
“Tidak sayang, mungkin kamu salah mendengar. Aku hanya sedang membersihkan diri saja sebelum tidur"
“Kok matanya sembab Mas kalau tidak nangis?”,
"Masa sih, aku rasa tidak"
“Kamu kenapa jam segini bangun? apa ada yang menggangu pikiranmu?" desis Randi dengan pelan. Ia memberanikan diri untuk menatap wanitanya yang kini saling berhadapan.
“Aku mau ambil minum mas, kok perasaan tadi kedengaran orang nangis di dalam kamar mandi”.
“Ah mungkin hanya pikiran kamu saja sayang, atau jangan-jangan sedang mimpi”, goda Randi mengalihkan pembicaraan.
“Ah iya mas, aku rasa memang hanya alam bawah sadarnya saja yang sedang berkelana ke alam mimpi"
“Ayo lekas tidur tidur lagi’. Kini Randi menggiring istrinya untuk kembali naik ke atas ranjang, seperti biasah Randi akan memeluk istrinya dengan begitu posesifnya kala menjelang mereka tidur, mencium lembut seluruh kepala Tari tanpa terkecuali.
"Tapi aku mau ambil minum dulu mas, aku harus" desisnya dengan lirih dan hendak beranjak.
“Mas kalau ada masalah apapun itu cerita ya sama aku”. sebelum beranjak ia menyempatkan berbisik pada suaminya.
“Hem”.
“Mungkin aku tidak bisa membantu mengatasi masalahmu, tapi setidaknya aku bisa menjadi pendengar untuk keluh kesahmu”.
Randi terdiam tak memberikan reaksi. Namun wajahnya tak dapat di bohongi jika ia sedang dalam masalah besar.
“Trimakasih ya sayang, sekarang sudah malam ayo tidur dulu". ucap Randi ketika mendapati istrinya kembali dari mengambil air.
Keduanya lekas mencoba memejamkan mata masing-masing dalam dekapan sang pujaan hati, berlayar mengarungi mimpi yang indah bersama.
Randi begitu tenang kala berdampingan dengan istrinya
***
Satu minggu kemudian, Randi benar-benar mengacuhkan perintah Mama untuk mengikut tasyakuran kehamilan Mawar, dengan tegas Randi lebih memilih untuk menemani Rahayu menjemput Risma di rumah ibunya.
“Mama kecewa sama kamu Ran, padahal ini moment yang sudah lama sekali Mama tunggu-tunggu, kenapa kamu tega sekali pada Mama?”.
“Ma acara syukuran bisa di undur beberapa hari lagi, tolong beri aku waktu untuk bersama Tari dan keluarga kecilku”.
“Keluarga kecil macam pa yang kamu maksud? Dengan mengambil anak yang tidak jelas asal usulnya dan menyianyiakan calon ank sendiri”, desis Mama yang kesal dengan anaknya.
__ADS_1
"Ayolah Ma tolong pengertiannya".
“Sudahlah Ma, apa salahnya turuti saja dulu permintaan Randi toh juga cuma sehari di sana, syukuran bisa di undur minggu depannya lagi”, Kini Papa turut angkat bicara tak tega melihat Randi yang seperti dalam kegelisahan antara dua pilihan yang berat.
“Terserah kalian sajalah". Mama berlalu begitu saja meninggalkan anak dan suaminya yang sedang di gerai laundry tersebut.
“Pergilah”, Papa menepuk-nepuk pundak Randi memberikan ijin sang anak untuk pergi.
Tak butuh waktu yang lama Randi dan Tari lekas bergegas bersiap untuk ke rumah Ibu menjemput Risma. Sepanjang perjalanan wajah Tari diliputi rasa bahagia yang tiada tara kala akan berjumpa dengan Ibu dan juga anak angkatnya.
“Mas trimakasih ya, aku senang sekali”.
Randi tersenyum hangat memandang wajah istrinya yang begitu ceria kala itu.
“Ya Allah tolong jangan ambil senyum istriku, aku sangat mencintainya”. doanya dalam hati yang terus menjerit-jerit memohon pada sang kuasa untuk memberikan kebahagian pada istrinya.
***
Rumah Ibu
Sesampainya di rumah Ibu, Tari lekas di sambut dengan pelukan angat anak kecil yang berlari menghampirinya.
Bunda.....teriaknya dengan begitu kencang dan tangan yang merentang sempurna seolah meminta untuk di peluk.
Jadi seperti ini rasanya punya anak, ketika tidak berjumpa dalan beberapa waktu. Saat berjumpa akan di suguhi dengan pemandangan dan perlakuan yang menakjubkan.
“Sayang, apa kamu betah di sini sama nenek?”, tanya Tari dan lekas mengangkat tubuh Risma yang tak lagi kecil.
“Aku senang di sini, nenek baik sekali, aku di belikan banyak makanan dan juga baju”. Celotehnya dengan nada anak kecil.
“Tapi aku juga pengen ikut bunda, katanya aku mau di jadikan anak ayah dan bunda”. Wajahnya mendongak ke atas menghadap Tari dengan mata penuh pengharapan.
“Iya sayang, ini bunda lagi jemput kamu untuk tinggal bersama bunda di rumah Ayah, di sana juga ada nenek dan kakek”.
“Benarkah?”.
Tari menganggukkan kepalnya dengan tersenyum.
“Yeyeye”.
Sementara Randi tersenyum melihat pemandangan yang ada di depannya, melihat istrinya tersenyum dengan lepas, melihat Risma yang bahagia senengnya.
__ADS_1
Jika boleh memilih, Randi lebih memilih untuk hidup tanpa darah dagingnya sendiri pun rela asalkan bisa hidup dengan Tari selamnya, toh soal anak mereka masih bisa mengadopsi.
Ah sudahlah nasi sudah menjadi bubur, iya melamun sendiri.
Tari dan Risma lekas masuk ke dalam rumah Ibu sementara Ipul dan Randi sedang membawa barang-barang yang mereka bawa dari Surabaya.
***
Sore harinya, Tari lekas berkunjung ke rumah Bude ingin melihat proses persiapan pernikahan mas Udin yang akan di lakukan besok pagi. Tari pergi dengan menggandeng Risma ke sana sementara Randi sudah di sana dengan Ipul membantu merangkai kembang mayang.
“Assalamualaikum Bude, Pakde”, sapanya dengan mencium tangan mereka.
“Waalaikumsalam, kamu baru sampai Tar?”.
“Sudah dari tadi siang Bude tapi tadi beres-beres dulu baju-bajunya Risma yang mau di bawa ke Surabaya”.
Tari duduk di ruang tengah dan turut serta membungkus beberapa jajanan yang ada di hadapannya.
Hawa-hawa pengantin sudah mulai tercium, suara sound sistem khas acara nikahan desa sudah dinyalakan, tetangga bergotong royong membantu membuat jajan dan persiapan lainnya. Harum bunga melati khas pengantin Seta beberapa kerabat yang sudah mulai berdatangan.
“Tar, kamu beneran jadi adopsi anak ini?”, lirik Bude dengan memandang Risma yang sedang asyik menikmati kue di depannya.
“Iya bude, biar ada temannya dan gak kesepian”.
Tari tersenyum menjawab pertanyaan Budenya dan sesekali melihat tingkah Risma yang lucu.
“Tar sebaik-baiknya anak adopsi juga mending anak sendiri Tar. Hati-hati kamu laki-laki kalau punya istri yang tidak lekas punya anak bisa kepincut sama wanita lain yang bisa memberinya anak”.
Deg.
“Doakan saja Bude, biar keponakan Bude ini lekas di beri titipan momongan”.
“Beneran deh Tar, kamu harus usaha lebih keras lagi untuk lekas punya anak, jangan sampai nih diam-diam suami kamu menikah lagi tanpa sepengetahuan kamu terus punya anak dari wanita lain, dih amit-amit”. Bude mengatakan dengan begitu lancarnya tanpa memikirkan perasan Tari.
Tari tersenyum kecut mendengar ucapan Budenya.
“Tidak Bude, mas Randi bukan laki-laki seperti itu, mas Randi laki-laki yang berprinsip baik dan teguh pendiriannya”.
“Ya siapa tahu saja Tar dia khilaf nantinya, ya sudah kamu makan dulu sana mumpung di rumah Bude lagi masak-masak”. Perintah Bude dan lekas berlalu meninggalkan Tari dan risma yang masih di ruang tengah.
Wajah Tari yang ceria berubah menjadi mendung nan gelap, Randi yang melihat dari kejauhan perubahan raut wajahnya lekas datang menghampiri istrinya.
__ADS_1
“Kamu kenapa sayang?”.