Duri Dalam Keluarga

Duri Dalam Keluarga
Sebuh Rahasia


__ADS_3

Pagi harinya seluruh anggota keluarga yang tinggal dalam rumah itu lekas bersiap menjalankan aktivitasnya seperti biasa untuk beraktivitas di luar rumah semuanya.


Hari ini Tari memohon ijin pada Randi untuk tidak usah menjemputnya di toko roti sepulang dari kerja, Tari ingin berkunjung ke rumah Fitri menjenguk sekaligus untuk bercerita tentang Risma anak angkatnya yang akan lekas di bawa pulang minggu depan.


Randi menuruti permintaan istrinya, toh Fitri juga sepupunya dan rumah mereka tidak terlalu jauh hanya sekitar empat kilo meteran. Randi berpesan nanti ketika sudah mau pulang dari rumah Fitri untuk memberikan kabar agar ia bisa menjemputnya.


***


Rumah Fitri


Sesampainya di rumah Fitri, Tari di sambut hangat oleh Arsy anak pertamanya Fitri, gadis cilik itu langsung merengek minta gendong tari. Dengan senang hati Tari menggendong tubuh Arsi yang sudah mulai berat itu.


Arsi bercerita banyak hal pada Tari tentang mainannya, tentang bonekanya dan tentang teman-temannya di sekolah. Berbicara soal teman Tari jadi teringat dengan Risma, bukankah usia Arsi dan Risma hampir seumuran dan mereka sama-sama cewek jadi akan lebih mudah akrab dan bisa menjadi sahabat seperti orang tua mereka.


Tari juga banyak bertanya pada Fitri tentang sekolah Arsi, rencananya nanti Tari akan memasukan Risma di sekolah yang sama dengan Arsi. Selain bercerita banyak tentang kegiatan sekolahnya Arsi juga meminta Tari untuk menyuapinya kala itu.


“Maaf ya Tar merepotkan, Arsi suka rewel kalau makan pilih-pilih mau makan sama siapa?”.


Gadis kecil itu merengek dan meminta Tari yang menyuapi, jika bukan tante Tari yang menyuapi dia akan menangis dan mogok makan.


Dengan sigap Tari meraih piring kecil itu dan dengan telaten menyuapi suap semi suap hingga habis seluruh isi dalam piring tersebut.


“Bilang apa sayang kalau sudah kenyang?”.


“Alhamdulillah”. Arsi dan Tari kompak mengucapkan hamdalah.


Setelah drama makan selesai kini Arsi meminta Tari untuk membacakan dongeng untuknya di kamar. Tari lekas memenuhi permintaan Arsi meskipun capek ia bahagia sekali. Mungkin seperti ini rasanya mempunyai seorang anak. Pulang kerja di sambut dengan hiruk pikuk teriakan manja mereka sesekali juga di warnai dengan tangis mereka.


Tari tersenyum hangat melihat anak-anak Fitri yang sedang bermain bersamanya.


Tak terasa waktu menunjukan pukul sembilan malam, terlalu asyik hingga membuat Tari lupa waktu untuk lekas pulang. Tari merasa bebas main di rumah Fitri karena suaminya sedang tidak di rumah jadi mereka dapat lebih leluasa untuk saling bertukar cerita, entah tentang pasangan, mertua ataupun yang lainnya.

__ADS_1


Tari memohon ijin untuk pamit pada arsi tapi sayangnya bocah empat tahun ini malah merajuk dan menangis, ia tak memperbolehkan Tari untuk pulang begitu saja.


Tari berinisiatif untuk membacakan buku cerita kembali tapi dengan mode tiduran, dengan penuh kesabaran dan ketelatenan Tari membaca halaman demi halaman buku cerita yang ada, sedang Fitri memperhatikan dari balik pintu, ia sengaja memberikan ruang pada Tari untuk mengenal anak dan menjadi ibu.


Setengah jam kemudian, mulai terdengar dengkuran halus yang menandakan jika Arsi sudah tertidur. Tari lekas keluar kamar merapikan kamar tidur arsi memberinya guling di sisi kanan dan kirinya agar ia lebih nyaman saat tidur. Tak lupa Tari juga menyalakan aroma terapi untuk kamar itu.


Randi sudah menunggu di ruang tamu, keduanya lekas berpamitan untuk pulang dan berjanji akan berkunjung kembali di lain waktu.


***


Tak banyak obrolan yang mereka ucapkan sepanjang perjalanan menuju rumah selain sudah mengantuk jarak rumah juga sangat dekat. Hanya sesekali Randi bertanya.


“Apa kamu bahagia sayang hari ini?”.


“Bahagia sekali mas”. jawab Tari dengan sangat antusias, kemudian sedikit ia membagi cerita pada Randi tentang kegiatannya hari ini bersama Arsi.


“Mas aku jadi tak sabar untuk lekas menjemput Risma dan membawanya tinggal bersama kita”. Ucapnya dengan menatap jalanan yang mulai sepi.


“Sabar ya sayang satu minggu lagi kita jemput Risma, sekalian kita datang ke acara nikahan mas Udin”. Jawab Randi dengan menggenggam tangan Tari dan sesekali mencium tangan itu.


“Istirahatlah sayang kamu pasti lelah sekali”.


Tari hanya menganggukkan kepalanya saja.


Begitu juga Randi yang sudah bersiap untuk tidur, Randi turut merebahkan diri di samping Tari, tangannya membelai lembur rambut istrinya dan membawanya dalam dekapan.


Tak butuh waktu yang lama Tari sudah berada di alam mimpi, mungkin karena ia terlalu lelah hari ini, jadi dengan mudahnya untuk tertidur. Mendengar dengkuran halus istrinya Randi kembali beranjak dari pembaringan.


Randi menuju balkon kamarnya, mengacak-ngacak dengan kasar rambutnya. Harusnya saat ini menjadi moment yang paling membahagiakan dalam hidupnya kala mendengar kehamilan istrinya sayangnya ini bukan Tari yang hamil melainkan Mawar. Wanita yang sama sekali tak ia cintai sedikitpun.


Tok...tok...tok...

__ADS_1


Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Randi, ia lekas beranjak dan membukakan pintu.


“Mama”, ucapnya dengan singkat.


“Ran, tau gak hari ini Mama bahagia sekali. Akhirnya Mama akan punya cucu.Menantu Mama telah hamil, sungguh Mama gak sabar untuk melihat bayi kecil itu lahir" ucap Bu Srining dengan tersenyum lebar.


Randi melotot sempurna mendengar ucapan sang Mama dan lekas menarik Mamanya untuk keluar dari kamarnya menutup dengan rapat pintu kamar.


Randi membawa Mamanya menuju teras.


“Kenapa Ran? Apa kamu tidak bahagia dengan kehamilan istrimu?”, tanya Mama dengan memandang lekat wajah sang putra yang tak menemukan sedikitpun raut bahagia dalam wajahnya.


“Ma, bagaimana aku bisa bahagia, aku sudah mengkhianati Tari dengan begitu sengaja”. Suaranya bergetar menahan tangis.


“Randi, kamu itu tidak mengkhianati Tari, kita akan memberi tahu hal ini pada Tari nanti jika sudah pas waktunya”. ucap Mama dengan mencoba mengelus pundak sang anak.


Sementara Randi lekas menjauhkan tubuhnya dari jangkauan Mama.


“Minggu depan kita akan mengadakan syukuran di rumah Mawar untuk merayakan kehamilannya dan juga mendo’akan anak kalian”. Ucap Mama dengan penuh semangat.


“Ma, minggu depan aku harus mengantar Tari pulang untuk menjemput Risma sekaligus menghadiri acara pernikahan Mas Udin”. Jawab Randi mencoba menolak.


“Randi, Risma hanya anak angkat”.


“Tapi Ma syukuran bisa di lakukan di lain hari, aku mau mengantar istriku menjemput Risma dan bertemu keluarganya”. Ucap Randi dengan meninggalkan Mama yang masih berada di teras luar.


“Randi...” teriak Mama.


“Mama tidak suka di bantah”.


“Mama tidak mau tahu syukuran harus tetap diadakan minggu depan, lagian Tari sudah dewasa ia bisa pulang sendiri ke rumahnya”. Ucap Mama dengan mendengus kesal.

__ADS_1


Randi yang dari tadi mencoba menahan emosinya kini mulai terpancing dan kembali menghampiri sang Mama, bagaimana bisa ia harus menuruti segala keinginan Mama demi mewujudkan rasa bakti dan cintanya pada orang tua.


Menikahi Mawar, memiliki anak dari Mawar itu semua sama sekali bukan keinginannya.


__ADS_2