
...Hay teman-teman aku datang kembali membawa cerita kehidupan Bethari selepas perpisahan dengan Randi. Happy reading ya. Ikuti terus kisah mereka. Kepada siapakah hati Tari akan berlabuh setelah ini?...
💞
💞
💞
“Aku pamit dulu ya, kalian jaga toko baik-baik. Aku hanya sebentar saja” Suara seorang wanita setengah berteriak, ia memakai lengkap aksesoris untuk berkendara siap membelah panasnya jalannya.
Siang yang terik, kala sang surya memancarkan sinarnya tepat di atas ubun-ubun. Jam menunjukan waktu istirahat untuk sebagian pekerja di kantor maupun di pabrik. Jalanan cukup padat merayap. Rentetan mobil maupun motor masih memenuhi jalanan, saling beradu untuk mencapai tujuan lebih dulu.
Brum....brum....
Udara yang panas di iringi dengan kemacetan yang saling berkolaborasi, tak menyurutkan langkah seorang Ibu muda yang sedang hendak menjemput anaknya pulang sekolah. Di saat sebagian orang lebih memilih untuk beristirahat mengisi perut yang keroncongan untuk makan, ia lebih memilih untuk menjemput anak semata wayangnya yang sedang menempuh sekolah jauh dari tempat tinggalnya saat ini. Mengingat ia tinggal di daerah pedesaan yang jauh dari fasilitas layak untuk memenuhi standar sekolah yang ia harapkan. Ia tak punya pilihan lain, selain berangkat sendiri untuk menjemput anaknya.
Berkali-kali ia melirik ponsel yang ada dalam saku celananya, berharap tidak terlambat saat menjemput sang anak di sekolah. “Tujuh menit lagi, tujuh menit lagi kelas akan selesai. Aku harus sampai lebih dulu sebelum anakku menyelesaikan kelasnya. Ah bagaimana bisa ini, aku malah harus terjebak di lingkar kemacetan semacam ini’. Rintihnya dalam hati.
Tin...Tin....Tin...
Berkali-kali ia membunyikan bel sepeda motornya, berharap akan mendapat jalan dari pengendara yang sedang berada didepannya.
“Hah, bagaimana bisa jalanan semacet ini, apa ini adalah keputusan yang salah? Memindahkan sekolah Risma ke kota?”. Gerutunya kembali dengan frustasi, kala ia bergeser ke kanan dan ke kiri mencari celah, namun sayangnya semua penuh tertutup oleh pengendara yang lainnya.
Tujuh meniti kemudian, sepeda motor yang di kendarainya mulai dapat berjalan dengan pelan, ia melewati celah-celah kecil di antara mobil, masih berharap tidak akan telat sampai di sekolah sang anak.
Namun sayang, dengan segala perjuangan yang ada ternyata tak watu tak berpihak padanya. Ia masih telat, area sekolah sudah terlihat sepi, hampir tak ada satu pun penjemput yang tersisa di sana.
Huft ia menghela nafas panjang, “Aku akan berusaha untuk tidak telat besok” ucapnya dalam hati. Ia lekas berlari memasuki sekolah tersebut, meninggalkan sepedanya terparkir di halaman depan. Ia berlari tanpa sempat untuk melepas helem yang di gunakan di kepalanya. Matanya memindai area sekolah, mencari keberadaan sang putri.
“Bunda...”. Teriak seorang anak perempuan sambil berlari menuju arahnya, ia lekas menghambur menuju pelukan sang Bunda.
Benar saja. Ibu muda itu adalah Bethari Ambarwati. Seorang single parent, dengan satu anak perempuan berusia delapan tahun. Sudah lebih dari tiga tahun ini ia berpindah di sini. Di salah satu kabupaten kecil yang ada di Jawa Timur.
__ADS_1
Satu bulan yang lalu, ia memindahkan sekolah anaknya ke kota, hal ini bukan tanpa alasan. Mengingat sistem pendidikan di Kota sedikit lebih baik dari pada di Desa tempatnya tinggal. Sebagai orang tua tunggal, ia hanya menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Berusaha untuk memberikan segala kebaikan semampu yang ia bisa.
“Maafkan Bunda ya nak, Bunda telat jemput Risma”. Ucapnya dengan mengelus lembut pucuk kepala sang anak, yang di balut dengan hijab instan. Gadis kecil itu sangat cantik dan pandai, siapapun yang melihatnya tak pernah lupa untuk memuji wajahnya. Meskipun bukan anak kandungnya, tak jarang sebagain orang mengira jika mereka adalah anak dan ibu, tentu hal ini tidak menjadi masalah untuk Tari, justru ia semakin suka.
“Siang Bunda”. Sapa salah satu guru, yang menemani Risma menunggu jemputan sejak tadi.
“Siang Bu Santi, maafkan saya membuat Bu Santi, harus menemani Risma menunggu jemputan”. Ucapnya dengan menunjukan raut wajah yang bersalah.
“Tidak apa-apa Bunda, sudah menjadi tugas dari seorang guru di sini untuk menemani para sisanya yang belum di jemut oleh orang tua atau walinya”. Bu Santi, mengelus lembut pundak Risma.
“Bagaiman dengan perkembangan Risma Bu? Apakah ia kesulitan dalam bergaul dan berteman?”. Tanya Tari pada gurunya, mengingat Risma baru beberapa bulan ini pindah ke sekolah ini.
“Saya rasa tidak ada masalah Bu, Risma dapat dengan mudah bergaul dengan teman-temannya, ia cukup pandai. Risma juga dapat dengan mudah mengikuti setiap rangkaian kurikulum yang telah di siapkan di sekolah ini”. Bu Santi menjelaskan dengan lembut.
“Ya sudah kami permisi dulu ya Bu, saya harus kembali ke toko”. Pamitnya dengan menggandeng tangan Risma, menuju sepeda yang terparkir didepan halaman. Sementara Risma lekas mencium tangan Bu Santi.
Sepanjang perjalanan Risma tak henti-hentinya bercerita tentang kegiatannya selama di sekolah hari ini. Dengan sisa-sisa pendengaran yang ada Tari, berusaha untuk mendengarkan setiap kata yang terucap dari mulut anaknya.
Hampir tiga puluh menit menempuh perjalanan, sampailah motor mereka di rumah yang sudah tiga tahun ini menjadi tempat mereka berlindung dari badai dan hujan.
“Assalamualaikum”. Ucapnya dengan mengetuk pintu dan langsung memasuki rumah tersebut. Ia meletakkan beberapa barang bawaan Risma di dalam kamar sang anak.
“Wassalamualaikum, wah cucu nenek sudah pulang? Ayo makan dulu. Nenek masak sayur bening dengan ayam goreng, pasti enak sekali apalagi cuaca sangat terik seperti ini”. Bu Marni, lekas mengambil piring dan menyiapkan makan siang untuk Risma.
“Kamu tak makan dulu Tar?”. Tanyanya ketika melihat sang anak meraih tasnya hendak keluar.
“Aku harus lekas kembali ke toko Bu. Jam istirahat akan segera berakhir. Kasian nanti anak-anak di sana pasti kerepotan, apa lagi ada pesanan untuk jam tiga sore nanti” Ceritanya dengan singkat, dengan mengambil satu bakwan jagung yang tertata rapi di atas meja makan.
“Ibu akan menyiapkan bekal juga untukmu makan siang. Tunggu sebentar”.
“Baik Bu, trimakasih” Tari tersenyum dan memberikan pelukan kecil pada Ibunya.
.
__ADS_1
.
.
Surabaya.
Tiga tahun sudah Bu Srining menderita struk, selepas peristiwa terbongkarnya identitas menantu idamannya dulu. Ia masih sama bertindak semaunya. Ingatannya belum sepenuhnya kembali. Terkadang ia masih sering mengendong boneka kemanapun yang ia mampu.
Cara berbicaranya pun demikian, ia masih tertatih dan kesulitan. Setiap kata yang terucap dalam mulutnya adalah “Jemput Tari, jemput menantuku, bawa kembali dia pulang”.
Malam itu, di ruang makan, tiga orang sedang menikmati makan malamnya dengan hampa. Seperti hari-hari sebelumnya mereka menikmati makan malam dengan suasana yang entahlah. Tak ada interaksi yang berarti selain dentingan sendok dan garpu yang saling beradu satu sama lainnya.
Pak Naryo, merogoh saku kemejanya, ia menyerahkan satu kartu nama di sana.
“Menurut teman-teman Papa, ada dokter hebat di daerah itu”. Ia menyerahkan kartu nama tersebut tepat di hadapan Randi.
Randi menghentikan sesat aktivitas makannya, Ia mencoba membaca alamat yang ada dalam kartu nama tersebut.
“Papa harap, kamu bersedia membawa Mama untuk berobat ke sana. Siapa tahu dengan terapi di sana bisa membawa kesembuhan untuk Mamamu”.
Bu Srining hanya diam saja tak menjawab, ia menatap dengan kosong dan duduk di kursi roda. Sesekali ia akan tersenyum dan mencari kembali keberadaan boneka yang selama tiga tahun ini telah menemaninya.
“Pengobatan seperti apa lagi yang Papa harapkan untuk Mama Pa? Mama tidak hanya sakit fisiknya Pa, terlebih mentalnya”. Ucap Randi dengan menatap sang Ibu.
“Sudah tiga tahun Ran, Mama seperti ini. Apa kamu tega membiarkan ia selamanya seperti ini di sisa-sisa usianya?”.
.
.
.
Jangan lupa dukungannya ya, tekan semua tombol yang ada di bawah 😊
__ADS_1