Duri Dalam Keluarga

Duri Dalam Keluarga
Hubunan Baru


__ADS_3

“SAH”.


Saksi dan seluruh orang yang ada dalam ruang tamu tersebut dengan kompak menjawab. Sedangkan Randi lekas menarik nafas dengan begitu panjangnya, lega sudah rasanya. Sementara Tari di dalam kamar yang mendengar lafal ikrar ijab qobul tersebut hanya bisa menangis haru.


Kini tulang punggung keluarga tersebut sudah menemukan pasangannya, akan memiliki keluarga sendiri, akankah perlakuan Tari akan tetap sama selayaknya waktu belum menikah?.


Sungguh hanya Allah yang tahu tentang hal ini.


Randi begitu gugup tak kala menunggu kehadiran Tari yang sedang di jemput oleh Fitri sahabatnya di dalam kamar. Berkali-kali tangannya *******-***** ujung baju, untuk mengurangi segala rasa gugup yang ada.


Beberapa menit kemudian, Bethari Ambarwati datang dengan balutan kebaya putih yang luar biasa cantiknya.


Randi terpana.


Menatap sang istri, tanpa berkedip sama sekali.


Bethari berdiri bersebelahan dengan Randi untuk yang pertama kali setelah mereka menjadi pasangan suami istri. Randi mengulurkan tangannya pada sang istri, sedang Tari menyadari hal itu bergegas meraih tangan Randi. Ia mencium punggung tangan Randi dengan penuh takzim.


Semua yang menyaksikan adegan tersebut terharu dengan pasangan pengantin baru ini.


“Ayo di cium istrinya nak" goda seluruh orang Yang ada dalam ruangan tersebut. Ketika melihat pasangan pengantin yang tampak malu-malu ketika di pertemukan


Setelah itu Randi, mencium kening Tari dalam waktu yang cukup lama untuk pertama kalinya, sudut matanya berembun tak kala mencium pucuk kepala wanita yang sekarang menjadi istrinya tersebut.


Tak lupa Randi, membacakan do’a untuk istrinya.


ALLAHUMA INNI AS-ALUKA MIN KHOIRIHAA WA KHOIRI MAA JABALTAHAA’ALAIH. WA A’UDZU BIKA MIN SYARRIHAA WA SYARRY MAA JABALTAHAA ‘ALAIH.


Yang artinya.


“Dengan nama Allah yang maha pengasih dan penyayang, Ya Allah aku mohon kepada-Mu kebaikan dan kebaikannya yang Dikau ciptakan padanya. Dan daku berlindung kepada-Mu dari pada keburukannya dan dari keburukannya yang Dikau ciptakan pada dirinya”.


Randi kembali mencium pucuk kepala sang istri setelah mengucapkan do’a tersebut dengan memejamkan matanya, seakan menikmati segala rasa yang ada dan ingin melampiaskan serta menunjukan kasih sayangnya pada sang istri.


“Mas Randi sampai kapan keningnya mbak Tari di cium terus?”, seloroh Fitri sahabat Tari yang kebetulan juga sepupu Randi.


Sontak membuat kedua pasang pengantin tersebut tertunduk malu dengan wajah yang merah padam, sedang pera tamu undangan yang ada tertawa secara bersamaan melihat adegan tersebut.


Baik dari keluarga pihak Randi, maupun Tari begitu bahagia melihat pasangan pengantin baru tersebut.

__ADS_1


Orang tua Randi yang begitu bahagia, akhirnya anak bujang mereka yang tak lagi muda namun tak begitu tua juga, telah menemukan sandaran hatinya, setelah sekian lama hidup dalam kegalauan dan merana atas kegagalan cinta yang pernah terjalin sebelumnya.


Sedangkan keluarga Tari termasuk sang Ibu begitu bahagia, lantaran anak gadisnya menemukan lelaki yang tepat untuk mendampinginya. Setelah perjalanan panjang dan pengorbanan Tari yang tiada terkira bagi keluarga sebagai tulung punggung, kini telah menjadi tulang rusuk.


Terlihat Ibu yang berkali-kali mengusap sudut matanya, menangis haru teringat akan setiap moment perjuangan kehidupan mereka dulu selepas kepergian sang Bapak.


“Bu, jangan bersedih aku tidak akan membiarkan Ibu dan Ipul hidup dalam kekurangan, aku berjanji untuk hal ini”. Tari memeluk sang Ibu dan meminta maaf ketika sungkeman.


Sementara sang Ibu tak dapat mengucapkan satu katapun, hanya saja air matanya yang berbicara.


“Bu, saya tidak akan pernah menghalangi Tari untuk tetap berbakti pada Ibu”. Kini Randi mencoba menyakinkan pada Ibu mertuanya jika tidak akan ada yang berubah dalam keluarga mereka.


Ibu memeluk secara bersamaan pasangan pengantin baru tersebut.


“Nak Randi, tolong berjanjilah pada Ibu, buat Tari bahagia, dia sudah cukup banyak menderita, jagalah dia dengan sebaik-baik yang kamu bisa”.


“Dan kamu nak, jadilah istri yang sholehah patut pada setiap perintah suamimu selama dalam hal kebaikan”.


Ibu kembali memeluk mereka berdua dan menepuk-nepuk punggungnya.


Seketika ruang tamu rumah tersebut menjadi haru biru, dengan degan yang ada di depannya.


Berkali-kali Bude memutar otak, mencari jalan agar tetap bisa hidup dalam naungan Tari, hanya saja belum juga ter temukan solusinya.


Bude juga begitu ketakutan jika setelah ini Tari membawa Ibunya turut serta. Karena hampir lima puluh persen kehidupan Bude bergantung pada Ibu Tari selama ini terutama dalam urusan makan.


Hal yang sama juga di rasakan oleh Pakde, sepanjang acara Pakde tak menunjukan sedikitpun senyum di wajahnya. Pakde begitu khawatir ATM berjalannya akan berhenti setelah ini.


***


Sementara itu masih dalam waktu dan tempat yang sama Randi, membawa Tari ke kamar pengantin yang sudah di siapkan dengan begitu indahnya untuk mereka berdua. Sepasang suami istri tersebut tampak malu-malu dan begitu canggung tak kala berada dalam satu ruangan.


“Apa kamu tidak ingin menatapku?”. Randi memberanikan diri untuk membuka suara terlebih dahulu.


Bethari hanya tertunduk malu mendapat pertanyaan seperti itu, baginya ini merupakan sesuatu yang entahlah bagaimana bisa menjelaskan. Hubungan mereka sebelumnya hanya sebatas atasan dan bawahan kini hubungan tersebut berubah menjadi suami dan istri.


Randi menangkup pipi Tari, agar dapat mendongak dan menatap wajahnya.


Keduanya saling memberikan tatapan kagum satu sama lainnya. Tak lupa dengan memberikan senyum termanis.

__ADS_1


“Assalamu'alaikum istriku”, sebuah kata yang terlontar begitu saja ketika mereka saling berhadapan dengan jarak yang begitu dekat.


“Waalaikumsalam suamiku”. Jawab Tari dengan malu-malu dan cukup pelan sekali.


Keduanya kembali tersenyum mendengar panggilan baru yang menurut mereka lucu dan asing.


Randi kembali memberikan tatapan mautnya pada sang istri.


Tari yang tak biasa di tatap seperti itu oleh seorang pria langsung menundukkan kembali kepalanya, mendadak tangannya kembali gemetaran dan terasa dingin, dadanya juga berdebar begitu hebat.


“Ya Allah beginikah rasanya mencintai dan di cintai”, ucap Tari dalam hati.


“Istriku kamu cantik sekali" puji Randi pada wanita yang bergelar istrinya saat itu. Ia menangkup kedua pipi istrinya dan mencondongkan wajahnya ke arah Tari.


"Aku mencintaimu" bisiknya kemudian dengan. lembut.


“Sejak kapan Pak Randi mencintaiku?”.


“Aku tidak tahu kapan datangnya cinta itu. Tapi percayalah saat ini dan nanti hatiku hanya untukmu seorang"


"Tak percaya?"


"Pegang dadaku. Rasakan gemuruh di dalam sana. Ia bahkan bekerja lebih keras dari biasanya"


“Bukankah itu sebagai bukti bahwa di sini ada cinta untukmu”.


.


.


.


.


.


.


Like komen vote kakak ☺️

__ADS_1


__ADS_2