentikan omong kosong mu. Jangan banyak-banyak berangan nanti kamu akan sakit sendiri”


“Tapi aku tak sedang berangan Pa, aku mengatakan yang sesungguhnya. Bahkan Risma di rawat di koridor yang sama dengan mama” imbuhnya dengan antusias.


“Pa, Ma, jika Risma di rawat di sini, kemungkinan besar Tari juga berada di sini” senyum d wajahnya tak bisa di tepis. Ia terlihat seperti hidup kembali pagi itu.


Pak Nario hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan resah, ia khawatir jika semua ini


hanya ilusi semata. Bukankah banyak sekali anak yang mirip dengan Risma. Sudah tidak terkira berapa banyak Randi salah menebak ketika berjumpa dengan anak kecil sesuai Risma.


“Pa, aku tidak jadi ke Surabaya, aku ingin memastikan jika apa yang aku lihat adalah


benar adanya” Randi masih kekeh dengan pendiriannya. Ia bahkan mengguncang bahu Mamanya dengan pelan.


Tuhan hukuman macam apa yang akan kau berikan untuk keluarga kami? Kenapa kau

__ADS_1


mempertemukan anakku dengan mereka? Jika saat ini kehidupan mereka sudah bahagia. Kenapa kau memberikan anakku harus menanggung dosa yang telah ku


perbuat? mempertemukan kembali Randi dengan mantan istrinya? Kenapa kau tidak


mempertemukan mereka di saat mereka masih sama-sama sendiri?


Bu Srining tidak dapat bersuara untuk mengeluarkan kata dengan jelas. Ia hanya


berbicara semampunya. Tapi sudut matanya sudah berair, ia akan kembali menyaksikan


anak satu-satunya patah hati. Terlebih ketika kemarin melihat Tari dan Dokter Rama bersama.


“Pa, dengarkan aku. Untuk saat ini biarkan aku yang menjaga Mama di sini. Papa saja yang pergi ke Surabaya untuk melihat laundry kita di sana. Biar apapun yang menyangkut kebutuhan Mama, dan keperluan Mama di sini aku yang menyiapkan” Terang Randi, ia masih menunjukan wajahnya yang berbinar.


“Baiklah kalau itu yang kamu mau. Papa hanya berpesan jangan terlalu berharap lebih,


bisa saja kamu tadi hanya salah melihat”


Pak Nario lekas memilih untuk segera berkemas, memasukan beberapa potong bajunya ke


dalam tas. Ia mencium kening istrinya dengan dalam dan berpamitan untuk kembali ke Surabaya dalam beberapa hari ke depan. Cinta Pak Nario pada Bu Srining begitu utuh, ia masih sangat setia mendampingi wanita itu, meski keadaanya sudah sakit seperti ini. Tak ada yang berubah dari caranya mencintai, ia justru


yang menurun pada Randi. Ia masih sangat setia pada mantan istrinya sekalipun sudah berpisah beberapa tahun yang lalu.


****


“Sekarang Risma, istirahat dulu ya. Nant sore Ayah akan datang kembali jika tidak ada


pasien yang gawat” Rama merebahkan tubuh kecil Risma di atas ranjang rumah sakit dengan hati-hati. Ia takut menimbulkan gesekan antara luka dengan kasur yang ada. Sementara Tari, wanita itu bersiap untuk menatap selimut. Tari


memasangkan selimut tipis untuk menutupi bagian bawah Risma agar tidak terlihat. Maklum gadis kecil itu hanya menggunakan daster, Tari sengaja memilih memakaikan Risma daster untuk mempermudah ketika berganti pakaian.


“Trimakasih ya Mas sudah meluangkan waktu untuk menemani Risma” ucap Tari, ketika ia


mengantarkan Rama keluar dari ruangan.

__ADS_1


“Tidak, jangan berkata seperti itu. Aku sama sekali tidak di repot kan. Sudah ku katakan


berapa kali jika Risma adalah anak kita. Aku juga harus turut andil dalam menjaganya” seloroh Rama begitu saja yang keluar dari mulutnya.


“Kita?” tanya Tari sedikit melirik Rama dengan tatapan yang entahlah.


“Oh maaf. Maafkan atas kelancanganku dalam berucap. Aku tidak bermaksud untuk memaksamu dan menuntut sebuah jawaban” Rama lekas meralat kata-katanya. Ia segera menutup mulutnya dan menggaruk kepalanya yang tak gatal.


“Oh seperti itu” ucap Tari dengan nada yang sukar untuk di jelaskan.


“Tapi Aku pun berharap, akan lekas ada jawaban dari pertanyaanku kemarin”


“Maaf-maaf. Aku harus memaksa kembali, kamu boleh menjawab kapan pun dan di manapun itu.


Pikirkan semuanya dengan baik-baik. Aku tidak bisa menjanjikan apa-apa untukmu. Tapi aku akan selalu berusaha untuk menjaga kalian berdua sebisa yang aku mampu, selama nafas dan jawaku masih dalam satu raga ini” mendadak Rama menjadi orang yang cerewet, ia mengatakan dengan begitu cepat dan tanpa jeda. Entahlah semua keluar begitu saja dari mulutnya.


Bu Marni berdiri di belakang pintu ruang rawat Risma. Tadinya ia tak berniat untuk menguping perbincangan mereka. Namun tanpa sengaja ia mendengar saat baru saja keluar dari kamar mandi. Bu Marni yang turut tersanjung dengan ucapan Rama, memilih untuk menguping setiap untaian kata yang terucap oleh kaum muda


tersebut.


Tari masih engan untuk menjawab, ia hanya memberikan respon dengan tersenyum.


“Bolehkah jika ku anggap senyuman itu adalah jawaban atas pertanyaanku beberapa waktu yang


lalu?”


Diam.


Keduanya kemudian terdiam untuk beberapa saat. Mereka masih dalam posisi yang sama.


Berada di balik pintu masuk kamar Risma.


“Tar?”


“Aku belum bisa memberikan jawaban, maaf” Tari mengulum senyum.

__ADS_1


“Berapa lama lagi aku harus menunggu?”


Tari menggelengkan kepalanya dengan pelan.


__ADS_2