Duri Dalam Keluarga

Duri Dalam Keluarga
Rama


__ADS_3

Tanya seorang laki-laki, yang mungkin masih berstatus lajang. Tubuhnya tinggi proporsional, kulitnya putih serta memiliki hidung yang mancung. Perawakannya laki-laki jawa tulen, hanya saja kulit tubuhnya cenderung putih. Tampan, ya tampan begitulah satu kata yang singgah di pikiran Tari saat itu. Untuk beberapa detik, ia terpukau. Tak dapat di pungkiri wajahnya mampu membuatnya berkata.


“Masayallah indahnya ciptaan Tuhan”.


Ia tertegun dengan mulut yang masih menganga, enggan untuk bersuara menjawab pertanyaan pemuda itu.


“Hay sedang apa?”. Tanyanya kembali, dengan tangan yang melambai-lambai di depan wajahnya, seolah sedang menyadarkan lamunan Tari saat itu.


“Astaga aku melamun”, desisnya dalam hati.


“Oh iya maaf, ada apa?”.


“Haduh cantik-cantik kok telmi sih, jangan banyak melamun di sini Mbak, konon katanya di sini dulu ada seorang wanita yang setiap hari kerajaannya melamun dan melamun sepanjang hari, lantas tiba-tiba ada sosok hitam dan besar sekali yang tiba-tiba menerkamnya dan membawanya kabur entah kemana, kabarnya hingga saat ini wanita itu belum juga kembali”.


Krik...krik...krik...


Tari terdiam untuk beberapa saat, ia tak tersenyum dan tak menunjukan raut wajahnya takut.


Pemuda itu, menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal, sambil menoleh ke kanan dan ke kiri.


“Oh gak lucu ya?”, ucapnya kembali mencoba menetralkan suasana.


“Hem”, jawab Tari sekilas dan melanjutkan untuk mencari ikan ****** di genangan air yang dalam tersebut.


“Mbak, jangan masuk di situ!. Airnya dalam sebenarnya apa yang mbak cari?”.


Tari mengerutkan dahinya sejenak, “ganteng sih tapi kok cerewet SKSD pula”.


“Hey Mbak, jangan masuk ke dalam genangan sebelah situ. Airnya diam tapi itu dalam sekali, kamu akan tenggelam nanti”. Ucapnya kembali pada Tari, dengan raut wajah yang khawatir.


“Mbak, kamu tidak sedang gila kan?”. Ucapnya lagi dengan menaikan sedikit intonasinya lebih keras namun tetap lembut.


Tari menoleh sejenak ke sumber suara.

__ADS_1


“Ya aku memang sedang bersedih, tapi bukan berarti aku mau bunuh diri jga kali”. ucapnya dalam hati.


“Mbak!”.


Karena jengkel dengan suara berisik yang di timbulkan, Tari memutuskan untuk menghentikan langkahnya dan berbalik badan, ia berjalan mendekat ke arah pemuda itu.


“Jadi sebenarnya mbak, di sini mau ngapain?, kalau mau mandi di sana, kalau mau buang air besar di sebelah sana, kalau mau buang air kecil di sana, kalau mau cuci baju bisa di sekitar area sini”, Tunjuknya dengan tangan mengarah ke berbagai arah.


Sungai di Desa Suka Maju, memang masih aktif di gunakan warga sekitar untuk keperluan sehari-hari mereka. Misalnya untuk mandi, para warga memilih bagian ujung paling atas sungai yang di gunakan untuk mandi. Di sana juga terdapat batu-batu besar alami yang mampu menutup tubuh mereka ketika sedang berendam untuk membersihkan tubuh.


Untuk mencuci baju dan membersihkan beberapa peralatan rumah tangga, warga memilih bagian tengah sungai, di sana airnya relatif tidak terlalu dalam dan jernih. Tak ada batu-batu besar yang menghalangi sehingga mempermudah untuk menggosok baju.


Sementara untuk buang air besar dan air kecil, warga memilih di bagian hilir sungai. Sengaja di pilih yang paling ujung dari sungai yang ada di desa itu, agar airnya tidak terlalu banyak terkontaminasi kotoran manusia.


“Saya...”.Tari gugup, ia jarang sekali berkomunikasi dengan lawan jenis selain dengan mertua dan suaminya.


Dor....


Gertaknya dengan tertawa renyah, dan tangan ke atas.


“Saya sedang mencari ikan laga”.


“Ikan laga?”, ia mengerutkan dahinya sejenak, rasanya kok asing mendengar ikan laga.


“Ikan cupang”. Tari menjawab sebelum pemuda tersebut sempat untuk bertanya.


“Oh ikan ******, kalau ikan ****** carinya bukan di situ, bukan juga dengan membawa pancing seperti itu”. Ia tertawa dan menunjuk pancing yang ada di genggaman Tari.


“Ayo ikut aku, biar aku carikan”.


“Eh tidak usah mas trimakasih”.


“Kalau mau biar Rama carikan mbak”

__ADS_1


Oh namanya Rama, pantesan ramah seperti orangnya, ucap Tari dalam hati.


“Eh tidak usah Mas, saya permisi dulu”. Tari pergi meninggalkan Rama, yang masih belum menyelesaikan ucapannya, ia setengah berlari. Tari masih trauma untuk berbicara dan mengenal lawan jenis.


Duh kenapa gak aku bilang saja ya, kalau aku perlu banget ikan ****** itu, bagaimana nanti kalau Risma masih nangis saja, kalau belum dapat ikan.


Tari memilih pulang, ia sudah lelah sejak tadi bermain di dalam air mencari keberadaan ikan ****** yang entah kemana persembunyiannya.


Siapa wanita itu, kenapa imut sekali? Sepertinya bukan orang sini, aku bahkan baru pertama kali melihatnya setelah beberapa bulan tinggal di sini. Apa aku carikan saja ya ikan cupangnya, nanti kalau lewat rumahnya biar aku kasih.


*****


Surabaya


Mawar sedang duduk di ruang keluarga, seperti biasah ia akan menghabiskan hari-harinya untuk membaca novel dan menonton serial drama korea. Semenjak kehadiran Mawar dalam rumahnya, bu Srining jarang sekali ke laundry, ia lebih memilih untuk menemani Mawar di rumah. Memastikan setiap kebutuhan dan keinginan Mawar dapat tercukupi dengan baik.


Pagi menjelang siang itu, Bu Srining sedang pergi dapur hendak membuat salad buang kesukaan Mawar. Entah mengapa sejak kehamilannya ini ia sangat menyukai salad buah.


Tangan Mawar, mulai beradu mencari tumpukan buku yang dapat di baca untuk mengisi hari-harinya. Ia membuka laci besar di sisi TV, hampir delapan puluh persen buku yang ada di sana sudah pernah ia baca semua.


Tangan itu kembali memilah-milah deretan buku yang berjajar rapi. Matanya mengkerut kala menemukan sebuah album yang tersimpan di sana. Ia meraih album berwana biru tersebut dan membawanya duduk di depan TV. Dalam hati ia berharap, itu adalah album foto-foto Randi dulu ketika masih kecil.


Tanpa bosa-basi, Mawar lekas membuka album foto tersebut.


Deg...


Hatinya berdenyut nyeri kala melihat isinya. Foto pernikahan Randi dan Tari. Dalam halaman sampul pertama tertulis “Dua jiwa namun satu pikiran, dua hati namun satu perasaan”.


Di Sana ia melihat foto Randi menggunakan baju pengantin bersama Tari, dengan pesta yang cukup megah. Senyum mereka terpampang sempurna dalam bingkai foto itu. Randi menatap Tari lembut, dalam setiap halaman foto tersebut terlihat kedua mempelai sedang tersenyum bahagia. Tak ada raut waja sedih atau keterpaksaan di sana.


Semua prosesi yang di lakukan saat pernikahan, tak luput dari bidikan kamera. Acara pernikahan mereka juga di gelar di salah satu hotel terbesar di Surabaya, maklum Randi adalah anak tunggal. Tamu undangan yang hadir dalam pernikahan itu juga sangat banyak sekali. Mawar menatap sendu deretan foto di album tersebut.


Terlihat pula foto Randi dan Tari, yang sedang di apit dua keluarga besar dengan busana yang senada.

__ADS_1


“Mawar , kamu kenapa nak? Kamu nangis?”.


__ADS_2