Duri Dalam Keluarga

Duri Dalam Keluarga
Kejutan


__ADS_3

Dua bulan kemudian, baby Fatin, sudah di perbolehkan untuk keluar. Kondisinya jauh lebih baik dari sebelumnya. Berat badannya berangsur bertambah. Saat ini berat badannya sudah mencapai tiga kilo. Panjangnya sudah menginjak 50 cm. Fatin tumbuh menjadi bayi yang lucu dan mengemaskan.


Semua alat bantu yang melekat pada tubuhnya sudah terlepas, ia juga sudah dapat menikmati asi, baik itu secara langsung dari sumbernya maupun menggunakan botol.


Sesuai dengan permintaan Mawar, ia menginginkan Fatin menempati kamar Risma. Tak ada pilihan lain bagi Randi, selain menyetujuinya. Beberapa bulan berkunjung dan melihat bayi kecil itu, sedikit banyak membuat hatinya jauh lebih baik dan melunak setelah melihat sang anak.


Nalurinya sebagai ayah bekerja, ia cukup antusias membelikan berbagai macam mainan dan baju untuk putrinya. Meskipun bayi kecil itu belum mengerti.


Hari ini adalah hari kepulangan putrinya. Randi beserta keluarga sudah bersiap untuk mengadakan acara tasyakuran sekaligus aqiqah untuk Fatin. Seperti yang di harapkan Bu Srining dan Mawar, acara di lakukan cukup meriah, bahkan lebih meriah dari acara tigkepan dulu.


Segenap kerabat, baik yang jauh maupun dekat di undang untuk datang. Bu Srining, ingin mengenalkan pada semesta jika ia sudah memiliki cucu. Seluruh karyawan laundry, juga turut serta di undang untuk acara ini. Tak lupa tetangga-tetangga juga di undang. Acara di dilaksanakan pukul tujuh malam, selepas sholat isyak.


Pagi yang benar-benar riweh. Bu Srining, tak turut ke rumah sakit. Ia bertugas memastikan semua perlengkapan di rumah telah siap. Baik itu catering, dekor maupun sovenirnya. Sebelum berangkat ke rumah sakit, Randi menyempatkan diri untuk mengantar Bu Sringing, ke salah satu restoran ternama di Surabaya. Ia berniat memberikan kejutan untuk anak, menantu dan cucunya.


“Nanti malam, jam tujuh semuanya harus sudah siap. Jadi saya minta sebelum jam enam semua pesanan saya sudah siap”. Titah Bu Srining.


“Jam tujuh Bu acaranya? Kenapa harus mendadak sekali pesannya?”. salah satu wanita yang bertugas sebagai kordinator Resto tersebut sedikit protes akan permintaan Bu Srining, yang begitu tiba-tiba.


“Sudahlah saya tida mau tahu, bagaimana caranya, yang saya mau nanti sebelum jam tujuh deretan menu makanan dan hiasan ini harus sudah ada di rumah saya”. Ia memberikan secarik kertas, bertuliskan daftar menu makanan dan model dekorasi khusus untu cucunya.


“Mohon maaf Bu, tapi kita tidak bisa melakukan semua ini secara mendadak, ada beberapa hal yang harus kami persiapkan terlebih dahulu”.

__ADS_1


“Bisa saja, kerahkan saja semua anggotamu yang bekerja di sini. Jadikan hanya satu shift saja, lalu tutup Restoran ini hingga nanti malam. Persiapkan segala pesananku dengan baik. Aku tak ingin membuat tamu-tamuku kecewa”.


Kordinator restoran itu masih menggelengkan kepalanya, rasanya tak sanggup dengan permintaan itu semua.


“Aku akan membayarnya lima kali lipat dari harga sebelumya”. Tawarnya kembali di akhir-akhir negosiasinya yang berjalan cukup alot.


Hem....”Baiklah kalau begitu Bu, kami akan berusaha memberikan yang terbaik untuk keluarga Bu Srining, silakan menunggu di rumah. Kami usahakan sebelum jam enam petang semua pesanan Ibu, sudah siap”.


Bu Srining tersenyum lega dengan jawaban itu.


Tak tangung-tanggung, bahkan Bu Srining, juga menyewa tenda secara khusus untuk memperluas area yang di gunakan untuk acara ini. Dekorasi di buat dengan tema princess, mengingat cucunya perempuan. Lambang dan tulisan nama Anisa Fatin Fauziah, terpampang jelas di ruang tamu, dengan di hiasi beberapa balon yang mengular ke segala penjuru rumah.


Atas rasa bahagia yang menderanya, Bu Srining membayar berkali-kali lipat jasa tenaga kerja yang bertugas mendekor, sebagai ungkapan rasa syukur atas hadirnya Fatin, di tengah-tengah keluarganya.


Selain itu, Bu Srining, juga menyiapkan baju khusus untuk keluarga kecil putranya. Ia memilih warna baju pink muda kalem, sebagai seragam Randi, Mawar dan juga Fatin, berharap dengan menggunakan baju pink rasa cinta akan memenuhi kehidupan keluarga kecil tersebut.


Fitri dan suaminya juga turut serta hadir dalam acara tersebut,meskipun malas dan tak suka. Tapi rasanya sangat tidak pantas jika ia tak datang, mengingat hubungan kekerabatan yang terjalin pada mereka.


Bayi Fatin, sudah bersiap dengan menggunakan dress kecil warna pink, sepatu warna putih dan bandana warna kombinasi antara pink dan putih. Ia terlihat sangat lucu dan mengemaskan. Pipinya mulai berisi layaknya bayi pada umumnya. Sesekali ia menguap tak kala para undangan datang menyapa.


Kini bayi Fatin berada dalam gendongan sang Ayah, ia dengan cukup percaya diri membawa Fatin, berkeliling dari satu keluarga ke keluarga lain dalam rumahnya untuk mengenalkan jika itu anaknya.

__ADS_1


Fitri menghindar, ia lebih memilih untuk melengos, ketika bayi kecil itu melewati tubuhnya. Fitri tak membenci bayi kecil itu, tapi ia mengutuk tindakan orang tua bayi yang dengan sengaja menyakiti sahabatnya.


Berbeda dengan Fitri, yang enggan untuk bersalaman. Mawar lebih memilih untuk mendekat menuju arah Fitri, mengulurkan tangannya di sana. Mawar tersenyum sangat ramah seperti tidak terjadi apa-apa. Ia menyapa Fitri layaknya menyapa saudara yang lain.


Setelah bersalaman, Mawar melemparkan cupika cupiki di pipi Fitri, kontan dengan dia berucap “Lihat sekarang? Aku yang menang!”. Serunya dengan suara yang tajam, kemudian ia tertawa seakan sedang menghina Fitri.


Fitri begitu kesal di bautnya, ia mengepalkan tangan hendak mengangkat dan mengarahkan pada wajah Mawar.


“Sayang anakmu menangis”, Suara Bu Srining memanggil, yang otomatis menghentikan langkah tangan Fitri.


Mawar kembali tersenyum mengejek tepat di wajah Fitri. Fitri pun bersumpah dalam hidupnya, akan berdoa semoga Allah lekas membalas segala perbuatan Mawar.


Tamu undangan dan kerabat sudah ramai berdatangan, salah satu ustad yang di tunjuk pihak keluarga sudah bersiap membuka acara. Masih seperti saat tasyakuran tujuh bulanan dulu. Beberapa orang di sana saling berbisik satu sama lain, ada yang memuji, namun tak jarang ada yang mencela.


Acara di awali dengan doa-doa, lantas sambutan sejenak dari pemangku acara. Untuk pertama kalinya Randi, memperkenalkan pada semua orang bayi Fatin, adalah anaknya. Ia begitu sigap menggendong sepanjang acara. Randi berisap memberikan sambutannya.


Assalamualaikum, kami ucapkan selamat datang bapak beserta ibu yang hadir dalam acara sederhana yang kami laksanakan ini. Adapun tujuan kami mengundang Bapak dan Ibu, serta hadirin semua adalah dalam rangka cara aqiqah dan tasyakuran atas kelahiran putri kami yang pertama.


Melalui cara ini kami memohon kepada Bapak, ibu dan para hadirin untuk bersedia mendoakan kami sekeluarga dan kita semua yang hadir pada acara malam ini. Terkhusus untuk puti kami Anisa Fatin Fauziah, semoga Allah memberikan kebaikan untuknya, rezeki yang berlimpah seta kebahagian.


“Tolong kembalikan anak saya!!!”. Suara seseorang laki-laki dengan sangat lantang, memecah ke khususkan acara.

__ADS_1


__ADS_2