
“Tari, benarkah dia Bethariku”
Randi mulai beranjak dari duduknya. Saat itu ia duduk termenung di salah satu sudut rumah sakit. Ia menghisap rokok dengan pelan. Menikmati setiap sensasi yang tercipta dalam rasa yang sudah lama ia tinggalkan. Semenjak kehilangan Tari,hidupnya berubah, ia kembali menjadi pecandu rokok. Berulang kali ia menghisap
batang rokok itu, hingga kepulan asap memenuhi wajahnya.
Aku rasa hanya halusinasi saja.
Setelah beberapa kali kakinya melangkah dari tempat duduknya, wanita itu hilang tenggelam oleh gelapnya malam. Bahkan bayang-bayang nya sudah tak tercipta lagi. Randi pun mengurungkan niatnya untuk mengejar wanita yang menurutnya mirip dengan Tari. Logika dan nalarnya mulai bekerja. Ia menampik kehadiran wanita itu ada di sini.
Mana mungkin Tari ada di sini. Hem, aku rasa, aku sudah menggila sejak kehilangan dia.
Randi kembali menyesap rokoknya, menyandarkan punggungnya di sudut rumah sakit. Ia tak bisa menciptakan kebahagian dalam hidupnya. Hidupnya benar-benar kosong dan merana. Tak ada lagi tujuan untuk hidup yang berarti. Hanya kesembuhan Bu Srininglah satu-satunya motivasi untuk tetap berdiri hingga kini.
Wahai malam kau memang masih sunyi seperti biasanya. Kau slalu menghadirkan dia dalam kepalaku. Menari-nari dalam bisingnya kelabu. Malam memang semakin larut, tapi ku tak pernah benar-benar merasakan hening, bagi ku yang harus terpisahkan dengan orang yang tersayang. Dan malam ini, langit pun turut menangis, seakan menemani sekeping hati yang sunyi. Dan tangisan itu menghidupkan kembali setiap rasa yang telah mati.
Randi mulai mengubah posisi duduknya. Ia bangkit dari kursi panjang tersebut. Matanya mendongak menatap bulan dan bintang yang sedang tertutup gelapnya malam, terhalang guyuran hujan. Tangannya bersendekap di dada, helaan nafas panjang turut menyertai. Hanya sebuah nada-nada dari ponselnya yang menemani malam ini.
Malam bantu aku tuk luluhkan dia
Bintang bantu aku tuk tenangkan dia
Dari rasa cemburu
Dari rasa curiga
Karena hati ini kusimpan hanya untukmu
Tenangkan dirimu kau terlalu jauh
Sebenarnya aku tak seburuk itu
Semua perjuanganku
Dibelakang dirimu
Semata kerana ku tak mampu
Hidup tanpamu
__ADS_1
****
Dalam titik koordinat bumi yang sama. Di lantai tiga ruang Mangga, Tari dan Risma sedang terlelap mengarungi mimpi yang merasuk dalam sukma mereka. Saat itu, Tari terlelap di kursi sebelah anaknya. Ia meletakkan kepala yang beralaskan tas kecil dalam gengamannya. Ia menutup mata dengan rapat, deru dari helaan nafas yang panjang mulai terdengar. Baik itu dari Tari dan Risma. Sepertinya dua wanita itu sudah benar-benar terlelap dalam tidurnya. Setelah seharian merasakan ketegangan yang tiada terkira.
Rama masih belum beranjak dari kamar Risma. Pria itu duduk di sofa yang ada dalam ruangan. Matanya mengamati dua wanita yang tertidur pulas di hadapannya. Rama enggan untuk beranjak meninggalkan mereka. Ada sekeping hati yang menyuruhnya untuk tetap tinggal. Menjaga dua bidadari tersebut. Rama, mulai bangkit dari tempat duduknya. Ia berjalan pelan membawa sebuah selimut tipis yang ada di dalam tasnya. Perlahan tangannya mulai terulur menutupi tubuh Tari yang meringkuk dalam duduknya.
“Tidurlah, kamu pasti sangat lelah bukan” ia bergumam dalam hati, setelah memberikan selimut pada Tari. Rama masih berdiri di sisi Tari. Memandang lekat dua wanita yang ada di depannya.
“Pantaskah?” pikirannya mulai mengudara, membayangkan segenap asa dalam jiwanya yang telah mati, di telan kesunyian malam.
“Dia terlalu sempurna untukku yang banyak kurangnya, tapi salahkah jika aku mencoba untuk membuka kembali sekeping hati yang telah mati?” lagi-lagi Rama berucap dalam diam. Hatinya sibuk berbicara dengan dirinya sendiri.
Kini ia berpindah di sisi Risma, membenarkan selimut gadis kecil itu yang sedikit bergeser karena gerakan kakinya. Ia membenarkan selimut itu dengan sangat pelan, tak ingin mengusik ketenagan dalam tidur Risma. Rama pun memberikan sedikit kecupan singkat di kening Risma.
Maafkan aku yang telah lalai dalam menjagamu. Aku janji setelah ini akan lebih hati-hati dalam menjagamu. Jika kamu dan Tuhan berkenan aku ingin menjaga kalian berdua.
Pandangan Rama kembali tertuju pada wajah teduh Tari yang sedang terlelap dalam damai. Ia tersenyum, sejurus
kemudian membalikan badannya untuk kembali ke sofa. Rama pun hendak menyusul Tari dan Risma untuk terlelap dalam mimpi yang sama.
.
.
.
“Hay, selamat pagi” sapa Rama, ia sudah mandi dan berganti pakaian saat itu.
“Lho, mas Rama sudah di sini? Apa dari semalam masih di sini?” tanya Tari dengan malu, ini kali pertama ada lelaki yang melihatnya dengan wajah baru bangun tidur.
“Menurut kamu?” Rama tersenyum dan mulai mengikis jarak, mendekat pada Tari, ia membawa sebungkus plastik putih di tangannya.
“Jangan lupa sarapan. Setelah sarapan kamu bisa pulang lebih dulu untuk mengganti pakaian dan mengambil beberapa peralatan yang kamu butuhkan. Aku rasa Risma akan sedikit lebih lama untuk tinggal di sini”
“Lama? Berapa lama lagi?” tanya Tari dengan sendu, mendadak wajahnya berubah kembali menjadi sedih.
“Setidaknya sampai kondisinya benar-benar normal seperti sedia kala. Tapi kamu tenang saja semuanya berjalan dengan baik. Kondisi Risma semakin bertambah jam semakin menunjukan perkembangan yang baik. Sarapan dulu ya?” tawar kembali Rama, kali ini ia mulai membuka beberapa bungkus nasi yang ada di hadapannya.
“Mas Rama dari semalam tak pulang? Maaf sepertinya aku tertidur sangat pulas, hingga aku tidak tahu apakah Mas Rama pulang atau tidak?”
__ADS_1
Hem...
Rama tersenyum.
“Tak masalah, sudah ku katakan bukan? Jika ruanganku ada di dekat sini. Di sana semua keperluanku ada semua. Bisa di bilang rumah sakit ini adalah rumah kedua ku untuk tinggal. Jadi di sana semua keperluan dan perlengkapan ku juga ada. Kamu boleh istirahat di sana jika mau. Kamu bisa tidur dengan pulas, ada satu ranjang kecil yang bisa di gunakan untuk tidur. Biar aku yang menjaga Risma di sini” Tawar Rama kemudian, sebenarnya sejak semalam ia ingin menawarkan hali itu, namun ia urungkan. Rama tak tega untuk membangunkan Tari yang begitu terlelap dalam tidurnya.
Tari lekas menggelengkan kepalanya dengan pelan, sebagai reaksi penolakan. Bagi Tari semua fasilitas yang di berikan Rama untuk dia dan Risma sudah lebih dari cukup. Terlebih ketika Tari tahu, jika Rama telah mengcover semua biaya atas apa yang terjadi pada Risma. Bukan Tari yang tida mampu untuk membayar, tapi Rama dengan rasa tanggung jawabnya sudah mengambil alih terlebih dahulu.
“Tidak Mas, aku di sini saja. Aku mau ke kamar mandi dulu nitip Risma, barangkali dia terbangun dalam tidurnya” pamit Tari, ia beranjak mulai memasuki kamar mandi. Sementara Rama, pria itu lekas menuju ranjang Risma, membangunkan dengan pelan.
“Risma bangun nak, Risma sayang” Rama dengan sengaja membangunkan Risma, karena hari memang sudah mulai beranjak siang. Jam untuk sarapan akan segera berakhir sementara Risma belum makan sama sekali sejak kemarin.
“Ayah” rengek Risma dengan pelan. Matanya melirik sekeliling.
“Kenapa aku di sini?”
“Aduh sakit sekali” Risma merintih, matanya berembun dia menatap Rama dengan sendu.
“Sabar ya sayang, Risma sedang sakit. Tangan kamu sedang di obati sama Dokter. Tidak papa, jangan takut ini hanya luka kecil sebentar lagi juga pasti sembuh”
“Tapi ini sakit sekali Ayah! Tanganku tidak bisa bergerak” Risma menangis selayaknya
anak seusianya.
“Untuk sementara waktu kamu bisa pinjam tangan Ayah untuk melakukan sesuatu atau ketika ingin melakukan sesuatu, nanti biar ayah bantu. Sekarang Risma mau apa?”
“Makan dulu ya nak?” tawar Rama, yang lekas di sambut dengan gelengan kepala oleh Risma.
“Harus makan dulu dong sayang, katanya mau cepat sembuh. Nanti Ayah janji kalau Risma sembuh kita jalan-jalan. Makan dulu ya nak terus kita minum obat”
“Tidak mau obatnya pahit”
“Ayah sudah meracik sendiri obat khusus untuk Risma, obat ini tidak pahit tapi enak.
Makan ya sayang”
Krucuk..krucuk..
Suara perut Risma tidak bisa di kondisikan, ia memang merasakan lapar saat itu.
__ADS_1
“Hayo lapar kan? Sini ayah yang suapin” Rama mulai menyuapi Risma, ia menyuapi dengan metode tersendiri, hingga membuat Risma tak sadar telah hampir menghabiskan isi piringnya. Gadis kecil itu juga tertawa dalam beberapa kesempatan.
Sementara Tari, wanita itu tidak benar-benar membersihkan diri. Ia bersandar pada pintu kamar mandi, menyalakan kran air dalam penampungan ember. Ia membiarkan air itu penuh dan terus mengalir begitu saja. Tari mendengarkan setiap untaian kata yang terucap dari Rama dan Risma.