Duri Dalam Keluarga

Duri Dalam Keluarga
Kehadir Risma


__ADS_3

“Aku tidak papa”, jawabnya dengan kembali melanjutkan aktivitasnya untuk membungkus kue-kue kecil untuk jamuan para tamu undangan.


“Sepertinya kamu lelah sayang, baiknya kita istirahat saja dulu di rumah Ibu”, pinta Randi dengan meraih tubuh istrinya dan membawanya pulang ke rumah Ibu.


Sesampainya di kamar, Tari duduk di kursi meja riasnya sementara Randi sedang merebahkan tubuhnya di atas kasur.


“Ada apa sayang? Ceritakan jika memang ada sesuatu yang membuatmu tak tetang?”.


Randi yang melihat wajah istrinya tampak murung dari balik pantulan cermin.


“Mas, jika sampai kapan pun nanti aku tak bisa memberimu anak apakah kamu akan menerimanya?”. Tanyanya dengan ragu-ragu seakan takut mendengar jawaban yang akan keluar dari mulut Randi.


.


.


.


“Sayang dengan ataupun tanpa anak rasa sayang dan cintaku tak akan berkurang sedikitpun padamu”. Kini Randi bangkit dari tempat pembaringannya dan melangkah menuju sang istri mencium lembut kening Tari dan mendekapnya dalam pelukan hangatnya.


“Mas taukah, aku ingin menjadi wanita satu-satunya dalam hidupmu hingga maut memisahkan kita, aku ingin seperti Fatimah yang cintanya tak pernah di duakan oleh ali”.


DEG


Dada Randi terasa begitu sakit seperti terhimpit bongkahan besar kala mendengar penuturan istrinya, sedang yang terjadi saat ini dia sudah dengan nyata menduakan cinta suci Tari, menikahi wanita lain tanpa sepengetahuan istrinya.


Mulutnya terkunci rapat tak dapat memberikan jawaban apapun, berjanji pun sudah ia ingkari, ingin mengakui juga tak punya nyali. Randi terdiam dengan menahan rasa sakit di dadanya. Jika biasanya seorang laki-laki yang memiliki istri lebih dari satu dengan bangganya dapat memamerkan dan menunjukan pada orang jika dia mampu, lain halnya dengan Randi, rasa bersalah slalu menghantui setiap harinya.

__ADS_1


Menjelang pukul delapan malam, Tari dan Randi berpamitan untuk pulang ke Surabaya dengan membawa Risma, tak lupa sebelum berpamitan mereka meminta maaf yang sebesar-besarnya pada Bude Murni dan Pakde Dar jika tidak bisa mengikuti semua rangkain acara pernikahan mas Udin, karena memang Randi harus kembali untuk bekerja. Randi juga memberikan salam amplop pada pakde dan bude agar tak memperkeruh kepulangannya dengan Tari.


***


Dua jam perjalanan dari rumah Tari yang di desa menuju Surabaya, sampailah mereka di rumah Randi. Risma begitu tertegun kagum dengan rumah Randi yang begitu besar dan bagus. Ini merupakan pengalaman pertama bagi Risma bisa menginjakan kaki di rumah sebagus ini.


Suasana rumah tampak sepi seperti tidak ada orang sama sekali, lampu juga sudah gelap semuanya, entah karena sudah di matikan atau memang justru belum di nyalakan sejak tadi sore.


Tari lekas membawa Risma ke kamar yang sudah di siapkan khusus untuknya, kamar tersebut bersebelahan dengan Tari agar lebih mudah ketika ingin mengontrol Risma. Dengan telaten Tari menata baju-baju Risma memasukannya ke dalam almari yang sudah di siapkan.


“Apa kamu senang nak dengan kamar ini?”.


“Iya aku senang sekali Bunda, kamarnya bagus, luas dan wangi”, jawabnya dengan mata yang masih memandang takjub sekeliling kamar tersebut.


“Mainannya juga banyak sekali, trimakasih ya Bun”. Kini tubuh kecil Risma berlari menuju Tari yang sedang menata baju dan memeluknya dengan damai seakan merasakan sentuhan seorang ibu yang sesungguhnya.


“Tidurlah sayang, besok pagi kita main kembali jika memungkinkan Bunda akan mencarikan sekolah secepatnya”.


***


Sementara Randi masih berada di luar rumah menikmati hawa malam yang dingin, sengaja Randi meninggalkan Tari dan Risma untuk berdua di kamar untuk memberikan ruang antara ibu dan anak agara lebih akrab.


Randi membuka-buka ponselnya, menggeser galeri yang ada di ponselnya deretan foto Tari berjajar dengan sempurna. Tak ada foto lain di ponselnya selain Mamanya dan Tari. Senyumnya menghangat kala melihat foto pernikahan mereka dulu di kediaman rumah Tari, dilakukan dengan cukup sederhana namun penuh makna dan atas dasar cinta atas keduanya.


Tak berselang lama, mobil memasuki halaman rumah itu, ternyata Mama dan Papa Randi baru pulang.


“Mama dari mana?”, tanya Randi dengan meraih tangan sang Mama dan menciumnya.

__ADS_1


“Nemenin Mawar, kasihan dia sendirian di rumahnya. Padahal wanita hamil harusnya di manja-manja dan di temani bukan malah di telantarkan”, jawab Mama dengan sinis.


“Mama tidak mau tahu Ran, besok kamu harus menemani Mawar menjaganya, dia sedang hamil anak kamu”. Lgi-lagi Mama memperjelas kata-kata hamil anak kamu seakan membuat Randi tak berdaya atas perintah itu.


“Sudah malam jangan ribut, ayo istirahat”. ucap Papa mencoba menenangkan dua orang yang akhir-akhir ini slalu bersi tegang.


Sedang Mama tak memberikan jawaban dan meninggalkan Randi begitu saja.


***


Keesokan harinya Tari melakukan aktivitasnya seperti biasa sebelum ke toko kue miliknya, Tari meyiapkan sarapan yang di bantu oleh mbak di sana. Setelah semua beres kini ia kembali ke kamar untuk melihat keadaan Risma. Membangunkan anak kecil itu, memandikannya dan mengganti bajunya. Tari mengajaknya untuk turut serta sarapan di bawah bersama dengan keluarga yang lain.


“Sayang ini oma dan opa”. Tunjuk Tari pada kedua mertuanya yang sedang duduk di meja makan dan menyesap kopinya.


“Assalamualaikum oma opa’, sapa Risma dengan mencium tangan mereka.


“Wah anak cantik pintar sekali sayang, siapa namamu?”, tanya Mama dengan lembut dan membelai rambut lurus Risma.


“Namaku Risma oma, Kharisma Nur Laila, yang kata ayah artinya cahaya dalam kegelapan”. jawabnya dengan celotehan khas anak kecil seusianya.


“Aduh pinter sekali, semoga betah ya nak tinggal di sini bersama oma dan opa”. Ucap Papa memuji Risma.


Mendengar sapaan pertama mertuanya pada Risma membuat Tari bernafas lega, sesuatu yang di takutkan tidak terjadi kedua orang tua Randi dapat menerima Risma dengan baik, mereka berdua juga sangat menyayangi Risma terlihat dari Mama yang langsung memeluk gadis kecil itu dan menundukkan di pangkuannya menyuapi dengan telaten makanan untuk Risma.


“Trimakasih Ya Allah, aku bahagia sekali pagi ini”. Senyum Tari terpancar sempurna kala melihat pemandangan di depannya.


Apa lagi yang lebih membahagiakan ketika memiliki kehidupan yang cukup, suami yang begitu menyayangi keluarga meski tanpa hadirnya anak dalam pernikahan serta mertua yang begitu tulus menyayangi, di tambah lagi sekarang hadirnya Risma di tengah-tengah keluarga tersebut.

__ADS_1


Sedang Randi yang melihat istrinya sedang bahagia, tak tega jika ingin membuka suatu rahasia besarnya.


“Ya Allah aku harus apa?, sampai kapan aku menyembunyikan ini semua darinya?”.


__ADS_2