
Mulut mereka menganga, dan matanya membulat dengan sempurna, ia kembali mengulang pertanyaan, masih enggan untuk percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar.
“Aku harap Mas Randi, lekas menyetujui dan menandatangani surat cerai dari mbak Tari, agar semua lekas membaik”. Ucap Ipul, dengan dingin dan penuh penekanan, bahkan nada bicaranya seperti sebuah ancaman.
Tangan Randi gemetaran, kala meraih amplop coklat tersebut, seketika air matanya luruh saat amplop coklat itu terbuka, rentetan tulisan gugatan cerai, terpampang nyata, sebagai pemandangan memilukan yang ada dalam isi surat.
“Aku tak bisa, aku tak sanggup hidup tanpa Tari”. wajahnya mengiba penuh harap.
“Satu lagi Mas, ini adalah sertifikat rumah yang Ibu tinggal'i, dulu rumah itu Mas Randi yang membeli, oleh sebab itu sekarang kami mengembalikan lagi padamu!”. Ipul kembali bersuara, tangannya bersendekap, kemudian mengangkat tubuhnya, hendak pergi meninggalkan rumah Randi.
Sementara Mawar dan Bu Srining, saling menatap dengan perasaan yang entahlah hanya mereka yang tau. Antara bahagia dan juga takut.
“Pul, ada apa ini? Sebenarnya ada masalah apa yang terjadi pada Tari dan Randi, hingga membuat keduanya bercerai?”. desis bude, dengan memegang tangan Ipul, menghalaunya untuk tak pergi dari ruang tamu.
Ipul memilih untu meninggalkan rumah itu, tanpa memberikan penjelasan pada Bude dan Pakdenya. Sementara Randi, ia memilih untuk langsung meninggalkan ruang tamu dan menuju kamarnya tanpa memberikan sebuah penjelasan, ia meninggalkan begitu saja lembaran kertas beserta amplopnya tetap berserakan di atas meja. Ia kembali membanting pintu dengan cukup keras saat berada di lantai dua.
Sontak membuat orang yang berada di ruang tamu, lantai satu terlonjak kaget mendengarnya.
“Maafkan kelakuan anak kami, Bu Murni Pak Dar, sesuatu hal telah terjadi di antara mereka. Aku harap dari pihak keluarga Bethari mau membuka pintu maaf yang sebesar-besarnya untuk anak kami”. Ucap Bu Srining, dengan pelan, mencoba menjelaskan keadaan yang ada.
Pakde Dar dan Bude Murni, sling berpandangan untuk beberapa saat, mereka mencoba untuk merangkai setiap peristiwa yang terjadi pada keponakannya.
“Mohn maaf, ini bukan kapasitas saya untuk menjelaskan, alangkah baiknya Pak Dar dan Bu Murni tanya sendiri pada Tari”.
“Untuk sementara waktu, sebaiknya Pak Dar dan Bu Murni, pulang dulu demi kenyamanan ita semuanya!”, desis Bu Srining kembali, secara tidak langsung ia mengusir tamunya.
Bagi Bu Srining, tak ada gunanya juga menjamu tamu dari keluarga Bethari, yang ada hanya akan merepotkan dan tak tahu diri. Terlebih keluarga Pakde Dar dan Bude Murni, yang memang sejak lama ia tahu hanya sebagai benalu dan duri dalam keluarga.
“Hah! Jadi kami di usir?”. Jawab Bude Murni, dengan tatapan tak percaya.
“Ah tidak seperti itu, hanya saja ini sudah malam, tidak baik bertamu terlalu lama”. Tukasnya dengan memberikan senyuman.
__ADS_1
“Aku yo Pak, kita pulang dari rumah ini”. Sinis Bude yang beranjak bangkit dari duduknya.
Bude dan Pakde, meninggalkan rumah itu dengan banyak umpatan yang keluar dari mulut mereka.
*****
Hening mulai menyelimuti bumi, dentingan jarum jam saling beradu, memecah kesunyian yang menerpa, pada jiwa yang merana. Waktu menunjukan pukul satu dini hari. Randi masih enggan untuk memejamkan matanya. Ia hanya teringat akan istrinya yang pertama. Rentetan memory kebersamaan mereka begitu berseliweran tanpa permisi.
Randi bangkit dari pembaringannya, ia berjalan menuju tembok yang berhadapan langsung dengan kasurnya. Satu tangannya meraih bingkai pigura besar. Sebuah foto pernikahan yang di cetak dalam ukuran cukup besar, dengan senyum yang terpancar sempurna di antara kedua mempelai. Kebaya sederhana warna putih, yang menjuntai membentuk ekor membalut indah tubuh kecil istrinya.
Randi memandang foto pernikahannya, dengan tatapan rindu yang menggebu. Baru beberapa hari terpisah saja sudah membuatnya terasa kehilangan tumpuan untuk hidup di dunia.
Ia mendekap erat foto itu, beberapa kali Randi juga mencium lembut wajah wanita dalam bingkai itu, sesekali ia juga mengajaknya untuk berbicara.
“Sayang, kenapa harus seperti ini?”, rintihnya kembali.
Randi kembali melirik nakas yang ada di sebelah ranjangnya, ia kembali menatap nanar dua amplop coklat yang ada. “Benarkah, tak ada lagi yang bisa di harapkan?, tak ada lagi yang pantas di pertahankan. Aku la mahkluk yang paling jahat sepanjang dongeng cerita ini!”.
“Ya Allah, sakit”, ringisnya kembali, ketika melihat kertas putih itu sudah ternoda dengan tanda tangannya.
Randi dan Tari, sama-sama tidak mau tahu soal perceraiannya. Mereka berdua memutuskan untuk menyerahkan semuanya pada pengacara masing-masing. Tari benar-benar tidak menuntut harta apapun, meskipun keduanya telah sepakat mengadopsi seorang anak. Jika sesuai dengan rencana, persidangan akan berjalan dengan cepat dan lancar, karena kedua belah pihak melakukan semua prosedur tanpa drama.
***
Desa Suka Maju
Pagi itu Fitri datang untuk menjenguk sahabatnya, ia datang sendiri tanpa membawa anak maupun suaminya, ia sengaja menemui Tari seorang diri demi menjaga privasi sahabatnya.
Fitri lekas menuju taman samping rumah, yang beberapa hari selama tinggal di sini menjadi spt paling favorit untuk Tari, ia duduk tepat berada di sebelah sahabatnya.
“Udaranya enak ya di sini dingin”, sapanya dengan menghirup udara sebanyak-banyaknya.
__ADS_1
Tari menoleh, ia lekas memeluk erat sahabatnya yang baru datang jauh-jauh untuk menjenguknya.
“Tar, apapun yang terjadi kita tetap jadi sahabat ya, sekalipun aku adalah saudara Mas Randi”.
Tari tak menjawab ucapan Fitri, ia lekas memeluk sahabatnya.
“Lihatlah aku sekarang sudah semakin membaik di sini”. Tari mencoba untu tegar dan memperlihatkan senyum di wajahnya.
“Tar, ada hal yang ingin aku tanyakan, tapi kamu harus menjawabnya dengan cepat dan tanpa berfikir. Karena jawaban spontan lah yang sebenarnya aku harapkan”.
Tari, menganggukkan kepalanya.
“Kalau seandainya, anak yang di kandung Mawar bukan anak Randi, apa kamu mau kembali dengannya?”.
“Mau”.
Reflek Tari, menutup mulutnya sendiri, sementara Fitri tampak menarik sedikit ujung bibirnya.
Kemudian Fitri mengulangi pertanyaan yang sama untuk kedua kalinya.
“Mau”. Jawaban Tari masih sama.
Lalu, Fitri bertanya untuk yang terakhir kalinya dengan pertanyaan yang sama.
“TIDAK!”. Kali ini Tari, memberikan respon dengan jawaban yang berbeda.
“Ah dua lawan satu, menang dua Tar”. ledek Fitri pada sahabatnya.
Tari hanya tertunduk malu dengan jawaban yang ia berikan. Karena sejujurnya dalam hati yang terdalam ia sangat mencintai Randi. Tapi penghianatan yang di lakukan Randi dan keluarganya merasakan sakit yang tak terkira.
“Tenang Tar, aku akan cari tahu semuanya dengan benar demi kalian berdua”. ucap Fitri dalam hati.
__ADS_1