Duri Dalam Keluarga

Duri Dalam Keluarga
Sakit Perut


__ADS_3

Bude membawa pulang semua kue-kue yang enak tersebut dan hanya menyisakan beberapa loyang saja untuk keluarga Tari, seperti biasa bude akan membawanya ke rumah dengan mengendap-endap lewat pintu belakang, karena pintu belakang rumah Tari tepat persis berhadapan dengan pintu belakang rumah bude.


Sesampainya di rumah bude lekas membuka tasnya dan mengeluarkan semua kue yang ada di tas tersebut, bude menata keu tersebut dan meletakkannya di beberapa piring yang ada di rumahnya. Karena jumlah makanan yang di bawa cukup banyak hingga membuat lemari pendingin milik Bude tak cukup untuk menampung semua kue dan buah yang di bawanya dari rumah Tari.


Hampir di setiap sudut rumah Bude ada kue lamaran Tari, seperti di kamar, Bude meletakkan tiga piring kue di dalam kamarnya, di kamar Udin bude juga memberikan dua piring dengan rasa yang bermacam-macam. Di ruang tengah terdapat jenis kue dari yang tradisional hingga yang modern juga ada. Di ruang tamu bude meletakkan beberapa kue yang kiranya tahan lama karena ruang tamu jarang di gunakan.


Di dapur bude juga meletakkan beberapa potong kue yang di bawanya tadi. Hatinya terasa tentram tak kala melihat deretan makanan yang berjajar rapi di rumahnya. Bude sengaja menyebar di beberapa sudut rumahnya kue-kue tersebut agar lebih mudah ketika ingin makan, jadi tidak perlu ke belakang dulu untuk mengambil.


Kalian tanya stok lemari pendinginnya?.


Isinya full kue dan buah yang di beli di pasar bersama Udin tadi.


Malam itu setelah menata kue-kue dan menyebarnya di setiap penjuru rumah, bude duduk di depan tv sambil menunggu kehadiran anak kesayangannya mas Udin. Di ikuti dengan pakde yang turut menemani di sampingnya.


Sambil menunggu kehadiran Udin, bude dan pakde menikmati kue yang ada di meja tersebut, dengan tanpa jeda keduanya mengunyah dan memasukan semua makanan yang ada di depannya. Entah mengapa tidak ada rsa kenyang dalam kamus mereka, seakan perut mampu menampung segala makanan yang ada.


Beberapa menit kemudian, Udin baru datang setelah kerja masuk siang. Waktu menunjukan pukul dua belas malam. Bude lekas membukakan pintu untuk anaknya.


Mata Udin berbinar kala melihat banyak makanan yang menyambut kehadirannya.


“Bu, ini jajanan dari mana?”. Tanya Udin dengan lekas mencomot makanan tersebut sebelum sang ibu sempat menjawab.


“Udah makan saja, rezeki itu”. Jawab bude dengan mulut yang masih penuh dengan banyak makanan.


“Habisin saja, sayang kalau tidak habis besok basi”. Jawab bude dengan mencomot salah satu kue tersebut.


Dengan sigap, tanpa mengganti baju terlebih dahulu Udin lekas duduk di ruang tengah turut memeriahkan acara makan kue bersama. Mereka bertiga menikmati acara tv malam tersebut dengan banyak hidangan kue di depannya. Hingga tanpa mereka sadari dua jam kemudian setelah film selesai di putar, maka habis pula makanan yang ada di depannya.


“Kenyang”.

__ADS_1


Pakde Dar mengelus-elus perutnya yang tampak kekenyangan seperti wanita yang hamil sembilan bulan.


Bude pun demikian, terlampau kenyang hingga membuatnya kesusahan untuk berdiri.


Sedangkan Udin, tertidur di lantai dnegan kue yang masih ada di mulutnya. Ya mereka bertiga kekenyangan dengan makan kue.


Dengan sigap bude Murni dan Pakde Dar secara bersama-sama membopong Udin untuk memindahkan ke kamarnya. Mereka lebih memilih untuk mengangkat perjaka yang tak lagi muda dari pada harus membangunkannya, dengan alasan kasian capek habis kerja.


Bude dan pakde pun demikian lekas menuju kamar mereka untuk beristirahat.


***


Keesokan harinya, pagi-pagi sekali sebelum azan subuh berkumandang rumah bude sudah di hebohkan dengan segenap teriakan yang saling memperebutkan kamar mandi.


Mas Udin menjadi peserta pertama yang memasuki kamar mandi, di ikuti pakde yang antri di belakangnya. Tampak Pakde Dar berkali-kali menggedor-gedor pintu kamar mandi, sedang yang di dalam masih enggan untuk keluar karena belum terselesaikan semuanya.


Beberapa saat kemudian, bude turut serta datang untuk meramaikan antrian tersebut. Bude datang dengan mengendap-endap memegang perutnya terasa mulas luar bisa hingga membuat wajahnya berkeringat sepagi itu.


“Tidak bisa Bu, Bapak juga sudah tidak tahan, perut Bapak sakit sekali!”


“Haduh pak, dimana-mana itu orang laki-laki yang mengalah dengan perempuan”. Rintih Bude dengan memegang perutnya yang teramat sangat tak bisa di tahan.


Sedang di dalam sana Udin masih begitu tangganya menuntaskan segala hajat yang terpendam.


“Din cepetan!!!”. Teriak Bude kembali dengan menaikan nada bicaranya.


“Sebentar Bu, belum selesai”. Teriak Udin dari dalam yang tak kalah kerasnya.


Mereka bertiga secara bersaman sakit perut pagi itu, karena terlalu banyak makan.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian Udin keluar dengan wajah yang lebih baik dari sebelumya. Kini Bude lekas menerobos untuk masuk kedalam sana terlebih dahulu.


“Haduh Bu, kan tadi bapak dulu yang antri!”. Teriak Pakde dengan memegang perutnya.


Sementara di dalam Bude sama sekali tak menghiraukan suaminya, perutnya teramat sangat sakit tak tertahankan.


Beberapa saat kemudian, Bude keluar dari kamar mandi dan sekarang Pakde yang masuk. Pakde lakas menutup pintunya.


Belum sampai tiga menit Bude dan Udin secara bersamaan kembali ke kamar mandi dang menggedor-gedor pintu tersebut dengan sangat keras. Pagi itu keluarga Bude habiskan untuk berebut kamar mandi.


Menjelang pukul sembilan pagi tubuh mereka bertiga semakin lemas karena berkali-kali ke kamar mandi, hingga membuat wajah Bude yang gendut menjadi pucat.


Sementara di rumah Tari, ibu tampak heran tidak biasanya saudaranya yang ajaib itu tak datang untuk meminta sarapan atau meminta yang lainnya, karena biasanya hampir tiap hari ada saja yang mereka minta dari keluarga Tari.


Karena merasa tak tenang dengan sesuatu yang tak biasanya, ibu melangkah menuju rumah Pakde Dar untuk sekedar memastikan kondisi saudaranya tersebut.


“Tumben rumah tidak di kunci?”, tanya Ibu dalam hati dan memasuki rumah saudaranya tersebut.


Baru beberapa langkah masuk rumah tersebut, Ibu di kejutkan dengan pemandangan yang cukup membuatnya mengelus dada.


Mata Ibu terbelalak dengan sempurna tak kala melihat beberapa piring kue yang ada di berbagai sudut rumah Bude, serta bungkus kue yang banyak sekali di ruang tengah rumah tersebut.


“Masyaallah, jadi ke sini rupanya semua kue-kue yang kemarin?, pantes gak ada padahal keluarga Randi membawa banyak sekali kue”.


“Hem harusnya ini kan untuk di bagi-bagi dengan tetangga yang lain”.


Ibu menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Mas, mbak....”. Panggil ibu pada penghuni rumah tersebut.

__ADS_1


“Mar aku di sini, tolong panggilkan dokter”. Rintih Bude yang terduduk lemas tak berdaya di depan pintu kamar mandinya.


“Ya Allah mbak, kenapa ini?”.


__ADS_2