
Tubuh Randi gemetaran, hawa dingin begitu menyeruak ia rasakan. Dadanya naik turun, ia benar-benar takut saat akan mengungkap segala kebenaran yang ada beberapa waktu terakhir ini.
Tangannya meraih tangan Tari, membawanya duduk di tepi ranjang kamar mereka, sorot matanya memandang sayu wajah sendu istrinya.
“Sayang, maafkan aku, ada hal yang telah aku lakukan tanpa sepengetahuan kamu beberapa waktu ini....”. Randi menjeda ucapannya, ia kembali menarik nafas dalam-dalam.
“Katakanlah Mas”.
“Sebenarnya....”.
Tok...tok...tok...
Suara ketukan dari balik pintu kamar mereka terdengar dengan begitu keras, seakan sedang terburu-buru menyuruh pemilih kamar untuk membukanya.
“Ran buka pintunya”.
“Randi, cepat buka pintunya....”. Terdengar suara Bu Srining yang tampak sedang panik, berkali-kali menggedor pintu.
Randi, mengurungkan niatnya untuk melanjutkan percakapan dengan Tari, ia beranjak membukakan pintu kamar, disusul dengan Tari yang berjalan di belakangnya.
“Ada apa Ma?”, Tanya Tari panik, ketika melihat ekspresi wajah Mama mertuanya.
“Ran, sesuatu hal buruk telah terjadi!"
Tanpa banyak bicara ia lekas menarik tangan Randi untuk menjauh dari istrinya saat itu
Tari, hanya bisa melongo melihat apa yang sedang terjadi di depannya.
Rentetan pertanyaan begitu banyak memenuhi barisan isi kepalanya, apa yang sedang di sembunyikan Mama dan Mas Randi?.
“Ran, Mawar masuk rumah sakit!, tadi tetangga depan rumahnya yang memberi tahu Mama, beliau menemukan Mawar sedang pingsan di ruang tamu, saat beliau hendak memberinya semangkuk bubur”. Wajah Bu Srining benar-benar panik, tangannya *******-***** baju yang ia gunakan. Bu Srining begitu khawatir dengan keadaan cucu dan juga ibunya.
“Kenapa bisa pingsan Ma?”. Mata Randi mendelik, ini pertama kali Bu Srining melihat wajah Randi yang peduli dengan keadaan Mawar.
“Ya, mana Mama tahu, kamu sebagai suami bagaimana? Punya istri sedang hamil tidak pernah di manja-manja, di tengok saja tidak!”.
__ADS_1
“Ayo sekarang kita ke rumah sakit”. Bu Srining lekas menyambar tas yang ada di meja makan.
Randi, menganggukkan kepalanya dan bersiap menuju rumah sakit, sementara Tari keluar dari kamarnya melihat sang suami yang pergi tanpa pamit padanya. Randi pergi dengan buru-buru, tanpa sempat untuk mengucapkan salam ataupun berpamitan.
Tari menatap nanar punggung suaminya. Entah mengada dadanya terasa begitu sesak dan bergemuruh hebat saat melihat kepergian Randi pagi itu.
“Ya Allah, semoga tidak terjadi hal buruk dengan suamiku. Semoga suamiku pergi karena sedang ada urusan yang mendesak untuk ia kerjakan. Lindungi setiap langkahnya Ya Allah”.
***
Rumah Sakit Kasih Ibu
Tak butuh waktu yang lama, setengah jam membelah padatnya jalanan pagi hari, Randi sudah sampai di lobi rumah sakit Kasih Ibu. Ia berlari menuju ruang administrasi untuk mencari keberadaan Mawar.
Ya benar saja, kali ini Randi begitu khawatir dengan keadaan Mawar. Selain karena ada anak dalam kandungan Mawar, juga karena Mawar tak mempunyai sanak saudara di sini. Sementara Bu Srining turut mengekor kemanapun Randi melangkah dengan raut wajah yang sangat cemas.
“Permisi, Bu pasien atas nama Mawar Mawangi di rawat di ruang apa?”.Tanyanya dengan nafas yang tersengal-sengal setelah berlari sepanjang koridor rumah sakit.
“Pasien atas nama Mawar Mawangi, masih ditangani dokter di IGD, silahkan tunggu”.
“Ran, bagiamana kalau terjadi sesuatu dengan Mawar dengan anaknya?, Mama tidak mau kehilangan cucu Mama”. Bu Srining kembali berjinjit melihat ke arah jendela IGD berharap bisa melihat kondisi Mawar di sana.
“Ma tenanglah”.
“Kalau terjadi sesuatu dengan cucu Mama, Mama tidak akan memaafkan kamu Ran, kamu begitu abai dengan kondisi Mawar bahkan harusnya ia berhak atas perhatian dan kasih sayangmu”.
Randi terdiam duduk di kursi penunggu, dengan pikiran yang jauh ke antah berantah. Sungguh semua ini bukan keinginan dan harapannya.
Dua puluh menit kemudian, Dokter keluar dari ruang pemeriksaan.
“Bagaimana Dokter keadaan Mawar?”. Randi masih enggan menyebut Mawar dengan istri saya.
“Pasien terlalu stres dan sepertinya sedang dalam banyak pikiran. Pasien juga kekurangan asupan makanan yang bergizi. Sebaiknya untuk beberapa hari ke depan pasien di rawat inap dulu”. Tukas Dokter kandungan yang menangani Mawar.
“Saya permisi dulu, pasien akan di bawa ke ruang rawat silahkan mengurus administrasinya"
__ADS_1
Randi dan Mama saling memandang, sedikit banyak Randi merasa bersalah dengan kondisi Mawar, yang bisa sampai seperti ini. Keduanya lekas menuju kamar inap Mawar.
Dengan cukup pelan Randi, membuka pintu kamar Mawar, terlihat ia sedang memejamkan matanya. Tak ada sanak saudara yang mendampingi di sisinya. Ruangan kamar inap yang begitu besar tampak begitu dingin.
Sudut mata Bu Srining berair, kala mereka mendekat menuju ranjang Mawar. Wajah sayu dan juga pucat terpancar sempurna di sana.
“Kasian sekali kamu nak”. Bu Srining membelai lembut tangan menantu yang terpasang salang infus.
Sementara Randi, memandang Mawar dengan perasaan entahlah, ia begitu kasihan melihat kondisi Mawar, namun tak dapat di pungkiri hatinya menolak untuk sekedar menyentuhnya.
Bu Srining, duduk tepat di salah satu kursi yang ada di ranjang pasien, matanya tak berhenti menatap wajah Mawar dan juga perut ratanya. Sementara Randi, ia masih enggan untuk mendekat, Randi lebih memili untuk duduk di sofa yang ada di dalam ruangan itu. Randi menjambak-jambak rambutnya dengan frustasi memikirkan ini semua.
“Harusnya hari ini aku mengatakan pada Tari tentang semua yang terjadi”.
Ia kembali menyandarkan tubuhnya di sofa. Wajahnya tersirat beban yang begitu berat.
Perlahan Mawar mulai membuka matanya, pandangannya langsung tertuju pada Randi, yang berada jauh dari jangkauannya. Sudut bibirnya bergetar ingin mengucapkan sesuatu, namun tubuhnya tak merespon terlalu lemahnya.
“Ada apa nak? apa kamu menginginkan sesuatu?”, tanya Bu Srining yang menyadari Mawar telah membuka matanya.
“Kamu di sini mas?”. Mawar mengabaikan Ibu Mertuanya, dan berucap lirih menatap ke arah Randi.
Mama memberi isyarat pada Randi untuk mendekat.
“Iya”, jawabnya lirih.
“Aku kangen kamu”. Kini air mata Mawar luruh seketika, sudah satu bulan lebih Randi tak pernah datang untuk menemui Mawar. Bahkan menanyakan keadaannya saja tidak ia lakukan.
Tangan Mawar, terulur menarik lengan Randi. Dengan mata yang berkaca-kaca ia mencium punggung tangan suaminya, kemudian meletakkan di atas perut ratanya.
“Papa ke sini nak”. Ucap Mawar lirih dengan mata yang berkaca-kaca dan memandang Randi.
Bu Srining menggeser tubuhnya, mempersilahkan pada Randi untuk duduk dan meninggalkan mereka berdua, sengaja untuk memberikan ruang.
“Aku merindukanmu Mas”, kini tangan Mawar terulur mencoba bangkit dari pembaringannya dan memeluk Randi yang hanya diam mematung.
__ADS_1