
“Jadi, apa aku sekarang bisa mendapatkan jawabannya Tar?”
Hening.
Keadaan kembali hening tak ada suara, hanya terpaan angin dan beberapa helaian daun yang berjatuhan di tepian kolam. Wanita itu memilih untuk memainkan jemarinya dengan air. Mengambil air pada ruas-ruas jarinya, lantas menunduk seakan mencari petunjuk dan bertanya pada diamnya air kolam.
“Aku tidak akan memaksamu untuk menjawab” sebuah kalimat yang kemudian mengudara
ketika tak kunjung mendapat jawaban. Pria itu memandang lekat wanitanya yang sedang menunduk ke bawah.
Keadaan kembali dingin dan sunyi untuk beberapa saat. Sayup-sayup gemericik dari air
yang di mainkan Tari mulai menimbulkan suara kecil di antara mereka.
“Aku bukan wanita yang sempurna” sebuah kalimat yang terlontar dari mulut Tari, ia
memberanikan diri untuk menatap lawan bicaranya sejenak dan kembali lagi menunduk, menyembunyikan sudut matanya yang telah berembun.
“Tidak ada manusia di dunia ini yang sempurna, begitu juga denganku. Bukankah kesempurnaan hanya milik sang pencipta?”
“Kau benar Mas. Tapi sebagai wanita normal pada umumnya aku tidaklah sempurna.
Beberapa tahun yang lalu, aku pernah di vonis oleh beberapa Dokter jika aku...”
Tari memilih untuk menunduk, kali ini tangis kesedihannya kembali meluruh. Ia menyeka dengan Ibu jari sudut matanya. Lantas mengambil nafas yang panjang. Berusaha untuk tetap tenang dan menguasai keadaan. Ia tak inggin jika ada yang melihat interaksi ini berfikiran yang tidak-tidak.
“Dokter mendiagnosa aku wanita mandul Mas”
Deg...
Rama terhentak untuk sesaat, ia lekas mendongak mencoba menatap wanita didepannya. Seakan berusaha untuk memberikan kekuatan di sana.
“Itu hanya sebuah diagnosa seorang hamba Allah. Aku pun seorang Dokter dan aku terkadang juga salah ketika mendiagnosa pasienku”
“Tapi Mas, bukan hanya satu Dokter. Beberapa Dokter mengatakan hal yang sama”
“Aku tidak peduli akan hal itu, cinta dan rasaku padamu tulus, tak memandang status juga tak mencari kesempurnaan di dalam sana. Aku menemukan kenyamanan dan ketentraman saat bersamamu. Aku pun menemukan kedamaian ketika berada di dekatmu”
“Mas, kamu akan menyesal nantinya jika mencintai wanita yang mandul, yang tak bisa
memberikanmu keturunan” Tari kembali mendongak, mencoba menyakinkan lelaki di
depannya, jika keputusan untuk mencintainya memiliki resiko yang sangat besar.
“Dengan atau pun tanpa anak, tidak menjamin kebahagian dan keutuhan sebuah keluarga.
Aku menerima semua itu. Bagiku anak dalam sebuah pernikahan adalah bonus dari yang maha kuasa. Kita masih bisa berikhtiar untuk itu. Apakah kamu meragukan kuasa Penciptamu akan hal ini?”
“Tidak, bukan seperti itu, hanya saja aku masih trauma dengan kisah kasih yang pernah ku jalani di masa lampau. Semua terlihat manis di awal dan berakhir dengan demikian”
Tari membenarkan posisi duduknya. Ia bersandar pada tembok yang ada di belakangnya. Kini jemarinya sibuk bermain rumput. Menghitung helaian rumput yang ada di tepian kolam dengan padangan yang tak fokus.
“Jangan samakan kami, kami berbeda. Saat ini hanya ada aku dan kamu. Bukan yang lainnya”
“Kenapa harus takut akan ketidakhadiran seorang anak. kita memiliki Risma yang hadir di
antara kita. Bukankah kamu sudah menganggap dia selayaknya anak kandungmu sendiri. Aku tak akan menuntut hadirnya anak dari rahimmu. Sungguh aku berjanji untuk itu”
Hening, keduanya terlihat saling diam untuk sesaat. Mereka saling menyelami hati masing-masing untuk menentukan sebuah keputusan yang pasti.
“Hay, apakah aku membuatmu bersedih?”
__ADS_1
Tari menggelengkan kepalanya saja. Tangannya masih sibuk menghitung rerumputan yang
ada di depannya.
“Jangan bersedih, tersenyumlah slalu. Hatiku sakit bila melihatmu bersedih dan hanya diam saja”
“Masa?” Tari memilih untuk melirik sekilas wajah Rama yang ada di depannya.
“Tak percaya, pegang lah. Disini, ada jantung yang berdetak lebih kuat dari biasanya.
Ia seakan ingin keluar dari tempatnya. Aku seorang Dokter tapi aku tak mampu untuk mendiagnosa penyakitku saat berdekatan dengan mu”
Tari kembali menatap lawan bicaranya, ia tak bisa lagi untuk menahan senyum di wajahnya.
“Menurut salah satu Dokter senior yang bekerja di rumah sakit, aku terkena penyakit langka dan hanya satu obatnya”
“Penyakit?” Tari mengerutkan keningnya sejenak dan mencoba untuk menerka-nerka penyakit
yang diderita Rama. Awalnya ia berfikir jika Rama hanya bercanda saja.
“Aku terkena serangan virus cinta dan haus kasih sayang. Sayangnya tidak ada obat yang mampu untuk menyembuhkan penyakit itu. Kecuali kamu”
Rama kembali menatap lawan bicaranya dengan tatapan maut. Matanya menusuk dalam,
mencoba untuk menggapai relung hati Tari. Ia tak berkedip untuk seper sekian detik demi meyakinkan wanita yang terlanjur merebut hatinya.
Sementara Tari, wanita itu tidak dapat memberikan reaksi lebih. Ia masih syok dengan
segala gombalan yang di berikan Rama. Hanya saja wajahnya sudah memerah padam menahan segala gejolak hati yang ada. Keduanya saling terpukau dan menatap satu sama lain dengan pandangan yang terkunci.
“Jadi bagaimana? Mau kan kamu untuk menjalani sisa hidupmu bersamaku? Menyempurnakan separuh agama dengan mewujudkan sakinah, mawadah dan warohmah bersamaku?”
Diam...
tercetak di kerongkongan. Mereka masih dalam posisi yang sama saling berhadapan. Sejurus kemudian ia mulai bersuara.
“Maaf”
Satu kata yang membuat Rama melemas seketika. Pria itu lekas membuang pandangannya ke segala arah. Wajahnya seketika berubah menjadi mendung berawan hitam.
Cerahnya terik sang surya siang itu seakan tak berarti pada hati yang sedang hampir runtuh.
“Maaf, tapi aku tidak bisa untuk menolakmu”
Satu kalimat kembali mengudara dari mulut Tari, ia berucap dengan penuh keyakinan dan pengharapan akan kebahagian dalam hidupnya. Ia menjawab tawaran itu dengan tersenyum dan menatap wajah Rama yang terlihat kusut setelah jawaban kata sebelumnya. Sementara Rama, pria itu lekas menoleh ke sisi wanitanya. Ia
menatap dengan tatapan yang tidak bisa di artikan. Telinganya mencoba untuk fokus takut jika ia salah untuk mendengarkan.
“Apa aku tidak salah mendengar?”
Matanya berbicara dengan hati Tari, seakan sedang ingin mendengar kembali lantunan
kalimat yang baru saja di dengarnya.
Tari memilih untuk menggelengkan kepalanya saja.
“Apakah ini artinya kau menerimaku untuk menjadi pendampingmu?”
Lagi-lagi Tari, memilih untuk menggunakan kepalanya saja dengan tersenyum. Senyum yang
mampu membuat hari-hari Rama kacau, ketika tidak bisa melihatnya.
__ADS_1
“Oh Bethari, terimakasih atas kesempatan ini. Aku akan berusaha untuk menjaganya”
Rama bersorak dalam hati. Sungguh ia ingin terbang dan berguling-guling saat itu juga, namun ia khawatir jika Tari, melihat hal itu akan ilfil di buatnya.
“Ku titipkan segenap hatiku padamu mas. Aku harap tak ada kecewa di antara kita
nantinya”
Rama tidak dapat berbicara apa-apa. Bahkan jurus gombalannya menghilang seketika
saat mendengar jawaban dari Tari.
“Aku tidak ingin bermain-main dengan hubungan ini. Aku ingin segera menikahi secepat
mungkin”
Rama ingin sekali menggenggam tangan Tari, tapi ia takut jika wanta itu akan menolak.
Ia memilih untuk berpegangan pada rerumputan tempatnya terduduk saat saat ini.
“Oh Allah terimakasih, atas segala kebaikan yang kau berikan padaku. Aku akan
berusaha untuk menjaganya dengan sebaik mungkin”
“Aku tidak akan menjanjikan apapun padamu Tar, tapi aku akan berusaha untuk membuatmu slalu bahagia ketika berada di sisiku”
Akhirnya ku menemukanmu
Saat hati ini mulai merapuh
Akhirnya ku menemukanmu
Saat raga ini ingin berlabuh
Ku berharap engkaulah
Jawaban segala risau hatiku
Dan biarlah diriku
Mencintaimu hingga ujung usiaku
Jika nanti ku sanding dirimu
Miliki aku dengan segala kelemahanku
Dan bila nanti engkau di sampingku
Jangan pernah letih untuk mencintaiku (Naff : Akhirnya ku menemukanmu).
Derap langkah kaki anak kecil terdengar berlari dengan cukup cepat. Ia melesat keluar dari kamarnya dan melangkah untuk keluar.
“Ayah, Bunda. Kalian kemana saja? Kok aku gak di ajakin?” tanpa rasa bersalah sedikit
pun ia lekas duduk di tengah-tengah orang tuanya yang sedang kasmaran.
“Ayah, Bunda kenapa kalian diam saja?”
“Lihat aku. Aku di sini!” gadis kecil itu mengkerut ketika orang tuanya sedang sibuk
mengangumi satu sama lain.
__ADS_1
“Ah iya sayang maaf. Ada apa?”