
Suasana kamar yang hangat, tiba-tiba menjadi dingin dan tidak enak, Tari yang mendadak menjadi pendiam, enggan untuk mengeluarkan satu patah katapun membuat Randi menjadi kelimpungan.
Sementara Risma mulai merengek meminta di bacakan dongeng sebelum tidur.
Tari, tak bergeming, ia lebih memilih untuk diam sejenak, menetralkan segala amarah yang ada. Hatinya benar-benar sakit jika teringat tentang mertuanya yang mengumbar kekurangannya.
“Ayo sayang Risma, sama Ayah dulu ke kamar, nanti Ayah bacakan dongeng di sana”.
“Beneran Yah”.
“Bunda juga?”.
“Bunda di sini saja dulu sayang, kepala Bunda sedang pusing biarkan Bunda, istirahat dulu ya”.
Tari tersenyum pada sang anak, membelai lembut rambutnya dan menatap lekat-lekas mata Risma.
“Sayang, Risma sama Ayah dulu ya bubuknya biar di bacakan cerita. Bunda ingin istirahat sejenak”.
Gadis kecil dengan balutan piyama warna biru itu mengangguk menuju kamarnya.
Dengan cukup telaten Randi membacakan lembar demi lembar dongeng yang ada di buku cerita milik Risma. Kali ini ia membacakan dongeng tentang kisah seorang anak yang jujur.
Risma sudah bersiap dengan berbaring di atas ranjangnya, memeluk guling yang ada di sisi kirinya sedang Randi berada di sisi kanannya. Tak lupa ia juga membawa boneka hello kity hadiah pertama yang di berikan Tari untuknya beberapa waktu yang lalu.
“Bagaimana tuan puti apa sudah siap mendengarkan ceritanya?”.
“Siap Ayah”. jawabnya dengan cukup antusias.
“Tapi setelah Ayah bacakan dongeng, tuan putri yang cantik ini tidur ya, jangan malam-malam besok kan mau sekolah”.
Gadis kecil, di bawah selimut itu kembali menganggukkan kepalanya saja.
Alkisah, ada seorang anak yang sedang mengembara jauh, demi untuk menuntut ilmu. Sebut saja ia Muhamad Ali Ramadhan. Sebelum berangkat memulai perjalanan, Ibu Ali berpesan.
“Wahai anakku, janganlah engkau sekali-kali berkata dusta. Sebab dengan berdusta hanya akan membawamu menuju kebohongan lainnya. Sedangkan kejujuran akan membawa dirimu pada keselamatan walaupun kejujuran yang kau lakukan itu akan membawa pada kebinasaan’.
Ali mengangguk-angguk kepalanya mendengar nasihat sang Ibu.
Ali pun memegang erat -erat pesan Ibunya dalam hati dan pikirannya. Dalam perjalanan menutut ilmu Ibu Ali memberikan bekal uang sebanyak seratus dirham.
__ADS_1
Suatu ketika, di tengah-tengah perjalanan Ali, di datangi oleh sekelompok perampok. Mereka bertanya pada Ali yang sedang dalam perjalanan seorang diri menuntut ilmu.
“Wahai anak kecil, apakah engkau membawa uang?”
Ali dengan sigap menjawab “Iya aku membawa uang”.
“Betulkah kamu membawa uang?”. Perampok tersebut merasa ragu dan kembali bertanya pada Ali. Karena setiap orang yang kami tanya pasti akan menjawab tidak ada uang. Lantas kami akan merampas semua hartanya.
“Iya sungguh aku membawa uang. Jawab Ali dengan begitu tenangnya.
Segerombolan perampok itu tertawa terbahak-bahak secara bersamaan. Mereka tak percaya dengan ucapan Ali, dengan penampilannya yang lusuh dan kumuh mengaku pula pada perampok bahwa ia membawa sejumlah uang.
“Wahai Ali, apa kamu hanya hendak mengolok-olok dan menghina kami?”.
“Aku tidak sedang mengolok-olok kalian atau menghina, aku mengatakan yang sesungguhnya, jika aku mempunya uang”.
“Kenapa kamu berkata jujur? Tidak takutkah uang yang kamu bawa akan kami rampas?”.
“Ibuku telah berpesan agar slalu berkata jujur, sungguh aku tidak berani melanggar nasihat Ibu”.
Mendengar jawaban anak kecil tersebut, pimpinan kelompok rampok tersebut menangis. Ia menjadi sadar akan kejahatan dan dosa-dosanya selama ini.
“Kamu merasa takut mendengar nasihat Ibumu agar tak berdusta, sedang aku selama ini tak merasa takut jika Allah marah akibat kejahatanku pada manusia. Wahai Ali, kamu telah memberikan peringatan yang keras untukku.
Sudut mata Randi, berair kala membacakan dongeng tentang kejujuran pada Risma, ia teringat akan dirinya saat ini yang sedang menutupi suatu kebenaran dari istrinya.
“Aku akan memberi tahu Tari setelah ini, aku tidak mau hidup dalam kebohongan selamanya”. Matanya nanar memandang gadis kecil di bawah selimut yang sudah tertidur pulas.
Randi merapikan selimut yang digunakan Risma, mematikan lampu ruangan dan mengganti dengan lampu tidur. Sebelum beranjak dari kamar Risma ia memegang dadanya berkali-kali.
“Ya Allah berilah kekuatan padaku, untuk mengatakan semuanya pada istriku. Aku tak ingin menyakitinya lebih dari lama lagi”.
Kakinya melangkah, kembali menuju kamarnya.
“Sayang aku tahu jika kamu belum tidur?”.
Randi memasuki kama, duduk di sebelah Tari yang sedang berbaring membelakanginya saat ini. Tari lebih memilih untuk menghadap ke tembok dan mengacuhkan Randi.
Punggungnya bergetar menahan tangis.
__ADS_1
“Atas nama Mama aku minta maa, atas segala kesalahan yang sudah di lakukan padamu”.
Tak ada jawaban dari Tari, hanya tangisnya kini sudah tak mampu lagi ia bendung.
“Tidak ada yang perlu di maafkan sebenarnya Mas. Hanya saja aku kecewa pada Mama, mengapa ia mengatakan pada orang lain bahwa aku tidak bisa punya anak. Aku bukan malu karena belum memiliki anak, tapi itu kan masalah rumah tangga, alangkah baiknya jika tidak untuk di konsumsi publik”.
“Aku kecewa Mas”. ucapnya dengan penuh penekanan.
“Aku tahu sayang, maafkan Mama. Tangan Randi terulur memeluk Tari yang sedang menangis sesenggukan.
Tari sudah tidak bisa berbicara apa-apa, ia hanya menangis sejadi-jadinya dalam pelukan Randi. Menumpahkan segala kecewa di sana. Mungkin ini hal sepele bagi orang tapi tidak dengan Tari, jika sudah menyangkut masalah anak.
Randi mencoba menenangkan, dengan memberikan pelukan ternyamannya. Hati Randi pun sama hancurnya kala melihat istrinya menangis seperti ini.
“Biar nanti Mas, yang bicara sama Mama sayang”.
“Tidak Mas, aku yang akan bicara sendiri pada Mama”.
Keduanya saling berpelukan, mencoba memberikan ketenangan. Malam itu dengan balutan hujan yang lebat Tari menggenggam kecewa untuk yang pertama kalinya pada Mama mertuanya, sedang Randi dihantui rasa bersalah yang tiada habisnya setelah menikahi Mawar.
Keduanya saling berpelukan dan memejamkan mata, hanya saja mereka sama-sama tidak dapat tertidur dengan pulas.
***
Keesokan harinya, Tari bangun lebih pagi dari biasanya. Ia ingin berbicara langsung dengan Mama mertuanya. Tari memilih untuk berbicara di taman belakang, karena setiap pagi Mama, slalu ada di sana untuk merawat tanamannya.
“Aku harus meluruskan segalanya, aku harus meminta penjelasan dari Mama sebelum aku semakin berfikir buruk tentangnya”. Langkah Tari, perlahan mulai mendekat di sisi Mama, yang sedang menyiram bunga anggrek warna putih.
“Ma ada yang mau Tari, tanyakan sama Mama”.
“Ada apa?”. Tanya Mama sembari mengambil beberapa helai kelopak bunga angger yang jatuh mengering di sekita tanamannya.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Jangan lupa like, subscribe teman-teman.