Duri Dalam Keluarga

Duri Dalam Keluarga
Makan Malam


__ADS_3

“Ayah,Ayah bolehkah aku memeluk Ayah?”


Rama tersenyum, ia tak kuasa untuk tidak menahan genangan bening yang ada di pelupuk matanya. Hatinya  bergetar dan menghangat. Separuh dari jiwanya menjadi terisi saat itu juga. Mereka saling berhamburan untuk berpelukan. Dalam beberapa detik keduanya terdiam, tenggelam dalam rasa yang tidak bisa dijelaskan. Satu yang pasti setengah dari kekosongan jiwa telah menemukan lagi asanya.


“Ayah” lagi-lagi Risma, mengucapkan sebuah kata yang telah ia tahan, tidak pernah terucap pada laki-laki dewasa lainnya.


“Iya nak, kamu bisa panggil aku Ayah. Sekarang Risma punya Ayah. Risma tidak boleh sedih lagi ya. Ayo kita makan bersama, kasihan Bunda sama Nenek sudah menunggu sejak tadi. Perut Ayah juga sudah sangat lapar” bujuk Rama kemudian, ia membantu Risma untuk berdiri. Sementara Risma menganggukkan kepalanya. Aksi protes yang di layangkan pada Tari telah berakhir. Ia sudah mengibarkan bendera perdamaian ketika misinya telah tercapai.


“Mau Ayah gendong?” tawar Rama, ia segera membalikan tubuhnya berlawanan dengan Risma, agar gadis kecil itu dapat dengan mudah naik ke punggungnya.


“Mau, aku mau gendong Ayah” sorak Risma dengan ceria. Ia segera meloncat dari ranjangnya menuju punggung Rama.


“Baik, Tuan putri kudanya siap berlari” Rama berlari kecil layaknya seorang kuda, ia juga menejda setiap langkahnya sediikt melompat-lompat.


Semua perlakukan Rama, di sambut hangat oleh Risma, ia semakin melingkarkan tangannya di leher Rama. Senyumnya mengudara mengisi kekosongan ruang dalam rumah itu. Bu Marni dan Tari, yang mendengar tawa Risma sontak saling berpandangan saat itu juga.


“Ayah-ayah” teriak Risma ketika perjalanan dari kamarnya menuju ruang makan.


“Terimakasih Ayah” ucapnya kembali ketika Rama mendaratkan tubuhnya di atas kursi. Pria itu secara lugas menyiapkan piring untuk Risma, mengisinya dengan nasi dan beberapa pelengkap lauk yang ada di sana.


“Silahkan makan sayang” ucap Rama ketika menyerahkan sebuah piring di hadapan Risma.


“Terima kasih Ayah” jawab Risma, wajahnya berbinar senyum ya merekah dengan lebar saat itu juga. Sementara Bu Marni dan Tari sontak saling berpandangan mata tanpa kata. Seakan sedang mencari jawaban atas ucapan Risma yang baru saja terlontar dari mulut manisnya.


“Bunda makan yang banyak ya, mau sekalian di ambilkan Ayah?” sapa gadis kecil itu, ia benar-benar sudah tidak marah.


“Risma jangan seperti itu, gak enak sama Om Rama. Panggil saja yang semestinya” terang Tari, memotong harapan anaknya.


“Kenapa?”


“Kenapa Bun. Om Rama tidak masalah aku panggil Ayah. Iya kan Om?” Risma melirik ke arah Rama, ia sedang menunggu sebuah pembelaan di sana.


Rama menganggukkan kepalanya saja, ia tersenyum di sela-sela menata nasi dan lauk di piringnya.


“Maaf ya Mas, atas kelancangan anak saya”


“Tidak masalah Tar, aku bersedia cosplay jadi Ayahnya Risma. Justru memang aku yang memintanya untuk memanggilku Ayah. Aku sama sekali tak keberatan, yang ada aku semakin senang” Rama melirik sekilas ke arah Risma, ia mengangkat satu persatu alisnya.


Sementara Risma, gadis kecil itu menjulurkan lidahnya pada Tari, ia kembali mengejek Bundanya.


“Jika tidak keberatan, biar saya yang besok menemani kegiatan Risma di sekolah” izin Rama kembali.


“Tapi Mas” Tari tampak menimbang-nimbang keputusan yang akan di pilih, ia takut suatu saat nanti ini justru akan mempersulit jalannya. Apa lagi Rama seorang pria dewasa yang sudah seharusnya berkeluarga. Tari takut suatu saat nanti jika ia sudah menemukan keluarga sesungguhnya, Rama akan meninggalkan Risma begitu saja. Ia tidak ingin membangun asa yang indah untuk sang anak, sementara ia sendiri tidak dapat menjanjikan untuk mewujudkannya.


“Sudahlah Tar, biarlah anakmu merasakan kebahagian” sela Ibu kemudian, ketika Tari masih ragu akan keputusan yang akan di ambil.


Satu menit.

__ADS_1


Tiga menit.


Lima menit, Tari terdiam dalam angannya.


“Boleh ya Bun?” tatapan mata Risma seakan seorang anak kucing yang minta untuk di pungut, Siapa saja yang melihat pasti tak ada tega untuk menolak permintaan itu. Rama tertawa geli melihat tingkah Risma yang terlanjur imut untuk anak seusia dia.


“Baiklah, tapi janji ya. Jangan menyusahkan Om Rama”


“Kok Om sih Bun? Manggilnya Ayah Rama. Iya kan yah?”terang Risma dengan antusias.


Uhuk..uhuk...


Tari tersedak ludahnya sendiri, bagaimana bisa? Rama dapat dengan mudah merebut hati anaknya, hingga gadis kecil itu menurut tanpa syarat padanya.


“Bunda juga panggil Ayah dong. Biar aku kayak teman-teman punya Bunda dan Ayah” lagi-lagi Risma berucap tanpa rasa bersalah sedikit pun. Bu Marni terkekeh geli mendengar setiap penuturan cucunya. Ia merasakan telah memiliki rekan seperjuangan yang menginginkan Tari dan Rama bersatu.


“Hem, itu panggilan untuk Risma saja. Orang dewasa tidak boleh memanggil Ayah”


“Kenapa Bun?”


Tari menggelengkan kepalanya dengan pelan. Lagi-lagi ia harus terjebak dalam jawabannya sendiri. Sekarang ia kesulitan untuk merangkai kata dalam menjawab pertanyaan anaknya.


“Hem, begini nak. Bunda kan sudah punya Ayah sendiri. Risma kalau memanggil Ayahnya Bunda itu kakek. Nah kalau sama Om Rama manggilnya terserah Bunda saja, tidak harus sama seperti kamu” terang Rama, ia melirik sekilas pada Risma membelai rambut panjang anak kecil itu.


“Oh, seperti itu. Jadi Bunda manggil Ayah Rama apa dong Bun?”


“Mas juga boleh, aku lebih suka di panggil seperti itu tanpa menunjukan jati diri dan profesiku” Jawab Rama, yang membuat pipi Tari memerah seketika. Ia juga sama layaknya wanita dewasa pada umumnya, terkadang ia juga merindukan sebuah perhatian dan kasih sayang. Meskipun ia selalu menampik semua itu dalam benaknya. Namun nyatanya, ucapan yang terlontar dari mulut Rama cukup membuat hatinya menghangat.


Bu Marni yang menyaksikan turut merasakan bahagia, ia tak henti-hentinya tersenyum melihat pemandangan yang telah lama hilang dalam keluarga ini.


“Mari silahkan makan dulu, nanti keburu makannya dingin” Bu Marni mempersilahkan semuanya untuk makan.


“Aku mau di suapin Ayah” rengek Risma dengan manja. Rama sema sekali tak keberatan. Pria dewasa itu dengan sangat telaten memasukan suap demi suap nasi pada mulut Risma, ia bahkan tak menyadari jika nasi dalam piringnya masih utuh.


“Sini biar Nenek yang suapin. Ayahnya Risma biar makan dulu”


Hua rasanya hati Rama, seperti mendapat guyuran air es saat itu. Ia bahagia tiada terkira. Tari sedikit canggung, ia bingung meletakan posisinya saat ini. Ia memilih untuk menunduk menatap sepiring nasi yang ada di depannya. Sesekali matanya melirik pemandangan di hadapannya, saat Risma dan Rama saling berinteraksi dalam senyuman.


“Bu Trimakasih atas undangan makan malamnya. Saya permisi dulu. Biar besok saya yang mengantarkan Risma ke sekolah” pamit Rama ketika makan malam telah selesai.


“Trimakasih juga nak Rama, sudah berkenan untuk datang ke rumah kami untuk makan bersama.Terimakasih juga sudah membantu banyak hal untuk keluarga kami, terutama untuk kebahagian Risma” ucap Ibu dengan haru.


“Ayah jangan pulang”


“Besok Ayah ke sini lagi ya, jemput kamu. Kita ke sekolah sama-sama. Sekarang sudah malam. Risma waktunya istirahat biar besok bisa bangun pagi-pagi ke sekolah” Rama menunduk mensejajarkan diri dengan Risma, ia berpamitan dengan pelan, seperti basah acara pamitan Rama slalu berakhir denan drama yang di lakukan Risma.


“Tar, antarkan nak Rama dulu. Biar ibu bawa Risma masuk”

__ADS_1


Tari dan Rama berjalan beriringan menuju halaman depan, tak ada obrolan yang di lakukan keduanya saat itu, yang ada mereka berjalan dalam jarak yang panjang. Saling terdiam satu sama lain. Keduanya bingung hendak memulai percakapan seperti apa. Mendadak semuanya terasa sangat canggung. Mata Tari mengedar ke segala arah sebagai cara untuk menghilangkan rasa canggung yang ada. Hal yang sama di lakukan Rama, ia menggaruk-garuk rambutnya yang tak terasa gatal sama sekali.


“Aku pulang dulu ya, Bundanya Risma” pamitnya kemudian, Rama tak menyadari apa yang  baru saja keluar dari mulutnya,


“Eh maaf”


“Silahkan Ayahnya Risma, terimakasih atas semua bantuannya” jawab Tari dengan kikuk. Ia begitu canggung setelah sekian lama tak berinteraksi dengan serang pria.


Keduanya kembali saling terdiam untuk beberapa saat.


“Saya pulang dulu” pamit Rama kembali.


Tari menganggukkan kepala dan tersenyum, ia lebih memilih seperti itu dari pada harus salah dalam merangkai kalimat, yang akan berujung pada rasa malu nantinya.


Deru suara mobil mulai menyala, menggema mengisi area pekarangan rumah Tari. Perlahan mobil itu mulai berjalan dengan pelan meninggalkan harapan yang indah untuk anak usia delapan tahun. Tari segera masuk ke dalam rumah. Menutup rapat pintu rumah itu bahkan menguncinya.


“Cukup pintunya saja yang tertutup rapat dan terkunci, tapi hatinya jangan” sela Ibu ketika melihat anaknya berbalik arah.


“Ibu, apa’an sih. Aku mau ke kamar dulu sudah malam” Tari memilih untuk meningalkan Bu Marni, sebelum wanita paruh baya itu memberndognya dengan berjuta pertanyaan yang di luar nalarnya.


Tari mulai merebahkan dirinya di atas kasur. Jemarinya sibuk berselancar di dunia maya. Ia sedang mencari inspirasi untuk kostum yang akan di kenakan Risma besok. Tak ada yang berarti, ia sendiri memang tak pernah menyiapkan hal yang istimewa untuk hari Ayah, mengingat Risma jarang mengikuti acara ini.


Sepertinya pakai baju warna ini saja lucu, ini juga tidak akan  menyulitkan Mas Rama untuk menyamainya.


Pilihan Tari jatuh pada gaun warna biru muda. Ia sengaja memilih warna itu untuk mempermudah Rama mencocokkannya. Risma juga punya gaun warna biru muda. Gaun yang di gunakan saat ulang tahun beberapa waktu yang lalu.


.


.


.


Rumah Rama.


Hingga menjelang pukul dua belas malam, Rama tak kunjung bisa memejamkan matanya. Ia terlalu berantusias malam ini hingga tak dapat tertidur.


“Aku lupa tanya, besok harus memakai baju apa? Barangkali ada dress code khusus” pikir Rama yang tampak menimbang-nimbang.


“Apa sebaiknya aku tanya saja dulu ya?”


Ia melirik benda pipih yang ada di sisinya.


“Telfon tidak ya?” hatinya meragu, takut di kira hanya sebuah modus.


Hal yang sama juga di rasakan Tari, ia gelisah, tidak terpikir sedikit pun untuk membahas kostum yang akan di gunakan besok, Ia khawatir jika di anggap hanya modus saja.


“Telpon tidak ya” ucapnya dengan ragu.

__ADS_1


__ADS_2