Duri Dalam Keluarga

Duri Dalam Keluarga
Rumah


__ADS_3

...‘’Mengapa slalu ada masalah?”....


Malam harinya sejak perdebatan tadi pagi di meja makan, ibu kembali mengajakku berbicara tentang masalah ini. Kini hanya ada keluarga inti saja, aku Ipul dan ibu karena paklek Wanto beserta keluarga sudah kembali ke rumahnya siang tadi.


Kami bertiga berkumpul di ruang tengah,


“Bu prihal rumah ini, apa yang harus kita perbuat?”.


Tari membuka obrolan dalam ruangan tersebut.


“Entahlah nak, ibu tak tahu harus berbuat apa, rumah ini sudah ibu dan bapak kamu beli jauh sebelum mbah sakit, hanya saja waktu itu tak ada saksi dan tak ada surat menyurat tentang rumah ini”.


Ibu berfikir tidak akan jadi masalah di kemudian hari, toh ini kan sebenarnya juga rumah ibu. Dahulu saat masih jaman kejayaan mbah, mbah juga membagi sebagian hartanya untuk pakde dan paklek. Untuk pakde mbah memberikan tanah yang sekarang menjadi rumahnya itu, untuk paklek Wanto mbah juga memberikan modal usaha yang cukup besar ketika awal mendirikan usaha dulu.


Ibu pikir tidak ada masalah, ibu juga tidak menerima apapun dari mbah selama ini, sawah yang pakde garap saat ini juga milik mbah dan sawah itu kini dirawat oleh pakde. Ibu tak mungkin untuk meminta karena itu sumber utama penghasilan keluarga pakde.


“Lantas kita harus bagaimana bu?”.


Ibu mohon nak, perjuangankan rumah ini, rumah ini banyak memiliki kenanga dari mulai ibu kecil hingga kini, rumah ini juga satu-satunya harta peninggalan bapakmu yang di beli langsung olehnya pada mbah.


Tari bingung harus bersikap seperti apa? Karena tidak ada bukti yang kuat prihal pembelian rumah ini, bahkan saksi saat jual beli rumah ini saja tidak ada.


***


Kantor


Pagi harinya Tari sudah kembali ke Surabaya untuk kembali bekerja, hari ini ada meeting dengan beberapa manager divisi lainnya. Meeting dimulai pukul sepuluh pagi.


Sepanjang perjalanan meeting kali ini pikiran Tari tak fokus, melayang kemana-mana membayangkan tentang rumah mereka di kampung.


Beberapa manager yang lainnya sedang menyampaikan laporan bulanan mereka pada pimpinan.


“Manager riset di persilahkan untuk memberikan laporannya”.


“Manager riset!!!”.


Tari sama sekali tak menghiraukan, pikirannya benar-benar kacau pagi itu.


Salah satu teman di sebelahnya pun menyenggol dan memberikan kode.


“Giliran kamu tuh”.

__ADS_1


“Astaga”. Tari gelagapan dan tak siap.


Menyadari hal itu Randi menghentikan sejenak meeting pagi itu, karena dia tahu jika salah satu dari anggotanya tidak fokus.


“Meeting akan dilanjutkan minggu depan di jam yang sama dan ruang yang sama, dimohon tepat waktu dan kesiapannya”.


Semua orang dalam ruangan tersebut di perkenankan untuk meninggalkan ruangan tersebut.


“Bethari tunggu!!.


“Iya pak”, merasa namanya di panggil oleh sang atasan Tari menghentikan langkahnya sejenak.


“Bisakah kalau sedang bekerja fokus pada pekerjaan saja”.


Merasa mendapat peringatan Tari lekas menundukkan kepalanya, ini adalah pertama kalinya sepanjang sejarah selama bekerja di sini Tari mendapat teguran.


“Baik pak saya akan berusaha, saya mohon maaf atas kelalaian saya”.


“Kembalilah ke ruangan kamu sekarang dan tenangkan pikiranmu”.


***


Rumah ibu.


Tamu tersebut datang bersama dengan pakde untuk melihat-lihat kondisi rumah ibu, mereka memasuki satu persatu ruangan dan mengamati dengan detail keadaan rumah ini.


“Bagaimana pak? Apakah bapak tertarik dengan rumah ini?, rumah ini terdiri dari tiga kamar tidur dan satu kamar mandi, memiliki ruang tamu yang cukup luas untuk tempat berkumpul keluarga, selain itu halaman depan rumah juga luas bisa di gunakan untuk parkir beberapa kendaraan yang ada”.


Jelas pakde dan bude pada orang tersebut.


Sedang orang tersebut tampak mengangguk-anggukan kepalanya seperti menunjukan ketertarikan pada rumah itu.


“Prihal surat-suratnya bagaimana?”.


“Surat-suratnya lengkap pak, rumah ini milik orang tua saya, yang kebetulan sudah tiada”.


“Baik saya tertarik dengan rumah ini, kiranya berapa harga yang bapak tawarkan?”.


“Tidak mahal-mahal pak, asalkan pembayaran lekas diselesaikan”.


“Saya tawarkan 250 juta”. Bude bersuara untuk membuka harga.

__ADS_1


“Boleh kurang, tapi tak boleh banyak-banyak”.


Sementara itu, ibu yang berada di belakang terduduk lemas, kakinya tak mampu menopang beban tubuhnya. Hatinya kecewa saudara yang di perjuangkan dan slalu di bela kini berbuat zalim padanya.


Bagaimana bisa mas Dar menjual rumah yang sudah aku beli sebelumnya kini ibu menangis nelangsa.


Ibu sdah membicarakan prihal masalah ini pada Tari, hanya saja belum juga menemukan solusinya, karena secara hukum juga tidak kuat, rumah ini masih atas nama mbah untuk surat menyuratnya, prihal saksi saat jual beri rumah ini juga tidak ada.


Satu minggu kemudian, pakde beserta orang tersebut kembali datang ke rumah Tari, kali ini dengan membawa pak lurah dan sekertaris desa beserta pak RT setempat, tak lupa Paklek Wanto juga hadir saat itu juga.


Ibu gelagapan saat menerima tamu tak di undang tersebut, tangannya begitu bergetar saat menyalami satu persatu orang yang datang, mulutnya terkunci hanya matanya yang berkaca-kaca, seolah sebuah isyarat isi hatinya yang tak mampu di ungkapkan dengan kata-kata.


Ibu begitu kecewa.


Kecewa akan saudara-saudaranya.


Benar saja seperti dugaan ibu, ini adalah acara jual beri rumahnya, rumah yang di beli hasil kerja kerasnya dengan suaminya kini di jual oleh saudaranya sendiri, saudara sedarahnya, saudara yang sangat dia jaga hatinya.


Semua orang sudah berkumpul dalam ruang tamu tersebut, mereka duduk dengan begitu rapinya, sedang ibu mohon izin untuk kebelakang membuatkan minum. Suasana di ruang tamu penuh dengan lontaran canda tawa antara pak lurah, pakde dan calon pemilik rumah ini.


Namun sayangnya hal ini berbeda dengan ibu, ibu memandang seluruh isi rumah ini dengan tangisan, ya kini tangisnya tak dapat di bendung lagi.


Acara jual beli di mulai dengan pembeli rumah yang kebetulan bernama pak Anto menyerahkan sejumlah uang yang kemudian di terima oleh pakde, tak lupa sekretaris desa terebut mengabadikan moment tersebut sebagai bukti di kemudian hari.


Ibu tak kunjung menampakkan dirinya, masih di dapur, sesekali tangannya yang mulai keriput mengusap lembut pipinya yang basah oleh air mata.


“Mar cepetan kesini, giliran kamu yang tanda tangan”’. Teriak pakde dengan begitu kerasnya.


Ibu tak bergeming, tak ada niatan untuk bangkit dari tempat duduknya.


Merasa di abaikan dan memperlambat acara jal beli rumah ibi, bude berinisiatif untuk menjemput ibu yang ada di belakang.


“Ayo Mar cepetan, semua hanya tinggal menunggumu”.


Diam tak ada jawaban dari ibu.


Tak sabar dengan sikap ibu, bude meraih tangan ibu dan menyeretnya menuju ruang tamu.


Kini ibu sudah duduk di antara mereka semua, tangganya dengan bergetar memegang ballpoint yang ada untu tanda tangan surat tersebut, matanya kembali meneteskan air mata.


“Stop!!!”.

__ADS_1


Teriak seorang laki-laki yang datang dengan tiba-tiba tersebut.


__ADS_2