Duri Dalam Keluarga

Duri Dalam Keluarga
Berangkat Bersama


__ADS_3

“Bunda, aku suka deh kalau berangkat naik mobil begini, kita jadi gak kedinginan” celoteh Risma membuka keheningan an kecanggungan suasana dalam mobil.


“Hem” jawab Tari, dengan singkat. Mata Risma, sibuk mengamati interior yang ada di dalam mobil. Sesekali jemarinya menyentuh beberapa pernak-pernik yang ada di sisi belakang. Rama meletakan boneka ular tepat di bagian jok paling belakang.


“Sayang duduk yang rapi nak”


“Maaf ya Mas Rama. Risma banyak tingkah” Tari merasa tidak enak dengan Rama, ketika kaki gadis kecil itu naik-naik di atas jok mobil.


“Tidak masalah, justru aku makin senang biar rame” ucap Rama, ia tersenyum pada Tari yang kini duduk di sebelahnya. Rama dengan sengaja memperlambat laju mobilnya, agar ia bisa merasakan lebih lama melihat wanita yang ada di sebelahnya. Maklum jarak rumah Tari, ke toko roti tidaklah terlalu jauh.


“Om, terimakasih ya sudah kasih tumpangan buat kita. Aku suka sekali bisa naik mobil seperti ini. Sudah lama kan ya Bun, kita tidak pernah naik mobil lagi?” Risma menyenggol-nyenggol lengan Tari dari belakang.


Sungguh rasanya Tarim ingin menenggelamkan dirinya saja saat itu. Ia malu dengan sikap polos anaknya.


“Oh ya, Risma suka naik mobil?”


“Iya Om, dulu waktu Ayah masih ada. Risma kalau berangkat sekolah pakai mobil. Sekarang Ayah sudah tidak ada, jadi kita kalau ke mana-mana naik motor deh. Bener kan Bun?” Risma kembali menyenggol lengan Bundanya.


“Bun, Bunda...benarkan apa yang Risma ucapkan?” tanyanya kembali meminta jawaban.


“Risma sayang, jangan banyak bicara nak, Nanti ganggu Om Rama yang lagi nyetir” desis Tari, dengan menggigit bibir bawahnya. Suaranya memberikan intonasi penekanan pada sang anak agar tidak bicara yang melebar.


“Ih Bunda gitu deh, kan memang dulu aku sering naik mobil”


“Oh ya” jawab Rama kemudian. Ia tak ingin membuat anak kecil itu kecewa dan merasa terabaikan.


“Iya Om. Kalau tidak percaya, Om bisa melihat fotoku di ponsel Bunda”


Krik...krik...


Hening...


Suasana dalam mobil kembali membeku. Tari benar-benar merasa tidak enak dengan obrolan Risma pagi itu.


“Saya turun dulu ya Mas Rama. Trimakasih atas tumpangannya. Maaf banyak merepotkan dari kemarin. Saya titip Risma ya” Tari berpamitan, sebelum turn dari mobil, ia setengah menundukan kepalanya sebagai ekpresi rasa segan.

__ADS_1


“Oh jadi semalam Bunda, pulangnya di antar Om Rama. Kenapa Bunda tidak cerita?. Tahu gitu kan aku mau lihat” seru Risma, kalimat itu keluar begitu saja dari mulutnya.


“Hem” lagi-lagi Tari, harus mengigit bibir bawahnya, menahan nada bicaranya.


“Memangnya kenapa sayang? Apa Om Rama tidak boleh mengantarkan Bundanya Risma pulang?”


“Boleh dong Om, aku tuh kasian sama Bunda, sering pulang malam buat kerja. Pasti cepek sekali ya Bun?”


“Aku cuma mau ucapin terimakasih m Rama, sudah mau bantuin Bunda. Aku kasian sama Bunda pulang kerja malam-malam. Aku pikir Bunda mendorong motor sendirian, ternyata ada Om Rama yang bantuin”


“Hem, tidak” jawab Tari dengan singkat.


“Risma kan gak punya Ayah Om, jadi Bunda harus kerja dengan semangat” Risma mengangkat tangannya, seolah memberikan semangat pada Tari. Rama tertawa geli melihat tingkah gadis kecil itu.


“Iya sayang. Bunda turun dulu ya nak. Hati-hati di jalan, jangan merepotkan Om Rama” pamit Tari dengan segera, sebelum Risma kembali berceloteh yang membuatnya mati gaya di hadapan Rama. Risma lekas meraih tangan Tari, menciumnya dengan penuh takzim.


“Risma mau pindah ke depan?” tawar Rama, sebelum melajukan mobilnya menuju ke sekolah.


Gadis kecil mengangguk-anggukkan kepala, ia tersenyum lebar.


Tari masih terdiam di tempat. Ia melambaikan tangan pada sang anak, yang terlihat memunculkan sekilas kepalanya di balik jendela. Ia menunggu sampai mobil itu tak terlihat.


“Om, kok jalannya jadi cepat sih?”


“Masak?”


“Iya cepet, gak kayak tadi. Aku suka pelan-pelan Om, menikmati jalanan. Biasanya Bunda kalau bawa motor juga pelan-pelan biar bisa lihat orang-orang yang berjualan di pinggir jalan”


“Oh ya?, baiklah kalau begitu Om, akan sedikit mengurangi laju kecepatannya”


“Oh ya Risma suaka naik mobil ya?” Tanya Reno di sela-sela perjalanan menuju sekolah Risma. Kini ia menurunkan laju kendaraannya. Rupanya berkendara dengan membawa anak kecil begitu menyenangkan.


“Iya Om, aku suka. Kalau naik mobil itu tidak kepanasan, tidak kehujanan. Juga tidak perlu pakai helm. Kepala ku sering pusing kalau pakai helm”


“Kenapa? Kok bisa gitu?”

__ADS_1


“Beratlah Om, lagian kalau naik motor kita biasanya juga sering di klakson-klakson sama pengendara mobil Om. Seperti ini Tin...tin..tin...” Suara Risma, menirukan bunyi klakson.


Rama tertawa geli mendengar cerita Risma, terlebih gadis kecil itu memperagakan jika ia sedang naik motor, dan di salip di bagian kanan dan kiri. Lalu hilang tenggelam dalam lautan mobil yang sedang berjajar.


“Kalau sudah kayak gitu, aku sering kasian sama Bunda Om. Bunda pasti geleng-geleng kepala mencari celah untuk menembus kemacetan”


“Wah kamu pinter sekali ya berceritanya. Oh ya sayang. Ngomong-ngomong Ayah Risma di mana? Om belum pern ah lihat selama tinggal di sini”


“Sama Om. Aku juga belum pernah lihat Ayah selama di sini” jawabnya dengan ringan. Matanya masih sibuk menganti segala hal yang ada di jalanan.


“Lho Risma, gak pernah ketemu sama Ayah?”


Gadis kecil itu menggelengkan kepalanya.


“Tidak Om. Ayah sudah lama tidak pernah datang mengunjungi kami. Kata Bunda, Ayah sedang sibuk bekerja”


“Bekerja di mana?”


“Aku tidak tahu Om, kata Bunda kerjanya jauh sekali. Di sana tidak ada sinyal, jadi Ayah tidak bisa menghubungi kami. Aku juga sudah lupa ajah Ayah seperti apa sekarang”


Rama mengangguk-anggukkan kepalanya.


“Jauh ya kerjanya?”


“Jauh sekali Om, mungkin di kutub utara apa selatan. Tapi Masya dan beruang tinggal di kutub, mereka masih bisa menghubungi Dasya. Apa ini hanya kebohongan Bunda saja ya Om?. Kira-kira apa ayahku masih hidup?” tanya Risma kemudian ia tampak berfikir keras.


Rama terkekeh geli melihat ekpresi Risma.


“Risma benci tidak sama Ayah?”


“Tidak Om. Kata Bunda kita tidak boleh benci sama semua orang termasuk sama ayah. Meskipun Ayah tidak pernah lagi menjenguk kami tapi kata Bunda, ayah adalah orang yang baik. Ayah juga sayang sama Risma. Suatu saat nanti, kalau Risma sudah dewasa, aku akan mengerti Om. Begitu kata Bunda, tiap kali aku tanyak tentang Ayah”


Rama terdiam, ia fokus dengan kemudi yang ada di depannya. Satu kesimpulan yang dapat di tarik dari obrolan pagi bersama Risma. Jika Tari, memanglah wanita istimewa. Ia tidak pernah menjelek-jelekkan mantan suaminya meskipun keduanya sudah berpisah cukup lama. Mengingat desas-desus yang beredar di Desa Suka Maju, perceraian Risma di karenakan kehadiran orang ketiga dan campur tangan keluarga pihak suami.


Ia tersenyum, hatinya menghangat. Tiba-tiba rasa yang sudah lama mati itu kembali berbunga.

__ADS_1


__ADS_2