
Satu minggu kemudian, dunia masih tetap berputar pada porosnya, ia tak pernah berhenti berputar, walau hati penghuninya sedang tidak baik-baik saja. Untuk menghibur anaknya yang selama beberapa hari ini hanya diam saja di rumah, Bu Marni mengajak anaknya untuk membuat aneka kue basah dan juga minuman tradisional.
Pilihan kue basah jatuh pada pastel dan donat kentang. Tari sama sekali tidak menolak ajakan Ibunya, ia menyadari kehidupan di dunia tak bisa terhenti walau hati sedang tercabik-cabik. Ia harus tetap melangkah menatap masa depan demi untuk Risma anak angkatnya dan juga Bu Marni Ibunya. Dua orang yang sekarang menjadi semangat dan tumpuan kakinya untuk tetap bisa berdiri.
“Tar, ini Ibu sudah beli semua perlengkapan untuk membuat donat dan juga pastel, menurut kamu hari ini kita akan membuat kue apa dulu?”. Tanya Ibu, dengan meletakan dua kantung plastik besar, berisi bahan-bahan perlengkapan kue.
“Aku mau donat, donat yang bulat dan banyak coklatnya, seperti yang ada di toko Bunda”. Celoteh Risma, menjawab pertanyaan neneknya dengan suara khas anak kecil yang menggelikan.
Tari tersenyum lembut, satu tangannya terulur membelai rambut sang putri.
“Risma mau makan donat?”, tanyanya dengan membungkukan badan, mendekat pada sang anak.
“Iya, aku mau donat toping coklat yang lembut sekali, hem yummy”, lidahnya keluar menyeka bibirnya, Risma seakan sedang membayangkan menikmati sebuah donat coklat yang enak.
Tari dan Ibu, tersenyum bersama melihat tingkah Risma yang cukup menghibur.
Kini tangan Tari mulai kembali beradu membuat trial adonan donat, seperti yang dulu pernah ia lakukan waktu awal-awal usaha. Jika toko roti miliknya lebih banyak membuat roti dengan kualitas premium, dan target pangsa pasarnya menengah ke atas.
Saat ini, ia harus kembali membuat resep baru dengan harga yang lebih ekonomis, namun tetap memiliki cita rasa yang lezat. Jika Allah menghendaki, Tari ingin kembali berjualan lagi di sini.
Tangan Tari, sudah beradu mencampur adonan tepung dan kentang, mencampurnya menjadi satu, dalam wadah yang cukup besar, mengaduk-aduk hingga adonan kalis. Kemudian mencetaknya dalam bulatan-bulatan berukuran sedang dan kecil. Tari mengistirahatkan adonan tersebut selama dua jam, untuk membuat adonan mengembang.
Ibu Marni, sudah bersiap untuk memanaskan minyak dalam wajan yang berukuran sedang bersiap untuk menggoreng donat tersebut. Tak lupa Tari, membuat lubang-lubang di tengahnya sebagai ciri khas kue donat.
__ADS_1
“Aku yang kasih topingnya ya Bun”. Risma membuka beberapa toping yang sudah di beli Bu Marni, meletakkannya di atas piring.
*****
Surabaya
Mawar mengiba pada Randi, meminta untuk berpindah dari kamar tamu ke kamar Risma, yang tepat bersebelahan dengan kamar Randi. Berada dalam rumah yang sama, namun jarak kamar yang sangat jauh untuk gelar suami dan istri tentu saja sangat menyakitkan.
Namun sayang, dengan tegas Randi menolak akan hal itu. Ia juga tak mengizinkan Mawar untuk tinggal di kamarnya. Mawar seperti mahkluk transparan dalam rumah itu. Kehadirannya ada namun tidak terlihat sama sekali oleh suaminya.
Lebih dari itu, Randi bahkan tidak mengajaknya untuk bicara. Ia akan melewati Mawar begitu saja ketika mereka harus berada dalam jarak yang terdekat atau tak sengaja berpapasan.
Randi sudah benar-benar meninggalkan pekerjaannya di kantor. Ia memutuskan untuk resign setelah beberapa kali mendapat peringatan dari atasannya. Randi tak ingin menyusahkan rekan sejawatnya, jadi ia memilih untuk mundur dan menata hatinya.
Desas-desus pernikahannya dengan Mawar sudah mulai tercium di kalangan karyawan laundry, tak jarang dari mereka banyak yang mencibir dan menghujat Mawar, sebagai orang ketiga dalam pernikahan mereka. Namun Mawar tak gentar, ia tetap berdiri di atas kakinya dengan kokoh, melenggang dengan percaya diri, ingin menunjukan pada semesta jika dialah pemenang dalam dongeng kisah ini.
Sore itu, saat Randi masih berada di laundry untuk mengecek beberapa hal yang ada di sana, rupanya perpisahannya dengan Tari, membawa dampak yang besar bagi usahanya. Beberapa pelanggan setianya banyak yang menghilang sejak mengetahui kabar tentang pernikahan Randi dan Mawar.
Beberapa kali ia merasakan vibrasi pada saku celananya, tangannya terulur meraih ponsel tersebut. Satu nama tertera di sana, yang cukup membuat hatinya berdenyut nyeri.
Benar saja, Randi baru saja mendapat kabar dari pengacaranya, jika sidang perceraiannya hanya akan berlangsung selama dua kali saja, mengingat tidak ada yang perlu di urus dan di perebutkan kembali. Itu artinya, tinggal satu persidangan lagi Randi dan Tari akan resmi bercerai.
Randi menghembuskan nafasnya dengan kasar, ia duduk bersandar di kursinya. Rasa lelah dan tak semangat tiba-tiba datang mendera setalah menerima kabar itu. Pikirannya kembali tak fokus dan kalut, ia memutuskan untuk menyudahi pekerjaannya dan berniat untuk kembali pulang.
__ADS_1
Hari menjelang magrib, sampailah Randi di rumah, ia lekas melangkah masuk ke dalam untuk membersihkan diri dan bersiap untuk pergi setelah ini. Randi ingin makan malam dan nongkrong bersama teman-temannya, untuk mengurangi tingkat stresnya karena setiap kali ia melihat orang-orang di rumah ini, itu hanya akan membuatnya semakin stres dan tertekan.
Di dapur Mawar dengan Bu Srining, sudah bersiap untuk memasak makan malam. Hari ini Mawar masak gurami asam manis, yang konon merupakan makanan kesukaan suaminya. Mawar memasaknya dengan penuh cinta dan kasih sayang. Ia menata semua masakan di piring saji dan meletakkan di atas meja makan.
.
.
.
Lima menit kemudian.
Randi sudah turun dari tangga menuju lantai satu, ia melirik sekilas aktivitas yang ada di ruang makan. Menyadari sang suami memperhatikannya, membuat Mawar memberanikan diri untuk menghampiri suaminya dan kembali menyentuh lengan tangannya.
“Mas, aku sudah masak makanan kesukaan kamu, lihat ada gurami asam manis”. Tangan Mawar, terulur menunjuk hidangan yang ada di atas meja.
“Aku tidak makan, aku akan makan di luar!”. Jawabnya dengan sinis.
“Tapi Mas, aku sudah masak banyak untuk suamiku malam ini”.
“Cih suami, aku bakan tak pernah menganggapmu sebagai istriku!”. Desis Randi, dan melenggang begitu saja, mengacuhkan Mawar yang masih berdiri di sana.
“Aku mau ikut Mas”. Teriakannya dengan lantang, hingga membuat Bu Srining menoleh ke arah mereka.
__ADS_1
“Apa hakmu untuk bisa berjalan di sampingku!”. Tukasnya kembali, seakan memperjelas keberadaannya yang hanya sebagai istri yang tak di anggap saja.